• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

sejarah Arul Chandrana dan Blognya yang Sekarang Sedang Anda Baca

arul chandrana, the owner of this blog. don't tell me if you think he is not cute. please.

Bagaimana nama Arul Chandrana bisa terpilih untuk blog ini? Dan juga akhirnya menjadi nama pena untuk semua karya tulisku? Atau—lebih mendasar lagi, bagaimana aku bisa memiliki blog ini? Sedangkan bukan rahasia pada saat itu—tahun 2009—aku masih benar-benar buta tentang internet dan segala macamnya? Bahkan email pun aku baru punya! Sekarang semua itu terasa begitu indah untuk dikenang. Dan mengagumi bagaimana semua bisa terjadi. Yah, memang begitulah bagaimana waktu berbuat terhadap kita. Waktu yang membawa kita terlahir, waktu pula yang akan membawa kita berakhir.

Kelahiran blog ini tak lepas dari peran serta tangan jahil David (semoga Allah mengampuni semua dosa-salahnya). Dia yang sangat tahu betapa aku senewen ingin segera menjadi penulis professional, merasa jika sarannya agar aku mengirim tulisan lewat email adalah cara yang kelamaan. Aku mnjadi tergantung pada penerbit, pada koran, pada majalah. Aku tak akan muncul tanpa ‘belas kasih’ mereka. Padahal, sungguh menyedihkan nasib seorang penulis yang mulai tergantung pada penerbit. Dari situ, dia berinisiatif agar aku bisa eksis kapan saja, di mana saja, berkuasa atas keputusan terbit tidaknya sebuah naskah, dan karena itu, dia pun mengusulkan agar aku segera mempunyai blog pribadi. Ya, sebuah blog yang akan menampung semua kelebat dalam otakku. Saa itu, aku kurang berminat dengan tawaran gratisnya itu, pikirku, ngapain mampang tulisan di temapat umum kayak gitu, gimana kalau ada yang mencurinya? Menjiplak dengan seenaknya? Ah, tidak bisa! Namun, setelah beberapa saat, david pun—seperti biasa—berhasil meyakinkanku jika tak akan ada orang Indonesia yang akan cukup tertarik menjiplakku. Yah, masukan yang buruk sih, tapi bekerja. Dengan harapan akan ada penerbit atau editor buku yang menemukan blog itu, aku pun menerima tawarannya. Blog pun dibuat.

Blog pertamaku bukan di wordpress, tapi dia numpang di “penulisindonesia.com”. sanat prestisius kedengarannya, dan sedikit banyak, juga karena itu aku menjadi sangat berminat untuk ngeblog di sana. Hanya saja, tak lama kemudian, blog itu raib begitu saja. Hilang. Musnah. Lenyap dari alam raya dengan menggondol beberapa karya tulisku yang sebagian besar hilang tanpa jejak. Musnah. Aku termangu menatap layar kosong internet. Dan di sebelahku, David diam menyimpan wajah bersalah dan kekecewaannya. “Maaf, dude, mestinya aku tidak menyarankanmu bikin blog.” Dia mencoba bersimpati. “kini tulisan-tulisanmu hilang, bahkan banyak cerpenmu juga ikut raib.” Dia mendata kerugianku. “yang kutakutkan, bagaimana kalau admin penulisindonesia.com itu mencuri semua karyamu?” dia membuatku merinding. “dan dia menerbitkannya di belakangmu. Mencurimu.” Sialan, dia malah menakutiku. “maaf, sekarang, semua sudahterlanjur, aku merasa sangat bersalah. Maafkan aku sobat.” Aku tidak bisa menjawabnya, aku masih terlalu galau. “sebagai tanda maafku, kau akan aku buatkan blog baru!”
***
Tahun 2008, atau mungkin 2007, aku mendapatkan kiriman beberapa novel berbahasa Inggris dari mbakku yang ada di Malaysia, diantaranya sebuah novel karya penerima nobel sastra dari India, V.S. Naipaul, judulnya Magic Seed, sebuah novel tentang seorang lelaki yang terombang-ambing dalam hidupnya, yang mengantarnya menjadi seorang gerilyawan yang diburu pemerintah. Lelaki tersebut bernama Willy Chandran. Nah, dari nama itulah aku menpatkan nama Arul Chandrana. Tapi bagaimana?

Sebenarnya aku tidak bermaksud menambahkan ‘a’ diujung kata Chandran, tapi aku lupa nama itu. Aku bingung apakah namanya Chandran atau Chandrana. Sementara David menunggu tak sabar di sebelahku nama apa yang akan kugunakan untuk blog tersebut. Tapi, yang paling membuatku panik adalah billing rental internet yang terus menanjak tagihannya dengan cepat dan tanpa krompomi/ padahal budget untuk ngenet sungguh sangat amat terbatas. Maka akhirnya, aku pun menjerit pada sahabatku itu: Arul Chandrana! Dan David terkejut.

Untuk Chandrana, dia sudah tahu kalau nama itu adalah hasil pembajakan dari nama tokoh utama Magic Seed—atau mungkin malah pencaplokan dari budaya penamaan India. Tapi untuk Arul, David kalang kabut dibuatnya. “Where’s on earth do you get that three words first name?” David memekik sambil memampang wajah kesusahan menahan tawa. Sialan! Tapi aku punya jawaban yang kelewat logis untuk itu: “Dude, Arul is taken from the second part of my original name. Don’t you sense it?” Pemuda—untuk menghargai usahanya—tampan itu pun mengerutkan kening sejenak, kemudian terpingkal-pingkal menyadari bagian mana yang telah kuambil untuk membentuk Arul. “you’re crazy! Wahahaha, people’ll think you aren’t Indonesian.” Aku pun tersenyum dengan itu. Yeah, sebuah nama yang akan terdengar sangat Sakh Rukh Khan. Tapi mengapa? Tiba-tiba dia bertanya padaku.

Menjadi terkenal dan dikagumi banyak orang adalah keadaan yang menyenangkan, tentu saja. Tapi kalau kita mau untuk merenunginya sedikit saja lebih dalam, kita akan tahu menjadi terkenal seperti itu sungguh tidak lebih baik dari menjadi biasa-biasa saja, tenang, mengalir dalam senyap, dalam kebisingan. Karena yang diperhitungkan bukanlah seberapa banyak gelegar nama kita, tapi seberapa dahsyat kita membuat gebrakan. Hanya saja, pertanyaan berikutnya datang lagi, tidak bisakah kita terkenal sekaligus biasa-biasa saja pada saat bersamaan? Panas sekaligus dingin pada keadaan yang sama? Itulah fungsi dari Arul Chandrana.

Karena ambisiku untuk menjadi seorang penulis, maka adalah kepastian abadi jika aku harus bersedia terkenal jika ingin menjadi penulis hebat—penjelasannya, terkenal karena hebat. Ini sama saja dengan nabi Muhammad harus bersedia terkenal sebagai konsekwensi dari keinginan beliau agar dakwahnya menyebar ke seluruh dunia. Tapi pada saat yang sama, aku pun masih ingin ‘berkuasa’ atas kehidupan pribadiku, menikmati ketersembunyian di antara keriuhan. Sungguh mengerikan membayangkan bagaimana kehidupan pribadi kita menjadi komoditas buat orang-orang. Mereka menikmati tiap kecelakaan yang kita derita, kesedihan yang menimpa, usaha yang tak kesampaian, dan lain sebagainya—dan sebagian orang mendapatkan pekerjaannya dari menyebar kisah-kisah itu. Bagiku, menjadi seperti itu sungguh bukan pilihan yang menyenangkan. Aku ingin terkenal, tapi juga tetap menjadi orang biasa. Dan itulah solusinya, Arul Chandrana. Nama itu akan megah mentereng berkibar di mana-mana, semua orang akan merasakan kesan yang aneh tiap mendengarnya, aka nada debar yang mengharukan jika diberi tahu mereka akan berjumpa dengan Arul itu, akan ada hysteria saat menjalani perjumpaan, dan akan ada dorongan ‘berburu’ terhadap nama itu. Yah, efek terkenal yang harus ditanggung Arul Chandrana, dan pada saat yang sama, aku tetap bisa hidup merdeka. Hehehehe, mungkin terdengar jahat, maksudku, aku terdengar seakan sedang berusaha untuk bersembunyi dan meningalkan ‘mereka’, sebenarnya tidak begitu, melainkan itu hanyalah sebuah usaha untuk keseimbangan. Bayangkan, bagaimana jadinya jika seorang guru negeri di sebuah SD harus menanggung ketenaran seorang bintang pop? Bagaimana dia akan mengajar dengan segala hingar bingar itu? Atau bagaimana jadinya jika pegawai penjaga apotik harus terteror selama hidup—atau minimal selama jam kerja—oleh para fans? Kita semua butuh tempat untuk tampil eksis, kita semua juga menyukai kemasyhuran, tapi pada saat yang sama, kita juga membutuhkan waktu dan ruang bagi kehidupan pribadi kita sendiri. Dan keluarga dan orang-orang dekat. Di situlah Arul Chandrana mengemban tugas yang berat.

Maka begitulah sejarah lahirnya Arul Chandrana dan mengapa dia berrumah di wordpress. Sebuah pengalaman yang menyenangkan dan penuh harapan. Selamat menjalani kehidupan, Arul Chandrana.

Advertisements

One Response

  1. keyakinan , harapan. percaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: