• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

NENEK TUA DAN ANGKOT BOBROK

Sore itu, bukan hanya karena aku sedang puasa yang membuatku lemas dan kurang bersemangat, tapi juga panas dan gerahnya Paciran menguapkan segala semangat dan kesegaran tubuhku. Aku merasa menjadi ikan pindang yang berbungkuskan hem merah muda dan memakai celana krem—sungguh jenis baru dari ikan pindang yang paling diburu kolektor makhuk ruang angkasa. Tapi semua itu menjadi tak seberapa dibandingkan dengan apa yang kudapati dalam angkot: ruangan sempit yang dijejali berbagai jenis dan ukuran mumi berkeringat dan bermata nyalang, angkot itu penuh sesak dengan penumpang yang pada mengamuk!!! Di situlah bencana itu terjadi.

Dengan penuh kedzaliman, aku dijejalkan di sebelah seorang tante gemuk oleh si kernet berkaos oblong butut. Tanpa berempati pada penderitaan yang kualami, dia langsung berseru pada si sopir bertopi menceng, “tarik!!!”

Di dalam angkot udara pengap, keringat berleleran, bau nafas menguar bersaing dengan bau ikan setengah busuk, menghasilkan bau jenis baru yang paling mematikan dan meracuni.udara panas dari luar menembus masuk, mengibarkan ujung-ujung rambut tante-tante tak berkerudung. Menusuk ujung mata. Di kursi paling belakang, orang-orang tua bercerita dengan keras tentang entah apa, sedangkan musik dangdut diputar keras-keras oleh si sopir. Semua orang duduk berdesakan, tulang pinggulku rasanya seperti dipress, digencet sekeras-kerasnya, dijepit seakan hendak dibikin gepeng. Sialan!!! Mengapa aku mau ikut angkot bejat ini?

Untunglah musibah itu tidak berlangsung lama, di depan sebuah warung angkot itu berhenti, tiga tante turun. Mobil melaju kembali. Mesinnya meraung nyaring, bisa kubayangkan asapnya yang hitam dan pekat bersemburan dari knalpot rongsoknya.
“karcis karcis…” kernet meniru gaya kondektur bis narik bayaran angkot. Kuserahkan dua ribu dari saku tas donker robek-robek milikku. Dua ribu, satu-satunya uang yang ada di tanganku!!! Yah, memang akhir-akhir ini aku sedang benar-benar pailit. Uang dua ribu itu susah payah kusimpan hanya agar aku bisa pulang. Aku menghela nafas berat, masya Allah, seorang blogger, penulis, pengajar, tapi merana seperti ini, kapan kiranya dunia akan terbalik? Lamunanku membubung.

“kurang mbah!” suara keras si kernet membuyarkan lamunanku. Aku mendongak, di depan ku, seorang nenek tua tengah sibuk membuka gelungan kain sarungnya, mencari-cari uang yang diminta si kernet.
“gak onok cong. Tidak ada nak, cuma itu. Sudah terima saja, buat orang tua.”
“terima terima gimana. Ini bayarnya kurang seribu!” kernet itu memebenta si nenek tua. Astaghfirullah, aku bergumam. Mengelus dada. Tega banget kernet tengik itu. Bulan puasa kayak gini dia membentaki orang tua.

“nak nak, memangnya berat memberi seribu rupiah saja?” nenek tua itu menanggapi. Terdengar suaranya memelas.
“sudah tua banyak omong lagi! Kalau semua orang seperti kamu, bisa bangkrut tahu! Orang kok mintanya murah terus.” Entah bagaimana, si kernet berbaju butut itu tak berhenti juga mengomeli si nenek tua. Dia tidak diam, bahkan ketika sebuah angkot yang lain menyalipnya dan membawa penumpang di depan, di lampiaskan kekesalannya pada si nenek tua. “wong tuo senengane jalok bae! Orang tua hanya bisa minta-minta. Apa kamu gak tahu, aku ini kerja, bukan memberi tumpangan gratis!!!”
“nak, maaf, maaf, mbah uangnya tidak cukup, bukannya tidak mau bayar. Kalau mbah ada uan, pasti tak bayar.” Suara si nenek bergetar. Ketakutan menyusup dalam hatinya.
“gak ada uang? Kalo gak punya uang jangan naik angkot! Jalan!!!”

Keparat!!! Aku merutuk dalam hati. Kulihat para penumpang yang lain, mereka hanya diam, tidak berbicara sedikitpun. Pura-pura tidak mendengar. Pura-pura tidur. Mereka biarkan nenek tua hancur harga dirinya yang paling sisa di tangan kernet bejat itu.
“mas, cuma uang seribu saja kok repot seh. Ikhlas kan saja.” Aku bicara dari belakang punggungnya. Tapi segera si kernet menyambarnya dengan galak,
“mau apa sampean? Mau bayarin nenek ini? Ayo bayar kalo gak mau aku memarahinya.”
Seketika itu juga, aku bisa merasakan semua menatap kearahku. Semua orangmenoleh, penasaran ingin tahu bagaimana aku menanggapi tantangan si kernet. Dan tentu saja, aku hanya menelan ludah getir. Aku tidak punya uang sepeserpun saat itu. Aku menunduk.
“bisanya cuma ngomong! Kasi uang seribu saja gak mau!!! Jangan banyak omong mas!”
“sepurane mas,” kataku membela diri, “kebetulan aku gak bawa uang. Pas dua ribu tadi.”
“alah banyak omong!!!” si kernet melengos. “mbah, lain kali kalau gak ada uang gak usah naik angkot ku!!!”

Sepanjang perjalanan aku hanya bisa menyumpahi dalam hati, lupa sedang puasa, lupa ini bulan romadlon. Keparat! Tengik!!! Mengapa justru di saat begini aku tidak bawa uang! Mengapa para penumpang lain malah hanya diam!!! Apa telah hilang hati dalam dada mereka? Apa mereka terhibur dengan itu? Apa mereka merasa lebih kenyang sekarang setelah menyaksikan si nenek tua dimaki habis-habisan? Apa mereka merasa lebih nyaman hidupnya? Lebih tenang hidupnya? Rasanya ingin aku berteriak: APA TIDAK ADA ORANG ISLAM DI SINI?????

Dan, untuk kesekian kalinya, aku mengutuki kemiskinan diriku. Mengapa aku demikian melarat? Bahkan hanya uang seribu pun tak ada? Mengapa aku begitu miskin sehingga hanya untuk uang seribu saja aku harus pulang kerumah mengambil dari lemari simpanan? Mengapa? Mengapa? Seandainya aku lebih kaya dari ini, dan selalu membawa uang kemanapun pergi, pasti aku bisa menolong nenek tua itu, pasti aku bisa mempertahankan harga dirinya yang terakhir itu, pasti aku bisa menjaga nama baiknya di akhir hidupnya yang tinggal menghitung waktu. Seandainya.
Angkot itu terasa lengang. Tak ada yang bicara. Derum mesinnya meraung bersaing dengan puluhan kendaraan lainnya.

Si nenek turun di terminal brondong, sama dengan ku. Begitu aku keluar dari mobil, segera aku pergi, berjalan ke barat, ke desaku—itu jalan kaki menempuh 500 m di bawah matahari. Tak sanggup aku menatap si nenek tua lama-lama. Tak tega aku menatap matanya yang menyiratkan terimakasih. Karena justru itu membuatku semakin merasa bersalah. Aku terus berjalan, melintasi jejeran angkot yang parker menunggu penumpang, becak yang terdiam berselimut debu. Dan di depan sana, jauh, orang berlalu lalang.

20 August 2010
Arul chandrana

Advertisements

3 Responses

  1. Wah, pak catur. Crita’a sedih juga ya ga kalah ama raining day in paradise yg jdul aslinya maunya yaumul mumthir fyl jannah

  2. heem,,,, yaumul mumtsir fil jannah ^^

  3. oalah itu ya bahasa arabnya? hoa hahahahahaha, ups, iyah, tengkyu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: