• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

REL WAKTU

dari mana dia berawal, kemana dia berakhir

Masih ada sampai sekarang rel besi peninggalan jaman kolonial melintang membelah tengah wajah kota tua Tuban. Rel yang tak lagi berfungsi, tergeletak di atas tanah ditinggalkan gerbong yang biasa melintasinya. Satu hal yang akan selalu muncul dalam benak kita tiap kali melihat dua baris besi berruas itu: dari mana dan di mana dia berasal dan berakhir?

 

Kehidupan manusia pun demikian, datang dan pergi. Muncul dan hilang. Lahir dan mati. Tak bisa menolaknya, tak bisa menghindarinya. Peralihan adalah suatu pintu yang pasti dan harus dilangkah-masuki oleh manusia. Melalui seorang manusia agung dari Arabia, Muhammad Sang Nabi, Tuhan memproklamirkan pada umat manusia empat belas abad yang lalu mengenai transisi: sekali pun kau bersembunyi dalam benteng yang kokoh, maut tetap akan merenggutmu.

Pertama kali mendengar kalimat suci ini, aku hanya merasakan suatu kesan sederhana saja: mati. Tamat dan usai. Tapi ketika merenungkannya beberapa tahun kemudian—seiring dengan bertambahnya kepahaman—aku pun menjadi bertanya-tanya, mengapa Tuhan Yang Agung memilih kata benteng sebagai tempat pelarian manusia dari maut? Mengapa bukan bersembunyi di dalam tanah? Di tengah hutan? Di dasar lautan? Dalam pengawalan jutaan tentara terhebat? Atau sederhananya, di dalam rumah saja di bawah kolong tempat tidur? Aku menduga, pastilah itu karena kata benteng memiliki dimensi makna yang luar biasa dan kompleks untuk menunjukkan kekuatan pesan-Nya. Benteng dalam wahyu itu adalah sebuah perlambang: kekuasaan. Bukan hanya kekuasaan dalam arti militer, tapi juga kekuasaan untuk mengatur segala yang ada dan bertahan dari segala serangan. Sebuah benteng dan segala isinya. Dan sehebat apapun benteng tempatmu bersembunyi, tak ada satu pun yang dapat membentengimu dari maut.

Pada hari Jum’at, tanggal 22 November 1963, John Fitzgerald Kennedy, presiden Amerika ke-35 yang populer dengan akronim JFK itu tersungkur di atas mobil limosin terbukanya dalam sebuah pawai di jalanan kota Dallas, Texas. Istrinya, Jacqueline, yang turut naik mobil berdarah itu menjerit histeris, sebuah lobang menganga di kepala sang presiden yang mendukung ide persamaan hak kaum hitam dan putih Amerika. Seorang sniper telah melaksanakan tugasnya. Dan kennedy meninggal saat para dokter tengah mati-matian berusaha menyelamatkan jiwanya. Pada hari itu, seorang pria dalam benteng telah menemui ajalnya. Ratusan tentara pengawal presiden tak bisa berbuat apa-apa selain panik dan berduka. Kemudian, JFK digantikan oleh wakilnya, Lyndon Baines Johnson. Pria yang lain, dipuja oleh ratusan juta manusia dan dikutuk oleh ribuan juta lainnya, pada tanggal 25 januari 1924, tergeletak menghembuskan nafas terakhirnya. Dialah Lenin, pendiri dan pimpinan Uni Soviet pertama. Kematiannya melahirkan gelombang emosi yang demikian massiv sehingga bukan hanya rakyat biasa yang berduka—walau pastinya yang senang atas kematiannya jauh lebih banyak lagi—tapi juga mereka yang berstatus lebih tinggi. Para penyair menggubah ribuan bait puisi untuk sang kamerad, Lenin dan kehidupan, adalah kawan, demikian lenguh Mayakovsky. Dan para ilmuwan pun tak luput dari terpaannya: bulan Maret tahun yang sama, ilmuwan Soviet membalsem jazad Lenin layaknya mumi para fir’aun ribuan tahun lalu—para raja yang juga akhirnya mati. Mereka memulai sebuah proyek untuk membangkitkan lagi sang pemimpin dengan menggunakan kekuatan sains. Bangkit dalam artian: hidup kembali. Dan akhirnya pada tahun 1991, saat mana Uni Soviet jatuh terjungkal di bawah kaki kaumnya sendiri, proyek pembangkitan Lenin yang menghabiskan banyak uang itu pun mati bersamaan dengan matinya harapan hidup yang lebih baik bersama komunisme. Pada detik itu, Lenin benar-benar mati. Seorang pria dalam benteng telah game over. Bukan hanya dalam dirinya dia mati, tapi juga harapan akan kebangkitannya kembali pun turut mati dari dalam benak jutaan pemujanya. Ini hanyalah sebagian kecil dari jutaan contoh berakhirnya seorang pemimpin, mulai dari tingkat RT sampai level PBB. Dan setiap kematian mereka selalu menyisakan dua hal: hilangnya sebuah nyawa dan bergantinya seorang penguasa.

Seperti halnya kematian, pergantian pemimpin adalah pintu yang tak mungkin dihindari. Walau mungkin sebagian orang mencoba mengakalinya dengan segala macam cara. Setelah dia berkali-kali memimpin dan tak mungkin untuk menjabat lagi karena system yang tak memungkinkannya. Orang macam itu akan tampil lagi sebagai sosok yang lain hanya agar bisa memegangi rumbai tali kekuasaan—sebagian kita akan teringat pada Putin presiden Russia yang muter-muter jabatan itu, atau mungkin, pada ‘beberapa orang’ disekitar kita yang tampaknya tak pernah puas meneguk kekuasaan. Kita hanya perlu untuk menunggu, melihat reaksi rakyat menanggapi ulah pemimpin seperti itu, apakah tersenyum menyambutnya sebagai orang hebat atau menertawakannya sebagai bunglon kelaparan yang menyedihkan.
*
Rel tua di tengah kota Tuban masih terbujur kaku sampai sekarang. Kesepian dan tak berguna. Besi terbuang yang tak bisa disingkirkan. Di atasnya, jalan, rumah dan gedung-gedung sudah terlanjur dibangun-didirikan. Tak mungkin digusur hanya untuk mencopot bangkai rel. Entah pimpinan macam apa yang akan mengambil sikap terhadap bagian dari barang sejarah perkereta apian di tanah air itu. Karena pernah suatu ketika pemerintah Belanda ngotot ingin mempreteli rel-rel kereta api peninggalan VOC tersebut. Mereka bersikukuh untuk memilikinya karena merasa dia yang membuat. Satu hal yang mereka lupa, mereka membuatnya sebagai penjajah yang sedang merampas harta dari pemilik yanag sah. Dengan demikian, pemerintah Belanda telah bersikap sebagai seorang pimpinan yang lupa bahwa dia sudah tamat jabatannya. Ditertawakan.

Arul Chandrana

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: