• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Posting Pertamaku: The Brave Nomaden

for a brave nomad, journey is not the matter of how far, but how patient.

posting ini adalah posting pertamaku. aku post lagi untuk mengenang masa-masa awal itu. tidak ada perubahan dalam isinya, kecuali sekarang ada foto menghiasi. selamat mengenang masa kelahiran

    The Brave Nomaden


Jika dulu kau bisa temukan aku di suatu tempat tertentu, kini tidak lagi. Kau bisa temukan aku di mana pun dengan tanpa kau duga sebelumnya. Bisa kau temukan aku di pinggir jalan, di depan warung jelek, toko yang kosong, rumah kontrakan yang sepi, atau mushola sederhana.

Semenjak mei 2006, mulailah aku menjadi pengembara, seperti suku tar-tar yang menjelajahi padang rumput Mongolia yang maha luas. Aku pernah tinggal di rumah kontrakan di perumahan Gedong Ombo sambil bekerja di penjilidan skripsi (sebelum itu, aku bekerja sebagai kuli kasar di sebuah gudang manyung di Brondong). Lalu, setahun kemudian, aku pindah ke sebuah konter HP kecil, sempit, panas, bau peceren, dan tanpa kamar kecil. Jika malam mulai menggulung, aku meringkuk kedinginan seorang diri. Beberapa bulan kemudian, setelah beberapa saat terlunta dan konter itu tidak buka, aku pindah lagi ke sebuah mushola bekas rumah. Kalau tidur malam, aku habis-habisan digasak drakula kecil bersayap, menggerus darahku yang tinggal beberapa liter.
Bisa dibilang, kini aku hidup melarat, menyedihkan, lapar, dan tidak pernah kubayangkan bakal seperti ini. Aku sering kelaparan, bukan karena tidak ada uang, tapi karena BENAR-BENAR tidak ada uang. Aku-tentu saja-sangat ingin bekerja, tapi sialnya, aku tidak tahu harus kerja apa. Karya-karya tulisku yang kukirim juga belum satupun yang diterima koran atau majalah. Aku kemudian berpikir, tidak bijaksana jika kita mencela para pengangguran, karena terkadang justru keadaanlah yang membuat demikian. Terkadang aku merasa sedih, kalau-kalau ada wanita yang menyukaiku, mau kuberi makan apa dia? Tapi kemudian, segera kesedihan itu menghilang. Dengan wajah dan penampilan seperti ini, mana ada wanita yang jatuh hati? Konyol sekali.

Aku berpikir, si anak burung telah terbang meninggalkan sarangnya, maka dia akan terbang jauh ke batas sana. Itulah aku! Akulah si anak burung terbang tinggi. Kini, aku sadar bahwa aku lebih berani dari sebelumnya, lebih tegar, lebih sanggup menghadapi orang dan menanggung resiko. Suatu keberanian yang mana tak ada ku miliki sebelum ini. Aku telah memulai perangku sendiri, dan karena itu aku harus memenangkannya! Aku lebih berani untuk berbuat dan untuk melihat akibat. Segala keterlunta-luntaan ini adalah kuliah yang tidak akan kudapatkan di bangku kuliah manapun dari universitas di seluruh dunia. Karena universitasku adalah dunia itu sendiri, para dosennya adalah pengalaman yang menerjang silih berganti, mata kuliahnya adalah tiap peristiwa dan kejadian yang menimpa. Ya, tiap peristiwa dan kejadian.

Aku sekarang malah tertantang untuk melakukan semua yang dulunya kutakutkan untuk aku hadapi. Aku sekarang lebih optimis akan janji Allah. Karena setiap detail yang kita lakukan pasti diperhitungkan, dan pasti ada pembalasan kita dapatkan.

Kini, aku seorang pengembara, si anak burung yang terbang jauh.
14-12-’08

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: