Posted in sastra, think

THE FIGHT

Ketika itu, atheisme benar-benar merajalela. Orang-orang dengan tampang terpelajar dengan gigihnya menyebarkan faham ini. Hasilnya, tidak sedikit, tidak sedikit orang yang setelah didebat oleh mereka itu kemudian berteriak: “gila! Akhirnya gue tau kalo Tuhan cuman omong kosong! Ini dia hari wafatnya Tuhan!” Atheisme dengan dahsyatnya ngepruki orang-orang beragama.
Salah satu cara orang-orang atheis menyebarkan fahamnya adalah dengan mengadakan debat terbuka. Cara ini lumayan mujarab ternyata. Mereka tidak hanya merubah satu dua orang saja, tapi bisa samapi puluhan, tergantung jumlah peserta debat tersebut. Suatau ketika, digelarlah sebuah debat terbuka bertempat di balai kota (ada kabar pak wali kota telah menjadi atheis). Seorang terpelajar, pimpinan orang-orang atheis di kota itu, akan melawan seorang kyai sepuh yang pengaruhnya amat kuat di kota tersebut. “Kalau saya bisa mengalahkan orang ini,” kata si atheis, “hancuralah agama di kota ini!”
Singkat cerita, sampailah pada hari pelaksanaan acara spektakuler tersebut. Masing-masing pendukung kedua kubu memadati balai kota, bahkan sampai berjubel ke halaman. Wajah-wajah orang itu hampir sama persisnya, wajah-wajah penasaran dan penuh ketegangan. Orang-orang atheis saling berbisik satu sama lain, hari ini tuhan bakalan mati di kota ini, masjid-masjid akan berubah jadi super market! Sedangkan orang-orang Islam, dadanya penuh dengan doa, kepadaTuhan.
Pukul 08.30, acara segera dimulai. Di depan hadirin, di atas podium, telah duduk si tokoh atheis, seorang moderator, dan tentu saja pak…tunggu, kemana pak kyai sepuh? Kursinya kosong! Pak kyai rupanya belum datang. Ini gawat. Para pendukungnya tampak gelisah. Sedangkan orang-orang atheis pada cengar-cengir.
Pukul 08.45, pak kyai belum juga datang. Para atheis pada ketawa. Beberapa dari mereka mulai berteriak-teriak, “hoy! Ahirnya Tuhan benar-benar akan mati! Ha ha ha…” Suasana balai kota berubah menjadi panas, riuh rendah dengan sorakan dan ledekan. Mereka saling hina. Yang tampak sekarang, pertengkaran mulut yang amat sengitnya yang jika tidak segera diatasi akan berubah menjadi perang fisik terbesar dalam sejarah kota tersebut, perang yang akan berdarah-darah. Di saat itulah, di saat keadaan sudah amat genting, pak kyai datang dengan keringat mengalir. Begitu dia naik ke podium, orang-orang atheis pada menyoraki lelaki sepuh itu. Sedangkan kaum muslimin merasa lega walau agak kecewa.
“Kemana aja pak kyai, wiridan kok lama banget!” Si tokoh atheis menyindir pak kyai yang dengan keburu-buru duduk di kursinya. Dengan tersenyum ramah orang tua itu mulai bicara.
“Maaf saudara-saudara, maafkan saya atas keterlambatan ini, saya sungguh menyesal.” Tapi permintaan maaf ini disambut sinis oleh orang-orang atheis, ”kenapa tidak berdoa saja seharian pak tua! Ha ha ha…”
“Baiklah, agar tak salah paham, saya ceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada saya.” Pak yai meminta hadirin tenang. Setelah tenang barulah dia bicara lagi, “seperti saudara ketahui, rumah saya ada di seberang sungai besar. Nah ketika saya sampai di pinggir sungai, ternyata jembatannya sudah tak ada! Hilang! Yang saya temukan hanyalah setumpuk batang bambu.” Pak kyai diam sejenak, menatap wajah-wajah beku di depannya. “Lalu sayapun pergi dari tempat itu, berharap menemukan sesuatu yang bisa saya pakai untuk menyeberang. Tapi, setelah lima belas menit mencari, saya tidak menemukan apapun, tidak ada apa-apa!” akhirnya sayapun kembali ke tempat jembatan yang hilang itu, berharap ada nelayan melintas. Dan, tahukah saudara-saudara, apa yang saya temukan?” rupanya orang tua ini jago bercerita, semua yang di situ pada diam menyimak dengan seksama. “Tumpukan batang bambu itu hilang dan sebagai gantinya saya temukan sebuah rakit di pinggir sungai. Luar biasa, ternyata batang-batang bambu itu telah berubah dengan sendirinya menjadi sebuah rakit yang kuat!”
“Apa? Batang-batang bambu itu menjadi sebuah rakit? Gila! Gila!” Si tokoh atheis memekik dari tempat duduknya. Maka semua orang pun tertawa terbahak-bahak. Hampir saja gedung balai kota runtuh saking ramainya. Dalam pada itu, kaum muslimin terdiam, pucat, aduh….musibah apa ini?! “Hadirin sekalian, apa yang membuat kalian tak percaya? Batang-batang bambu itu memang berubah menjadi rakit dengan sendirinya!” pak kyai sepuh mencoba meyakinkan hadirin, tapi apa lacur, orang-orang sudah tidak percaya lagi.
“Gila! Mustahil! Bahaimana bisa batang bambu jadi rakit dengan sendirinya? Harus ada yang membuatnya pak tua!” Si tokoh atheis berteriak lantang. Dan lagi orang-orang atheis tenggelam dalam tawa yang luar biasa dahsyatnya. Mereka bersorak-sorai meledek orang-orang islam. Sedangkan orang-orang islam hanya bisa diam, tunduk penuh kecewa. Ah… apa yang terjadi? Gilakah kyai sepuh ini? Moderator kelabakan. Dengan susah payah dia menenangkan suasana, berteriak-teriak, memukul-mukul meja, tuding sana tuding sini. Setelah tiga menit, suasana kembali terkendali. moderatorpun membuka acara tersebut, dan mempersilahkan pak kyai untuk bicara yang pertama. Tapi orang-orang sudah kadung meremehkannya; pendukungnya sudah kecewa. Pak kyai angkat bicara, “mas atheis, tadi anda bilang bahwa tak kan ada sebuah rakit tanpa ada yang membuatnya, mustahil sebuah rakit ada dengan sendirinya. Ketahuilah… sungguh benar apa yang anda katakana!” Semua kaget! Hadirin bingung mendengar ucapan pak kyai. Kenapa orang tua ini? Sudah ngedropkah otaknya? Barusan bilang dia menemukan rakit yang ada dengan sendirinya, kini malah menhyangkalnya. Si tokoh atheis tersenyum lebar, “Nah kan, terbukti orang tua ini salah! Mau apa lagi?” orang-orang pada berisik. Setelah agak tenang berkatalah pak kyai, “benar anda mas atheis. Sekarang ijinkan saya bertanya pada anda yang terpelajar ini.” Langit seakan runtuh di atas kepala kaum muslimin. Benarkah pak yai telah kalah? Dengan begitu mudahnya dia langsung merendah pada orang atheis ini! “Kita tadi telah sepakat bahwa sebuah rakit tidak akan ada bila tidak ada yang membuat padahal rakit hanyalah sesuatu yang sangat sederhana, cukup batang-batang bambu yang dijalin, bukankah begitu?” Hadirin membenarkannya. “Nah kalau demikian, bisakah alam semesta ini, planet bumi ini, matahari, bulan dan bintang, galaksi ini, jagat raya ini, ada dengan sendirinya? Tanpa ada yang membuatnya?” Orang-orang yang tadi cengar-cengir sontak pada diam dan menganga. “Mas atheis, tentu anda tahu betapa rumitnya alam semesta beserta isinya. Planet-planet yang beredar mengelilingi matahari dengan rapi, benda-benda angkasa yang bergerak dengan teratur, pergantian musim, siang dan malam, pasang surutnya air laut, keanekaragaman jenis binatang, di darat maupun di air, pepohonan dan tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam, perkisaran angin, hidup dan mati, bisakah semua ini, wahai mas atheis, ada dengan sendirinya? Tanpa ada yang menciptakan? Jika rakit yang sederhana saja butuh pencipta, apalagi alam semesta yang rumit ini?! Bagaimana jawaban anda mas atheis?”
Sepi, sepi sekali ruang balai kota pagi itu. Semua diam berpikir, moderator diam berpikir, orang-orang atheis menganga termenung, si tokoh atheis melotot gak bisa ngomong. Kaum muslimin khusuk dalam perenungan.
“Ketika anda diam, jantung anda tak hentinya memompa darah ke seluruh tubuh anda,” pak yai melanjutkan, “Paru-paru anda tak letih menghirup oksigen dan disebarkan oleh setiap sel darah anda ke seluruh tubuh anda. Anda sama sekali tidak berkuasa atas hal itu tuan atheis, nah, siapakah anda? Bisakah anda tercipta dengan sendirinya? Tidakkah mustahil suatu barang ada tanpa ada yang membuatnya?”
“Apakah anda percaya pada omong kosong bahwa manusia adalah keturunan kera? Saya heran, kenapa masih banyak kera di hutan belakang pesantren saya? Apa yang membuat mereka tetap jadi kera?”
“Pada awalnya semua ini hampa, kosong, tidak ada suatu apapun. Kemudian Allah berkehendak untuk menciptakan jagad raya ini. Lihatlah tanah kering dan gersang berubah menjadi padang rumput yang hijau ranau oleh hujan yang dibawa awan atas perintah Tuhanya, Allah SWT. Pikirkanlah, hadirin yang atheis, bagaimana bisa sebuah tanah kering setelah kemarau panjang berubah menjadi padang rumput indah mempesona? Siapa yang melakukan itu?”
Angin yang bertiup di antara bangunan rumah, pepohonan dan kantor terasa begitu sejuk dan harumnya. Siang itu paru-paru di jantung para pemirsa debat terbuka seakan lebih kuat dan sehat dari sebelumnya. Memompa oksigen dan darah, meneruskan hidup buatan-Nya. Debat itu selesai dengan tertib dan tenang. Orang-orang yang keluar dari balai kota wajahnya tampak lebih muda beberapa tahun, tapi ada juga sebagian kecil yang tampak lebih tua puluhan tahun, kusut dan jelek sekali.

Sejak saat itu tidak ada kabar tentang si tokoh atheis, cuman ada yang bilang kalau dia kini sering datang ke pesantren pak kyai sepuh di pagi buta dan baru pulang tengah malam. Dan beberapa bulan selepas debat spektakuler itu, tampak si tokoh atheis selalu adzan di masjid agung kota tersebut, di setiap sholat lima waktu. Dan semenjak hari itu pula masjid dan mushalla menjadi semakin ramai dari biasanya. Diantara para jamaah masjid agung yang melimpah itu, tampak pak wali kota di tengah-tengah mereka. Khusuk sekali dia shalatnya.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi. Silih bergantinya malam dan siang. Berlayarnya bahtera di laut yang membawa apa yang berguna bagi manusia. Dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Ia hidupkan bumi sesudah matinya (kering). Dan Ia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan. Dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Sesungguhnya (semua itu) terdapat tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan” (Q.S. Al-Baqarah: 164).

Catur Amrullah 19 05 07

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s