• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

The deepest art of writing: technique and sensitivity (tips menulis hebat dari arul chandrana, tidak mengandung nikotin, tidak merusak janin, mengandung kandungan gizi tepat dan nutrisi tingkat tinggi. membantu mengurangi stress dan dapat dijadikan pengganti lauk makan malam, selamat mencoba.)

semakin kau peka, semakin dalam tulisanmu

Aku berpikir, bahwa dalam menulis yang bagus ada dua hal yang mendasarinya, yaitu teknik yang tepat dan kepekaan yang dalam. Keduanya berbeda dan keduanya pula memiiki peran yang penting.

Teknik merupakan ilmu menulis yang bisa dibaca dan dipelajari. Anda bisa browsing di internet untuk menemukan berbagai macam teknik menulis untuk berbagai jenis tulisan. Ada teknik-teknik yang membuat pembaca anda tidak bisa meninggalkan tulisan anda sebelum halaman terakhir, ada pula teknik yang membuat pembaca anda tertidur di halaman ke dua—dan ini biasa kita sebut dengan: kesalahan dalam menulis.

Akan tetapi, dalam pokok yang ke dua, yaitu kepekaan, ini adalah sesuatu yang tidak bisa kita pelajari begitu saja. Tidak bisa kita cari di artikel-artikel menulis karya pengarang hebat manapun. Apalagi dengan membongkar buku tips menulis asal jadi. Kita bahkan sering terkecoh, menganggap motivasi menulis sebagai teknik menulis. Orang sering mengatakan menulislah minimal satu paragraph satu hari, catatlah semua peristiwa sehari-hari anda, buatlah catatan bepergian dan sebagainya dan sebagainya, itu bukan teknik menulis, anda tidak bisa berpegang padanya. Semua itu adalah motivasi menulis bagi anda. Apakah itu buruk? Jawabannya, ternyata semua itu SANGAT BURUK jika tidak dilakukan!

Kita telah membahas teknik menulis di paragraph pertama—dan anda akan mendapatkan banyak teknik menulis dari saya dalam perjumpaan kemudian hari, dan paragraph kedua hanya membuka jendela tentang kepekaan. Lantas, seperti apakah kepekaan itu? Anda boleh tertawa karena ternyata saya pun tidak tahu dia itu seperti apa! Benar! Kepekaan adalah sesuatu yang aneh dalam menulis. Gambarannya seperti ini, anda punya banyak sahabat, seuatu ketika anda sedang mendapat masalah besar, dan tentu saja, mereka—para sahabat anda—datang untuk member semangat dan bantuan bagi anda. Akan tetapi, dari semua itu, anda pasti merasakan jika hanya ada satu atau dua sahabat yang kehadirannya benar-benar bermakna dan berkesan. Apakah sahabat-sahabat kita yang lain tidak berarti? Bukan begitu, tapi sesuatu dalam hati kita menjelaskan jika ada yang berbeda dengan sahabat kita yang spesial tadi. Kata-katanya, sorot matanya, sentuhan tangannya di pundak kita, dan pelukannya yang erat itu, semuanya memberikan kesan yang berbeda. Mengapa bisa demikian? Karena sahabat kita yang spesial memiliki kepekaan yang berbeda dengan yang lain. Dia bisa menyentuh hati kita. Dia bisa membuat kita bergetar, dan tahu jika semua kata-katanya adalah sungguh-sungguh.

apa yang muncul dalam benak Anda?

Demikian pula fungsi kepekaan dalam menulis. Kita akan sangat heran dibuatnya. Jika and abaca kolom opini di surat kabar-surat kabar nasional, atau local, akan anda temukan beberapa penulis hanya sekedar menyampaikan fakta dan gagasan. Tidak lebih. Kita seakan hanya membaca daftar peristiwa—hari ini SBY membuat keputusan yang aneh, kemarin SBY melewatkan peristiwa penting, saya berpendapat harusnya begini dan begitu—yang tidak berkesan sama sekali. Tapi, penulis yang lain, dia bisa membuat kita hanyut, membuat kita tak rela melepas koran sebelum selesai, membuat kita merasa butuh untuk menemukan kesimpulan akhirnya. Itulah yang disebut dengan kepekaan seorang penulis. Kepekaan yang menjalar dan menancap di indra pembacanya. Kepekaan yang membuka dan menghubungkan wawasan. Dan kepekaan ini tidak bisa anda pelajari, api bisa anda latih, tentu saja! Apa latihannya? Menulislah minimal satu paragraph satu hari, catatlah semua peristiwa sehari-hari anda, buatlah catatan bepergian, tuangkan perasaan anda mengenai apa yang menarik, buatlah komentar tertulis tentang apa saja, tunjukkan pada teman anda tulisan anda dan minta pendapatnya dan sebagainya dan sebagainya.

Semakin anda sering melakukan latihan di atas, semakin anda mendapakan sesuatu yang ak biasa dalam tulisan anda, semakin pula anda menyadari jika anda punya kepekaan yang bisa mengubah bukan hanya sudut pandang, tapi juga hidup pembaca anda. Ketika saya membaca Dan Brown, saya merasa menjadi orang yang lebih pintar dan waspada, ketika saya membaca Kang Abik, saya merasa menjadi lebih religious, ketika saya membaca Andrea Hirata, saya merasa penuh harapan, dan ketika saya membaca Al-Qur’an, saya merasa selamat dan ada di jalan yang benar. Semua buku-buku itu memiliki kepekaan yang mengubah sudut pandang dan kehidupan pembacanya. Anda tentu ingat betapa banyak yang termotivasi oleh Laskar Pelangi, betapa banyak yang kaget dan tersentak oleh serial Prof. Langdon, betapa banyak yang sadar oleh Ketika Cinta Bertasbih, dan Al-Qur’an, betapa banyak yang tercerahkan olehnya. Dan kita sebagai penulis—pemula—tidak perlu terbayang-bayangi untuk membuat yang sehebat dan sespektakuler buku-buku hebat di atas (dan tentu kita juga tahu kita tidak akan pernah bisa membuat yang setara dengan Al-Qur’an), tapi kita bisa mengawalinya dari hal yang sederhana. Justru kekuatan kepekaan yang sesungguhnya adalah: mengubah catatan sederhana menjadi catatan yang luar biasa. Bisakah? Ayo kita coba saja!

Mari kita perhatikan komposisi berikut ini: suatu hari, seorang kawan dekat ku berkirim SMS, bunyinya: tidak ada yang lebih membahagiakanku selain maling yang mencuri HPku. Aku tertawa membaca SMSnya itu. Tentu saja, karena baru enam atau tujuh bulan yang lalu dia kehilangan HP dan itu membuatnya seperti orang yang kehilangan pegangan hidup. Tapi kemudian aku ingat apa yang memebedakannya antara dia hari ini dengan dia tujuh bulan yang lalu: hari ini dia punya masalah bertumpuk dengan pacarnya, sedangkan tujuh bulan yang lalu, dia baru saja jadian! Ah, ini dia kiranya yang membuat kawanku itu memngubah sudut pandangnya terhadap maling HP. Kemdian aku pun membalas SMSnya: hoy, kalau HPmu dicuri, kau gak akan bisa mengutarakan keinginanmu yang tadi, wakakaka. Dan apa balasannya? Aku terdiam saat membacanya: kalau HPku sudah hilang hari ini, aku sudah berbahagia dan tidak perlu SMS kamu. Hehehe. Aku tercenung, memang, saat kita bahagia kita mudah melupakan siapa saja.

Well, anda telah membaca komposisi singkat di atas, sekarang tugas anda adalah: pertama, ungkapkan pendapat anda mengenai komposisi tersebut. Kedua, bagian yang mana yang ingin anda tanggapi, apa tanggapan anda (terserah apapun tanggapan anda) dan mengapa anda tertarik untuk menanggapinya. Terkahir, buatlah satu komposisi yang mengeksplor kepekaan anda, yakinlah anda bisa membuat pembaca anda terbawa dengan yang anda sampaikan.

Demikian perjumpaan kita hari ini, selamat berkreasi dan terimakasih yang sangat bayak anda telah berpartisipasi.

Wassalam

Arul Chandrana

renungkan sejenak, sejenak saja...

One Response

  1. wah, ilmu menulis yang keren. makasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: