• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

DIA PUN SELESAI, ENTAH APA KATA IBUNYA (KISAH AKHIR SEORANG AKROBATIK TONG EDAN)

suasana pasar-malam

Bersama keluarga kakak pertamaku, aku berangkat ke pasar malam. Ahis keponakanku yang baru kelas dua MI berjalan merendengiku dengan bersemangat. Aku jadi teringat masa kecilku. Tiap kali ibu membawaku melihat tontonan aku akan merasa merinding selama perjalanan ke sana. Terbius oleh ekstasi kesenangan yang hanya bisa dirasakan ank-anak dan orang yang sedang jatuh cinta. Aku tersenyum padanya. Saat itu yang berkelebat dalam benakku adalah komidi putar. Permainan itu akhir-akhir ini selalu mengganggu pikiranku. Aku terusik untuk merasakan sensasinya. Untuk tahu kekuatan daya pikatnya. Untuk memahami mengapa Andrea Hirata sangat gandrung padanya.

Sesampainya di lapangan tempat pasar malam digelar, bukannya naik komidi puar, keponakanku malah merengek minta nonton tong edan. Tong edan, kau tahukan atraksi menantang maut itu? Sebuah ruangan bundar dibangun dari bilah-bilah papan dengan ketinggian mencapai sepuluh meter dan kemiringan mencapai 90°. Di dalamnya ada dua pengendara motor yang memacu motornya sekencang mugkin, kemudian mereka pun berputar-putar di dinding yang hampir berdiri tegak lurus itu. Setelah agak lama merengek, akhirnya kesampaianlah keinginan si ponakan untuk nonton tong edan. Kalau diingat-ingat, seumur hidup aku baru satu kali nonton pertunjukan itu. Dan itu terjadi bertahun-tahun yang lalu, saat aku masih kanak-kanak. Hanya sedikit yang kuingat tentang pengalaman pertamaku menonton tong edan. Bahan aku sudah lupa dengan siapa saja aku menontonnya saat itu. Terpengaruh oleh kenangan masa kecil, aku pun ikut bersemangat untuk nonton tong edan yang kedua kalinya. Pertunjukan dua pengendara motor negebut dalam ruangan bundar setinggi sepuluh meter pastilah bukan pertunjukan kacangan, aku memotivasi diriku sendiri.

Dengan membayar karcis seharga 5000 untuk satu orang, kami bertiga aku, kakak pertamaku dan putranya ahis naik kepuncak bangunan tong edan (tapi kami hanya membayar 10.000, kakakku yang pintar melobi meminta pada penjaga agar memberikan free pass buat Ahis. Dan berhasil!). Bangunan tong edan memiliki lantai dasar yang tak seberapa luas. Di tengah terpancang sebuah tiang yang berfungsi sebagai tiang listrik sekaligus penyangga tenda yang menaungi keseluruhan bangunan. Kabel listrik berlilitan pada tiang itu. Di sekitar tiang, berdiri dua buah sepeda motor RX King bekas yang sudah dimodivikasi sedemikian rupa. Tangkinya di pilok dengan warna kuning dan hitam. Salah satu motor bahkan ditulisi: doa ibu. Di antara kedua sepeda motor, ada sebuah sepeda ontel. Sampai saat itu, aku tidak tahu kalau sepeda ontel juga terlibat dalam atraksi tong edan.

Mungkin orang yang belum pernah menonton tong edan akan menduga pertunjukan ini semacam permainan sihir di mana sebuah tong bisa menjadi gila dan mengamuk, menyerang para pawang dan stunt man. Tapi tentu saja tidak. Atraksi ini disebut tong karena bentuk bangunannya yang bundar mirip tong, dan edan karena pengendara motor yang edan-edanan menggeber sepeda motornya. Kami pun berjejer di antara para pengunjung lain yang tengah menanti dimulainya pertunjukan dengan antusias. Dan baru saat itulah aku mendapati coretan-coretan di bagian dalam tong. Di sebelah barat, tertulis dengan cat putih: kami rela mati untuk anda. Di bagian utara tertulis: bujangan siang malam dengan cat warna biru tua yang sudah luntur. Dan di bagian selatan, dengan cat hitam yang mencolok, seuntai kalimat melodramatic tertulis dengan jelas: anak menanti ibunya, minta doa. Aku tersenyum getir membaca coretan-coretan yang jauh dari kesan puitis itu. Aku berpikir, bagaimana bisa mereka puny aide untuk memilih kata-kata itu. Dan apakah mereka berharap sesuatu dari pengunjung yang membaca coretan mereka? Tapi aku tahu pasti, coretan yang di sebelah barat adalah promosi paling jujur di muka bumi ini. Para acrobat itu memang benar-benar mempertaruhkan nyawanya demi memesona para pengunjung. Membayangkan itu, rasa penasaran dan antusiasku membuncah. Ini dia tontonan yang paling harus ditonton di pasar malam. Perlahan, aku mulai tak sabar menanti kemunculan para pengendara motor.

Sepuluh atau tiga belas menit kemudian, muncullah dua orang pemuda, masuk ketengah arena. Seorang yang agak gemuk mengenakan kaos coklat, satunya yang berbadan tinggi, mengenakan jaket hitam. Demi melihat kemunculan mereka, penonton pun bersorak girang. Bertepuk tangan. Aku pun turut larut dalam euphoria. Dengan tenang, kedua pemuda itu menaiki sepeda motornya, menstarter, menggas berkali-kali, membuat sepeda meraung-raung. Suara ke dua sepeda motor itu sungguh sangat-sangat nyaring. Telingaku hampir pekak rasanya. Perlahan, kuamati wajah mereka berdua, kuamai wajah si jaket hitam lekat-lekat, dan aku pun menyadari sesuatu. Pada detik itu juga.
*

atraksi tong-edan

Tak satu pun dari penonton ada yang tahu nama mereka. Si jaket hitam adalah Abil, dan si kaos coklat bernama Pepeng. Abil menatap penonton dengan tatapan yang sulit diartikan maksudnya. Ada kegetiran di sana, tapi juga ada kegeraman yang tajam menyilaukan mata yang menatapnya. Abil menelan ludah, kalian berharap ada kecelakaan bukan? Katanya dalam hati. Kalian berharap kami bertabrakan dan segalanya akan menjadi lebih menarik bagi kalian, kan? Tiba-tiba, motor yang dikendarai Pepeng meloncat dari tempatnya. Dengan kecepatan luar biasa, dia mulai mendaki dinding bangunan tong edan. Satu meter, dua meter, tiga meter, leima meter, tak sampai enam detik, Pepeng sudah mencapai ketinggian sepuluh meter. Motornya dengan tangkas berlari memutari dinding tegak itu. Dia miring sempurna. Dan segera pulaabil menyusul. Kini keduanya kejar-kejaran sembari berputar cepat, menempel di permukaan dinding, entah hokum fisika yang mana yang sedang bekerja hingga mereka bisa melakukan itu. Tetap meluncur dengan tegak walau pun dengan posisi miring sempurna.

Para pengunjung semakin gembira. Beberapa orang menjulurkan tangannya yang menggenggam lembar uang lima ribuan atau dua ribuan. Pepeng melihat lembaran uang yang terjulur itu. Dia yang sedang berputar di bagian tengah tong segera naik ke puncak dan dengan tangkas disambarnya lembaran uang di tangan penonton. Orang-orang pun bersorak. Penonton yang lain pun melakukan hal serupa.

Setelah itu, aksi-aksi berbahaya dipraktekkan oleh ke duanya. Abil melepas kedua tangannya, dan meluncur dengan cepat. Pepeng mengangkat kaki kanannya, di taruh di atas stang sepeda, disusul kaki kirinya, dia melaju dengan kedua kaki di atas motor. Setelah puas berkendara dengan kaki di atas, Pepeng mengubah posisinya, kedua kakinya dipindahkan ke samping, kini dia duduk layaknya posisi duduk perempuan dibonceng. Para penonton dibuat terpukau dengan atraksi memantang maut Pepeng dan Abil. Entah sudah berapa puluh kali motor-motor itu berputar. Mungkin sudah seratus kali lebih. Yang tidak mereka sadari, juga oleh para penonton, paku pada sebuah papan semakin terangkat keluar seiring semakin cepatnya putaran sepeda motor.
*
Tatapan mata Abil bertemu dengan mataku, untuk sepersekian detik kami terpesona oleh keanehan yang tak bisa kami pahami apa. Aku melihat wajahnya yang menyiratkan kesedihan dan kelelahan. Dan kemudian, terdengar bunyi berderak yang nyaring dan mengagetkan. Baru saja sepeda motor Pepeng melewati sebilah papan yang secara tiba-tiba terlepas dari tempatnya. Abil terkejut, tak sempat mengelak. Motornya yang melaju dengan kecepatan 115 kilo perjam menghantam bilah papan yang lepas dengan sekeras-kerasnya. Papan sepanjang hampir sepuluh meter itu pun patah menjadi dua, bergeletar menghantam dinding tong edan. Para penonton menjerit, Abil terpelanting dari sepeda motor. Tubuhnya terlentang di udara, dan matanya menatap wajah para penonton yang diam terpana, kalian puas sekarang? Seakan begitu dia berkata. Kemudian, tubuhnya menghantam tiang listrik. Merasa mendapat pegangan, tangannya segera mencengkau tiang tersebut. Tapi malang, yang dia dapatkan adalah kabel listrik yang melilit tiang. Kabel-kabel itu putus tak sanggup menahan bobot tubuh dan kecepatan jatuhnya. Seperempat detik berikutnya, ada jeritan kesakitan yang menggema lantang di tengah-tengah arena tong edan. Abil tersengat listrik ribuan volt. Tubuhnya sudah tak bergerak saat jatuh menghantam tanah.

Aku terpaku di tempatku berdiri, di sekelilingku orang-orang berlarian hendak turun. Berebutan melintasi tangga kecil di luar bangunan. Aku hanya merasakan sentakan kakakku, tapi aku pikiranku tidak bersamaku, pikiranku terjerat oleh tatapan terakhir Abil. Aku seakan mendengar suara Abil, dia berkata, anak menanti ibunya, minta doa.

download gratis novel Arul Chandrana pelangi dan rembulan

Advertisements

3 Responses

  1. ingat maca ketcil aquwh. kenagnan maniz yah

  2. oh, this post is soo edan. Terrific! Did it really happen, bro? Your writing improves considerably, and I do enjoy this article — amusing, striking, powerful, and so descriptive.

    Anyway, I went to Pasar Malam in Jompong with
    Johnny two weeks ago but didn’t see Tong Edan.

  3. hidup atau mati..itu logo pemain tongstand”kota medan”pekerjaan kami hal yg biasa sudah kami tekunin”asal kan jangan sombong dan ada rasa iri hati terhadap sesama pembalap tongstand”jika ada rasa tersebut..pasti keharmonisan tidak akan ada terjalin ”pasti ada yg beda”’hidup atau mati”faisal tongstand pembalap tongstand dari kota medan..sumatra utara”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: