• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

DELAPAN JAM TIGA PULUH MENIT BERJALAN KAKI DARI TUBAN KOTA SAMPAI BLIMBING, LAMONGAN

–to my closest friend, David, I wonder how does he know me better than anyone else?

ayo berjuanglah kaki! ayo berjuang! berjalanlah terus!

Pagi ini, 11 Maret 2011, aku bangun beberapa belas menit sebelum subuh. Rumah remang-remang karena semua lampu dimatikan, kecuali lampu di beranda. Beberapa tikus besar terdengar berlari di kasau-kasau rumah. Pagi itu terasa menakjubkan, karena hal pertama yang kulakukan setelah mata membuaka spenuhnya adalah aku mencoba untuk merasa-rasakan kakiku. Hey, sobat, kau masih di sana? Masih bisa bergerak? Masih bisa mengusung tubuhku? Kemarin kau sangat luar biasa sobat. Kemarin kau telah menembus batasan kegagalan yang sangat ekstrim. Kau luar biasa!

Ya, kemarin memang hari yang luar biasa. Kemarin adalah perjuangan yang sama sekali tak terduga. Sesuatu yang sudah aku idam-idamkan sejak pertama kali menginjak kota Tuban. Kemarin semua rasa ingin tahu dan sensasi itu kurasakan dengan sangat jelas sampai keurat-urat syarafku. Kemarin, aku berjalan kaki bersama sahabatku David dari Baturetno gang 8 di Tuban kota sampai ke Blimbing dalam waktu delapan jam tiga puluh menit, menmpuh jarak ratusan kilo meter.

BUSY NIGHT
9 maret, Malam hari di kota Tuban.
Kami, aku dan David, berada di Tuban untuk menemui pro. Agus, dosen kami di UNIROW, untuk keperluan beasiswa AMINEF, amerika. Pernahkah kau bayangkan sobat, seorang anak pulau kampungan, yang belum pernah sekalipun masuk kebon binatang Surabaya, yang hanya pernah melihat Giant, Carrefour, DBL Arena tapi belum pernah masuk sekalipun, yang sering kali melihat foto Taman Mini dan Ancol sambil mengira-ngira pada usia berapa puluh tahun baru bisa kesana, pada akhirnya sebelum melakukan semua itu, malah terbang ke Amerika dan jalan-jalan ke Disney land! Berkunjung ke white House dan menari-nari di Yellow Stone National Park. Menghabiskan malam di Broadway sambil menikmati pertunjukan opera kelas dunia. Ffuih, hebat.

Kami bertiga—Taufik juga da di sana—ngobrol segala macam dengan Pak Professor sampai larut malam. Begitu banyak hal mengejutkan kami perbincangkan malam itu, mulai dari progress penelitian beliau yang mengnagkat hal-hal sederhana tapi menyimpan impact yang luar biasa sampai pada surat presiden buat beliau: surat tanda kepercayaan seorang presiden pada seorang guru besar bersahaja yang penuh gairah.

Pukul dua belas malam lewat kami pamitan, sialan, Kami sudah mengantuk padahal harus membahas beberapa hal mengenai persiapan untuk pengajuan beasiswa. Tapi yang terjadi justru jauh lebih tidak bertanggung jawab, sesampainya di gedung Global, lembaga bimbingan belajar yang didirikan Taufik, bukannya kami langsung tidur, malah sibuk ngurusi computer karena pengen nonton film horror Indonesia bersetting di gunung merapi mendekati letusan besarnya yang katanya semi documenter itu, keramat. Kami pun baru tidur pukul dua dini hari lewat, dan tidak menonton film—komputernya down digasak virus.

IT’S EASY TO TAKE A DECISION: DECIDE!
“Kita pulang jalan kaki?” Aku bertanya asal pada David.
“Ok, kita jalan kaki,” jawabnya tanpa berpikir.
“Hmmm, berapa lama ya?”
“Tak cukup lama, tiga jam sudah nyampek rumah.”
“Bagus.”
“Yip.”
“Bro, kau siap untuk pergi sejauh itu?”
“Aku selalu siap untuk pergi sejauh itu, bro.”

Itulah keputusan gila yang diambil orang-orang tak waras yang gagal nonton film horror dan mengalami kurang tidur yang parah, serta kekurangan makan selama beberapa bulan. Keputusan itu kami ambil pagi-pagi benar waktu subuh. Kami berencana berangkat dari Global sepagi mungkin untuk menghindari panas, tapi kata “tiga jam” yang dilontarkan David dengan serampangan, yang sama sekali tak memiliki landasan ilmiah, yang sama sekali tak melawati proses penelitian dan pengukuran, yang diucapkan dengan tujuan hanya agar dia bisa menjawab pertanyaanku, telah memperdaya kami semua dengan sangat radikalnya: aku percaya, dia percaya, dengan berjalan kaki, Tuban Lamongan ditempuh hanya dengan tiga jam!

Pagi itu kami tak langsung berangkat, mengundur waktu, mempercayai bahwa tiga jam di bawah matahari panas tengah hari bukanlah masalah, maka, kami pun menunda keberangkatan sampai nanti tengah hari.

Menjelang tengah hari, kami membeli makan untuk perjalanan luar biasa kami: empat bungkus nasi pecel dan dua bungkus es sarang burung, sajuan khas yang senantiasa kami makan di rumah makan Lumintu setiap kali ke Tuban. Menu itu menu wajib. Tidak ada pilihan lain, itu adalah makanan yang harus kami makan setiap kali berada di kota Kuda Jingkrak itu. Dan tidak ada alasan untuk membantah ketetapan yang sudah diresmikan sejak tahun pertama kami kuliah di Tuban. Yah, kalau kau memaksa ingin tahu alasan semua itu, alasannya bukan karena kami dua orang fanatic yang sangat membenci rawon, atau dua orang megalomaniac yang sangat anti soto, atau kami adalah dua orang vegetarian radikal yang tidak akan pernah makan daging ayam sampai kiamat datang, bukan, bukan karena semua itu, tapi, ehm, karena kami harus berbagi keadilan pada dompet kami. Salah satu hak dompet adalah: tetap ada uang di dalamnya, nah, dengan mengkonsumsi nasi pecel, kami selalu bisa menyisakan beberapa lembar ribuan rupiah untuk tetap menjaga kehangatan isi dompet. Oh ya, mungkin di sini kau terheran-heran, mengapa empat bungkus nasi? Apakah itu tidak berleihan dari segi jumlah dan nominal yang harus dikeluarkan? Oh, sama sekali tidak, dengarkan pernjelasan kami sobat: sebungkus nasi pecel di Lumintu sungguh sangat murahnya, dan, sebungkus itu pula tidaklah cukup untuk mememnuhi kebutuhan perut kami yang memiliki standar kenyang para sopir truk antar propinsi dalam negeri. Dan juga hari itu kami harus melakukan perjalanan sacral yang sangat berat! Jadi maklumilah kami, sobat.

SO, THIS IS NOW THE TIME: RUN GORGEOUS DUMB, RUN!
Hari ini, Kamis, 10 Maret, pukul setengah dua belas yang tak terlalu panas.

Aku dan David sudah berdiri di mulut gang 8 Baturetno, kami adalah dua rang pengembara yang sudah bersiap untuk memulai petualangannya. Kami adalah dua pemuda yang tidak perduli pada perhitungan jarak, waktu dan kecepatan untuk melakukan sebuah perjalanan, kami adalah dua orang yang tertipu oleh tekad dan keberanian sehingga tidak butuh landasan akademis maupun ilmiah untuk mencapai goal kami. Kami punya perhitungan sendiri yang kami sebut dengan perhitungan keberanian. Kami punya kalkulasi data sendiri yang kami sebut kalkulasi data ketangguhan. Kami punya landasan ilmiah sendiri yang kami sebut landasan ilmiah sugesti peruangan. Dan dengan bekal semua itu, langkah pertama untuk menaklukkan ratusan kilometer jarak Tuban-Blimbing kami ambil dengan gagah berani dan dengan mengesampingkan semua bujuk rayu kernet angkot bergigi hitam kekuningan itu.

Perjalanan hari itu kami mulai dengan langkah kuat penuh percaya diri di atas rotoar kuning kota Tuban yang yang mulai bising. Hal pertama yang kami lakukan selain melangkah dan mengawasi jalan, adalah berdiskusi tentang kesalahan besar dalam bahasa Indonesia. Ingat, kita punya begitu banyak sinonim untuk kata aku, juga untuk kata kamu, yang mana sinonim-sinonim itu sama sekali tidak berpengaruh pada inti dari pembicaraan. Apakah aku, saya, -ku, atau bahkan gue, berarti sesuatu yang bisa membantu pemaknaan pada aku? Atau bagaimana kata kamu yang bervariasi itu, kau, anda, sampean, lo, bisa membantu pemahaman yanglebih bermakna? Ah tidak, semua itu hanyalah olah kata untuk menopengi “Pemeliharaan Terhadap Kasta”, bukankah itu terdengar demikian? Tapi coba pikir, apa ada kata yang lain untuk dia? Padahal kata dia jauh leih membutuhkan variasi untuk menguatkan definisi dari pada kata aku dan kamu. Aku, apa pun bentuknya tetap bermakna aku, jika yang mengatakn aku adalah seorang pria, jelaslah bahwa aku itu pria, demikian pula sebaliknya. Kata kamu, jika yang kita tunjuk adalah seorang perempuan maka kata kamu itu memiliki gender perempuan dalam maknanya. Lantas bagaimana dengan kata dia? Bisakah kita mengetahui kita sedang membicarakan lelaki atau perempuan dalam kalimat ini: dia seorang guru. Siapakah dia ini? Apakah seorang perempuan atau laki-laki? Dan hal yang lebih penting akan terjadi ketika seorang korban penikaman berbisik pada penolongnya, “dia pelakunya.” Sialan, siapakah dia ini? Laki-laki atau perempuan? Di TKP ada empat orang, dua laki-laki dan dua perempuan, maka siapa pembunuhnya? Dia itu siapa? Sangat penting punya kata dia khusus untuk perempuan—jika kata ‘dia’ saja kita sepakati untuk pria. Bagaimana dengan kalian dan mereka? Kita atau kami? Ah, keempat kata itu tidak ada sangkut pautnya dengan jenis kelamin objeknya. Justru akan merepotkan jika ada kata kalian—sebagai contoh—khusus untuk kumpulan perempuan, kumpulan laki-laki, dan mixing laki-laki dan perempuan. Kaum bencong akan menuntut kata identifikasi khusus pula nantinya. Dan kata yang kami proklamirkan hari itu, untuk mengisi kekosongan kata pengganti orang ketiga tunggal, adalah kata ‘diah’ sebagai kata ganti ketiga tunggal untuk perempuan, dan kata ‘dia’ untuk menggantikan lelaki ketiga tunggal. Bedanya pada akhitan ‘h’ (untuk keterangan lebih lanjut mengenai ide radikal ini, baca artikel saya yang lain).

Setelah tiga puluh menit yang keterlauan dan melelahkan, kami sampai di Panyuran. Syukurlah saat itu matahari tidak terlalu garang menyengat bumi. Awan putih pucat mengambang di langit dan memberi sedikit kesejukan ke atas kami kulit kami yang terbuka. Adzan duhur sudah berkumandang dan kami berencana sholat di tempat yang lebih jauh.

THIS IS TO TEST YOU, WHETHER OR NOT YOU ARE A STUBBORN GOAL CATCHER OR A CRYBABY DREAMER
Mencapai Tasikmadu, kurasakan kakiku mulai mengeras. Betisku mulai mengernyitkan keningnya dan aku tahu, sesuatu akan terjadi entah kapan sebentar lagi. Tapi kami masih terus berbincang-bincang dengan penuh semangat. Habis membahas kosa kata baru untuk bahasa Indonesia, kami membahas beasiswa AMINEF, membahas mata kuliah yang aneh-aneh, membahas media massa dan penipuan massa, membongkar iklan-iklan televisi yang mencantumkan prinsip-prinsip hipnotis di dalamnya, sampai seberapa persen nilai-nilai ilmiah yang dikandung tayangan-tayangan reality show konyol yang beredar di televisi tanah air—Untuk itu aku selalu berkata pada David, this is our best intellectual discussion ever!

Sampai di Kradenan, diskusi intelektual kami sudah terasa memuakkan dan aku ingin muntah mencium aroma ketiak David—aku yakin dia juga merasakan hal serupa kepadaku, tapi kami memilih untuk tidak saling mengatakan kejujuran akan hal itu. Aku bersyukur karena angin laut mengatasi semua gejolak dalam dada kami.

Mencapai terminal wisata Asmarakandi, kami berganti bicara soal pacar dan artis Indonesia yang kami prediksi akan segera hilang kecantikannya begitu melahirkan anak pertama mereka—diskusi intelektual benar-benar kami hentikan karena terasa sangat menjengkelkan jika ditetap dilakukan dibawah bakaran matahari dan semprotan asap kendaraan.

Dan begitu mencapai masjid Bani Hasyim, kami sudah tak kuat lagi. Kami segera ngeloyor ke selatan jalan untuk sholat di masjid besar yang tampaknya tak pernah selesai di bangun itu. Oh tuhan, rasanya sangat luar biasa. Kami akhirnya sholat dhulur, pukul dua lewat.

Hanya kuberi waktu tak sampai tiga puluh menit untuk istirahat. Setelah itu kami pun segera melanjutkan perjalanan, meninggalkan empat orang yang membawa colt hitam penuh sepeda motor meneruskan sholatnya. Saat itulah, kami mulai merasakan kesakitan yang menggigit di lutut-lutut kami. David mengusulkan kita bertukar sandal untuk mengatasi kejemuan yang dialami masing-masing telapak kaki. Aku setuju dengan agak berat hati. Perlu kau tahu, sandalku adalah sandal karet hitam bermerek nikko yang kubeli seharga sepuluh ribu dari sepasang suami istri yang menjual obral sepatu, sandal dan tas di atas colt hitamnya. Permukaan sandalku mulus, sementara permukaan sandal David berduri-duri—suatu design yang dipercaya bisa mengobati rematik oleh banyak orang kampong. Aku sebenarnya sangat tidak suka usul itu, tapi tentu aku ak mau melihat kawanku tersiksa sendiri oleh sandalnya sendiri. Kami pun bertukar sanda. Dan ternyata:

“I got a much comfortable sandal here under my foot, this is a nice change!”
Dan David berseru: “shit! You got a too small sandal! It hurts me right now!”
Dan tentu aku tertawa saja mendapati dia menyesali tawaranya barusan.

Sampai di jembatan Ngaglik Palang, jembatan yang memisah kabupaten Tuban dan Lamongan, kami berhenti untuk merasakan semiliran angin laut yang menerpa kami. Hore! Kami sampai juga di garis perbatasan. Tapi itu harus kami bayar mahal tentunya, sejauh ini, kami sudah berjalan selama tiga jam di bawah matahari, menempuh lebih dari dua puluh kilo meter, menerima tatapan heran dari para kernet dan sopir angkot, kini kami kehausan dan butuh istirahat.

Kami berjalan terus ke timur, memasuki daerah pinggiran kabupaten Lamongan. Mencari tempat untuk berhenti dan membeli minum sampai akhirnya, sialan, kami menemukan restoran yang biasa disinggahi para sopir truk. Kami kira itu restoran yang cukup bijaksana untuk disinggahi, bijaksana dengan keadaan keuangan kami, tapi yang terjadi adalah kututkan! Dua gelas es teh dan dua bungkus snack yang seharusnya seharga lima ratusan, ternyata menguras uang sebanyak lima ribu rupiah! Sialan! Sialan! Ini penipuan yang kejam! Sangat keterlaluan! Apa yang diinginkan oleh mereka? Menguras habis harta dua pemuda miskin yang tak berdaya dan rendah hati ini? Sangat tidak adil.

Kami meninggalkan restoran itu dengan menggerundel dan menyesalkan kebijakan pemerintah yang tidak turut campur untuk menindak tegas segala keanehan yang terjadi di lingkungan PSSI. Entah apa kaitannya tapi itu untuk mengobati keluh kesah kami.

Sampai di Ganting, segalanya mulai terasa seperti racun dan menyesakkan. Kaki kami melangkah sudah tak lagi secepat tadi. Tubuh kami sudah tak setegak tadi mengusung kami. Dan paa saat yang kritis itulah, David elakukan tindajan heroic yang tak pernah kubayangkan akan dia lkukan demi kami, David beraksi demi membantu ku meringankan beban dari perjalanan ini. Pada saat yang kritis itu, David tiba:

“Kaki, kau adalah kaki terhebat yang ada di dunia!” David ,ulai berbicara dengan kaki-kaki kami. Seakan kaki kami adalah makhluk hidup lain yang punya telinga dan bisa mendengar tiap perkataannya, yang akan bereaksi pada tiap penggal kata yang dia ucapkan. “kaki, kami tidak pernah bermaksud untuk menyakitimu kaki. Kami tidak bermaksud ingin menyakitimu, kami tidak berniat untuk membuatmu lelah seperti ini, tapi kami ingin mencapai suatu rekor yang belum tercatat sebelumnya.”

Maka mulai detik itu, perjalanan kami ini mulai memiliki tujuan: kami ingin memecahkan rekor mahasiswa jalan kaki dari Tuban kota sampai blimbing, Lamongan.

Sungguh menakjubkan, setelah empat jam lebih berjalan kaki, setelah trotoar jalan kota Tuban yang manis habis, setelah puluhan kilometer tamat kami libas, stelah tulang-tulang dan otot terasa kejang dan mau remuk, barulah kami menemukan tujuan utama perjalanan ini: mencatat rekor.

David terus berbicara dengan kaki kami, dia ucapkan kata-kata indah menggugah, dia member motivasi pada—bukan pada ku atau pada dirinya, tapi—kaki-kaki kami yang terus saja mengayun tanpa henti.

Aku mulai meduga David sedang mencapai transisi antara sadar menuju tak sadar, atau jelasnya, antara waras menuju tak waras. Tapi aku salah, tiba-tiba saja, entah bagaimana, aku sekarang merasakan kekuatan yang luar biasa dari kata-kata itu. Aku merasakan energy baru disuntuikkan ke dalam kaki-kakai ku. Aku merasakan tenaga yang hangat dan powerful di-implankan ke dalam betis dan pahaku. Aku kembali kuat!

Maka aku pun turut memotivasi kaki-kaki kami, “kaki, kau adalah kaki yang ter\hebat di dunia! Kau luar biasa!”
“Kaki, kau adalah sepasan gpejuang yang tangguh!”
“Kaki, sekalipun kau tidak melintasi padan salju untuk menyelamatkan nyawa, kau juga tidak sedang mendaki gunung, atau kau sedang berjuang melawan maut karena terjepit batu besar di dalam celah jurang, tapi kau adalah kau kaki yang hebat karena kau telah melakukan hal pertama yang tidak pernah dilakukan ornag sebelumnya!”
“Kaki, kau penuh kekuatan! Kau penuh denga keajaiban! Kau pasti bisa mencapai tujuan akhir kami dengan gemilang!kaulah satu-satuya yang bisa mencapai segala hal yang mustahil!”
“Kaki, kau lah orang Bawean pertama yang menjadi mahasiswa dan menempuh Tuban-Lamongan dengan berjalan kaki! Kau memecahkan rekor duhai kakiku!”
“Kaki, kau juga adalah kaki-kaki pertama yang dimiliki mahasiswa blimbing yang menempuh perjalanan dari Tuban ke blimbing!”
“Kaki,” kami bersorak bersama, “kami sangat bangga dengan kekuatan dan perjuangannmu!”

THE TENSENESS!
Melewati Ganting, semua motivasi yang kami ucapkan sudah hancur menjadi bualan tak berharga dan remuk ditelan kelelahan yang tak berbatas. Kami mulai meracau tak karuan.

“Kaki, kau sangat bodoh! Rasakanlah penderitaan yang kami hantamkan padamu! Wahahahaha.”
“Kaki! Kalian akan patah jadi lima akibat ambisi kami! Wecakakaka.”
“Kaki, remuklah kalian!”
“Menjadi bubur!”
“Wekakakaka! Wecakakakakak!”
Cakaran. Sampai di Cakaran, pukul empat lewat, dan kami sudah tak berdaya lagi untuk bersuara. Kami terdiam dalam anggukan kepala yang lemah dan penuh keringat.

David mengeluh, dia memiliki gangguan pada tubuh bagian kanannya. Kaki kanannya entah mengapa terasa lebih capek dan menyakitkan ketimbang anggota badannya yang sebelah kiri. Dia menyasar pinggiran jalan mencari tongkat untuk menyanggah badan. Setlah pencarian yang lama, aku berhasil menemukan tongkat bamboo yang cukup prestisius buatnya, itu tongkat bamboo yang membuatnya menjadi serupa dengan para musafir bercapil yang banyak berkeliaran di sepanjang jalur pantura. Hanya saja dia keren dan memakai rompi rajut diluar hem abu-abunya.

Aku mulai khawtir, jngan-jangan David akan menyerah, jangan-jangan dia sudah tak sanggup lagi untuk mencapai goal kami yang prestisius itu. Aku pun mencoba mengjaknya berbicara lagi tapi justru aku tak pernah sanggup menghabiskan kata-kataku. David terus berbicara dan aku hanya diam saja. Kini malah aku yang tampak tak berdaya. Aku pun mengusulkan kita menyanyi saja. Maka mulailah kami menyanyi. Lagu pertama yang kami nyanyikan adalah lagu pertama milik jikustik, kau menyisakan tangis, pertengkaran semlam, di antara kita… kami terus menynyi sampai akhirnya kami mencapai koleksi lagu-lagu india yang kami punya.

Gila, kami bicara dan bernyanyi bukan lagi karena itu keingnan kami atau dorongan seni kami, tapi merupakan usaha sia-sia kami untuk memanipulasi rasa capek yang mendera kami.

Bersambung.

7 Responses

  1. Seorang Penulis sejati tiada akan pernah menemukan sebuah inspirasi tanpa adanya sebuah
    1. Pengorbanan
    2. Penderitaan
    Akankah sbuah inspirasi muncul hanya dengan menghadirkan itu semua,,??Kenyataan-nya memang benar,,,karya seorang Penulis hebat selalu muncul ketika,,
    1. Ada tetesan airmata
    2 Kucuran keringat
    Anehnya, Ada juga seorang penulis yang hanya duduk manis di depan komputer tanpa tau ada fakta apa di balik sebuah hakikat kehidupan,
    Pertanyaannya adalah, Hidup adalah sebuah Pilihan, mau yang enak atau yang menyakitkan,,,,, Ah ternyata itu hanyalah sebuah kamuflase Hati,,,, “SEMANGAT MY FRIENDS, INGAT BAHWA HIDUP ITU INDAH KALAU KITA SELALU BELAJAR SERTA MEMAHAMI APA HAKIKAT KEHIDUPAN YANG SEBENARNYA,,,,,,”
    Terus berkarya, karena sesungguhnya sebuah karya sejati hanya ada pada seorang pejuang sejati,,,,

  2. Ayo menulis, menulis, menulis,,,,,,,
    “Lewat sebuah tulisan kita bisa tau seberapa kemampuan diri kita, seberapa paham kita tentang arti menghargai dan di hargai sama orang lain,,,,,
    “Hanya lewat tulisan kita menginspirasi orang lain agar selalu optimis dan positif,,,
    ‘Cuma lewat tulisan kita menghadirkan sosok lain dari diri kita, sisi lain dari kepribadian kita,,,,
    “Sekedar lewat tulisan kita bisa mencurahkan segala kegembiraan, kekecewaan, kegundahan dan kegalauan perasaan baik pada diri kita maupun orang lain tanpa ada yang merasa di sakitlisani, tersakiti, menyakiti,,,,
    ” meski hanya lewat sebuah tulisan, jiwa yang kosong menjadi tentram, mimpi semu menjadi sebuah kenyataan yang indah,,,,,
    Seorang penulis tau bagaimana menghrgai arti Hidup yang sebenarnya, tida pernah mengeluh, tiada pernah menyerah pada keadaan, yang ada hanya” IDE, INSPIRASI, IMAJINASI, KARYA”
    Sukses selalau boat semua te,anku yang menjadi Penulis, Bermimpi jadiPenulis, Baru akan Menulis, Bercita_Cita jadi Penulis, Ayo Menulis tentang apa saja, dimana saja, bagaimana saja okey,,,,,,

  3. pengorbanan,penderitaan hy sbagian cobaan,perjalanan hidup.kau tdk sendiri,q dan kawan yg lain merasakn yg sm.
    bukankah Nabi mUHAMMAD BSK DI HARI KIAMAT BERSAM ORANG KERONCONGAN PERUTX. merak tidur sejak hbs soat isya’ dan melewwati mlm tamap ibadah bkn karena so’ dan knp.hy karena menhindari teriakan sang perut.
    percaya kawan bahwa BADAI KAN BERLALU.

  4. Adegan gila! Luar biasa! Hari gini masih ada orang macam kalian. Sungguh! Ini sangat langka! Wakakakaka. Salut.

  5. Aku merasa perjalanan ini seperti imunisasi bagiku. Badanku remuk setelahnya. Kaki kemeng. Di malam kedua, aku bahkan mengalami meriang, sebuah gejala yang biasa dialami bayi seusai diimunisasi. Tapi di hari ke tiga setelah jalan-jalan terpanjang ini, aku sehat. Kaki makin lincah. Buang air besar makin lancar, dan pencernaan membaik.

    Saranku, jika kau sering sakit, nampaknya kau harus lakukan imunisasi sepertiku dan Arul.

  6. @iffada: hoaaaaaaaaaaaaaaaaaa, mbak ifada, wehehehehe, mkasih mbak, blm prnah ada yg sesemangat sampean dalam menulis komen di blog q. a sgt trsanjung, hiks, hiks, hiks. motivasi yg luar biasa! hebat1 anda membuat aku merasa tidak sia2 selama ini! ffuih, salm buat mas Fin. ayo berjuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang!!!

    @aabjay: hey bung, kau benar bung, kau sangat benar, kau bahkan terlalu benar! kini tiba saatnya para lapar mencapai keberhasilan yg diperjuangkan selama ini!

    @vina: hey adik ipar, wahahahaha, akhrnya kau komen jg. mkasih nyah.

    @duapit: wohaaa, dude, lets do it once more! cycling! prepare for it, we’re gonna do it when i have my first book launching at unirow! yieee

  7. Indah rasanya bisa meng aplikasikan pikiran melalui tulis menulis😀. Semenjak punya blog, aku jadi bisa merasa, sebenarnya menulis lebih sulit dari pada ucapan. Entah kalian2. Hehe. .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: