• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

MENYELAMATKAN JENIUS (bag. 1)

TOKOH besar tidak ditemukan, tapi diciptakan.

Setujukah anda jika sekolah-sekolah unggulan sekarang ini, benar-benar sekolah yang unggulan? Kita persamakan terlebih dulu persepsi tentang sekolah unggulan sebagai sekolah yang siswanya hasil dari seleksi ketat dan tidak mudah serta bersarana ‘lengkap’. Dan mungkin juga bisa kita tambahi: berbayar mahal–kita tidak menghitung siswa yang mendapatkan beasiswa atau keringanan lainnya karena kepintarannya atau surat-surat pengajuan keringananan lainnya. Secara umum, siswa sekolah unggulan jauh lebih berkualitas dibanding siswa bukan sekolah non-unggulan. Jika bukan karena otaknya yang cemerlang, maka karena fasìlitasnya yang sangat menunjang.

Menurut hemat saya, sekolah unggulan yang seperti itu sulit
utk bisa disebut unggulan. Bahkan, dengan bahasa yang agak kasar, kita bisa menyebut mereka telah melakukan ‘kecurangan’ dengan sistem yang diterapkanny itu.

Katakan, jika ada orang kaya karena berjualan berlian dan ada juga yang kaya dari berbisnis sabut kelapa, siapakah diantara keduanya yang lebih hebat? Berlian, bagaimanapun, adalah komoditas berharga bernilai tinggi, bagaimana dengan sabut kelapa? Hanya entrepreneur tangguh yang bisa mengubah nilai sabut kelapa setara dengan berlian.

Seperti itulah semestinya arti pendidikan bagi manusia. Mengubah dari besi menjadi emas, dari kerikil menjadi mutiara. Jika ada lembaga pendidikan yang hanya mau menerima ‘mutiara’ sebagai siswanya, maka apa makna penting keberadaannya bagi umat manusia?

Sekolah, atau apapun itu, haruslah mengubah orientasi pendidikannya. Dari sekedar menjadi lembaga mentereng bertabur piala menjadi lembaga utuh pembina manusia.

Sosok seperti Nabi Muhammad dan Annie Sullivan (guru Helen Keller) adalah contoh kecil bagaimana pendidikan semestinya dijalankan.

Apakah saya tidak setuju dengan tes? Dengan pemilahan? Semua siswa harus masuk ke sekolah unggulan dengan segala fasilitasnya? Tidak, bukan begitu yang saya maksudkan. Karena jelas hal itu tidak rasional untuk direalisasikan. Terpaksa sebagian orang harus rela berada di sekolah ala kadarnya. Bahkan, saya pun pada dasarnya setuju jika sekolah perlu menyeleksi calon siswanya untuk mendapatkan yang terbaik. Tapi, disitulah kemudian muncul persoalan sebenarnya. Jawab pertanyaan ini: bisakah tes seleksi berbasis score mengidentifikasi keberadaan para jenius yang masih terpendam? Tidakkah tes itu sangat berbahaya karena akan mematikan para berbakat? —

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: