• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

BAKSO TERTUA DI KUMALASA, BAWEAN

dengan tampilan seperti itu, siapa yang bisa menahan rasa laparnya? tidak ada!

Aku lupa sejak kapan asalnya, dan yang kuingat hanya ini: warung bakso itu sudah ada sejak aku pindah ke Bawean. Dan itu masih ada sampai sekarang–17 tahun kemudian. Sekarang demi mengingat itu, warung bakso Mbak Nur itu, aku jadi teringat beberapa kenangan unik jaman itu–atau setidaknya bagiku pribadi

Awalnya, Mbak Nur membuat pentol ikan untuk baksonya, tapi seiring dengan meningkatnya kesejahteraan warga Kumalasa, dan Bawean pada umumnya yang-uniknya-berpangkal pada perekonomian Malaysia, Mbak Nur meningkatkan derajat pentolnya dari pentol ikan menjadi pentol daging. Dan, untuk menjelaskan hebatnya efek keputusan prestisius ini, bakso Mbak Nur menjadi ledakan dahsyat yang membuat warungnya sibuk kalang kabut tiap malam. Pentol daging berubah menjadi black hole penyedot yang memerangkap semua warga Kumalasa dalam cerung mangkoknya. Aku sering melihat suaminya, Kak Majik, berkeringat di sekujur badan melayani pelanggan. Sementara sang jagoan tangannya cepat mengisi mangkuk dengan mihun, bawang goreng, pentol, saus tomat dan kecap dan disudahi dengan kuah mengepul.

Masa jaya pentol daging mestinya tidak akan pernah lekang. Pentol kenyal yang dijemur di tampah seharian itu tidak memiliki potensi membuat pelanggan bosan, tapi sesuatu yang tak terlawan memukul DinastI Pentol Daging Mbak Nur: kebijakan impor daging, wabah anthrax di Eropa dan Australia, krisis TKl di Malaysia. Faktor-faktor itu menjegal roda Mbak Nur dan mendesaknya untuk melompat beberapa kilometer ke belakang: Pentol Ikan Bangkit Dari Kubur.

Kelesuan membuat selera makan orang Kumalasa meleleh, warung bakso Mbak Nur bergerak menuju sepi. Itu sekitar tahun 2000-an ke atas. Aku tidak menemukan hiruk pikuk memukau yang biasanya kuhirup tiap kali berangkat ngaji ke Pesantren Nurul Ulum, Kumalasa.

Memasuki tahun 2005-an, kejutan menghantam Kumalasa sekali lagi, Mbak Nur tampil memamerkan kegeniusan entrepeneurshipnya: Pentol Isi Telur Lahir ke-Dunia.

Mbak Nur tidak bisa membuat pentol daging, biaya produksi terlalu mengerikan, dan pembelipun tak sanggup menjangkau. Tapi dengan pentol telur, semua orang bisa membeli dan ‘keenakan!’

Tahun 2010 kemarin aku pulang ke Bawean dan tercengang mendapati jika orang-orang masih menggila mengerubuti warung bakso Mbak Nur. Murah, enak, dan semangkuk penuh. Memang bakso di kota Sangkapura atau di Dermaga Bawean jauh lebih enak, tapi, yang murah selalu lebih baik, kau setujukan?

Advertisements

2 Responses

  1. This post was written on your phone, wasn’t it?

    Do you think the taste of your bakso is better than Javanese bakso?

  2. yeah, written on my phone. bending my fingers! hahahahah.

    mbak nur’s love always make it better

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: