• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

MENJELAJAH DUNIA LABA-LABA

HARUN YAHYA

PENDAHULUAN

Ada beratus-ratus spesies laba-laba di dunia. Hewan-hewan kecil ini terkadang nampak sebagai ahli konstruksi yang mampu melakukan perhitungan untuk membangun sarangnya, terkadang sebagai desainer interior yang sedang membuat rencana-rencana rumit, dan di waktu yang lain sebagai ahli kimia yang sedang membuat benang yang sangat kuat dan fleksibel, racun yang mematikan, serta asam-asam pelarut, dan kadang sebagai pemburu yang menggunakan taktik-taktik yang sangat cerdik.
Meski begitu banyak karakteristik unggul yang dimilikinya, tak seorang pun dalam kesehariannya pernah memikirkan betapa khas-nya mahluk yang dinamai laba-laba ini. Karena anggapan sepele inilah tidak ada perasaan takjub terhadap keberadaan laba-laba, atau pun terhadap keberadaan mahluk kecil lainnya. Ini merupakan cara berpikir yang sungguh keliru. Karena jika kita mulai mempelajari perihal laba-laba, juga mengenai perilaku mahluk lainnya, misalnya dengan memperhatikan cara mereka berburu, berkembang-biak, dan mempertahankan diri, kita akan menjumpai karakteristik-karakteristik yang akan membuat kita terkagum-kagum.
Di alam ini, semua mahluk hidup mengambil pola-pola perilaku yang membutuhkan kecerdasan agar bisa bertahan hidup. Pola-pola perilaku ini, yang mendasari kecakapan, kepiawaian dan kemampuan-kemampuan perencanaan unggul memiliki satu kesamaan. Masing-masing perilaku ini mensyaratkan adanya kemampuan. Kecakapan yang hanya dapat dikuasai manusia dengan cara belajar, latihan ulang dan pengalaman ini, telah ada pada mahluk-mahluk hidup ini sejak pertama kali mereka lahir.
Bagian selanjutnya dari buku ini terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab, yakni: bagaimana kemampuan-kemampuan tersebut timbul, dan bagaimana mahluk-mahluk hidup ini belajar. Mahluk yang beraksi dengan kecerdasan tinggi ini mampu berburu dengan perhitungan yang cermat, dan jika perlu dapat bertindak sebagai insinyur-insinyur kimia yang mengetahui material apa yang harus dihasilkan pada situasi tertentu. Dan ini sungguh telah membuat ilmuwan yang mempelajarinya terkagum-kagum. Hal demikian ini bahkan membuat para ilmuwan evolusionis mengakui bahwa mahluk-mahluk hidup terpandai memiliki karakteristik-karakteristik yang membutuhkan kecerdasan. Meskipun sebagai seorang evolusionis, ilmuwan Richard Dawkins dalam bukunya Climbing Mount Improbable menguraikan perilaku laba-laba dengan ungkapan sebagai berikut:
Dalam perjalanan, kami kadang sempat memandangi jaring laba-laba – hasil karya berdaya guna yang dibuat dengan kecerdasan tanpa sadar yang mengagumkan.1
Dengan berkata demikian, sebenarnya Dawkins dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan “bagaimana perilaku cerdas tanpa sadar dari hewan ini timbul, dan apa sumbernya?”; pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijelaskan oleh teori evolusi dengan cara apapun. Sungguh, pertanyaan seperti “Bagaimana mahluk-mahluk hidup bisa memiliki kecerdasan ini, dan bagaimana mereka belajar menerapkannya?”, merupakan pertanyaan-pertanyaan yang tak dapat dijawab oleh para pembela teori evolusi secara terbuka dan pasti.
Sampai di sini, argumen yang digunakan kaum evolusionis dalam menjawab pertanyaan tentang perilaku cerdas (sadar) dari hewan-hewan sudah waktunya untuk diuji. Mari kita lakukan dengan menjelaskan arti dari istilah yang digunakan kaum evolusionis dalam pernyataan mereka.
Dalam usaha mencari jawaban terhadap pertanyaan “bagaimana mahluk-mahluk hidup bisa memiliki perilaku bertujuan”, kaum evolusionis menggunakan istilah “insting”. Namun sama sekali tidak berhasil. Hal ini bisa dilihat dengan jelas melalui pemahaman yang lebih dalam terhadap konsep “insting”. Kaum evolusionis mengatakan bahwa hewan-hewan terikat dengan hal-hal seperti pembaktian, perencanaan, taktik-taktik atau perilaku yang membutuhkan kemampuan-kemampuan khusus, yang memerlukan kesadaran dan kecerdasan berkat adanya “insting”. Namun tentu saja pernyataan demikian saja tidaklah cukup. Selain membuat pernyataaan tersebut, mereka juga harus memberikan jawaban terhadap pertanyaan seperti bagaimana perilaku ini pertama kali muncul, bagaimana hal ini diturunkan dari generasi ke generasi, dan bagaimana konsep “insting” mampu memberikan kesadaran dan kecerdasan kepada mahluk-mahluk hidup. Kaum evolusionis sama sekali tidak memiliki jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini. Seorang pakar ilmu genetika evolusionis, Rattray Taylor, mengatakan hal berikut ini tentang insting:
Saat kami bertanya kepada diri sendiri bagaimana pola perilaku instingtif muncul pertama kali dan kemudian diwariskan secara tetap, kami tidak mendapatkan jawabannya.2
Evolusionis lain mengatakan bahwa perilaku mahluk-mahluk hidup tidak lah berlandaskan pada insting melainkan pada pemrograman genetika. Namun, dalam hal ini mereka harus menjelaskan siapa yang menuliskan program tersebut serta memasangkannya pada mahluk-mahluk hidup. Kaum evolusionis tidak mampu menjelaskannya. Sebagai sumber penggagas teori evolusi, Charles Darwin sendiri mengakui dilema mereka dengan kata-kata berikut ini:
Kekaguman terhadap insting lebah yang mampu membuat sel-sel sarangnya mungkin dialami juga oleh para pembaca, sebagai hal pelik yang memadai untuk meruntuhkan teori saya secara keseluruhan.3
Jelaslah bahwa konsep semacam “insting” sama sekali tidak memadai untuk menerangkan perilaku sadar dari mahluk-mahluk hidup. Tentu saja ada sebuah kekuatan yang memrogram mahluk-mahluk hidup, dan mengajari mereka harus berbuat apa. Namun ini bukan berasal dari “Induk Alam” seperti yang mereka sebut, atau dari mahluk hidup itu sendiri, yang membela masa mudanya dengan seluruh hidupnya sendiri, atau yang datang kembali untuk mengelabui musuh dengan berbagai taktik untuk menyelamatkan kehidupan anggota grupnya sendiri.
Kekuatan yang memberi mereka semua karakteristik ini, yang menciptakan perilaku cerdas mereka dan yang menciptakan gerakan-gerakan bertujuan ini adalah kekuatan Tuhan. Tuhan adalah satu-satunya penguasa kecerdasan, yang dapat kita saksikan dalam berbagai mahluk hidup di alam dalam jumlah yang tidak terhitung. Tuhan lah yang mengilhami mahluk-mahluk hidup untuk melakukan apa yang mereka perbuat.
Mustahil sekali untuk menjelaskan perilaku mahluk hidup manapun dengan menggunakan asas kebetulan, atau dengan mekanisme lain atau dengan konsep lain yang menarik. Pernyataan-pernyataan semacam ini tidak lebih dari sebuah penipuan. Semua ini dinyatakan dalam salah satu ayat-ayatNya:

Katakanlah: ‘Pernahkah engkau melihat sekutu-sekutumu yang kamu seru selain Allah? Tunjukkanlah kepadaku bagian dari bumi yang telah diciptakannya; ataukah mereka memiliki andil dalam penciptaan langit?’ Adakah Kami memberi kepada mereka sebuah kitab sehingga mereka mendapat tanda-tanda yang jelas yang dapat diikutinya? Sama sekali tidak! Sungguh orang-orang yang zalim itu sebahagian dari mereka tidak menjanjikan kepada sebahagian lainnya selain tipuan belaka. (Surah Fatir: 40)

Mahluk hidup yang menjadi pokok bahasan buku ini, yakni laba-laba, pola-pola perilakunya dan mekanisme tanpa cacat yang dimilikinya, merupakan salah satu yang menyingkapkan kebohongan teori evolusi, atau lebih tegasnya “meruntuhkan teori evolusi”. Halaman-halaman berikut akan menunjukkan salah satu dari keajaiban ciptaan Tuhan yang tak terhitung banyaknya, yakni keajaiban laba-laba. Bersamaan dengan itu, uraian di dalamnya lagi-lagi akan menunjukkan bahwa teori evolusi yang berlandaskan konsep kebetulan sangat tidak berdaya dan menggelikan.

CARA LABA-LABA BERBURU

Kebanyakan orang mengira bahwa laba-laba adalah hewan yang menggunakan jaring untuk menangkap mangsanya. Namun perkiraan ini sama sekali tidak menceriterakan kisah laba-laba secara keseluruhan, karena jaring-jaring yang ajaib dari segi arsitektur maupun dari segi rekayasanya bukan lah satu-satunya cara laba-laba untuk menangkap mangsanya. Disamping membuat jaring, laba-laba menggunakan taktik-taktik lain yang menakjubkan saat berburu.

Laba-laba Pelempar Lasso

Dari sekian banyak spesies laba-laba, salah satu yang paling menarik karena teknik-teknik berburunya adalah laba-laba “Bolas”. Berdasarkan hasil riset rinci terhadap mahluk ini, seorang pakar laba-laba, Dr. Gertsch, menemukan bahwa laba-laba ini menggunakan hidungnya untuk menangkap mangsanya.
Laba-laba Bolas memburu mangsanya dalam dua tahap. Pada tahap pertama, laba-laba ini membuat benang berujung lengket dan bersiap-siap untuk menyergap. Selanjutnya, ia akan menggunakan benang lengket ini sebagai sebuah lasso. Kemudian, untuk mengundang mangsanya, laba-laba ini menaruh suatu zat kimia khusus. Zat kimia ini adalah “pheromone”, yang biasa digunakan ngengat betina untuk memikat pasangannya. (Ngengat jantan yang tertipu dengan panggilan palsu ini, datang mendekati sumber bau.) Laba-laba yang penglihatannya sangat buruk dapat merasakan getaran yang ditimbulkan saat ngengat terbang. Dengan cara ini, laba-laba dapat merasakan kedatangan mangsanya. Yang menarik, meskipun nyaris buta, laba-laba Bolas ini dapat menangkap mahluk yang sedang terbang dengan seutas benang yang dibuatnya sendiri sambil bergelantungan di udara.
Buku Strange Things Animals Do mengibaratkan teknik berburu laba-laba ini dengan seorang koboi yang sedang melemparkan lasso:
Laba-laba ini membuat seutas tali sutera, kemudian menaruh bandul cairan lengket di satu ujungnya. Dengan cara ini, senjata ini mengingatkan seseorang akan sebuah lasso koboi. Kemudian ia mengangkat benang ini dengan kedua kaki depannya, yang kini bertindak sebagai tangan. Ketika seekor ngengat terbang mendekat, ia melempar lassonya. Bandul lengketnya mengenai tubuh serangga yang terbang dan menempel kuat padanya. Ngengat korban selanjutnya ditarik oleh laba-laba Bolas dan dibungkusnya.4
Tahap kedua dimulai ketika korban yang tertipu bau-bauan mendekat. Dengan menarik kaki-kakinya ke belakang, laba-laba mengambil posisi menyerang dan melempar lassonya lebih cepat dari pandangan mata manusia. Ngengat tertangkap oleh bandul lengket di ujung benang. Laba-laba kemudian menarik-gulung mangsanya dan menggigitnya untuk melumpuhkannya. Selanjutnya ngengat dibungkus dengan benang khusus, yang dapat menjaga kesegaran makanan dalam waktu lama. Dengan cara ini, laba-laba mengawetkan makanannya untuk konsumsi masa datang.
Dalam buku yang sama, penulisnya mengevaluasi pergerakan laba-laba yang terencana ini dengan istilah-istilah berikut:
Para ilmuwan menyebut Bolas sebagai mahluk tingkat rendah. Dr. Gertsch tidak yakin bahwa istilah ini tepat untuk laba-laba. Karena apa yang mampu dilakukan mahluk rendah ini tidak dapat dilakukan oleh singa laut, anjing, atau singa terlatih sekalipun, bahkan seorang koboi pun mengalami kesukaran untuk melakukannya.5
Karenanya jelas bahwa teknik berburu dari laba-laba Bolas membutuhkan kecakapan khusus, bahkan semestinya berdasarkan pengalaman praktek. Jika kita lihat prosesnya tahap demi tahap, tingkat kesulitan yang dilakukan laba-laba menjadi semakin jelas. Mari kita lihat jawaban terhadap pertanyaan berikut, “Apa yang mesti dilakukan laba-laba Bolas ketika berburu?”
Menyiapkan bandul lengket di ujung benang.
Membuat dan melepaskan dari tubuhnya zat bau yang dibuat ngengat betina untuk memikat pasangan jantannya.
Melemparkan lasso pada mangsanya lebih cepat dari pandangan manusia.
Membidikkan lasso tepat mengenai mangsanya.
Akhirnya, membuat benang khusus yang dapat menjaga kesegaran mangsa, serta membungkusnya.
Maka, bagaimana laba-laba Bolas mampu bekerja dalam kerangka kerja yang terencana demikian baiknya? Membuat rencana merupakan ciri mahluk-mahluk yang memiliki daya pikir, yakni manusia. Lebih jauh lagi, otak laba-laba tidak memiliki kapasitas untuk menyusun dan melakukan semua itu. Dalam hal ini, bagaimana laba-laba dapat memiliki teknik berburu dengan karakteristik yang begitu menakjubkan? Inilah pertanyaan yang jawabannya masih dicari para ilmuwan.
Menurut kaum evolusionis, semua karakteristik yang dimiliki laba-laba diperolehnya secara kebetulan. Laba-laba membuat keputusan untuk membuat lasso, membuat zat kimia, mengetahui bahwa ia harus mengundang ngengat ke arahnya, serta mendapat kecakapan menembak dengan lasso, semuanya secara kebetulan. Semua kemampuan yang diperlukan untuk berburu dengan menggunakan lasso terjadi secara kebetulan sama sekali. Jelas bahwa pernyataan seperti itu hanyalah sebuah fantasi, tanpa landasan ilmiah ataupun logika. Untuk melihat lebih jelas seberapa jauh fantasi kaum evolusionis ini dari fakta-fakta ilmiah, mari kita bayangkan sebuah skenario kecil; meskipun hal ini sangat mustahil.
Skenario: Jaman dahulu kala, seekor laba-laba menyadari bahwa ia tidak dapat membangun jaring seperti laba-laba lainnya. Karenanya, ia mulai mencari-cari di sekitarnya. Pada suatu hari, ia melihat bahwa ngengat betina menggunakan zat kimia untuk memikat ngengat jantan. Ia berpikir bahwa untuk menangkap ngengat, ia harus membuat zat kimia serupa dengan membangun pabrik kimia tersebut di dalam tubuhnya. Namun masalahnya belum selesai. Karena tanpa kemampuan untuk menangkapnya, tidak ada artinya mengundang kedatangan ngengat-ngengat tersebut. Sampai di sini ia mempunyai ide lainnya untuk membuat senjata berbentuk antara lasso dan tongkat-kebesaran dari benang yang dihasilkannya.
Namun, membuat senjata saja belumlah cukup. Saat pertama kali berburu, jika tembakan senjatanya tidak mengenai sasaran, segala usaha sebelumnya menjadi sia-sia. Bahkan lebih buruk dari itu, ia bisa mati kelaparan. Ternyata tidak demikian. Ia mampu menangkap mangsanya, bahkan kemudia “berhasil” mengembangkan teknik berburu yang sempurna. Setelah itu, ia berpikir untuk mengajarkan teknik berburunya secara rinci kepada laba-laba lain dan kemudian menemukan cara untuk mengalihkan pengetahuannya ini ke generasi berikutnya.
Ini baru sebagian dari skenario. Namun skenario ini tidak cukup hanya dalam bentuk tulisan saja, melainkan harus diwujudkan kedalam kenyataan. Sampai di sini, mari kita pikirkan beberapa alternatif imajiner dalam lingkup skenario imajiner di atas.
Alternatif imajiner ke-1: Terdiri dari istilah yang kaum evolusionis menyebutnya sebagai “Induk Alam”, yakni pepohonan, bunga-bunga, langit, air, hujan, matahari, dll. Kemudian semua kekuatan-kekuatan alam bekerja dengan harmonis membentuk sebuah sistem yang berfungsi dengan sempurna. Dalam proses ini, laba-laba tidak dilupakan, tentu saja dengan teknik berburunya yang cakap.
Alternatif imajiner ke-2: Peristiwa kebetulan murni. Kaum evolusionis lagi-lagi menjelaskannya sebagai sebuah kekuatan aktif yang membantu laba-laba Bolas, juga pemburu-pemburu lainnya, sehingga dapat memiliki kecakapan memangsa.
Tentu saja ini hanyalah sebuah fantasi, sebuah produk imajinasi aktif. Pemilik imajinasi ini adalah para ilmuwan evolusioner. Sebelum beralih ke jawaban nyata, mari kita lihat betapa tidak logis, tidak sahih, serta tidak berdasarnya skenario-skenario ini.
Pada kenyataannya, laba-laba Bolas bukanlah seorang insinyur kimia! Mustahil mahluk ini dapat mempelajari zat kimia yang dikeluarkan ngengat lalu menganalisisnya, dan kemudian segera tahu cara membuatnya di dalam tubuhnya. Hal seperti ini sama sekali bertentangan dengan pikiran, logika, dan sains.
Selain untuk berburu, laba-laba tidak menggunakan zat kimia tadi untuk hal lainnya. Meskipun dapat membuatnya secara kebetulan, ia harus memahami kesamaan antara bau yang dikeluarkan ngengat dengan bau yang dibuatkannya. Untuk itu membutuhkan kecerdasan agar bisa menggunakannya sesuai dengan keinginan.
Bahkan jika kita terima bahwa laba-laba telah “belajar” dari alam mengenai bau zat kimia yang dikeluarkan ngengat ini, serta “cukup pandai” untuk menggunakannya, maka ia harus mampu melakukan perubahan fisik yang diperlukan untuk menghasilkan zat kimia tersebut. Mustahil bagi mahluk hidup manapun, atas kehendaknya sendiri, menambah organ tambahan atau sistem produksi kimia kepada tubuhnya sendiri. Berpikiran bahwa seekor laba-laba mampu melakukannya, apalagi menyatakannya sebagai fakta, sama saja dengan meninggalkan jauh-jauh batas-batas logika.
Betapapun mustahilnya, mari kita anggap bahwa laba-laba mendapatkan semua karakteristik ini secara kebetulan. Kemudian laba-laba tersebut harus memiliki “pemikiran” tentang cara menggunakan lasso untuk menangkap ngengat, dan setelah “merancangnya” kemudian mampu menciptakannya atas kehendaknya sendiri.
Dari sini jelas bahwa dengan mempelajari karakteristik-karakteristik laba-laba Bolas secara saksama, orang akan memahami betapa menggelikannya teori evolusi itu. Teori yang melulu berlandaskan kepada konsep kebetulan. Jelas bahwa suatu peristiwa kebetulan tak akan bisa membuat laba-laba memiliki keistimewaan-keistimewaan di atas, yakni kecerdasan, perencanaan dan taktik-taktik berburu. Lebih jauh lagi, sampai kapan pun laba-laba tidak akan mampu menciptakan sendiri keistimewaannya itu. Tidak perlu pemikiran yang panjang dan keras ataupun riset untuk memahami hal ini. Dengan sedikit akal sehat sudah cukup untuk melihat kebenaran yang jelas-jelas nampak ini.
Maka jelas sekali bahwa skenario kaum evolusi sungguh teramat keliru. Yang tersisa hanyalah kebenaran: Bahwa situasi yang kita bahas memerlukan adanya aksi penciptaan yang sangat khusus. Tuhan lah yang menciptakan semua mahluk hidup, tetumbuhan, binatang, dan serangga, Tuhan memiliki kekuatan, pengetahuan, kecerdasan, dan kebijakan tanpa batas.
‘Tuhan langit dan bumi dan segala sesuatu di antaranya, Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun’ (Surat Shad: 66)

Pintu-perangkap Untuk Hidup Di Gurun

Bagi kebanyakan mahluk hidup, panasnya iklim gurun bisa mematikan. Namun, beberapa mahluk memiliki kecakapan untuk dapat bertahan terhadap panasnya gurun. Baik teknik-teknik berburu, susunan tubuh, ataupun cara perilaku mereka membuatnya hidup nyaman di lingkungan gurun. Salah satu pesies yang menjadi pokok bahasan buku ini, yakni laba-laba, memiliki karakteristik-karakteristik yang diperlukan untuk dapat hidup di gurun. Mahluk yang dikenal sebagai “laba-laba pintuperangkap” ini menggunakan rumah berpenyekat di dasar gurun sebagai pelindung dari panas dan sebagai perangkap untuk menangkap mangsanya.
Mula-mula laba-laba ini menggali liang di dalam tanah. Kemudian memelester bagian dalam terowongan dengan campuran tanah dan cairan yang dihasilkan tubuhnya. Proses ini memperkuat dinding terhadap bahaya keruntuhan. Selanjutnya ia menutupi dinding-dinding ini dengan benang buatannya. Teknik pelesteran ini serupa dengan teknik isolasi termal yang kita gunakan dewasa ini. Dengan cara ini, bagian dalam sarang menjadi tahan terhadap temperatur luar yang tinggi.
Telah kami sebutkan pula bahwa sarang ini digunakan pula sebagai perangkap. Laba-laba ini membuat tutup sarang dari sutera buatan sendiri. Salah satu sisinya dilekatkan ke sarang dengan engsel benang yang kokoh, layaknya sebuah pintu rumah. Pintu ini juga menjadi tempat persembunyian laba-laba dari mangsanya, yang disamarkannya dengan serpihan daun, semak-semak dan tanah. Kemudian membuat tegang benang-benang yang ada di bawah daun, dari arah luar menuju ke bagian dalam sarang. Ketika segalanya telah siap, laba-laba masuk ke sarang dan menunggu mangsanya datang. Ketika serangga mendekati sarang dan menginjak daun atau tanah di atasnya, benang-benang di bawah tanah akan bergetar. Berkat getaran inilah, laba-laba mengetahui bahwa mangsanya telah dekat.
Laba-laba pintu-perangkap dapat hidup selama 10 tahun di dalam sarangnya. Ia menjalani seluruh hidupnya di dalam terowongan gelap dan hampir tak pernah keluar. Bahkan saat membuka daun penutup untuk mengejar mangsanya, kaki belakangnya tidak pernah meninggalkan sarang. Jika pintu ini terbuka oleh ranting, laba-laba akan berusaha keras untuk menutupinya kembali. Laba-laba betina tidak pernah meninggalkan sarang, sedangkan yang jantan hanya keluar untuk mencari pasangan. Saat tiba waktu untuk berkembang biak, laba-laba betina menutup pintu rapat-rapat dengan benang buatannya. Telah diamati bahwa induk laba-laba dapat tinggal selama setahun di dalam sarang tanpa meninggalkannya.
Laba-laba pintu-perangkap berburu pada malam hari dan menutup rapat pintu sarangnya pada siang hari. Ketika malam mulai tiba, laba-laba membuka sebagian tutup sarang untuk memastikan bahwa hari telah benar-benar gelap. Jika telah gelap, tutup sarang dibuka sebagian dan melonjorkan kaki depannya keluar. Posisi ini bisa bertahan hingga berjam-jam. Jika ada semut mendekat, laba-laba segera menerkam secepat kilat dan menariknya kedalam liang. Tutup sarang akan otomatis menutup karena beratnya sendiri.
Tidak diragukan bahwa untuk belajar hidup dengan cara di atas dibutuhkan kemampuan yang menuntut kecerdasan, misalnya kemampuan membangun. Mustahil bahwa kemampuan untuk melindungi diri dari hawa panas atau untuk menyamarkan diri ini diperoleh secara kebetulan, atau dengan cara coba-coba. Bahkan sebelum membangun terowongan, ia “tahu” akan menggunakan suteranya untuk melindungi diri dari teriknya panas, akan menggunakan benang yang sama untuk membuat penutup sarang, akan menggunakan sarangnya untuk bersembunyi dari musuh-musuh dan sekaligus sebagai perangkap, dan akan melahirkan keturunannya dengan aman di dalam sarang yang berselimutkan sutera ini. Jika tidak demikian, laba-laba yang pertama kali muncul akan mati karena panas atau kelaparan di tengah-tengah gurun. Itu artinya kepunahan dari spesies ini.
Lebih dari itu, setiap laba-laba yang baru lahir berperilaku sama. Membangun sarang dan mencari makan dengan cara yang sama. Karenanya, laba-laba pertama tidak hanya cukup dengan memiliki keistimewaan yang menakjubkan ini, melainkan harus mampu pula mewariskan semua kemampuannya kepada generasi berikutnya. Ini hanya bisa terjadi jika pengetahuan ini melekat erat dalam gen-gen laba-laba. Selain semua fakta ini, kita masih menghadapi beberapa pertanyaan. Bagaimana laba-laba pintu-perangkap bisa memiliki karakteristik-karakteristik ini, dan siapa yang melekatkan kemampuan itu kedalam gen-gennya?
Sementara teori evolusi mencoba menjelaskannya dengan konsep-konsep semacam insting, mekanisme imajiner, kejadian kebetulan, atau Induk Alam, pola-pola perilaku cerdas ini: kemampuan merencanakan, pemilihan dan implementasi taktis, dan konstruksi tubuh tanpa cacat, pada kenyataannya hanya bisa memiliki satu penjelasan. Tuhan lah yang memberi semua mahluk hidup kecakapan yang dimilikinya. Dia menciptakan mereka lengkap dengan kecakapannya. Tuhan memiliki pengetahuan tiada tara.

Laba-laba Penyamar Yang Ulung

Bertentangan dengan kepercayaan umum, banyak jenis laba-laba berburu tanpa membangun jaring. Salah satunya adalah Laba-laba kepiting. Ia menyamarkan dirinya pada bunga-bungaan dan menyantap lebah-lebah yang hinggap padanya.6
Dengan menggunakan kemampuannya, laba-laba kepiting merubah warna tubuhnya menjadi kuning atau putih sesuai warna bunga. Kakinya disembunyikan dengan sempurna ditengah-tengah bunga dan bersiap diri menunggu mangsa. Warna tubuhnya menyamai warna bunga tempat ia bersembunyi dengan sempurna. Hanya dengan perhatian yang saksama saja laba-laba ini dapat dibedakan dari bunga tempat persembunyiannya.
Laba-laba ini beraksi ketika seekor lebah hinggap untuk menghisap madu dari bunga dimana ia siap menyergap. Pada ketika itu, laba-laba secara perlahan-lahan merangkulkan kaki-kakinya ke tubuh lebah, kemudian dengan gerakan cepat menggigit kepala lebah dan menyuntikan bisa langsung ke otak mangsanya. Setelah itu, ia memakan korbannya. Laba-laba dapat menyamarkan dirinya pada bunga dengan begitu cerdik sehingga kupu-kupu atau lebah kadang hinggap tepat di atasnya tanpa menyadarinya.
Apakah laba-laba bisa berubah warna karena kejadian yang kebetulan? Apakah ia mempelajari bunga-bunga kemudian menyalin warnanya dan kemudian merubah warna tubuhnya? Jelas bahwa laba-laba tidak memiliki kemampuan seperti itu. Selain beberapa pusat syaraf, ia bahkan tidak memiliki otak untuk berpikir. Lebih dari itu, laba-laba adalah mahluk yang buta warna. Ia tidak mengetahui warna putih atau pun merah muda. Bahkan jika kita beranggapan bahwa ia mampu menyesuaikan warna tubuhnya, mustahil baginya membuat warna tersebut di dalam tubuhnya sendiri. Tuhan Yang Maha Perkasa lah yang membuat laba-laba mampu membedakan dan menghasilkan warna-warna.
Jelas bahwa Tuhan telah menciptakan laba-laba dengan kemampuan untuk menyesuaikan warna tubuhnya dengan warna bunga. Keadaannya bagaikan dua gambar yang dibuat dalam kanvas yang sama, dengan cat-cat yang sama dan disapu dengan warna dan nuansa yang sama, dan sangat bersesuaian sehingga tidak dapat dijelaskan oleh dongeng tentang ‘kejadian yang kebetulan’.

Berburu Dengan Jaring Tangga Melingkar

Bagi banyak mahluk hidup, jaring laba-laba merupakan perangkap maut. Namun ada beberapa mahluk yang dapat selamat dari perangkap maut ini. Sebagai contoh, ngengat-biasa tidak mempan terhadap jaring laba-laba karena debu pada tubuhnya menutupi perekat pada jaring dan membuatnya menjadi tidak efektif. Berkat debu inilah ngengat dapat lolos dengan mudah.
Namun ngengat masih dapat terjerat oleh jaring yang konstruksinya tidak biasa. Jaring laba-laba Skoloderus, yang tinggal di daerah tropis, berbeda dari kebanyakan jaring, dan tampilannya mirip dengan kertas-lalat. Dengan cara ini, Skoloderus mudah menangkap ngengat. Laba-laba Skoloderus membangun jaring yang panjangnya satu meter dengan lebar 15-20 sentimeter, mirip sebuah tangga. Ngengat yang tertangkap jatuh ke dasar jaring. Selama jatuh, ngengat kehilangan sebagian besar debu pelindung yang mencegahnya menempel pada jaring biasa, dan akhirnya terjerat dalam perangkap Skoloderus.
Jadi, laba-laba ini memiliki teknik yang sangat berbeda dari spesies lainnya. Yang perlu dicatat dari metode berburu ini adalah bahwa laba-laba ini membuat jaring dengan keistimewaan mampu menangkap serangga yang diburunya. Dengan konstruksi jaring yang lain daripada yang lain, spesies laba-laba ini merupakan bukti dari karya-cipta Tuhan yang tiada tara.

Laba-laba Pelempar-Jala: Dinopis

Laba-laba berwajah-raksasa ini, yang nama ilmiahnya Dinopis, menggunakan teknik berburu yang sangat luarbiasa dan menakjubkan. Bukannya membangun jaring yang tetap dan menanti mangsa, ia membuat jaring khusus yang dilempar kepada mangsanya. Selanjutnya membungkus mangsanya di dalam jaringnya ini. Serangga yang tertangkap mati terpedaya. Kemudian ia membungkus mangsanya dengan benang yang baru agar menjadi sebuah “paket” yang tetap segar untuk konsumsi masa datang.7
Jelas bahwa laba-laba ini menangkap mangsanya dengan kerangka kerja yang terencana. Suatu perencanaan dan pembuatan jaring dengan ukuran, bentuk dan kekuatan yang tepat, sehingga sesuai untuk metode berburu semacam ini. Hal ini dan cara membungkus mangsanya merupakan aktivitas-aktivitas yang membutuhkan kemampuan superior yang berdasarkan kecerdasan. Pengamatan lebih lanjut menunjukkan bahwa konstruksi jaring laba-laba ini tidak memiliki cacat.
Dalam segala segi, jaring Dinopis merupakan sebuah keajaiban perencanaan. Sementara susunan kimia dari suteranya saja merupakan keajaiban tersendiri, teknik penggunaan jaringnya juga sangat menarik. Ketika laba-laba ini menunggu mangsanya, jaringnya mirip sarang sempit yang terbuat dari jerami. Namun penampilan adem ini sebenarnya sebuah tipuan. Ketika laba-laba beraksi menangkap mangsanya, ia menggunakan kaki-kakinya membalikkan jaring tersebut dari dalam ke luar sehingga menjadi sebuah perangkap maut. Mangsa pun tak dapat lolos darinya.
Bagaimana laba-laba ini bisa membuat jaring dengan perencanaan mekanik dan konstruksi kimia yang demikian sempurna? Pekerjaan ini bukanlah hal yang sederhana, melainkan memerlukan perencanaan, sesederhana apapun. Masing-masing memerlukan rencana dan pengalaman yang berbeda. Hal ini dapat kita gambarkan sebagai berikut. Saat menerangkan jaring laba-laba, kami sering menggunakan ungkapan “seperti renda”. Karena kemiripan inilah, tidak salah jika dikatakan bahwa laba-laba sebenarnya sedang membuat renda.
Mari kita bayangkan seorang laki-laki di jalanan diberi peralatan untuk membuat renda (bidal, jarum-jarum, benang, dll) dan kain katun. Tanpa pengalaman sebelumnya, dapatkah orang ini membuat renda saat pertama kali mencobanya? Atau dapatkah kita membayangkan taplak-meja rendaan yang terbentuk dengan sendirinya dari ikatan-ikatan yang terjadi secara kebetulan? Tentu saja mustahil.
Mustahil suatu rencana muncul dengan sendirinya, karena hal itu membutuhkan kecerdasan, kecakapan, dan cara untuk menyampaikan informasi. Agar suatu mahluk hidup dapat membuat rencana, dan lebih jauh lagi, agar ia mampu melaksanakan rencana tersebut tanpa kegagalan, maka mahluk ini harus lah “cerdas”. Namun mustahil untuk menerima bahwa seekor serangga bisa cerdas, dapat berpikir dan membuat rencana. Yang demikian itu merupakan rantai logika yang dangkal untuk bisa sampai kepada kebenaran, dan tidak mencerminkan realitas. Mesti ada kekuatan yang memberi serangga ini kecerdasan, atau lebih tepatnya mengarahkannya, yang mengajarinya apa yang harus dilakukan, atau lebih tepatnya membuatnya melakukan tugasnya. Dengan kata lain, serangga tersebut ada Pembuatnya.
Seperti telah kita lihat, jelas benar bahwa mahluk hidup ini diciptakan oleh Tuhan. Namun kaum evolusionis menafikannya, malah menduga-duga dengan kemungkinan-kemungkinan khayalan. Kepatuhan kepada teorinya sendiri membuat mereka tidak mampu berpikir sehat, melihat, ataupun mendengar. Hal itu telah membuat mereka buta terhadap kebenaran yang nyata dan tak dapat menerima apa yang mereka lihat dan fahami.
Menurut kaum evolusionis, Dinopis membuat jaring istimewanya itu secara kebetulan, dan belajar menggunakan jaringnya itu secara kebetulan pula. Setiap orang yang berakal sehat dapat melihat bahwa kejadian demikian itu sangat mustahil. Meskipun jelas mustahil, mari kita anggap bahwa Dinopsis dapat membuat jaringnya secara kebetulan. (Akan kita abaikan asal muasal terjadinya Dinopsis, juga bagaimana mahluk ini menghasilkan zat kimia dalam tubuhnya untuk membuat jaring, kita menerimanya sebagai bakat bawaan). Dalam hal ini, ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab: Jika jaring pertama dibuat secara kebetulan, bagaimana terjadinya jaring yang kedua dan ketiga? Bagaimana laba-laba dapat menghasilkan jaring yang tepat sama dengan membuatnya secara kebetulan (sembarangan)? Bagaimana laba-laba yang baru lahir mengetahui cara membuat jaring, membuat jaring dengan mutu yang berbeda dengan laba-laba lainnya, serta bisa melemparkan jaring tersebut kepada mangsanya?
Hanya ada satu jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini. Karena tak mampu belajar, atau mengingat dalam hati, dan tidak memiliki otak yang memadai untuk melakukan hal-hal ini, laba-laba mendapatkan semua itu karena anugerah Tuhan, Pencipta Yang Maha Kuasa dari seluruh mahluk hidup.

Bersambung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: