• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

APINYA TINGGAL KAU NYALAKAN, NAK

Pak Harlim, guru matematika kelas 3 C yang baru enam bulan mengajar itu, membuat hampir semua guru termasuk kepala sekolah bertanya -tanya tentangnya, guru macam apa beliau ini?. Beliau bukan hanya berhasil membuat semua siwa kelas 3 C menyukainya—hal mana tak bisa dilakukan oleh guru matematika lainnya, tapi lebih dari itu, beliau telah mebuat semua siswa kelas 3 C menyukai matematika—hal mana sangat jarang bisa dilakukan guru matematika manapun.
Setiap jam pelajaran beliau berlangsung, selalu saja terdengar tawa gembira para siswa, tak jarang sorak kemenangan terdengar pula. Siswa kelas 3 C kinipunya mantra baru dalam tiap jam matematika (mantra yang lama bunyinya: “Pak, waktu habis,” walau sebenarnya masih ada waktu 30 menit.) mantra baru mereka sekarang adalah: “Pak, beri kami soal yang lain!”

Ketika membahas lingkaran, Pak Harlim membawa sebutir semangaka kuning besar ke dalam kelas.
“Kalau ada satu saja di antara kalian yang bisa menemukan diameter dan jari-jari semangka ini, kita akan rujakan semangka nanti saat istirahat.”
“Bener Pak? Yuhuuu, udah lama nih gak rujakan. Akan ku selesaikan tantangannya Pak!” anak-anak berseru penuh semangat.
Di lain kesempatan beliau membawa dua set timbangan jinjing. Semua siswa diminta menimbang bobot masing-masing. Dan tugas mereka adalah menemukan berat rata-rata seluruh kelas. Di ujung pelajaran, Pak Harlim menobatkan dua siswa sebagai siwa paling kurus dan paling gemuk berdasar poling para siswa. Jadilah pagi itu rame layaknya ajang miss universe di gedung Kodak Amerika.
Pak Harlim berhasil menghapus semua mitos menakutkan tentang matematika.
*
Dan, satu hal yang paling membedakan beliau dari guru-guru lainnya dalah mading Math For All di depan kelas 3 C yang secara khusus dibuatkan pengurus kelas buat Pak Harlim. Itu mading yang tidak pada umumnya. Yang berhak mengisi hanya Pak Harlim seorang, dan isinya benar-benar beda dengan mading manapun juga di seluruh negeri: soal sayembara matematika. Pak Harlim yang membuatnya. Dan bagi siswa yang berhasil menjawab soal sayembara, ada hadiah menanti. Biasanya hadiah berupa perlengkapan sekolah atau buku-buku pengayaan matematika. Tapi tak jarang, hadiahnya adalah kosmetik perawatan wajah dan cream perawatan rambut. Para siswa pintar langganan sayembara sempat protes dengan jenis hadiah itu. Tapi Pak Harlim punya jawabannya sendiri:
“Coba kalian bayangkan, bagaimana jika di antara siswa pesolek itu ada seorang jenius yang sedang bersembunyi? Aha! Kita harus memancing mereka keluar, sobat.”
*
“Pak Harlim,” Bu Titin, guru biologi, memanggil Pak Harlim. Mereka sedang berjalan menuju kelas masing-masing yang kebetulan berdampingan. “Pak, bagaimana sayembara bulan ini, sudah ada yang berhasil menjawab?”
“Eh, Bu Titin. Belum ada Bu. Padahal biasanya lima hari dipasang sudah banyak kertas jawaban ditempelkan anak-anak.. sepertinya kali ini terlalu sulit Bu.”
“Kayaknya iya Pak, lha wong saya saja kebingungan kok, Pak”
“Eh, Ibu juga ikut mencoba?” Pak Harlim kaget. Tidak disangka ‘sayembaranya’ itu benanr-benar menghebohkan seluruh siswa dan guru.
“Pak Pak, gini-gini dulunya saya jagoan matematika juga lho. Entar kalo sudah deadline dan tidak ada yang menjawab, tolong saya kasih tahu jawabannya Pak ya”
“He he, iyah Bu,” Pak Harlim tersenyum simpul. Dalam hati ada kebanggaan karena soalnya kali ini bahkan membuat salah satu guru tak berkutik.
Pak Harlim sudah sampai di kelasnya, Bu Titin meneruskan jalan. Beliau tidak langsung masuk ke dalam kelas—dari pintu tampak anak-anak sudah duduk rapi di bangkunya masing-masing. Diamatinya mading yang menempel di tembok kelasnya itu. Tidak ada apa-apa di situ, kecuali sederet soal sayembaranya.
Buktikan bahwa .
“Akan kutemukan siapa si jenius di sekolah ini darimu, sobat.” Gumam Pak Harlim. Segera kemudian beliau masuk kelas.
“Selamat pagi anak-anak,” sapanya riang.
“Selamat pagi Pak Harlim Potter, hehehehe” jawab mereka riuh.
“Hey…mengapa masih menggunakan nama panggilan itu? Ayolah…”
“Hahaha…selamat pagi Pak Harlim Davidson…”
“Hoaa…”
*
Sayembara kali ini memang beda dari biasanya. Bukan hanya dari jenis hadiahnya: Pak Harlim menyediakan uang sebesar tiga ratus ribu untuk pemenangnya, tapi juga dari tingkat kesulitan soal yang diberikan.
Itu bukan soal untuk rata-rata anak SMA, bahkan, guru matematika SMA sekalipun diragukan bisa mengerjakannya dengan benar. Ini soal tersulit yang pernah dijumpai Pak Harlim dalam hidupnya. Dosen matematikanya yang memberinya dulu. Dan, tak satu mahasiswa pun yang bisa menyelesaikannya. Pak Harlim kecewa. Ini kegagalan pertamanya mengahadapi soal matematika: bukan sekedar gagal mendapatkan jawaban yang benar, tapi bahkan tak bisa menemukan bagaimana langkah-langkah penyelesaiannya.
Dengan agak dipaksa, sang dosen akhirnya membeberkan rumus soal tersebut. Para mahasiswa puas, tapi Pak Harlim justru makin sakit hati, karena dosennya itu berkata:
“Saudara-saudara tahu, empat tahun yang lalu soal ini pernah diujikan di Jepang dan di sana ada yang berhasil menyelesaikannya.”
“Siapa dia, Prof?” Harlim muda segera bertanya.
“Akira Seiguchi, seorang siswa SMA di Kyoto.”
AKIRA SEIGUCHI!!!
Nama itu selanjutnya tak pernah hilang dari ingatan Pak Harlim, dan semenjak saat itu pula, beliau berburu Akira Seiguchi, beliau ingin menemukan sosok hebat itu di antara para pemuda bangsanya. Beliau ingin bertemu dengan orang yang telah mengalahkannya itu. Bahkan, beliau sering menyertakan harapannya itu di ujung tiap-tiap doanya.
*
Pagi itu kelas 3 C ramai. Bel masuk sudah berbunyi tapi anak-anak masih bergerombol di koridor kelas. Bahkan, ada sejumlah siswa dari kelas lain yang ikut nimbrung. Mereka menatap mading sayembara dengan penuh kekaguman sekaligus kesangsian. Mading itu kini tidak hanya berisi soal sayembara Pak Harlim, tapi di sebelahnya, tertera sederet jawaban yang cukup panjang dan membingungkan. Di bawah jawaban itu, tercantum sebuah nama yang tidak begitu mereka kenal: Arul, IPA 2 B. Arul? Arul yang itu? Anak aneh itu?
“Anak-anak, kenapa masih di luar. Ayo masuk.” Pak Harlim datang, tapi tak satupun ada yang memperhatikan. Mereka terlalu sibuk mengamati mading, atau berdebat dengan sesama mereka. “Anak-anak, sudah jam masuk. Kenapa masih berkerumun di depan…”
Pak Harlim tercekat. Kata-katanya hilang di tenggorokan. Buku pelajarannya jatuh ke lantai. Tak berbunyi, tenggelam dalam keriuhan yang mengambang. Pak Harlim merasa dirinya tersedot oleh suatu kekuatan besar dari sebuah black hole raksasa yang tiba-tiba terbuka di atasnya. Terlempar dan melaju cepat dalam lubang cacing menembus waktu, memasuki ruang kuliahnya enam tahun lalu, saat di mana beliau merasa kalah dan takjub pada seseorang. Akira…
Tak ingin percaya semudah itu, Pak Harlim merangsek ke depan, menyeruak kerumunan para siswa. Ditelitinya jawaban itu dengan seksama. Tulisan tangan yang tak bagus. Telunjuk kanan Pak Harlim sibuk menelusuri alur jawaban. Mulutnya mendesis, kepalanya mengangguk-ngangguk, dan…
“Hasilnya dalah… , tepat! Persis! Akira, akhirnya kutemukakan kau di sini!”
*
Arul duduk sendiri di depan meja Pak Harlim di kantor guru. Tangannya sibuk memainkan pulpen hitam miliknya. Tatapannya menerawang langit-langit. Namanya akan bertengger di mading kelas 3 C selama seminggu, semua orang tahu itu, sebagaimana para pemenang sayembara sebelumnya. Tapi yang tidak dia mengerti adalah: mengapa aku di sini, di ruang guru ini? Setahunya, para pemenang sayembara mendapatkan hadiah Pak Harlim langsung di tempat atau dipanggil menemui Pak Harlim di kelas 3 C—karena itu, kelas 3 C dianggap sebagai Stockholme Concert Hall tempat dilangsungkannya penganugerahan hadiah Nobel. Belum pernah ada sejauh ini yang sampai dipanggil ke kantor guru karena menang sayembara.
“Anda yakin anak itu yang telah menjawabnya Pak?” suara seorang guru berbisik. Bu Titin.
“Sepertinya; namanya yang tertera di situ, Bu.” Jawab Pak Harlim, berbisik pula.
“Saya sebagai guru matematikanya,” timpal suara seorang laki-laki, “kok tidak yakin Pak ya. Dia itu bukan siswa spesial. Biasa-biasa saja Pak.”
“Tapi bukti menunjuk padanya, Pak. Kita akan mengetahuinya segera.”
Arul mengelap keringat di kening dengan punggung tangan kirinya. Pak Harlim datang, menarik kursi, duduk di balik meja, di depan Arul. Satu nafas panjang dihembusnya.
“Nah, Arul, selamat atas keberhasilanmu menjawab sayembara Bapak. Sungguh suatu kemenangan yang mengagumkan. Kamulah satu-satunya yang bisa menjawab sayembara Bapak kali ini. Sepertinya, kau murid terhebat di sini. Bapak kagum dengan ketepatan jawabanmu Rul.”
“Ng…” Arul menggumam. Roman mukanya berpikir. Pak Harlim menelisik, mencondongkan badan ke depan. Ada beberapa gram kesangsian masuk ke dalam benak beliau. Benarkah anak ini yang menjawab soal itu? Anak grogian seperti ini?
“Ng…Pak, apakah saya mendapatkan 300 ribu yang Bapak janjikan?”
Pak Harlim terkejut. Sungguh jawaban yang tak diduganya. Setelah pujian yang panjang diberikannya, anak itu malah menagih uang! Tapi Pak Harlim segera menguasai diri. Beliau sudah terbiasa menghadapi berbagai macam karakter siswa selama karir gurunya lima tahun ini. Cepat-cepat beliau tersenyum. Akan tetapi, kecurigaan besar telah menguasai Pak Harlim. Anak ini curang! Dia mungkin berkomplot dengan seseorang untuk mendapatkan uang itu. Pasti! yang diperlukannya sekarang adalah membongkar kebohongannya itu. Perlahan Pak Harlim keluarkan dompetnya.
“Tentu saja, kamu juaranya. Itu hakmu nak.” Tiga lembar uang ratusan ribu dalam genggaman Pak Harlim. “Tapi, jujur Bapak penasaran dengan bagaimana kamu menyelesaikan soal itu. Bisakah kamu menunjukkannya pada Bapak sekali lagi? Bapak ingin…”
“Sebentar,” Arul memotong perkataan Pak harlim begitu saja. Pak Harlim mengerutkan kening sekali lagi. Beliau sudah terbiasa disanggah murid-muridnya kelas 3 C, dan itu tak masalah. Mereka anak-anakku. Tapi, Arul ini, dia bukan siswaku, lancang sekali anak ini memotong pembicaraan seperti itu. Kau punya masalah kesopanan, Nak.
“Bapak ingin saya membuktikan di depan Bapak bahwa saya memang bisa mengerjakan soal itu kan? Baiklah kalau begitu. Tak masalah. Boleh minta kertasnya Pak?” Arul menyeringai, menatap Pak Harlim dengan geram. Pak Harlim menyerahkan kertas yang diminta. “Saya akan mengerjakan soal itu dengan cara yang berbeda!”
*
Pak Harlim menelan ludah. Tiga menit tujuh belas detik. Hanya selama itulah waktu yang dibutuhkan Arul untuk mengerjakan soal sayembaranya, dengan cara berbeda dari yang pertama. Pak Harlim mengambil kertas kerjaan Arul, mengamatinya dan sekali lagi dibuat kagum oleh Arul. Pak Harlim tahu, memang bocah ini yang telah menjawab sayembaranya. Dialah Akira yang dicari-carinya selama ini.
Diserahkannya uang 300 ribu. Arul tersenyum. Wajahnya cerah untuk pertama kali sejak masuk ke dalam ruangan ini.
“Dengan kemampuan sehebat ini, mengapa kau tidak ikut sayembara-sayembara sebelumnya? Bapak yakin, kau bisa menjadi juara bertahan dari awal sampai sekarang.”
“Mm…saya belum berminat, Pak. Tidak tertarik.”
“Maaf, tidak tertarik? Hehehe, pasti sola-soal yang Bapak berikan terlalu kekanak-kanakan buatmu. Memang kau sudah jauh di atas teman-temanmu dengan kemampuan yang kamu tunjukkan tadi.”
“Bukan, bukan begitu Pak. Tapi, saya tidak tertarik dengan hadiah yang Bapak janjikan. Perlengkapan sekolah? Saya sudah punya. Tidak butuh yag baru. Buku pelajaran dan artikel-artikel ilmiah? Saya juga tidak membutuhkannya. Yah, begitulah alasannya.”
“Hmm, tentu saja.” Pak Harlim tersenyum kecut. Ada sesuatu tentang anak ini. “Jadi, kau ikut kali ini hanya karena hadiahnya? Sama sekali bukan karena kau suka matematika? Suka tantangannya? Serunya bermain dengan angka? Atau, pengen dikenal semua siswa dan guru, menjadi terkenal?”
Arul menggeleng dengan pasti.
“Mengapa? Mengapa Nak? Sebegitu berartikah 300 ribu itu sehingga kau ikut serta dalam sayembara kali ini?” Pak Harlim menahan detak jantungnya. Dia punya firasat buruk mengenai siswa yang duduk di depannya itu. Pak Harlim seakan melihat hantu itu tengah menelungkupi Arul.
“Ya, benar. Karena uang hadiah itu.”
Pak Harlim diam. Ketakutannya ternyata benar. Semua demi uang. Selama ini Pak Harlim sangat gigih memotivasi siswanya untuk mencintai matematika sebagaimana dirinya berkorban untuk disiplin ilmu itu. Dan, beliau pun telah mati-matian mencari Akira dari bangsanya sendiri. Tapi, ketika Akira itu sudah berdiri di depannya, ternyata Akira yang ini berbeda dengan Akira si siswa Kyoto.
“Pak, uang memungkinkan kita untuk mendapatkan apapun yang kita inginkan. Siapakah yang mengendalikan dunia sekarang ini? Apakah para orang pintar? Tidak, bukan mereka, tapi orang-orang yang memiliki uanglah yang mengatur segalanya. Ini dunia kapitalisme Pak. Saya, sejujurnya tidak butuh untuk menjadi jenius atau menjadi pintar sekalipun, saya ingin jadi orang kaya. Banyak uang. Itu saja. Saya tidak ingin membuang waktu saya untuk mendalami sesuatu yang tidak akan merubah kehidupan saya. Terima kasih untuk hadiahnya. Saya permisi Pak.”
Pak Harlim tersadar dari lamunannya ketika Arul sudah tidak lagi di depannya. Bayangannya tampak dari kaca jendela. Pak Harlim segera lari mengejarnya.
“Arul, tunggu!” Pak Harlim memanggil Arul. “Arul, dengarkan kata-kata Bapak. Di sekolah tempat Bapak mengajar sebelum di sini, Bapak mendapatkan gaji tiga juta perbulan. Tapi Bapak tinggalkan sekolah itu. Tahu kenapa Nak? Jawabannya adalah, hidup ini tidak melulu tentang uang. Harta. Kekayaan. Bapak keluar karena Bapak ingin menemukan siswa jenius sepertimu. Bapak tinggalkan tiga juta perbulan hanya agar bisa menemukanmu. Arul, percayalah pada Bapak, harta bisa dicari, ada cukup banyak waktu untuk melakukannya Rul. Tapi, anugerah yang kau miliki itu, kecerdasan yang kau punya itu, itu sangat mahal dan ribuan kali jauh lebih berharga dari pada uang berapapun jumlahnya. Pikirkan itu Nak.”
Arul berhenti berjalan. Berpikir. lalu dia berbalik, menghadap Pak Harlim.
“Mau tahu pendapat saya Bapak? Pertama, Anda salah telah meninggalkan uang sebesar itu hanya untuk menemukanku. Kedua, hidup ini selalu tentang uang Pak. Ke tiga, maaf, itu urusan Bapak sendiri.”
*
Sejak hari itu, Pak Harlim menghadapi kekecewaannya seorang diri. Beliau telah menemukan sang jenius yang dicarinya selama ini—dengan mengorbankan tak sedikit miliknya. Di lain pihak, sang jenius yang beliau temukan, Arul, ternyata tidak seperti yang beliau harapkan. Ini jenius yang materialistis. Skeptis. Pesimis dan sangat tak termotivasi. Hampir saja beliau tertelan penyesalan, tapi, didorong oleh obsesi, Pak Harlim memutuskan untuk tidak menyerah begitu saja. Mulailah beliau meneliti latar belakang Arul sebagai langkah awal. Beliau ingin memahami lebih banyak tentang Akiranya ini, apa yang membuatnya begitu mengutamakan uang? Apa yang membuatnya begitu acuh pada semua hal? Apa yang mendorongnya untuk membazirkan anugerah yang luar biasa miliknya itu? Kejeniusan itu!
Pak Harlim mulai membuka-buka arsip dan biodata Arul. Arul adalah siswa unggulan dan juara sekolah saat masih SMP. Jelas prestasinya itu bukan karena posisi ayahnya sebagai WAKA Kesiswaan. Arul memang jenius semenjak pertama kali melihat dunia. Dialah brilian yang dinantikan.
Pertengahan kelas tiga SMP, ayahnya meninggal dalam kecelakaan mobil dua minggu sebelum pemilihan kepala sekolah yang baru—ayahnya itu calon yang diunggulkan. Tapi Arul tidak berubah karena itu. Dia tetap jagoan. Juara kelas. Dan termasuk lulusan terbaik sekabupatennya. Berhasil masuk SMA-nya sekarang ini tanpa tes. Tapi dia gagal mendapatkan beasiswa—Pak Harlim mengernyitkan kening, beliau lari ke lemari arsip, mengambil map berisi data penerima beasiswa. Diperiksanya semua nama. Mereka semua kerabat guru atau pengurus sekolah, atau yayasan.
Tahun ke-satu SMA, Arul juara ke tiga di semester pertama—peringkat satu dua diduduki siswa yang masih keponakan dari wali kelas dan cucu dari pemilik yayasan. Pak Harlim tersenyum sinis. Beliau punya firasat tentang semua ini. Firasat yang sayangnya justru mustahil salah. Dan, semester berikutya, Arul menurun drastis, seperti penerjun payung yang jatuh tanpa membuka parasutnya. Peringkat ke-28 dari total 32 siswa.
“Jadi begitu yah. Bapak mengerti nak.”
*
“Jadi, di konter pulsa ini kau mencurahkan semua potensimu,” Pak Harlim memperbaiki tempat duduknya. Kursi plastik yang telah luntur warnanya itu berkeriut.
“Lebih baik dan lebih menjanjikan, Pak. Segalanya bisa direncanakan dan diprediksi hasilnya.” Arul menjawab penuh keyakinan. Pak Harlim hanya tersenyum.
“Arul, kau tahu, menjadi seorang matematikawan juga bisa menjadi profesi yang hebat. Kau bisa memenangkan Fields Medal, bahkan mungkin Nobel kalau kau juga belajar fisika atau kimia. Itu jutaan dolar Rul.”
“Fields Medal? Nobel?” Arul mengangkat alis. Pak Harlim mengernyitkan kening. Nada suara itu terdengar sangat pesimis dan tak percaya. “Nobel, wow, betapa jauhnya itu. Maaf, apa Bapak sudah lupa dengan persentase? Dari ratusan ribu, mungkin jutaan matematikawan yang ada di dunia, berapa yang mendapatkan Nobel, atau Fields Medal sekalipun? Dari beberapa puluh itu, berapa pula yang berasal dari Asia? Maaf, saya tidak pernah tahu sebelumnya. Dan lagi, dari semua penerima penghargaan itu, berapa orang yang berasal dari kalangan bawah seperti saya? Orang-orang yang tidak punya koneksi dengan panitia dan tidak punya mentor peraih Nobel. Bagaimana itu Pak?”
Pak Harlim menarik nafas, senyumnya berubah hambar kini.
“Yah, mungkin itu memang jauh. Tapi itu bukan mustahil, Nak. Dan Bapak sekedar menunjukkan cita-cita ideal seorang matematikawan.”
“He he he, yang matematikawan itu kan Bapak. Saya…saya penjual pulsa. Cuma itu.”
“Yah, kau benar. Ehm, dan menjadi matematikawan juga memiliki peluang yang banyak untuk meraih kesuksesan. Kau bisa jadi seorang akuntan, psikolog, dosen, direktur bank, apa saja! Kau bisa menjadi ilmuwan dan bekerja bersama para professor. Kau bisa mencukupi semua kebutuhanmu dan masih memiliki banyak kelebihan Nak.
Dan ingat, semua kekayaan yang Bapak katakan tadi, itu bukan seberapa dibanding dengan kehormatan yang kau dapat. Kekayaan itu hanyalah sampingan dari dedikasimu. Arul, kekayaan, harta, akan habis suatu saat nanti, tapi pengorbananmu dan perjuanganmu bagi ilmu pengetahuan akan selalu hidup bagi semua orang. Seterusnya. Arul, kau memiliki harapan yang cerah dan gemilang, yang perlu kau lakukan sangat sederhana, jadikan harapan itu sebagai cita-cita hidupmu.”
Pak Harlim menatap Arul lekat, tajam menghunjam ke intinya, seakan hendak mengelupas semua kesangsian yang tersembunyi di dalam situ. Membuang semua keraguan dan ketakperduliannya. Arul menyandarkan tubuhnya ke belakang. Raut mukanya berubah bimbang. Sesuatu berkelebat di benaknya.
“Dan, berapa banyak orang pintar di dunia ini yang sia-sia hidupnya? Setelah semua usahanya, bersusah payah mencapai presatsi terbaik di sekolah, di kuliah, meningkatkan kehebatan akademisnya, dan jadi apa mereka? Sekedar orang suruhan rendah? Ayolah Pak, akuilah, orang pintar yang menjadi pesuruh orang yang lebih bodoh dari mereka jumlahnya jauh lebih banyak dari pada sebaliknya. Mengapa? Pak, ini dunia yang menyebalkan, di mana hal-hal yang tidak semestinya terjadi justru menjadi kenyataan. Apakah Bapak ingin menjadikan saya salah satu dari mereka? Dan akhirnya menyesali semua pengorbanan yang berakhir sia-sia? Tidak. Saya berpikir, dari pada menghabiskan jutaan hanya untuk sekolah atau kuliah yang tidak berguna, lebih baik untuk modal bekerja.”
“Arul, berpikirlah yang lebih luas. Apa kau lupa mendiang ayahmu? (Arul mengernyitkan kening, dari mana Pak Harlim tahu?) Beliau orang yang berdedikasi tinggi pada ilmu pengetahuan. Karena beliau orang yang berilmu beliau menjadi calon kepala sekolah.”
“Beliau tidak menjadi kepala sekolah, Pak.” Suara Arul terdengar menggeram. “Dan tahukah Bapak siapa yang justru menempati posisi itu?”
“Arul, dengarkan Bapak…”
“Tidak Pak.” Arul langsung memotong pembicaraan Pak Harlim. “Saya tahu terlalu banyak tentang apa yang sebenarnya terjadi, Bukan orang pintar yang mengatur dunia, uanglah yang berbicara Pak!”
Pak Harlim memalingkan wajahnya. Entahlah, beliau tak kuasa menyaksikan bagaimana sebuah keajaiban telah dihancurkan oleh pemiliknya sendiri. Pak Harlim seakan melihat impiannya ambruk sejengkal demi sejengkal. Beliau menarik nafas panjang dan berat. Pembicaraan ini tidak bisa dilanjutkan.
“Oya, sebentar lagi ada olimpiade matematika di sekolah, sudah tahukan? Ikutlah, biar Bapak yang mengurusi pendaftarannya. Kau cukup mengisi formulir keikutsertaan. Kalau kau menang, ada hadiah besar buatmu. Bapak ingin…Bapak ingin kau ikut Rul.”
Arul tidak menyahut. Tatapannya jauh menerawang jalanan di depannya. Lidahnya membasahi bibirnya yang kering. Pak Harlim menghela nafas dalam. Semoga kau berubah, Nak.
“Baiklah, Bapak tak pulang dulu. Semoga bisnismu lancar dan banyak pembeli hari ini.”
“Dan seterusnya,” Arul menambahi.
*
Awalnya, tidak pernah ada rencana dari sekolah untuk mengadakan olimpiade matematika—apalagi ini hanya untuk siswa dari sekolah itu sendiri. Tapi atas desakan Pak Harlim, juga beberapa guru ilmu pasti lainnya, akhirnya Pak kepala sekolah menyetujuinya. Ini untuk menyaring siswa terbaik dari sekolah kita Pak, dan pemenangnya nanti akan kita bina untuk berpartisipasi dalam olimpiade tingkat nasional. Kita belum pernah ikut kan Pak? Begitu kata para guru hebat tersebut. Maka disusunlah kepanitiaan—sebuah susunan panitia paling sederhana yang pernah ada di sekolah tersebut. Hari dan tempat pelaksanaan olimpiade sudah ditentukan, pengumuman sudah disebar ke semua kelas, dan semua guru matematika sedang menyelesaikan soal-soal yang akan diujikan.
Mengetahui jika Arul belum juga mendaftar padahal sudah satu minggu masa pendaftaran berlalu, Pak Harlim pun mendatanginya, memintanya untuk segera mendaftar. Jadi, itulah tujuan sebenarnya dari pertemuannya dengan Arul di konter. Karena jika dipaksa jujur, alasan sebenarnya dari olimpiade ini ada dalam benak Pak Harlim: beliau ingin menegaskan siapa Arul sebenarnya. Beliau ingin semua orang tahu dan bersama-sama membawanya menuju puncak. Pak Harlim ingin namanya dikenang jika bukan sebagai matematikawan peraih Fields Medal, maka setidaknya sebagai seorang yang menemukan ilmuwan matematika peraih medali tersebut dari negerinya.
“Arul, jangan kecewakan seluruh umat manusia.” Pak Harlim bergumam sembari mengendarai sepeda motornya. Melaju di antara keributan kendaraan di jalan.
*
Pak Harlim melemparkan daftar peserta olimpiade begitu saja ke meja di ruang kerja panitia olimpiade. Dan segera berbalik meninggalkan ruangan.
“Pak, Pak, Pak Harlim. Mau kemana Pak? Ada beberapa hal yang harus kita bahas Pak! Bapak ketua panitia…” Bu Titin berteriak memanggil Pak Harlim. Tapi Pak Harlim tidak perduli. Beliau berteriak menyahut.
“Minta Pak Hary memimpin rapat siang ini Bu. Saya ada urusan mendesak.”
Pak Harlim ngebut. Sepeda motornya melaju ke selatan, menuju tempat di mana alasan semua ini berada. Waktu pendaftaran sudah tutup, dan olimpiade akan dilaksanakan dua hari lagi, tapi dari lima puluh dua peserta olimpiade—hampir semua siswa kelas 3 C berpartisipasi—tidak ada tercantum nama Arul di situ. Pak Harlim tidak ingin ini berakhir sia-sia, beliau tidak ingin cita-citanya yang telah membuatnya menjadi guru petualang kandas justru tepat saat tinggal menapakkan kaki di tanah pencarian. Arul, kau…kau benar-benar keterlaluan!
Konter Arul sepi, tak ada seorangpun di sana membeli pulsa. Pak Harlim mematikan mesin sepeda dan langsung berlari ke hadapan Arul. Tatapan matanya nyalang.
“Katakan, katakan, nak, apakah ini yang kau harapkan? Apakah ini yang kau anggap masa depan yang pasti itu? Lihat! Lihat sekelilingmu Rul! Konter ini tidak lebih ramai dari sebuah warung kecil di pinggir jalan sempit!”
Arul yang tadinya sedang membersihkan debu dari etalase berhenti seketika. Tapi dia tenang saja, sepertinya dia memang sudah menduga hal ini. Arul menarik nafas dalam. Menghembuskannya pelan-pelan. Dia mulai bicara.
“Kenapa Bapak begitu repot dengan keputusan hidupku? Apa sebenarnya masalah Bapak? Apa? Kalau saya memutuskan untuk tidak ikut olimpiade, apakah itu merugikan bagi Bapak? Jawab saya Pak!”
“Arul, kau benar-benar tidak tahu!” Pak Harlim menggeram. “Soal sayembara matematika yang kau kerjakan kemarin itu sungguh bukan soal yang remeh. Soal itu bisa menentukan siapa jenius siapa tidak. Dan kau mengerjakannya semudah kau membalikkan tangan! Kau jenius! Kau jenius Arul! Dan Bapak bertanggung jawab untuk menunjukkan jalan yang benar kepadamu!”
“Heh, benarkah? Begitukah? Jalan yang tak pasti dan penuh resiko dan kekecewaan itu? Tidak Pak! Saya tidak bisa mengikuti cara hidup Bapak.”
“Nak, pikirkanlah, kau tidak harus menjadi penjaga konter dengan kecerdasan yang kau miliki. Kau bisa menjadi seorang ilmuwan! Bahkan kau bisa mengubah dunia. Kau akan menjadi rujukan begitu banyak orang dari berbagai negara. Dan materi, kekayaan, uang, semua akan datang begitu saja mencarimu. Pikirkan itu Arul. Pikirkan. Sadarlah, uang bukanlah segalanya yang bisa mengendalikan dunia kita ini.”
“Untuk apa? Untuk apa bersusah payah melakukan itu? Untuk apa? Lihat, lihatlah di sekitar Bapak, dunia tidak pernah berbuat adil! Bapak sangat membanggakan orang-orang yang pintar dan berilmu tinggi, tapi apakah mereka mendapatkan yang layak untuk mereka miliki? Apakah dengan itu hidupnya menjadi lebih baik? Apakah karena prestasi akademisnya itu dia mendapatkan kedudukan yang tinggi? Maaf, Bapak pasti tahu, hidup ini tentang penyuapan dan lobi! Silahkan anda menjadi bodoh, asal anda memiliki uang, anda bisa membalikkan keadaan apapun bentuknya!” Arul balik memberondong Pak Harlim dengan kata-katanya.
Pak Harlim diam. Kepalanya tertunduk. Nafasnya berat. Pundaknya terkulai di atas tubuhnya yang tak seberapa berisi itu. Beliau merasa ada beban yang sangat besar mengeram di atas pundaknya kini.
“Baiklah, baiklah, Bapak memang tidak bisa merubah apa-apa yang telah kau putuskan untuk kau jalani. Boleh Bapak duduk?”
Arul mempersilahkan Pak Harlim dengan tangannya. Pak Harlim duduk. Tangannya mengambil handphone-nya. Menelepon seseorang tapi ternyata pulsanya habis.
“Hey, rizkimu datang. Pulsa Bapak habis. Bapak beli Rul. Hehehe,” terdengar pahit sekali tawa Pak Harlim itu. Arul tersenyum tak perduli. Dia mengambil buku catatannya. Di dalamnya ada begitu banyak nomor-nomor ponsel para pembeli. Angka-angka yang bertaburan. Mungkin sudah ratusan nomor. Pak Harlim menatap buku besar yang terbuka lebar itu.
“Berapa nomor Bapak?” Tanya Arul. Tapi bukannya menjawab, Pak Harlim malah lari ke sepeda motornya. Membuka jok, mengambil beberapa lembar kertas.
“Arul, Bapak akan membeli pulsamu, dan menjadi langgananmu, tapi ada syaratnya.”
“Ng…” Arul menggumam. Menatap Pak Harlim penuh selidik. “katakan.”
“Ayo berlomba dengan Bapak. Di tangan Bapak ini lima soal olimpiade yang tidak lolos seleksi. Terlalu sulit katanya. Kita kerjakan lima soal ini bersama-sama. Kalau kau bisa mengalahkanku, kau dapatkan janjiku.”
*
“Soal pertama selesai. Soal kedua sekarang.” Arul meletakkan jawaban soalnya. Diambilnya soal ke dua. Diketahui adalah bilangan tiga angka. Jika , maka Pak Harlim mendongak sekilas. Dua menit tiga puluh enam detik. Dia telah menyelesaikan soal pertamanya tidak sampai tiga menit. Hanya selisih lima belas detik dari pengerjaannya.
Kedua orang itu diam, larut dalam kertas masing-masing, soal-soal matematika telah menyerap mereka. Memutus panca indra dari alam luar. Arul berubah air mukanya. Sangat serius dan bersungguh-sungguh. Perlahan, semua pemikiran tentang uang, pencapaian materi, kekayaan, menguap dari benaknya, berganti dengan angka-angka yang bertaburan, berkemilau, berloncatan di antara jutaan sel syarafnya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arul merasakan ketegangan yang berbeda, bukan ketegangan menekan dalam persaingan meraup keuntungan bisnis, tapi ketegangan yang muncul dari pengerahan segala potensi dan kemampuan diri. Ketegangan yang justru semakin membuat dia nyaman dan merasa lebih kuat.
“Soal ke tiga,” Pak Harlim bicara. Dan, kalimat pendek itu seperti ekor api seekor naga di telinganya. Otaknya berpendar, bekerja lebih keras. Menemukan angka-angka jawaban, bergerak lebih cepat mencari jalan keluar dari soal yang sedang dihadapinya.
Soal ke dua selesai, berganti ke soal ke tiga. Empat menit kemudian, soal ke empat. Sekarang mereka sedang mengerjakan soal ke lima!
Diketahui segitiga ABC dengan A , B , dan C . Buktikan bahwa :
luas ABC =
“Selesai!” ke duanya berseru bersamaan. Pak Harlim mengangkat wajah. Menatap Arul yang keningnya basah oleh keringat. Beliau juga berkeringat. Tapi Pak Harlim tersenyum, untuk pertama kalinya beliau temukan seseorang yang bisa menyamainya dalam kecepatan mengerjakan soal-soal matematika. Sungguh ini kebahagiaan yang membuncah. Seakan seorang pembalap yang menemukan lawan sepadannya.
“Luar biasa, tidak pernah Bapak seterburu-buru ini mengerjakan soal-soal matematika. Kau hebat Rul.”
Arul tersenyum. Dia sodorkan hasil pekerjaannya, Pak Harlim memeriksanya dengan seksama satu persatu.
“Kau tahu Rul, sungguh berlomba dalam ilmu pengetahuan adalah petualangan yang menantang dan tak semua orang bisa merasakan ketegangannya. Hanya mereka yang mendapatkan anugerah yang bisa merasakannya. Bapak selalu percaya ilmu pengetahuan bisa memperbaiki kehidupan kita, serendah apapun jabatan sosial atau pangkat yang kita duduki.” Arul diam menyimak. Wajahnya agak memerah. Matanya berkilat.
“Walaupun kita selesainya bersamaan, tapi semua jawabanmu benar. Hehehe, kau berhasil punya pelanggan baru. Ayoh, isikan pulsa Bapak sekarang.”
*
Meski menyisakan kecewa, tapi Pak Harlim puas dengan perlombaan singkatnya dengan Arul barusan. Segera beliau naik ke atas motor, masih ada waktu untuk kembali ke sekolah, pasti rapat belum selesai. Suara mesin terdengar lembut begitu kontak diputar.
“Pak Harlim, tunggu.” Pak Harlim menoleh, ternyata Arul yang memanggilnya, anak itu berdiri di teras konternya. Menatapnya lekat-lekat. Dan, dari kilat sorot mata itu, Pak Harlim tahu apa yang telah terjadi di sana. Pak Harlim berhak tersenyum untuk itu.
“Pak, tolong daftarkan saya. Saya ikut olimpiade.”

TAMAT

    Mengenang sahabatku Ahmad, si jenius yang penuh mitos dalam
    kehebatannya itu—ada yang bilang dia pernah meminum air kelapa
    berwarna merah sebelum menjadi jenius—dan yang selalu membuatku kagum.
    Ini semua tentang tekad dan kesempatan sobat. Aku benci mengapa kedua hal
    itu tidak kau miliki. Atau, aku khawatir, jangan-jangan kau sendiri
    yang membuangnya? Kau jenius yang menjengkelkan kalau demikian!
Advertisements

2 Responses

  1. alangakah bagusnya kalo soalnya juga dipostingkan…. (“,)v

  2. yup, emang mau dpasang jg soalnya, tp gak bsa. gk muncul. hoaaaaaah. krg profsionl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: