• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

SHAFF YANG BELUM JUGA TERAPATKAN

Jika aku tidak pernah keluar kampong sebelumnya, pasti aku tidak menyadari hal ini. Dalam islam, ibadah uatama adalah sholat. Setelah bersahadat, siapapun itu jika telah baligh maka dia seketika itu pula mendapatkan kewajiban sholat. Lima waktu dalam sehari. Bahkan, dari sisi historisnya, sholat memiliki keunggulan yangtidak dimiliki ibadah-ibadah lainnya: kewajiban sholat tidak dikabarkan melalui wahyu (mulut ke dua) tapi langsung dari Sang Pemberi Perintah. Nabi Muhammad di mi’rajkan ke sidratul muntaha untuk mendapatkan perintah suci ini secara langsung, face to face. Berangkat dari nilai pentingnya itu, maka sudah seharusnya setiap muslim memperhatikan dengan cermat tiap-tiap aturan berkenaan dengan praktek ibadah sholat. Di antaranya, tentang shaff.

Aku datang agak telat untuk sholat isya berjamaah di masjid . Baru masuk ke dalam masjid ketika iqomah sudah dikumandangkan. Segera kuambil tempat dalam shaff ke dua; saat itu hanya ada tiga shaff. Aku sudah berdiri tegak, imam juga sudah siap di depan, dan takbiraul ihrampun dilaksanakan, diikuti oleh para makmum sekalian. Aku segera hendank menyususl tapi, ada yang gak beres, aku merasakannya, ada yang belum sempurna dari barisan ini; apa? Imam mulai membaca bismillah ketika aku dengan terkejut menyadari ketidak beresan ini terjadi merata di tiap shaff: para jamaah membentuk barisan yang sangat renggang, tidak rapat sama sekali, antara tiap telapak kaki terdapat jarak antara satu sampai dua telapak kaki dewasa. Ini shaff macam apa?

Jadilah aku sholat isya dengan agak kurang enak. Akau heran, masak mereka belum pernah dengar hadits tentang perintah merapatkan barisan dalam sholat, bahwa shaff yang rapat itu termasuk kesempurnaan sholat. Ah, pastilah mereka sudah tahu. Tapi mengapa? Mengapa shaff yang serenggang ini bisa terbentuk?
*
Salah satu yang ingin dibentuk oleh shaff yang rapat adalah kesatuan yang kuat dalam umat, ketahanan yang kokoh, dan persaudaraan yang mendarah daging—ini juga alasan mengapa shalat jamaah hampir sama wajibnya dengan sholat itu sendiri. Shalat yang dikerjakan sebanyak lima kali itu akan mengumpulkan umat islam yang berserakan dalam satu naungan atap yang sama, dalam satu barisan yang sama, dalam satu komandon gerak yang sama. Semua persamaan itu akan membekas dengan amat kuat dalam jiwa dan hati mereka yang tengah tunduk khusyuk menghadap-Nya. Kesatuan dan kebersamaan itu akan menginspirasi umat akan betapa agung dan indahnya hidup bersama dalam kekompakan yang kuat dan ikhlas. Ini—sholat berjamaah—adalah super training yang luar biasa, bayangkan, limak kali sehari! Tapi, semua itu berubah jatuh menjadi kepingan tak bermutu, berserak seperti mozaik pecah, tercabik dan koyak. Pertanyaannya, mengapa segala penyatuan yang demikian banyak oleh shalat jamaah bisa hancur hanya karena shaff yang tidak rapat? Bukankah sudah ada dalam satu ruangan, dalam satu barisan, dengan satu pimpinan, kenapa masih gagal karena barisan tak rapat?

Kebersamaan jamaah dalam masjid bukanlah suatu kebersamaan yang datang dari kesadaran, tapi suatu keniscayaan, mau tidak mau, karena tidak mungkin mereka berkumpul untuk jamaah selain di masjid—ini meliputi langgar dan juga mushola. Keberadaan mereka di masjid adalah suatu ketentuan tak tertolak, suatu paksaan mutlak, apa yang bisa kita perhitungkan dari kebersamaan macam ini? Dan lagi, keberadaan mereka dalam satu barisan juga bukanlah kebersamaan yang mendalam pula, tapi itu juga ketentuan yang tidak bisa ditawar dengan apapun. Tidak disebut berjamaah orang yang berdiri di luar barisan, jamaah adalah satu kumpulan yang bersama-sama. Maka, tak ada pilihan lain bagi mereka yang mau sholat berjamaan selain berdiri bergerombol dalam barisan sholat. Kebersamaan mereka dalam mengikuti imam pun bukan suatu kesadaran pribadi, bagaimana bisa sah sholat jamaahnya jika gerakannya tidak seperti gerakan imam? Jangankan tidak sama, mendahului atau melambati tiga gerakan saja sudah merusak sholatnya. Tidak ada pembangkangan dalam sholat jamaah, pimpinan adalah mutlak—dan harus ditegur jika sang piminan salah. Akan tetapi, beda halnya dengan kerapatan—dan kelurusan—dalam shaff. Kerapatan itu akan dibentuk oleh jamaah itu sendiri. Sekalipun ada juga imam sholat yang mengingatkan makmumnya untuk merapatkan barisan, tapi itu dilakukan dalam bahasa arab (baca hadits), dan tidak semua orang paham. Sialnya lagi, tak jarang imam itu mencukupkan di sana saja, dia tidak menoleh mengecek kerapatan barisan makmum. Kerapatan shaff benar-benar hanya akan muncul dari kesadaran individual para peserta sholat jamaah.

Selagi masih ada pertentangan dalam dada, ada sakit hati yang dipelihara, ada benci yang membara, mereka tidak akan pernah tergerak untuk membentuk barisan sholat yang rapat. Pinggir telapak kaki tidak akan menyentuh telapak kaki yang di sebelahnya, siku tidak akan menyinggung di sampingnya. Bahkan mereka akan berputar-putar mencari tempat yang jauh jika di dekatnya ada orang yang dibencinya. Peserta jamaah akan membuat jarak, merasa terganggu dan sangat tidak nyaman dengan kerapatan dan kedekatan barisan sholatnya. Maka jadilah jamaah sholat yang rapuh dan tidak berdaya. Memang mereka dalam satu masjid, dalam satu barisan, dalam satu pimpinan, tapi hati mereka pecah, jiwa mereka renggang, ikatan mereka rentan. Sama sekali tidak ada keterkaitan. Begitu imam mengucapkan salam, habislah mereka, pecah berpencaran, kembali bermusuhan, tidak ada bekas persaudaraan. Menguap seperti air dijerang.
*
Selepas taraweh, kuhampiri seorang temanku di perjalanan pulang, kutanyakan padanya, “Kelompokna aru’u kon ari’i ghitak bobu?—kelompoknya ini dan itu belum akur ya?” dan, demi mendengar pertanyaanku, dia tertawa terbahak-bahak. “Bobu? Mereka tidak akan akur sampai nanti Nabi Isa turun dari langit!” aku tercenung mendengar jawabannya, pantas saja. Dan dalam diam, aku bermenung, masak persatuan umat islam nunggu sampai datang kiamat?

Arul Chandrana
Mahasiswa dan penulis asal Bawean
Rabu, 08 September 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: