Posted in nebula

KEDATANGAN

WANITA itu sudah lupa seperti apa tepatnya suara anaknya. Dia memang masih tahu jika suara sulungnya itu besar dan menggema, tapi dia lupa apakah ia merdu atau sumbang di telinga. Wanita itupun tak begitu yakin seperti apa rupa anak lelaki pertamanya itu. Terakhir kali dia merekam wajah bundarnya adalah 23 tahun lalu, sewaktu dia melepasnya pergi mengendarai angkot meninggalkan gapura desa. Sementara banyak tetangganya yang bercerita betapa telah jauh berubah anaknya. Ya, banyak memang yang sudah samar dalam benak sang bunda renta.

Maka adalah kejutan, sewaktu dia dapat kabar perantaunya itu akan pulang. Akan kembali kerumah. Setelah banyak tahun lewat tanpa kabar, berdasawarsa lenyap tak ada berita, dan harapan terkubur oleh windu tak tentu. Wanita tua itu bahagia. Dia akan menemu anaknya. Pria yang 30an tahun lalu sangat mirip dengan mendiang suaminya.

Dan hari pertemuan tiba, ibunda duduk di beranda, para tetangga berbisik di sekitarnya, anak-cucunya mematut dekat jendela tanpa kata-kata. Lalu tiba mobil yang warnanya putih saja. Berhenti di halaman, empat orang pria turun dengan cepat membawa peti panjang tak bernama.

‘Biarlah begini,’ kata wanita tua itu. ‘Akupun sudah hampir melupakannya.’ Ucapnya mengurangkan sayatan pedih dalam hati. Dia tidak bisa lagi berharap, sebenarnya, sejak bertahun-tahun yang lalu. Sewaktu orang banyak bercerita telah melihat anaknya di TV dikejar polisi. Atau, bahwa koran menulis anaknya kini buronan. Wanita itu pun seketika belajar untuk menderita. Tak mau tahu apa yang terus terjadi, karena dengan menyimaknya lara hati bakal semakin menjadi. Dia hanya selalu berdoa agar tiba masanya semua pengejaran dan pelarian usai di sebuah persimpangan jalan.

Tak banyak yang melayat. Sebagian langsung pulang begitu mendiang masuk liang. Pidato kematian pun singkat dan putus asa. Sewaktu orang terakhir menyingkir, seakan waktu datang terjungkir. Ibu itu menangis. Dia ingin mengembalikan almarhum ke dalam rahim dan tak pernah melahirkannya. Supaya dia aman melayang di dahan-dahan tetumbuhan surga. Tapi yang menjawab hanya angin pahit di antara cuatan batu-batu nisan. Dengan bersimpuh, dia peluk gundukan tanah kuburan anaknya.

Pekuburan teramat sepi waktu si ibu tua berdiri. Dia tatap sejenak tanah merah itu. Dan sebelum pergi, dia cium nisan anaknya dngan senyum penuh derita. Sembari mengusap air mata, dia berbisik lemah, ‘Susullah, susullah bapakmu ke neraka. Kamu pasti rindu dia’

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

2 thoughts on “KEDATANGAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s