Posted in ehon

Sebotol surat buat lautan dan entah siapa

Terinspirasi film message in the bottle, aku punya ritual unk tiap melakukan pelayaran: membuat sebuah surat, dimasukkan ke dalam botol—tak perduli botol plastic atau kaca—kemudian melemparnya ke tengah lautan. Apa yang kutulis dalam surat itu? Apa saja. Bisa hal-hal remeh tak berguna, atau juga rahasia paling berbahya jika diketahui orang lain yang kebetulan mengenalku. Oleh karena itu aku selalu berharap yang menemukan botol itu adalah orang cina atau afrika, biar mereka tak bisa membaca yang kutulis, tapi menyimpannya sebagai keajaiban atau oleh-oleh dari lautan.

Tahun ini, mudikku ke bawean jadi agak berbeda, karena tiap malam aku mengadakan kursus gratis buat tetangga dan kerabat. Pesertanya lumayan banyak, mulai dari MTs sampai Aliyah. Mendekati malam terkahir kursus, kuberikan tugas tak biasanya pada mereka: buatlah sebuah surat. Surat buat lautan. Untuk lebih mempertegas perintah itu, kuceritakan pengalamanku melempar botos bersurat di tenga laut, juga penggalan dari film message in the bottle. Dan hebatnya, setelah itu mereka pun dengan antusias menyanggupi tugas tak biasanya itu.

Pada malam terakhir kursus, Diana, iffa, fia, soliha, dan elvi menyerahkan surat ajaib mereka masing-masing dengan satu pesan lisan yang tegas: suratku gak boleh dibaca! Sialan, ini dia yang sulit, karena tidak mungkin membatalkan tugas yang sudah jadi itu, aku pun menyanggupi syarat mereka. Baik, kakak tidak akan membaca surat kalian, dasar pelit!

Yang kuinginkan agar mereka tahu, adalah, bahwa menjaga sebuah rahasia yang sudah dipegang dalam tangan, menahan diri agr tidak tergda untuk membongkarnya, adalah suatu cobaan berat yang amat menjengkelkan. Tiap kali datang pikiran untuk memuaka surat-surat mereka itu, membaca isisnya, segera aku kabur dari kamar, mencari sesuatu yang bisa menyelwengkan pikiran pengkhianat tersebut dari pikiran. Tentu saja aku bisa membaca surat-surat mereka tanpa mereka ketahui, bahkan tanpa seorang pun mengetahui kecuali tuhan dan malaikat-Nya, tapi aku harus bisa berbuat jujur dan amanah. Jika untuk hal ini aku tidak bisa menjaga amanah mereka, bagaimana mungkin nanti aku bisa menjaga amanah yanglebih besar dari orang lain? Maka dengan itu aku berusaha keras untuk tetap membiarkan surat mereka tak terbaca—kecuali oleh orang yang beruntung itu.

Satu hal yang mereka biarkan aku tahu, adalah surat-surat itu berisi segala harapan dan kata hati mereka. Aku memang menyarankan mereka melakukan itu, seakan semua penghuni laut akan mengamini doa-doa kita.

Jadi, aku ingin berpesan pada siapa pun yang menemukan botol berisi surat-surat kami itu, agar jangan berhenti, cobalah cari kami, temukan kami, dan beri tahu kami apa yang terjadi pada botol dan suratnya itu—masih lengkapkah dia, masih bisa dibacakah isinya, masih adakah surat ku di dalamnya? Dan, siapa pun yang menemukan botol itu, apakah dia seorang jamaah haji yang mampir di pantai Laut Merah, atau seorang nelayan di Karibia, atau seorang bocah pesisir suku Maori di Selandia Baru, atau mungkin oleh ikan duyung yang sedang berbulan madu di pantai Kuta, tolong, tolong amini surat-surat kami. Karena itulah silaturahmi yang kami buat dengan botol bersurat tersebut.

Arul chandrana
1 oktober 2010

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

2 thoughts on “Sebotol surat buat lautan dan entah siapa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s