• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

LOST IN DESCRIPTION

Baiklah, bagaimana jika suatu ketika nanti kau lulus SMA dan harus melanjutkan kuliah ke tempat baru yang benar-benar asing dan menakutimu? Atau, kau mahasiswa yang berpredikat tidak terlalu mengagumkan dan memutuskan untuk mengubah semua itu, kau memutuskan untuk pindah ke kampus baru di sebuah kota asing jauh tanpa ada satu kenalan pun di sana? Kau butuh persiapan untuk bisa mengatasi tiap kejahatan yang mungkin mengancammu. Memang kau tidak harus memesan satu kostum Spider-Man, atau membeli ‘akik’ sakti Green Lantern, atau membawa gulungan ninja Naruto, yang kau butuhkan adalah petuah mujarab dari orang berpengalaman. Dan karena aku akan melanjutkan kuliah di sebuah universitas bergengsi jauh di luar sana, aku pun harus menemui sosok mistis karismatis tersebut.

“Kon harus siap-siap, gak aman di Surabaya kalo kon gak tahu apa-apa!” Si Orang Berpengalaman di desaku memberi petuah. Aku duduk bersila dengan takdzim di depannya. Mengamati setiap gerak bibir hitamnya, naik turun gigi-gigi tonggosnya, goyangan jenggot berubannya.
“Kon siap tak ajari cara hidup neng Suroboyo?!”
“Siap Gus! Siap Gus!”
Maka di pagi yang tak seberapa cerah itu aku pun mulai belajar tentang cara hidup di ibu kota Jawa Timur itu, Surabaya. Karakternya. Tabiatnya. Dan kewaspadaan macam apa yang harus selalu dinyalakan alarmnya.
“Huff, aku akan menghadapi ribuan serigala di sana.” Desahku saat beranjak pergi dari hadapan si Gus (entah empat atau lima tahun kemudian aku baru tahu—saat si Gus Berpengalaman meninggal—jika di Surabaya dia berprofesi sebagai pemulung paruh waktu, sebagian besar waktunya digunakan untuk mencopet!)
*
Hampir aku terlalu amat sangat menyesal telah memutuskan berangkat seorang diri ke Surabaya. Merasa telah sangat mengenal Surabaya hanya dari petunjuk Gus Berpengalaman, kutolak tawaran ayah dan kakakku untuk mengantarku ke Surabaya, padahal ini perjalanan pertamaku. Begitu sampai di terminal bus Wilangun—yang bagiku tak ubahnya dengan tempat penampungan kotak besi bergerak dengan jutaan serigala berkeliaran di dalamnya—semua keberanian dan kejantananku menguap. Gram per gram keberanian itu meleleh, hilang, berganti dengan wajah pucat dan lutut yang bergemelatuk ketakutan.
“Sialan! Huff! Baiklah, berpikirlah…” Aku berusaha mati-matian menenangkan diri. Mengatur nafas. Mensetabilkan detak jantung. Mengingat semua kata-kata sakti Gus Berpengalaman: Kon nyampek Wilangun, Ileng Yo, cari angkot warna kuning. Ingat, warna kuning! Ada huruf WK di kaca depannya. Ingat itu!
“Baiklah Gus, aku akaaaaaaaaaaaaaan………”
TOOOOOOOOOOOOT….! TOOOOOOOO….T! TOOOOOOO…..T!
Saking tegangnya, aku sampai lupa jika sedari tadi aku berdiri tepat di jalur masuk bis ke halte. Sebuah bis buesar antar propinsi mengklaksonku dengan buas. BERKALI-KALI! Aku terlompat-lompat seperti actor utama topeng monyet disengat lebah. Huff, malunya bukan main. Mualu diriku! Merah kuning hijau mukaku—padahal aslinya berwarna gelap. Belum lagi kernetnya yang langsung memaki-maki dengan makian khas Surabaya yang di telingaku terdengar agak aneh: gancuk! Gancuk! Gancuk!
Tapi aku telah kalah satu hal, apa yang terjadi barusan telah membongkar kedokku, telah membongkar rahasia paling rahasia dari semua rahasia yang mungkin ku punya: yaitu bahwa aku baru pertama kali ke Wilangun ini! SOS! SOS Gus! SOS! Aku dalam bahaya Gus!
“Mas! Ayo ikut! Cepet mas!” seorang pria dengan wajah yang—bahkan anak kecil juga tahu—lusuh tak pernah menyentuh air selama dua bulan lebih datang mendekatiku. Pertama kali yang kusadari dari dirinya adalah: deretan giginya yang kuning legam. Dan, gigi-gigi itu mengingatkanku pada satu hal: ileng-ileng kon, orang yang giginya kotor, mereka itu preman! Tahu preman kon? Gus melotot tajam padaku, dia tidak berkata apa-apa, Cuma tangan kirinya membuat gerekan memenggal leher.
Dan untuk menghadapi orang semacam itu, hanya ada satu caranya: KABUUUUR! Aku segera melengos. Melangkah cepat ke arah berlawanan. “mas! Mas! Ke sini mas! Ke sini!” Si Preman Anti Air memanggilku dengan geram. Dan, semakin keras dia memanggil, semakin cepat aku menjauh.
Dari ekor mataku, kulihat dia berhenti membuntutiku. Mungkin dia sudah bosan berurusan dengan orang ‘sejenisku’, atau…
“Ikut aku mas!!!”
Karena ada preman lain yang telah menantiku. Sebuah cengkreman sangat kuat dasar menjepit lenganku yang kecil hanya bertulang. Makhluk gorilla hitam berkaos oblong dengan logo bonek di dadanya itu menyeretku dengan paksa.
“tidak pak! Tidak!! Tidak paaak…!!!” Entah bagaimana, reflek aku menjerit histeris. Meraung-raung. Berteriak memohon dilepaskan. Kakiku menggelapar-gelepar. Menyaruk-nyaruk tanah untuk menghentikan langkah maut si gorilla. Saat itu, pikiranku penuh dengan wajah-wajah keluargaku yang menangis tersedu-sedu. Ibuku. Ayahku. Kakakku. Paman bibiku. Sahabat-sahabatku. Mereka semua menangisi jazadku yang lehernya hampir putus. Gus Berpengalaman, maafkan aku, aku gagal… Maka sebagai perlawanan terakhir, aku memekik sekuat tenaga:
“TOLOOOOOOOOOOONG… aku gak mau ikuuuuuu…t!!!”
Jeritanku membahana keras. Meredam pekikan klakson bus-bus raksasa yang berseliweran. Meredam nyanyi parau pengamen lusuh di pinggir jalan. Meredam rayuan mentah penjual telur asin dan tahu goreng. Meredam teriakan kondektur yang sombong. Mereka semua berbalik menatap ke arahku!
Kemudian…
Yang terdengar….
“hoy! Lepaskan anak itu! Lepaskan!” orang-orang meneriaki si Preman Gorilla Berkaos Bonek. Puluhan tinju mengacung tajam. Seringai dan ancaman. Si Preman Gorilla keder juga. Perlahan cengkraman tangannya mengendur. Aku dilepasnya dengan kasar. Hampir jatuh terjengkang.
“Gancuk sinting!!!” dia memaki.
*
“kau tidak apa-apa mas?” Seseorang menghampiriku. Dan suaranya itu, lembut, melantun, seperti bukan suara laki-laki, dia… aku mendongak dan…
Kau harus ingat ini, kata-kata Gus Berpengalaman mengiang, untuk yang satu itu, kau jangan terlalu dekat. Jangan terlalu dekat! Jangan sekali-kali. Kau punya jalanmu sendiri, anak muda… yang diperingatkan beliau adalah tentang manusia dari spesies ini: bencong! Aku langsung tahu dari cara bermake-up nya, dari warna pakaiannya, dari senyumnya, dari kedip bulu matanya, dari suaranya yang tidak jelas! Dia…
“Aku pria tuleeeeeeeeen…..!!!” itulah jeritan yang diajarkan Gus Berpengalaman jika aku bertemu yang ini.
*
Terminal Wilangun telah menguras semua energiku. Bahkan, juga mempermalukanku. Aku pergi dari tempat itu menuju tempat parkir angkot diiringi tatapan begitu banyak orang. Tatapan lucu dan geli. Bahkan, bocah kecil pengamen dan pengemis pun tertawa terpingkal-pingkal melihat aku dimaki bencong. Jangan hiraukan apapun. Itu pesan dari si Gus. Dan, sekilas, aku melihat seseorang membuntutiku. Melangkah mantap menguntitku dari belakang. Dari pakaiannya, aku tahu jika dialah manusia dari jenis yang paling berbahaya dari yang mungkin kutemukan di kota ini.
*
Aku segera duduk di len WK. Sungguh begitu masuk kotak besi itu aku langsung merasa terasing. Semuanya terasa jauh. Ganjil. Tak satupun dari kami para penumpang ada yang saling berbicara. Tak satupun ada yang saling bertanya. Tak satupun ada yang saling bertukar senyum. Walau duduk sangat berdekatan. Sungguh berbeda dengan desaku. Di sana, angkutan desa selalu ramai dengan sapaan dan gurauan. Orang-orang begitu akrab. Saling mengenal walau itu perjumpaan pertama.
Pak sopir mulai menjalankan mobilnya waktu seseorang melompat masuk. Blugg. Duduk tepat di depanku. Dan…dia…orang yang membuntutiku di terminal tadi!
Aku tak bicara apa-apa. Bahkan, rasanya aku juga tidak bernafas. Sosok di depanku itu sesekali melirikku, dan begitu aku mengangkat wajah, buru-buru dia berpaling. Membuang muka. Pria itu, dengan pakaian disetrika, rambut diminyaki dan disisir rapi, sepatu kulit mengkilat, jelas-jelas menunjukkan identitasnya: kon ileng-ileng, orang yang begitu adalah yang paling berbahaya! Dia tidak menggorokmu, tapi…mengambil isi perutmu!!! Pesan maut si Gus membuatku bergidik. Orang ini…dia yang…
“Turun mana mas?” pak sopir berseru. Aku celingukan, merasa dipanggil tapi tak yakin. “Iyo koe mas! Turun mana?” sambil menelan ludah, kusebutkan tujuanku: Pasar Pacar Keling.
Criiiiiiiiit….!!! Mobil mengerem mendadak. Para penumpang terdorong ke depan. Aku terjepit. Dan hebatnya, pak sopir sama sekali tidak merasa bersalah apalagi minta maaf. “Gimana sih mas! Sudah tadi pasarnya! Sudah turun sini saja. Nanti jalan kaki. Ikuti jalan ini. Orang kok gak bilang dari tadi.”
Aku nelangsa menatap angkot yang kembali melaju. Meninggalkanku seorang diri tanpa kasihan. Aku yang merinding di tengah kesibukan jalan. Diacuhkan semuanya. Dibiarkan terbakar matahari. Tapi mobil itu tiba-tiba berhenti, seseorang turun, kuamati lekat-lekat, dia…dia…si Pria Necis! Sialan, dia berbalik dan segera melangkah ke arahku. Dia mendatangiku!!!
Aku kaget dan bingung, harus kemana aku? Jelas aku tak tahu arah. Ke Pasar Keling, ah, arah mana, aku diturunkan sopir jahat itu tepat di pertigaan. Dalam kebingungan, Pria Necis sudah sampai di dekatku.
“Arul, Arul, kamu Arul kan?” dia memanggil namaku! Dia memanggil namaku! Memanggil namaku! Tahu dari mana orang jahat ini? Dari siapa? Sudah sebegitu berkuasakah kejahatan di Surabaya? Bergitu terorganiskah? Sampai-sampai aku yang dari desa pelosok ketahuan identitasnya tak sampai setengah hari setelah menginjakkan kaki. Aku mulai berkeringat dingin. Pria necis itu tersenyum. Mengusap keringat di dahinya. Menjulurkan tangannya yang berkilau oleh keringat. Mengajakku salaman.
“Lupa yah? Aku teman kakakmu, Mas…”
Rasanya dunia terbelah dua tepat di bawah kakiku. Dan dari situ muncul Gus Berpengalaman sambil berkata: dia seratus persen orang baik, nak! Kemudia disusul kakakku dan berkata: matur suwun (terima kasih) fren sudah mau jemput adikku. Tentu saja! Tentu saja! Dia adalah sahabt kakakku. Dia sering datang kerumah dan menghabiskan jambu biji di halaman. Dia orang yang merusakkan mobil mainanku. Dia yang membuatku jatuh dari meja. Dia yang menumpahkan air ke buku IPSku, dia yang…sudahlah, kenangan buruk semua, tapi yang jelas, sia orang baik sahabat baik kakakku yang amat baik padaku saat sedang baik.
“Mas jambu kluthuuuu…k!!!” aku melompat memeluk penolongku yang kini jauh lebih tampan ketimbang saat SMA dulu.
Kemudian, aku baru tahu jika ternyata kakakku yang menghubunginya untuk menjemputku. Begitu melihatku, dia sudah tahu siapa aku, tapi sengaja mendiamkan diri menunggu aku mengenalinya. Tapi, yang terjadi malah sebaliknya, bukannya kenal, malah aku ketakutan. Hahaha. Yah, yang jelas, sobat, tidak semua adalah serigala, jangan terlalu percaya penjelasan seperti itu, tapi, terkadang, manusia juga lebih buas dari serigala. Kadang.

Brondong, 23 July 2010

One Response

  1. he2..salut bwtmu bro..i ll be waiting 4 ur story later.aku jadi brasa pengin ngglandang dikau pas d wilangun.gt kok gak tanya aku.aku kan dah 4 taun jd preman dsna..he2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: