Posted in nebula

LANGIT TEMPATKU MEREBAHKAN DIRI

Merasa seperti pulang, kembali ke tempat yang melahirkan kita. Mengendarai waktu yg selalu membuat kita begitu kesepian, menghalau badai yang membuat kita gigih saling curigai. Di batasan awan, sayatan sepi mengurai matahari kemilau sendiri.

Alangkah sepi, pesawat yang meluncur dalam diam. Tanpa suaqa, hanya bekar putih membelah langit menjadi dua. Apa yang kita minta pada kesedihan? tanda tanya atau panggilan pulang?

Dan hanya menara besi merah di sebelah barat berdiri menyambut gundah. Menyertai burung-burung yang lupa sarangnya, patah paruhnya, luka sayapnya, kaki cakarnya.

Pada lautan. Pada daratan.

Jika hatiku adalah peti besi, adakah kau akan merasa aman untuk tinggal di dalamnya? Tapi hatiku adalah sungai panjang yang berkelokan di kaki hutan tempat kau bisa bersampan menjelajah keasingan. Kau mestinya ingat, aku tak meminta engkau menjadi burung, atau paus, atau jerapah yang dapat meninggalkanku 6 kilometer di belakang, hanya saja setiap senyummu dapat menghancurkan musuh dan galau di belakang jauh.

Langit masih biru pucat.
Laut masih biru pucat.
Dan gagak masih menghitung jumlah belokan menuju pemakaman.

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

One thought on “LANGIT TEMPATKU MEREBAHKAN DIRI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s