• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

My Private Teaching Series: Ayo Tiup Anak-Anak!

mengajar yuuuuk

Setiap kamis aku pulang ke rumah dari pondokku untuk mengajar. Mengajar yang sangat menyenangkan dan menggairahkan. Aku mengajar anak-anak kelas dua dan tiga di Madrasah Diniyah Al-Ikhlas Jompong, Brondong. Dan setiap hari mengajar tiba, hampir aku selalu menemukan hal baru baik sengaja maupun tidak. Satu hal yang telah kupelajari dengan baik tentang mengajar anak-anak adalah: bukan persiapanmu di rumah yang membantumu sukses mengajar di kelas, tapi bagaimana aksimu di kelas yang membuat persiapanmu tidak sia-sia.

Sebelum ini, aku pernah beberapa kali melakukan persiapan yang sangat matang di rumah—seperti menyiapkan materi, bahan pertanyaan, kegiatan pembelajaran apa yang akan dipakai, game apa yang akan disisipkan—dan ternyata tidak berfungsi sama sekali di kelas karena anak-anak tidak bisa kuajak bekerja sama dalam kegiatan pembelajaran tersebut. Hehehehe, kau tiba-tiba menjadi orang hebat yang aneh di tengah-tengah mereka. Tapi tak jarang pula, dengan hanya persiapan setandar—menyiapkan materi dan bahan pertanyaan untuk evaluasi—kegiatan pembelajaran dikelas berlangsung sangat luar biasa. Karena hati itu aku bisa mendapatkan hati mereka pada hari itu. Aku bisa membuat mereka nyaman dan akhirnya mendapatkan kepercayaan mereka untuk mengikuti semua instruksi—spontanku—dan pembelajaran yang kuerapkan. Wahahahaha, untukyang satu ini memang kayaknya ‘sudah dianugerahkan’ kepadaku oleh Allah, Alhamdulillah.

Namun, semuanya akan menjadi sangat luar biasa jika di rumah kau sudah menyiapkan materi dengan matang, bahan evaluasi yang relevan, langkah pembelajaran yang runut, dan game selingan yang apik serta saat di kelas kau bisa menerapkan semua itu dengan tepat. Wow, kau akan merasa tidak ada hari yang lebih menyenangkan dari pada hari itu.

Hari kamis minggu ini, aku sudah menyiapkan segalanya untuk mengajar—kecuali mengoperasi plastic wajahku supaya tampak sepertin Justin Bieber—dan aku merencanakan sesuatu yang mungkin bisa mengatasi keluhan pribadiku selama ini: anak-anak sangat lemah dalam pelajaran mengarang. Hari itu aku menyiapkan cerita tiga ekor babai dan seekor serigala yang telah kumodifikasi menjadi tiga ekor kelinci dan seekor koruptor, eh, seekor serigala. Kau tahu cerita itu kan? Tiga ekor babi bersaudara berpencar di hutan dan mereka membuat rumah masing-masing. Si sulung yang pemalas membuat rumahnya dari jerami, si tengah yang agak rajin membuat rumahnya dari kayu, si bungsu yang rajin membuat rumahnya dari batu bata. Ketika serigala datang, rumah si sulung dengan mudah dihancurkan oleh serigala dengan sekali tiup. Sulung pun lari bersembunyi di rumah adiknya. Rumah si tengah pun akhirnya hancur didobrak oleh serigala. Mereka pun lari sembunyi di rumah adiknya si bungsu. Dan yang terjadi, serigala itu keok sendiri karena mencoba mendobrak rumah tembok. Nah apa yang kulakukan agar pembelajaran kali ini menarik sekaligus bisa membuat mereka mengarang dengan baik?

Kubuat cerita ini seperti kisah Dora The Explorer. Kuajak anak-anak terlibat pada tiap even yang terjadi dalam cerita. Seperti meniup bersama-sama saat si serigala meniup rumah si sulung. Hasilnya? Hahahaha, mereka merasa menjadi salah satu tokoh dalam kisah tersebut, yaitu sebagai si serigala! Hahahahah. Kemudian, aku tidak menulis kisah tiga bersaudara itu di papan tapi menceritakannya secara lisan dengan sebuah instruksi pembuka: perhatikan baik-baik cerita bapak, nanti kalian dapat tugas menulis ulang cerita tersebut.

Hasilnya? Yah tentu saja luar biasa. Setelah cerita berakhir, merekapun mulai menulis kisah tiga bersaudaraitu dengan versinya masing-masing. Ternyata masing-masing mereka memiliki kesan yang berbeda-beda tentnag kisah itu. Kesan yang paling kuat akan muncul dalam karangan mereka. Beberapa anak—dan di antaranya termasuk siswa yang pandai—mengeluh dan tampaknya mengalami kesulitan dengan tugas menulis ulang cerita tersebut. Ya, mereka bukan termasuk anak-anak yang memiliki cukup kebebasan untuk mengeluarkan imajinasinya. Aku mengenal orang tua mereka dan bagaimana cara mereka membimbing belajar malam di rumah. Anak-anak itu sangat luar biasa soal menghafal materi pelajaan, tapi ketika dia harus menulis sesuatu yang berbasiskan pada keatifitas imajinasi, mereka mengalami sedikit kesulitan.

Pada akhirnya, semua siswa menyelesaikan tugasnya dan hanya satu orang yang berhasil mendapat seratus. Dia mendapat nilai seratus karena kemampuannya mengingat semua adegan-adegan utama dari cerita dan kemampuannya merangkainya dengan bahasanya sendiri. Itu cerita lengkap yang lucu dan menyenangkan untuk dibaca!

Jadi sobat, jangan lupa kau berikan kebebasan bagi siswa-siswimu, karena mungkin mereka tidak mendapatkannya di rumah.

25/02/2011

2 Responses

  1. Sukses dengan trik mengajar-nya, have a nice student, have a nice time and have an excellence experience while teaching, i’m waiting your next brilliant idea okey,,,,,,

  2. hehehehe, amin mbak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: