• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

A VILLAGE BY THE RIVER

DULU Bengawan Solo senantiasa banjir dan merendam kota-kota di sekitarnya, mendatangkan begitu banyak kerugian dan kesusahan tiap musim hujan. Pemerintah kolonial Belanda (?) pun jengah. Dengan mengerahkan penduduk lokal, Kompeni membuat sungai baru untuk mengurangi intensitas air Bengawan Solo–mereka lazim disebut sebagai Pekerja Rodi. Salah satu aliran sungai buatan itu ujungnya mengiris Kabupaten Tuban dan Lamongan. Dan salah satu desa di Lamongan yg mendapatkan alirannya adlah desa Pelangwot.

PERJALANAN itu cukup jauh. Dari jembatan lengkung Sedayu Lawas anda belok ke selatan dan terus memacu. Tapi jangan mengebut, buruknya jalanan bisa melontarkanmu ke barat dan berguling masuk sungai.

Sepanjang jalan, anda akan disuguhi pemandangan paduan alami dan buatan yg amat menakjubkan. Di timur, hamparan ladang jagung, kacang, sayur dan hutan jati memagar bagai tembok hidup berwarna hijau seluruh. Di barat, bantaran sungai yang tinggi dan miring rimbun oleh tanaman jagung dan sawah padi. Dan di bawah semua itu, membentang panjang seakan tak berujung anak sungai Bengawan Solo yang airnya coklat bagai milo dalam jumlah milyaran barrel. Mengalir dalam diam, berlari sembunyi, menyeret tak berderap. Hanya riak air di permukaan yang menceritakan pada kita jika truk pun sanggup di lemparnya ke laut. Dan di seberangnya, nafas serupa berulang: hamparan sawah, padi, kacang, jagung, sayur dan hutan jati.

Perjalanan ke Pelangwot jadi mengagumkan karena semua itu, dan aku bisa tanpa sadar ‘mensyukuri’ buruknya jalan ini, kau memberi kami waktu untuk berkendara pelan dan menebar pandangan.

Setelah melewati dua jembatan dan tiga dam raksasa, menempuh berpuluh kilometer, aku sampai di Pelangwot. Desa tanpa gapura desa, tapi sebuah spanduk ucapan selamat buat seorgng siswi berprestasi yang menyambut tinggi. Beberapa tempat di desa itu tampak basah, air menggenang dan memantulkan cahaya matahari. Lantas seketika aku menyadari satu hal: kedamaian, keramahan dan keakraban yang menenangkan. Semua itu mengalir deras dari tiap wajah, menebar dari tiap pintu rumah, diserukan dari tiap halaman rumah. Aku terpesona dan merasa siap tinggal di sana berjuta dekade kemudian. Ini desa yang menyelamatkanmu dari ingar bingar jalan raya, dari dengking musik, dari pekat matahari terik. Air, pohon, manusia, udara, semua bersatu melahirkan kesejukan.

Musholanya sderhana, cuma 15 langkah dari sungai yng tampaknya takkan mengering hngga kiamat nanti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: