Posted in think

MAK LAMPIR

SAAT itu Mak Lampir gagal menjebak Sembara. Sang Pendekar lolos bahkan sempat menyelamatkan Farida dari penjaranya. Mak Lampir meraung menatap musuhnya hilang di balik pepohonan, Grandong menggeram tak karuan, dan para siluman kecil-kecil mengerik penuh kebencian. Dalam puncak amarah yang tak tumpah, apakah Mak Lampir diam saja? Tidak. Dia mengambil satu tindakan alamiah bagi para siluman. Ya. Tapi ternyata, kita manusia, juga selalu menjadi seperti Mak Lampir dalam situasi begitu.

Mak Lampir merapal aji kesaktian, tongkat kepala setannya memendarkan cahaya hijau mengerikan, kemudian, dia hantam salah satu siluman peliharaannya sampai hancur lebur menjadi kepingan proyektil yang terserak sampai radius 300 m. Kemudian hutan pun sepi. Larut dalam murka yang barusan meledak seketika.

Sampai di sini, sudahkah engkau, sahabatku, menemukan kesamaan antara siluman Lampir dan kita manusia? Sudahkah engkau ter’aha’ dan tertawa karena terkejut mendekati eratnya persamaan manusia dan siluman?

Siang itu, bos yang biasanya sangat mendominasi dan mengatur serta menginspeksi semua orang, berhadapan dengan orang yang ada ‘di atasnya’ dan mendominasi, mengatur serta menginspeksi sang bos. Suasananya tak nyaman, dan berubah menjadi ketegangan yang pahit saat sang bos dengan segala konsep dan pengetahuannya diamblaskan ke dalam jurang kesalah-keliruan yang amat dalam tanpa bisa melawan atau membela kebanggaan dirh. Bos tertekuk dengan posisi sangat mencekik–di depan para bawahan yang selama sekian milenium dia gencet tanpa bisa apa-apa. Perdebatan itu berjalan dengan sangat tidak imbang dan tajam. Bos dan atasan masing-masing berpijak di kutub yang bertentangan sejak negara ini merdeka. Dan atasan tanpa ampun men-jab dan men-smack si Bos yang belakangan cuma dapat bergumam membenarkan.

Setelah 5 jam dalam kegetiran, debat pun itu usai. Atasan keluar dalam kemenangan. Bos diam dalam permenungan. Setelah beberapa jenak, bos mendatangi para ‘kuli’ yang sedari tadi bungkam mendengarkan. Awalnya enak saja, beberapa pertanyaan Bos mengalir lembut dan mudah dijawab, tapi tiba-tiba, Bos meraung dan melahap para bawahan celaka itu. Dia cecar mereka dengan kalimat menyudutkan dan menikam sampai tak ada lagi kosa kota tersisa. Para bawahan hancur menjadi proyektil yang berserakan di lantai kantor. Bos memangsa kuli-kulinya dengan selera yang mengagetkan lahapnya.

Nah, saudara, sekarang anda sudah melihat kesamaan manusia dn siluman? Identikkan?

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s