• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

RIYAN

APA ada kaitannya antara tubuh kurus dengan nafsu tidur yang membabibuta? Karena aku ada kawan yang kurusnya mengagumkan, dan penidurnya tiada lawan. Aku bahkan pernah menghitung, dari 24 jam masa hidupnya dalam sehari, dia gunakan hanya delapan jam untuk bangun. Mencatat rekor bukan? Tapi, apa cuma itu kenangan yang dia reliefkan pada sistim limbik otakku? Tidak, ada lagi, sesuatu yang mengesankan kali ini.

Pertanyaanku berikutnya, apa ada kaitan antara banyak tidur dan murah hati? Mengapa? Karena dia, anak kurus itu, sangat pemurah! Dia tidak segan mengeluarkan uangnya untuk menyelamatkan kawannya dari jerat perih kelaparan. Dia pun tak ragu untuk menutupi kebutuhan dana untuk urunan bakar ayam atau beli gorengan. Dan, ah, dia pun tidak hobi menyembunyikan makanan dalam lemari. Jika ada waktu kau pergi jalan-jalan dengannya suatu saat nanti, kau tak perlu takut kelaparan atau mati dehidrasi. Aku pun kadang khawatir dia akan merogoh uang talangan demi makanan.

Lagi, dia, semenjak masuk pondok, menjadi pemangsa yang sulit dihentikan. Dia juga sanggup menelan makanan sebanyak yang sanggup tiga orang semi dewasa. Kalau kau baca novelku Pemburu Rembulan,/b> kau akan tahu jika visualisasi makan si Amar bisa dipresentasikan dengan apik oleh kawanku itu.

Memang dia menjengkelkan, dalam beberapa hal, seperti ketika dia kumat menyanyi Leave Out All The Rest-nya LP, tapi dia sebenarnya dirindukan banyak orang. Oleh kawan-kawannya. Oleh kasurnya. Oleh bantalnya.

Semalam Syauki membisu, mendengarkan Owl City yang kuputar di ponselku dalam perjalanan pulang bersepeda motor dari Sedayu. Memang Owl City baru dia sukai akhir-akhir ini, tapi kami tak punya yang lain, maka kami dengarkan Hello Seatle untuk mengenang kawan yang telah pulang itu. Aku tahu Syauki benar-benar sedih dan kehilangan.

Dia pergi dengan papanya saat aku dalam perjalanan menuju pondok. Angkot yang kunaiki membatu. Diam menunggu penumpang yang tak datang-datang. Dan begitu aku mencapai teras pondok, seorang santri mengumumkan kepulangannya bersama sang papa.

Aku tak sempat mengucapkan perpisahan. Seperti biasa. Dan itu lebih baik menurutku. Kadang untuk berpisah kita tidak harus mempertegasnya lagi dengan kata-kata bukan? Karena aku sendiri sudah terlalu banyak menghadapi perpisahan.

Aku berdiri di balkon lantai dua pondok. Menatap ke utara, ke hamparan laut biru yang luas, dia akan melintasinya beberapa hari lagi. Menuju Palembang. Jauh dan lama. Dan sepi

4 Responses

  1. Bangcat, kau tega. Hahaha.

  2. Bangcat, kau tega. Hahaha.
    Orang udah pergi masih aja diintimidasi. Dasar.

  3. Numpang c0mment, mr. bhasa m0e melankolis nian. . .
    Tak sanggup Q m’bcanya. . .
    Lebay nian ah. . .
    But I like it, cz it all about my beloved br0ther, mksh y udh perhatian ma dy. . .

    _ju5t fLy wiTh d’ wiNd_
    ~neth~

  4. @Afsa bersaudara: kau tahu, bnyak hal yg tdk bsa diungkapkan kcuali stlh perpisahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s