Posted in 2005 C, nebula, think

HARUSKAH CANTUMKAN NAMA SI “DIA” DALAM SKRIPSI?

Entah bagaimana, tiba-tiba aku teringat pada sobatku Kampret (aku tidak mau menyebut nama aslinya, khawatir David tidak suka kisah pribadinya diomongkan di sini). Kali ini bukan tentang kegilaan atau ketidak masuk-akalan yang biasa kita lakukan—hahahaha—tapi tentang sesuatu yang terlahir dari hatinya yang paling dalam, tentang ketulusan jiwanya yang penuh warna, ini tentang sesuatu yang tak pernah terduga dalam hidupnya: keputusannya mencantumkan nama kekasihnya dalam skripsinya.

Di halaman kata pengantar skripsinya, ketika sampai pada paragraph ungkapan terima kasih, di antara ungkapan untuk Allah, nabi, keluarga dosen dan kawan-kawan, di situ tercantum dengan jelas nama sang gadis, penuh dengan sanjungan dan syukur atas keberadaannya. Aku sampai terkagum melihatnya. Gila, gara-gara dia Kampret jadi se-romantis ini. Dan aku jadi tambah heran lagi sewaktu memeriksa skripsi-skripsi milik teman-teman lainnya. Rata-rata mereka mencantumkan nama pacarnya dalam halaman terima kasih itu. Hebat banget, itu parade pamer-pacar yang fantastis! Tugas akademis yang dibumbu dengan sentuhan cinta dan kemesraan. “Kalian semua sudah bersiap menikah ya?” itu yang menghantam pikiranku sehabis membaca semuanya. Baiklah, sekarang mari kita terbang kemasa kini, berbulan-bulan lewat semenjak hari penyusunan skripsi itu.

Bagaimana Kampret? Usai sudah. Innalillahi wa inna ilaihy roji’un. Maksudku, dia bukannya mati ditabrak mobil atau diseruduk sapi ngamuk, tapi, hubungannya dengan sang kekasih sudah sampai finish. Tamat. Usai. The end. Sang gadis oleh Allah diberi jodoh orang lain. Dan Kampret termangu sendiri di depan laman blognya. Kawan-kawan yang lain pun begitu, kabar yang kudapat dari koran gratis facebook post (hahaha) memberitakan mereka putus satu-satu. Jodoh memang bukan urusan kita. Di antara mereka ada yang menikah dengan orang lain, ada pula yang menjomblo sampai detik artikel ini ditulis. Kemudian aku pun ingat pada skripsi itu, pada halaman kata pengantar yang mengungkapkan terimakasih pada nama-nama yang kini telah terceraikan itu. Bagaimana jadinya?

Melihat kenyataan itu, kupikir bukanlah sesuatu yang cukup bijaksana menaruh nama pacar di dalam skripsi—beda dengan menaruh nama keluarga, dosen, kawan, atau suami/istri, itu mah harus atuh. Kita memajang nama pacar karena didorong oleh harapan dan cinta. Ya, harapan agar dia menjadi pasangan hidup kelak, dan cinta karena itulah yang kita rasakan sekarang padanya. Dan nanti, saat keluarga sakinah mawaddah wa rohmah itu telah terbentuk, skripsi itu akan dibaca bersama dengan penuh kebahagiaan dan kenangan manis. Masalahnya, sudah demikian pastikah dia itu akan menjadi pendamping kita kelak? Sudah demikian patenkah harapan yang kita tanamkan itu? Masa depan sungguh adalah suatu jalan berkabut yang hanya bisa diterka, wujud aslinya tersembunyi dengan rapi dan sangat rahasia. Orang yang digadang-gadang jadi istri bisa jadi di masa depan malah jadi orang yang paling kita cari untuk dijebloskan ke penjara! Wakakakaka. Jadi?

Ingatlah, ketika kita mencantumkan satu nama dalam skripsi, laki atau perempuan, dan disertai dengan ungkapan muluk-muluk yang luar biasa romantisnya, itu bisa jadi duri dalam daging jika justru kita menikah dengan orang lain. Saban kali skripsi itu dibaca, sang istri akan merengut begitu terbaca nama mantan pacar kita, “Bang, dulu cinta abang sangat mendalam ya padanya? Lihat tuh, abang sampe nulis: Buat kekasihku Markitin, sungguh skripsi ini takkan pernah usai tanpa bantuan pikiranmu, tanpa sumbangan tenagamu, tanpa dukungan dana dari dompetmu. Markitin, aku berhutang kesarjanaan padamu. Duh, aku jadi iri pada mantanmu itu bang.” Nah, baru tahu rasa lho, bayangkan itu istrimu atau suamimu yang bicara begitu, apalagi jika sampai ada ungkapan begini: Buat Marjono pacarku yang tampan, first kiss kita menjadi penyemangat bagiku dalam menyusun skripsi luar biasa ini. Woaaaaaaaaaa, bakal kiamat bahtera rumah tangga. Skripsi yang menjadi syarat kelulusan justru menjadi syarat perceraian hanya gara-gara ungkapan remeh buat pacar. “Bang, pilih ini, ceraikan aku atau bakar skripsimu!!!” ini akan jadi simalakama yang luar biasa bagi pemilik skripsi, mana tega skripsi yang digarap berbulan-bulan itu—bahkan ada yang lebih dari satu semester garapnya—akan dibakar begitu saja, tapi, ancaman istri juga hal yang bisa membuat tidak tidur sepanjang tahun.

Lantas bagaimana solusinya? Berlaku wajar sajalah, kalau memang sangat harus memasang namanya, cantumkan saja, tapi jangan dengan ungkapan muluk-muluk yang besok malah jadi boomerang. Ungkapan terimakasih yang sepadan. Atau jika memang bisa, bertindak rasional saja: tidak mencantumkan namanya sebagai pasangan abadi. Kita tidak tahu masa depan kita bagaimana, ingat itu. Sebagai contoh apa yang kutuliskan dalam skripsiku. Karena saat itu hampir semua temanku mencantumkan nama sang kekasih dalam skripsi, aku jadi miris juga kalo tidak melakukan hal yang sama. Mana mungkn mahasiswa B.inggris idola kayak aku gak punya pasangan? Sialan! Tapi aku juga ingat akan konsekwensi yang akan kutanggung besok. Jika nama seseorang kutaruh di situ, dan dia bukan jodohku, bisa beabe rumah tanggaku kelak. Untunglah dalam saat yangteramat genting itu aku menemukan solusinya, solusi cemerlang yang bahkan belum pernah terpikir oleh Pak SBY sekalipun! Dalam skripsiku itu, kutulis: the deepest thank goes to the one who is still a secret until now, Yesha, you’re always beside me for all my travels. Yesha! Yesha! Yesha! Siapa itu Yesha? Wahahahaha, tentu saja, tentu saja sobat, Yesaha bukanlah nama seseorang, bukan seorang mahasiswi atau seorang siswi atau santriwati manapun juga, Yesha bukan lah siapapun tapi juga sekaligus siapapun (note: Yesha itu tokoh yang muncul dalam Meteor Garden jilid dua).

Maksudnya? Yah, Yesha adalah rahasia, dia bukan siapapun, karena aku tidak tahu Yesha itu siapa, tapi, dengan demikian Yesha adalah siapapun. Siapapun yang nanti menjadi istriku, maka rahasia itu telah terbuka, dan dia adalah Yeshaku, dan kepadanyalah nanti akau akan berbisik padanya saat dia sedang tidur di depan televisi karena capek menungguku pulang kerja, Yesha, you’re always beside me for all my travels. Yesha adalah siapaun yang natinya menjadi kekasih halalku. Dengan begitu, tidak ada pertengkaran dalam rumah tangga gara-gara skripsi, juga tidak ada minder karena skripsi kita jomblo sendiri, hahahahaha. Seorang teman berkirim SMS: kau pasti gila klo tau, nama pacarku yang di skripsi tak hapus, tak tempeli nama istriku skrg. Mga qt gak prnah cerai slamanya!
*
Perjalanan pulang dari kampus, Kampret memeriksa sripsiku. Dia terhenyak membaca halaman persembahanku. Aku pun segera menjelaskan, “Gak usah heran gitu, itu bukan ungkapan buatanku. Aku jiplak ungkapan seorang arkeolog ahli mesir, hehehe.”

“Bukan itu,” jawaban Kampret membuatku kaget. Lantas? “Yang membuatku heran, Yesha, Yesha, siapa gadis ini?” Kampret menatapku penuh selidik. Kayaknya dia sangat penasaran dengan Yesha. Aku tentu saja cuma diam sambil nyengir. Tiba-tiba Kampret mencengkram tanganku, lalu katanya, “kau jangan bohong ya! Jangan bohong! Sebenarnya, tidak ada yang namanya Yesha kan? Itu juga bukan nama rahasia kan! Kau…kau jomblo kan!!! Wahahahaha. Hegk!”
Belum selesai David eh maksudku Kampret tertawa, aku melompat, mencekik lehernya kuat-kuat, tak peduli dia melotot meronta kayak apa. Kukatakan dengan suara dingin ke telinganya: “kalau sampai kau bilang-bilang pada orang lain, aku bersumpah, aku tidak akan komen di blogmu itu!!! Tidak akan pernah komen di statusmu!!! Mau kau, huh?”

Arul Chandrana
Rabu, 08 September 2010

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

2 thoughts on “HARUSKAH CANTUMKAN NAMA SI “DIA” DALAM SKRIPSI?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s