• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

RIFKI

MENDENGARKAN orang lain bercerita begitu terbuka padamu, menuangkan segala racun dan api di dadanya, mempercayakan riwayat jantungnya pada sanubarimu, apa yang bisa kau lakukan? Diam membisu mendengarkan atau mencibir menistakan? Aku, aku tertegun, kehabisan kata, karena dia membagikan hidupnya yang terlalu besar untuk kuderita.

Dia bercerita tentang tangan orang tuanya yang menumbuk kulit wajah dan tubuhnya. Menunjukkan sejarah jejak lebam dan bilurnya.Tentang keraguannya dan kegetirannya saat berkaca-kaca sambil berbisik, apakah kalian orang tuaku? Aku tak punya jawaban, dan akupun bahagia karena dia tak meminta nasehatku. Aku membatu. Aku tak tahu cara mencintai seorang ayah, dan ibukupun teramat belas kasih padaku.

Tapi ada senyum untukku saat dia berkata, aku akan sangat menyayangi anak-anakku.

Lalu, dia menuturkan kepedihan pendidikannya. Bagaimana nilai pelajarannya tidak begitu memuaskan bagi siapapun–termasuk dirinya. Orang-orang, keluarga dan guru, mencibirnya, tapi apa ada yang bertanya dengan merendahkan suara, kau kenapa, nak? Apa ada yang perduli pada kata hati selain pada nilai yang artinya kecil sekali?

Dia belum usai kesahnya, karena ternyata uang sekolahnya menunggak di mana-mana, di pengadaan buku pelajaran, SPP, pembayaran ulangan, dan entah apa lagi. Lantas apa yang dirasakan bocah ingusan itu? Tekanan jiwa. Aku bahkan tak pernah tahu sebelumnya itu bisa melanda anak demikian belia.

Dia kehilangan harapan, dia ingin berbuat lebih dari sekedar duduk dan belajar. Maka dia pun keluar, bekerja, dan yang dia dapat adalah orang-orang dewasa yang mencela. Dia tak punya harapan.

Dia mulai dianggap nakal dan mungkin juga berandal. Tapi apa ada yang mau mencari mengapa itu terjadi? Dia adalah sungai yang terbendung, kemudian tiba saatnya air itu meluap dan menerjang segalanya. Dia hanya mencari jalan, untuk menyelamatkan dirinya, untuk menjaga keutuhan jiwanya, dia adalah air yang butuh tempat buat mengalir. Maka adakah yang membuatkannya tanpa dia harus susah-susah meminta?

Aku hanya bisa menyimak badai itu dia terbangkan dari kedalaman hatinya. Dan mencoba untuk memilih menjadi apa aku buatnya, ah, tentu aku cukuplah menjadi kawan tua yang baik baginya, karena aku tak mungkin bisa menjadi kakak baginya, apalagi menjadi sosok pengganti ayah untuknya. Aku tidak sebijaksana itu. Atau sekuat itu

Sekarang, aku masih melihat wajah murungnya, tapi mungkin tidak seburuk dulu. Ya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: