• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

merayakan pernikahan sepupuku, Sakdiyah

akhirnya, dia pun menikah. hahahaha, selamat yah

Kemarin tanggal 25, sepupuku yang di Malaysia, Sakdiyah, menikah. Ini adalah pernikahan yang telah kami perbincangkan semenjak setengah tahun yang lalu dan dia benar-benar antusias tentang hal ini. Ini pernikahan pertamanya, dan aku berdoa semoga yang terkahir, karena dia akan menjalani ini dengan penuh mawaddah wa rahmah, bahagia yang mengiringi dalma hidup dunia dan akhirat. Melahirkan keturunan yang menentramkan hati dan pikiran.

Ada sedikit kekecewaan memang, aku yang beberapa kali ditawarinya untuk turut datang, tidak bisa menghadiri pernikahannya. TENTU SAJA! Dengan apa aku akan ke Malaysia? Wahahaha, padahal, andai aku sampai ke sana, aku akan menemui begitu banyak keluarga dari pihak ibu—hampir semua paman bibiku dari pihak ibu berada di Malaysia. Juga sepupu-sepupuku, dan ayahku. Tapi, sekali lagi kukatakan, dengan apa aku akan ke sana? Hahahah. Pada waktu yang berdekatan, adik kakak iparku di jawa juga menikah. Dan, sepanjang jalan antara rumahku, tempat mengajar, dan pondok tempatku tinggal, ada begitu banyak pesta perkawinan yang berlangsung. Aku terhenyak, ini Bulan Besar (Dzulhijjah) yang dimanfaatkan oleh mayoritas orang jawa untuk melaksanakan pernikahannya. Maka aku pun hanya bisa menyampaikan selamat menjalani hidup yang baru dari sini, dari Indonesia, dari sebuah KBU warnet sempit di pinggir jalan, melalui facebook.

suami istri baru

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya, akhir-akhir ini aku mendapat firasat jika ada hal baru yang masuk dalam daftar pertanyaan mengerikan versiku, pertanyaan itu adalah: hey, kapan sampean akan nikah? Ya, pertanyaan itu demikian mengerikannya sampai-sampai aku tak punya hati untuk sekedar membayangkan ada orang yang tega menanyakannya padaku. Aku masih dmeikian berantakan saat ini, demikian kurus, demikian lemah—ekonomi dan pribadi—demikia tak berdaya jika harus diperhadapkan pada kenyataan untuk menjadi seorang suami, kepala rumah tangga, manusia dewasa yang bertanggung jawab pada manusia dewasa lainnya. Aku terantuk-antuk sendiri membayangkan itu.

Apa aku telah bertransisi menjadi seseorang yang anti dan pesismis terhadap pernikahan? Tidak, tentu saja tidak. Sebagai pria yang seratus persen normal dan sedang dalam proses menjadi umat Muhammad SAW yang baik, aku benar-benar tahu jika aku memang harus menikah. Tapi jika pembahasan itu dilakukan sekarang, aku menjadi gemetaran dilutut. Seperti anak kelas dua SMP yang dipaksa masuk kuliah langsung semester empat. Siapa yang tidak akan merinding?

Adalah wajar kita punya demikian kekhawatiran. Karena bukankah dari kekhawatiran itu muncul kewaspadaan dan kehati-hatian? Melihat keadaanku sekarang—23 tahun, tanpa penghasilan tetap, tanpa pekerjaan yang ‘menjamin’, tanpa pandangan jauh tentang masa depan dan membina rumah tangga—mulai mempertimbangkan untuk menikah agak tua sedikit. Mungkin nanti setelah lewat 25 tahun. Beberapa tahun lewat dari masa ideal yang dicontohkan Sang Rasul. Mungkin aku akan menikah dengan seorang putrid pelaut yang sudah menjanda, atau dengan wanita baik hati yang sudah cukup tua untuk bisa menolak pinangan pria menyedihkan, atau dengan wanita penjaga warung yang tiba-tiba hanya ingin untuk berdiam diri di rumah, atau dengan seorang perempuan asing yang kesasar ke depan pitnu rumahku. Hoaah, memikirkan itu benar-benar membuatku merinding dan tak tahu apa harus tidur atau pingsan dan tak pernah bangun. Tapi, mengingat betapa hebatnya rancangna Allah, betapa sangat mengejutkannya semua hal di dunia kalau Allah menghendaki, betapa kadang sangat mustahil yang menjadi kenyataan, bisa jadi aku akan menikah dengan seorang penyanyi terkenal putrid musisi terkenal, atau dengan seorang gadis sholehah putrid petinggi desa, atau dengan seorang wanita pemimpin perusahaan yang mendambakan suami pelamun, atau dengan seorang gadis manis lagi baik hati penjaga perpus di sekolah, atau mungkin dengan seorang Sarjana matematika putri seorang PNS. Yah, semua bisa menjadi kenyataan. Semua bisa menjai apa saja. Semua bisa menjadi kejutan. Bahkan yang paling konyol sekali pun.

Aku jujur kagum pada sepupuku Sakdiyah, atau sepupuku Budi yang menikah pertengahan tahun ini, atau adik dari kakak iparku, atau pada orang-orang yang menikah pada Bulan Besar tahun ini. Setidaknya mereka semua telah melewati satu masa krisis yang menjengkelkan, yaitu kekhawatiran akan jaminan dari Allah. Mereka telah berani mengambil keputusan untuk menikah dan percaya Allah tidak akan membuat mereka kelaparan gara-gara menikah. Hoaaah, hebat. Dan aku, sepertinya, aku masih akan membuajang beberapa tahun lagi. Tertawa dengan anak-anak di pondok, dengan murid-murid di sekolah, menyanyi keras-keras di kandang sapi, mendendangkan lagu India di boncekan sepeda kawanku. Ah, apa saja. Apa saja.

Terakhir, kuucapkan sekali lagi selamat untuk sepupuku Sakdiyah. Semoga Allah merahmat kalian. Dan percayalah, nanti aku akan datang ke Malaysia. Akan datang! Bukan untuk menjad kuli bangunan atau tukang potong ayam, tapi untuk launching novelku. Benar. Untuk launching novelku. Tunggu saja, dan tolong bilang ke keluarga di sana! Yuhuuuuuuuuuuu.

One Response

  1. Wow…cerita ku…kreatif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: