• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

DILEMA BAHASA INDONESIA

dilema bahasaPernahkah anda memikirkan tentang beberapa kata dalam bahasa Indonesia yang mengandung dilema dalam maknanya? Kata itu memberikan kesan yang menyedihkan, karena bukan saja ia memiliki makna yang saling mengkhianati, tapi juga menggambarkan jati diri bangsa yang “agak” inferior. Kosa kata dilematis itu benar-benar menjengkelkan, jika anda memang perduli pada makna yang lebih dalam dari sebuah kata. Mari kita perhatikan beberapa contoh berikut ini, dan saya harap anda akan menemukan yang lainnya.

Kosa kata dilematis pertama kita adalah kata: TINGGAL. Pernahkah terbersit dalam benak anda betapa melehkannya jika anda entah bagaimana suatu ketika diekstrak menjadi kata “tinggal”? anda tidak akan pernah menyukai hal itu. Percayalah. Karena anda akan dipaksa menjadi dua hal yang berbeda sekaligus. Anda digunakan begitu seringnya dan sesering itu pula anda menjadi hal yang bertentangan. Anda sudah temukan titik terangnya? Perhatikan kalimat di bawah ini:

“Aku ingin kau tinggal di sini, walaupun nanti aku pasti akan meninggalkanmu. Ingat, kala kau sedih, kau tinggal menatap bintang untuk mengingatku yang pernah tinggal bersamamu.”

Bagaimana, anda menemukannya sobat? Tinggal yang pertama bermakna tetap, atau bertempat, tidak pindah atau pergi ke tempat yang lain. Namun, sesuatu yang sangat frontal terjadi pada kata tinggal berikutnya (yang sudah kemasukan imbuhan me-kan menjadi meninggalkan), kata tinggal ke dua berarti menjauhi, tidak lagi berada di tempat yang sama, pergi. Nah, bagaimana bisa satu kata tinggal dan masih berada dalam satu kalimat bisa saling mengkhianati dalam pemaknaannya? Dan, kata tinggal ke tiga berarti: langsung saja, lakukanlah, perbuatlah. Kata tinggal yang itu bermakna anjuran dan sama sekali bukan kata kerja seperti dua tinggal sebelumnya. Akan tetapi, kata tinggal yang keempat justru bermakna menemani, berada, bertempat. Nah, anda luhatkan, betapa dilematisnya hidup menjadi kata tinggal ini. Aku bahkan tidak akan pernah mau walaupun dibayar milyaran rupiah jika harus bekerja sebagai kata tinggal walau hanya untuk satu minggu.

Yang lebih parah lagi, pada dasarnya, makna asal dari kata tinggal adalah berada, tetap, berhuni, mnempati tapi ketika dia sudah mendapatkan imbuhan, sisipan, kahiran atau awalan, kata itu lebih banyak berarti pergi atau berkenaan dengan sesuatu yang pergi, sebuah makna yang sangat bertentangan dengan makna dasarnya. Perhatikan ini: meninggalkan, tertinggal, peninggalan, ditinggalkan, meninggal, tinggalkan, dll.

Sekarang, kita berpindah pada kata kedua, sebuah kata yang diambil dari kosa kata asing (Bahasa Inggris), namun justru pengambilan kata itu menunjukkan kepribadian bangsa ini yang peniru dan tak pede. Kata itu adalah: ORGANISASI.

Kata ini diambil dari kata Bahasa inggris ORGANIZATION, dan diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi: organisasi. Anda saksikan sendiri, perubahan apa yang terjadi pada kata itu? Hanya perubahan yang sangat kecil, mengubah z dan t menjadi s dan membuang o dan n. sedang dalam pembunyiannya hampir tidak berbeda. Mengapa kata ini dipermasalahkan? Karena ada satu contoh sederhana dari negara tetangga berbahasa melayu di sebelah kita, Malaysia. Mereka menyebut organisasi dengan PERTUBUHAN. Nah, kata pertubuhan jelas lebih mandiri dari pada kata organisasi dalam Bahasa kita. Kenapa? Karena organisasi pada dasarnya memiliki akar kata organ, atau alat tubuh yang memiliki fungsi tertentu dan bekerja secara terkrdinir dan bersama-sama. Di situlah letak pemaknaan organisasi sebenarnya, dia adalah suatu wadah yang cara kerjanya meniru cara kerja fungsi tubuh kita. Dengan demikian, seandainya kita cukup menggunakan kata badan bukannya organisasi, atau mungkin pertubuhan, itu akan lebih mencerminkan kepribadian yang matang dari bangsa kita ini—bangsa yang selalu dikaakan sebagai bangsa yang besar oleh guru-guru kita waktu SD, dengan melupakan betapa banyaknya intervensi yang memakan seluruh sendi bangsa sampai-sampai hampir tidak lagi “merdeka.”

sekarang, coba saudara renungkan kata-kata ini: “Jadi, anda tinggal menambahkan gula saat air sudah jadi merah. keajaiban akan terjadi dan cairan itu akan menjadikanmu sebagai orang yang luar biasa.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: