Posted in ehon, think

Apa yang menjadi alasan penantian bagi semua orang

nenek yang selalu menunggu kepulangan putranya
Aku terkejut menyadari apa yang menjadi alasan nenekku, alasan baginya untuk tetap mempertahankan hidupnya—bukan berarti beliau sedang mengidap suatu penyakit ganas tertentu atau beliau sudah sangat tua renta. Beliau punya satu alasan yang sangat logis sehingga mengapa beliau harus benar-benar tetap sehat, mengapa beliau harus tetap bugar dan memiliki penglihatan yang jelas, senua itu, alasannya adalah ini: beliau ingin bertemu lagi dengan putra sulungnya yang sudah puluhan tahun pergi darinya. Dengan alasan itu nenekku senantiasa punya tujuan mengapa harus bangun pagi-pagi benar, pergi ke jeding dan mengambil wudlu.

Setiap kali putra sulungnya yang kini ada di Malaysia itu menelpon—dan dia tidak selalu menelpon—dan berbincang dengan nenek, maka pertanyaan yang tak kan pernah tertinggal adalah pertanyaan menanyaan kapan sang anak itu akan pulang, nenek pun mulai member logikanya. Dikatakannya bahwa usianya sudah tua, tubuhnya pun mulai renta, sudah layak untuk disebut sebagai tubuh yang mulai bau tanah, nenek menjelaskan bagaimana sebenarnya dia tidak yakin bisa hidup lebih lama lagi. Dengan semua itu, nenek berharap putranya yang sulung itu akan terhenyak dan bergegas mengepak barang-barang dan keluarganya, segera pulang kampong, tak memperpanjang lagi sejarah hidupnya di negeri jiran.

Tapi selalu saja itu tak semudah yang nenek harapkan. Tentu saja. Sang sulung tentu saja punya alasannya yang juga logis baginya tentang mengapa tidak juga dia pulang kampong. Dia harus mempertimbangkan biaya transportasi, oleh-oleh, rumah yang akan ditempati kelak di sini, pekerjaan apa yang akan degelutinya setelah ada di kampong halamannya, dan juga soal kewarganegaraan anak-anaknya, semua itu tentu alasan yang logis dan bisa diterima untuk menjadi dalih kenapa tak pulang juga. Maka pada telpon berikutnya—setelah lama berselang dari waktu telpon yang sebelumnya—nenek pun menguraikan lagi logikanya dan sang putra sulung pun membeber logikanya pula.

Aku berpikir, tentu dia juga sedang berlomba, berusaha secepat mungkin mengumpulkan uang untuk pulang sementara tuntutan hidup di negeri jiran pun kian mencekik dan memberatkan. Uang yang mau ditabung kesulitan untuk bisa berlama-lama berdiam diri dalam celengan besinya. Aku tak bisa membuat prediksi berapa lama lagi dia baru akan pulang.

Aku pun menjalani penantianku sendiri.

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s