• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

KASIH SAYANG MELAMPAUI PENGERTIAN

ibu1. Anak yang tidak tahu kecuali sedikit
Aku tidak tahu tanggal dan hari apa beliau lahir, atau bulan apa, bahkan tahun berapa. Aku tidak tahu semua tentang kelahiran beliau. Dan karena itu, sampai hari ini aku belum pernah merayakan hari ulang tahun beliau—bagaimana bisa merayakan sesuatu yang tidak diketahui kapan saatnya? Lebih parahnya lagi, seingatku, aku belum pernah mencoba menanyakannya, atau diam-diam membongkar dompet dan memeriksa KTPnya. Mengapa begitu? Tidakkah ini sebuah masalah? Ah, tidak. Ibuku bukan ibu yang meminta pesta tiap hari ulang tahunnya tiba, ibuku juga tidak akan mencoba menyindir anak-anaknya agar ingat hari dan tanggal ini beliau terlahir atau apa. Aku tahu sekali itu. Ibuku bukan ibu yang memandang itu penting bagi dirinya, atau perlu diingat-ingat oleh anak-anaknya agar beliau merasa lebih bahagia. Satu hal yang aku tahu pasti, tentang kebahagaiaan ibu, adalah, ketika anak-anaknya tidak lagi merasa gagal dengan hidupnya.

Sebagai perbandingan, beliau tahu semua tanggal kelahiran kami anak-anaknya, bulannya, dan tahun yang keberapa. Bahkan beliaupun tahu harinya. Bukan hanya karena beliau yang melahirkan maka beliau mengetahuinya, bukan hanya karena itu, tapi baginya, hari kelahiran para anak-anaknya adalah hari raya dalam hidupnya. Beliau berpuasa tiap hari Selasa, hari lahirku.
*
Berpuluh tahun yang lalu, tiga puluh mungkin, telah lahir kakak pertamaku. Dua tahun kemudian, lahir kakak keduaku. Saat itu keluargaku masih tinggal di Lamongan, tepat di jalur Pantura. Mereka berdua menjumpai hari-hari banting tulang yang dijalani ibu tiap harinya. Pukul tiga pagi beliau harus sudah bangun dan menjerang air—buat minum, dan tidak menanak nasi karena tidak ada beras untuk di tanak. Sebelum subuh mengumandang, beliau sudah harus pergi ke gudang ikan di pinggir desa. Membelah dan menjemurnya di hari gelap dan dingin. Begitu subuh datang, beliau bergegas kembali ke rumah, sholat dan bergegas kembali ke gudang lagi—ketika kedua kakakku menginjak usia sekolah, beliau pulang selain untuk sholat juga untuk menyiapkan keperluan sekolah ke dua putranya. Bekerja di gudang menyita hampir waktunya sehari penuh. Penuh dengan kelelahan dan bau yang memusingkan, namun demikian, belumlah cukup untuk mendapatkan makan yang berkelayakan.

Suatu ketika saat aku beranjak dewasa, dan aku tinggal jauh dari ibu, kakakku bercerita tentang daun lamtoro yang dulunya banyak terdapat di pinggiran tegal di belakang rumah. “Kau tahu, dulu emak makan daun ini begitu lahapnya. Piring kami hampir penuh dengan daun lamtoro. Bukan karena emak paham betul tentang kandungan gizinya, tapi untuk menutupi kurangnya beras yang kami makan. Kau sekarang, coba lihat, makan dengan menyisakan nasi di piring. Kau belum tau susah.”

Aku diam saja mendengarkannya, membayangkan ibu tengah menelan daun-daun lamtoro yang cuma digodok dan ditutulkan ke garam tumbuk. Memang aku tidak mengalami masa-masa yang sulit itu, aku tidak menyaksikan sendiri beratnya hidup ibu waktu itu, karena aku lahir ketika hari sudah mulai agak baikan—tapi jadi awal kekacauan.

2. Hari perubahan
Aku bungsu dari empat bersaudara. Kakak ke tigaku perempuan. Kami semua sangat dekat meski kadang bergaduh—sebagaimana adik-kakak lainnya di dunia—karena ibu mengajari kami bahwa saudara itu untuk saling melindungi. Bagaimana dengan ayah? Apa yang beliau ajarkan? Aku tidak tahu. Beliau merantau ke Malaysia saat aku masih sangat kecil, baru empat tahun, dan sekarang telah delapan belas tahun berlalu tanpa pulang sekalipun. Aku lupa wajah beliau. Bersyukurlah ada teknologi foto sehingga aku masih bisa mengenal wajahnya. Aku sepertinya tidak punya kenangan tentang beliau. Dan entah karena apa, aku heran, kenapa hampir tidak pernah merindukan beliau? Apa karena tidak ada kenangan?

Aku teringat pada satu hari di usiaku yang ke lima atau enam tahun, yang mana hari itu telah membentuk kekuatan hati ibuku. Hari yang tidak pernah terbayangkan—walau mungkin telah dikhawatirkan oleh beliau. Seorang kenalan ayah datang dari Malaysia, dia mengunjungi rumah dan membuat seisi rumah gelagapan. Orang-orang mengerubutinya dan menanyakan begitu banyak hal. Aku tak ingat secara pasti bagaimana semua itu berlangsung, tapi yang jelas, dalam keriuhan, aku yang tengah sibuk bermain di halaman tiba-tiba mendengar jerit tangis ibu. Ibu menangis. Menjerit sejadi-jadinya. Orang-orang kalang kabut. Ada beberapa yang lain turut menangis.

Aku masih sangat bodoh saat itu, tentu saja. Aku sama sekali tidak tahu apa yang tengah berlangsung. Aku tidak paham. Yang aku tahu, sepertinya ada masalah. Ibu menangis di belakang rumah dengan kerasnya.

Hari-hari berikutnya, suasana rumah agak kacau. Ibu banyak menangisnya. Dan orang-orang berbicara satu sama lain tentang ibuku. Entah apa yang kukatakan waktu itu, tapi ibu berkata begini padaku,

“Ayahmu menikah lagi. Besok jangan seperti itu pada istrimu, ya nak.”
Ayah menikah lagi? Apa itu artinya? Dan ibu, mengapa menangis?

3. di pulau
Kakek yang di Bawean datang beberapa lama kemudian. Beliau sengaja datang untuk menjemput ibu dan kami, para cucunya, untuk dibawanya ke Bawean. Seseorang mengabari beliau tentang ayah yang menikah lagi dan kesedihan ibu di jawa. Kakek datang untuk menjemput ibu yang bersedih. Maka kami—ibu, kakak ke dua dan ketiga, dan aku—berlayar ke Bawean lewat pelabuhan Gresik. Karena entah alasan apa yang tidak kutahu, kakak pertama ku ditinggal di jawa bersama nenek dari pihak ayah. Keluarga kami pun terpencar. Ayah di Malaysia—dengan istri ke duanya, kakak pertama di jawa dengan nenek, dan aku ikut ibu ke Bawean, sebuah pulau yang identitasnya membingungkan.

Yang kuingat dari hari pertama kedatangan kami ke pulau tersebut adalah, orang-orang berdatangan menemui kami. Sangat ramai sekali. Sedangkan aku tidak mengerti satupun kata-kata yang mereka ucapkan. Mereka tidak memakai bahasa jawa. Entah bahasa apa itu. Dan sekali lagi, ibu menangis di tengah kerumunan. Disaksikan begitu banyak orang. Mereka berusaha menenangkan beliau, tapi tetap saja, ibu terus menangis—baru kemudian, setelah lama, aku tahu jika yang diperbincangkan adalah pernikahan ke dua ayah.

Di rumah kakek di Bawean kami tinggal bersama kakek, nenek dan tiga orang sepupu. Ibu bertanggung jawab mengurus delapan orang, sembilan dengan dirinya sendiri.
*
Ibu segera berperan sebagai ibu sekaligus ayah. Beliau yang mengurus segala urusan rumah tangga di rumah kakek juga mencari nafkah untuk anak-anaknya. Ibu harus bekerja keras untuk bisa menyekolahkan kami. Dan bekerja keras di pulau Bawean bagi seorang wanita seperti ibu artinya adalah: ikut menjadi kuli pengangkut pasir kuarsa, atau mencari kayu bakar di hutan, ikut menjadi buruh tani musiman, mencari gadung di hutan dan mengolah kebun di lereng gunung (huma). Itu yang harus beliau lakukan untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang ibu yang meng-ayah.

Pagi sekali, selepas menyiapkan sarapan buat kami semua, beliau harus bergegas pergi mengambil pasir ke tambang pasir tradsional di pinggir kampong bersama ibu-ibu lainnya. Sekali angkut, mereka masing-masing membawa satu bak pasir. Beratnya kira-kira 25 kg. Ini sama sekali bukan pekerjaan yang mudah. Desa tempat tinggal kami berada di lereng gunung. Jalanan mendaki dan menukik terjal. Ibu harus mendaki ratusan meter untuk membawa pasir dari penambangan sampai ke tempat pemesan. Para wanita itu berjalan beriringan, menyunggi (membawa beban di atas kepala) beban 25 kg. di bawah terjangan matahari. Sekali waktu aku menjumpai beliau mengusung pasir—dan aku masih memakai seragam sekolah. Beliau memanggil namaku, Am… hanya sekali panggil saja. Dan seulas senyum yang berbasuh keringat di wajahnya. Selebihnya, yang kudengar adalah dengus nafas berat sepotong-sepotong. Dan kemudian aku lari lagi dengan teman-teman sekolahku. Tanpa merasakan apapun.

Selain beratnya pekerjaan mengangkut pasir ini, bahaya pun senantiasa mengincar mereka. Tebing pasir bekas galian sewaktu-waktu bisa runtuh mengubur siapapun dan apapun yang ada di bawahnya. Suatu ketika di tahun ’95, salah satu tambang pasir kuarsa di pinggir timur desa longsor. Dugsar. Orang-orang kalang kabut, berlarian ke sana kemari bingung melakukan apa. Seorang wanita terkubur di bawahnya. Salah seorang teman ibu.

Pekerjaan mengangkut pasir ini adalah pekerjaan panggilan. Artinya, pekerjaan ini baru ada jika ada orang yang butuh pasir. Biasanya untuk membangun rumah. Di hari-hari kosong, ibu pergi ke hutan mencari kayu bakar. Beliau sering mengajak kami ikut serta. Saat itu aku masih kecil, dan tenagaku pun tidak seberapa dibanding anak-anak seusiaku. Jadi yang kulakukan tiap kali ikut ke hutan hanyalah bermain-main. Membayangkan di hutan itu muncul seorang kakek tua berjenggot panjang dan mengendarai kuda. Kakek itu memungutku, membawaku ke suatu tempat rahasia di belahan hutan. Mengajariku berbagai macam jurus silat yang hebat. Dalam khayalan itu, aku sama sekali tak mempertimbangkan bagaimana kira-kira perasaan ibu mendapati bungsunya raib di hutan. Saat itu, aku belum bisa mengerti kasih sayang seorang ibu pada anaknya.

Tapi aku bisa merasakannya. Aku bisa merasakannya dari tatapannya, gerak tubuhnya, kata-katanya, dan cara beliau menyuruhku melakukan sesuatu. Tiap kali ke hutan untuk mencari kayu bakar, tidak pernah ibu marah karena aku tidak bisa membawa kayu yang banyak—untuk ukuran usiaku tentunya. Satu-satunya hal yang membuatnya marah adalah jika aku terlalu bersemangat bermain dengan diriku sendiri, membayangkan menjadi seorang pendekar atau power ranger atau apalah. Melompat kesana kemari sorang diri membayangkan tengah meluluh lantakkan pertahanan musuh. Ketika itulah, ibu akan datang memarahiku. Memanggilku untuk diam atau aku akan dipukulnya—ancaman yang belum pernah beliau buktikan. Namun demikian, pelarangan itu benar-benar mengganggu kenyamananku. Aku merasa ibu tak bisa mengerti keasyikan ini. Maka akupun membantahnya. Lagi. Lagi. Dan lagi—maka kakakkulah yang kemudian turun tangan.

Ketika aku mulai menduduki bangku madrasah kelas tiga atau empat, ibu memulai lagi bercocok tanam di tanah keluarga yang letaknya di lereng gunung. Bukan tanah yang cukup subur untuk bertanam, tapi tidak pula begitu kurus untuk bisa menghasilkan buah yang bisa dijual. Tapi masalah utamanya adalah, hama monyet yang mengintai dari tiap sudut. Hutan di Bawean penuh dengan monyet-monyet liar yang senantiasa mengintai tanaman para petani. Hamir semua tanaman dimakan oleh monyet ini. Dan ibu menghabiskan shari penuh untuk menjaga tanaman-tanamannya. Beliau mengusir monyet yang turun. Mengejar monyet yang membandel. Melempar monyet nekad dengan batu memakai alat seben—pelontar batu seperti yang dipakai para pejuang Palestina.
*
Akhir-akhir ini, saat usiaku tak lagi anak-anak, mulai memasuki masa yang penuh tuntutan, dikecam oleh kekhawatiran dan kenyataan bahwa betapa banyaknya pengangguran di kalangan sarjana, aku mulai menyadari apa itu yang menjadi tenaga bagi ibu saat itu. Tidak bisa kubayangkan bagaimana seorang wanita bekerja begitu kerasnya. Bagaimana seorang wanita begitu diperas tenaganya. Bagaimana seorang wanita—ternyata—tak kenal lelah melakukannya! Apa itu? Kekuatan apa itu? Dari mana datangnya tenaga tiap kali beliau hendak berangkat kerja. Kami di Bawean hampir tak pernah makan daging, buah-buahan, bahkan tak juga minum susu. Makanan kami biasa saja, nasi putih, ikan laut, dan sambal yang dibuat hanya dari garam, cabe dan penyedap rasa. Aku tak pernah mengira sebelumya. Dan kini, aku mulai menemukan jawabannya, kekuatan itu, tenaga yang entah dari mana datangnya itu, bersumber dari besarnya kasih sayang yang beliau eramkan dalam hatinya. Tiap kali beliau akan berangkat kerja, atau akan melakukan apapun yang menguras tenaga, kasih sayang itu akan menetas, menjadi sebuah tenaga maha kuat yang mengisi tubuhnya, memberinya kemampuan untuk menyelesaikan semua kerja. Itulah kasih sayangnya buat kami para anak-anaknya. Aku baru menyadarinya sekarang. Saat perasaan yang sama memberiku kekuatan dan semangat untuk melakukan yang terbaik buat beliau.

4. hanya kebanggaan yang dipotong
Mungkin karena keturunan, aku di kelas masuk dalam jajaran bintang kelas sebagaimana saudaraku yang lain. Ranking masa sekolah dasarku berkisar di antara lima besar. Hanya sekali saat kelas lima aku menduduki peringkat ke tujuh. Dan lebih seringnya, aku juara dua atau tiga. Memasuki MTs dan MA, aku berputar-putar di juara satu dan dua, lebih seringnya juara satu—aku ingat suatu ketika saat Aliyah, saking bosannya, aku nyengir melihat dua temanku tersenyum lebar menduduki peringkat pertama dan aku peringkat ke dua.

Ini tentu saja menjadi kebanggaan tesendiri bagi keluarga kami, tapi masalahnya, aku agak berbeda dengan anak-anak lainnya. Aku tidak suka dibangga-banggakan, tidak suka diceritakan di depan banyak orang, tidak suka di puji di antara teman-teman. Ini berbeda dengan kehendak ibu, tentu saja. Sebagai ibu beliau sangat bangga dengan apa yang berhasil dicapai putra-putrinya. Ini adalah obat kepedihan yang harus beliau derita siang dan malam. Keberhasilan kami adalah obor yang membuatnya tidak pernah merasa sia-sia sebagai wanita yang mengasuh anaknya seorang diri.

Dan perbedaan itu menjadi masalah bagiku. Tiap kali ibu memuji keberhasilanku di depan banyak orang, mulailah aku bertingkah tidak nyaman. Aku selalu berusaha mencegah ibu menceritakan seluruhnya. Aku berusaha memotong kebahagiaan ibu. Ketika beliau sedang bersemangat mengabarkan nilai-nilai raportku, hadiah dan pujian dari wali kelasku, dan sanjungan guru-guru yang lain, aku akan merengek untuk segera pulang. Itu yang kulakukan sewaktu masih Madrasah Ibtidaiyah. Memasuki MTs dan Aliyah, caraku berbeda.

Suatu malam, aku berbicara pada beliau tentang ketidak sukaanku pada pembangga-banggaan terhadap prestasiku. Kukatakan pada beliau bahwa perbuatan berbangga diri bukanlah hal baik, dan aku merasa sangat tak nyaman dengan semua itu. Lebih tepatnya, aku malu karena menjadi hal yang membanggakan ibu. Setelah selesai aku berbicara macam-macam, beliau hanya berkata ringkas: “apakah seorang ibu tidak boleh berbangga atas keberhasilan putranya? Padahal itulah kebahagiannya.” Dan aku tidak bisa berkata apa-apa untuk menjawabnya.

Lihatlah, si kecil yang sok ini, dia mencoba menceramahi ibunya, wanita yang telah melahirkannya. Padahal dia hampir tidak tahu apa-apa tentang besarnya makna kebanggaan itu dalam hidup sang bunda. Anak kecil yang bodoh itu hendak memutus tali kebanggan bundanya.

Meski demikian, aku masih belum berubah. Sekali dua aku berusaha melarang beliau untuk bercerita ke tetangga tentang prerstasi yang kucapai. Sekarang, ketika aku telah memasuki usia dewasa dan menyadari belum ada apoapun yang bisa kuberikan padanya, aku merasa begitu menyesal telah membatasi kebanggaan beliau itu. Aku ingin kembali ke masa-masa madrasah itu. Aku ingin meraih semua prestasi tebaik yang ada di sekolah. Dan aku akan mengatakan pada ibu betapa senangnya hatiku karena beliau bisa bangga padaku, dan aku kan meraih yang lebih banyak lagi agar beliau bisa lebih berbangga terhadapku. Oh Tuhan, aku baru menyadarinya, aku baru merasakannya saat aku tahu tidak ada hal yang cuklup berarti yang bisa kuberikan padanya. Aku hanya bisa memberinya kebanggaan.

5. mengapa engkau tak mengerti?
Memasuki masa puber, aku mulai mengharapkan apa-apa yang sebelumnya belum perbnah terlintas dalam benakku. Aku mulai berpikir tentang: keren gak ya? Pantes gak yas? Ngetren gak ya? Aku mulai memikirkn tentang pakaian yang akan kupakai, juga tas sekolahku, sepatu, seragam, buku tulis, dan beberapa kali tentang memberontak ibu. Aku heran, mengapa hampir semua remaja merasa orang tuanya adalah pengekang? Mengapa mereka tidak bisa merasakan ketulusan cintanya? Mengapa selalu ingin melawan? Dalam masa-masa itu, aku merasa tidak mengerti dengan rumahku. Aku merasa teman-teman sepermainanku lebih bijaksana dan lebih bisa mengerti gejolakku. Akan tetapi, karena didikan yang kental, dan pantauan kakek yang ketat, aku tidak sempat berubah menjadi remaja nakal yang memberontak ibunya. Tidak sampai terjadi. Aku tetap jadi anak yag tenang. Tidak suka berbuat macam-macam. Tapi jauh dalam lubuk hatiku aku bertanya-tanya, mengapa ibu tidak bisa mengerti aku?

Aku merasa jengkel juga dengan hal itu. Memasuki masa Aliyah (SMA), aku menjadi semakin berbeda dengan teman-temanku. Mereka menghabiskan liburan dengan camping, mereka bermain di pantai saat akhir pekan dengan teman-teman perempuan. Dan aku, berdiam diri saja di rumah. Menghabiskan hari dengan membaca, menulis, dan berpikir, mengapa ibu tidak mengerti? Mengapa menurutnya aku tidak sebaiknya bergabung dengan teman-temanku? Tidakkah ibu melihat ini agak aneh. Aku heran, mengapa ibu tidak mengerti?

Seterusnya, keadaan tdak berubah. Ibu sepertinya menganggap semua baik-baik saja, seakan aku tidak menggundahkan kekuperan ini. Ibu memang jarang berbicara hal-hal yang personal denganku. Komunikasi kami standar saja. Tidak seperti dengan kakakku.

Sejak saat itu, aku merasa jika ibu memang kurang bisa mengerti aku. Hampir-hampir itu menjadi masalah, hampir-hampir itu mengurangi nilai beliau di hatiku, hampir-hampir itu mengurangi penghargaanku padanya. Sampai pada suatu hari, aku melihat betapa besar pengorbanan ibu buat kami anak-anaknya.

6. kasih sayang melampaui pengertian
Ibuku orang yang setia, tak ada yang meragukan itu. Meski ayah merantau ke malaysia dan tidak pernah pulang lagi selama 17 tahun lebih, beliau tetap menanti, beliau tetap setia dan percaya suatu hari nanti akan ada hari bahagia. Karena bagi beliau, melindungi dan membina serta merawat putra-putrinya adalah kewajiban yang benar-benar harus dijaga, itu adalah amanat dari sang usami yang jauh di sana. Dan ibu telh bertekad semenjak hari keberangkatan ayah untuk melaksanakan amanah itu dengan ssempurna mungkin. Maka pria-pria yang datang meminangnya semua terpelanting tidak mendapat tempat darinya. Mulai dari duda hingga perjaka. Yang selalu ibu katakan pada nenek setiap habis menolak seorang peminang adalah, apakah ada jaminan anak-anakku akan dirawatnya sebagaimana ayah kandungnya merawat mereka? Mungkin saat itu nenek membantah perkataan ibu, mengatakan bahwa bahkan ayah kandung anak-anaknya tidak pernah merawat anak-anaknya. Dan jika memang itu trerjadi, maka pastilah ibu menolaknya dengan tak kalah kerasnya. Nanti, mengertilah aku betapa ibu mengorbankan separuh hidupnya hanya untuk kebaikan kami semata.

Tiap malam, saat orang-orang sedang terlelap dalam tidur yang melenakan, ibu pergi ambil wudlu dari cerek yang dingin dan berlumut. Beliau tahajud dan mendoakan kebaikan bagi kami di awal doanya. Baru kemudian yang lainnya. Andai saja ayahku mengetahui hal ini waktu itu.

Mendekati akhir masa aliyahku, di mana UNAS tinggal beberapa bulan lagi, kami mulai diperkenalkan dengan uiversitas-universitas di tanah Jawa. Tempat menjanjikan untuk kami datangi demi melanjutkan pendiudikan. Perbincangan mengenai melanjutkan pendidikan ke jawa menjadi topik hangat di semua rumah. Tak terkecuali denganku. Sebagai siswa unggulan, pertanyan tentang kemana aku akan melanjutkan selalu relevan untuk diotanyakan. Orang-orang yang mengenalku, teman-teman kelas, juga—tentu saja—para guruku, mereka mengajukan pertanyaan yang serupa: akan melanjutkan ke mana? Beberapa nama universitas besar seperti yang disosialisasikan guruku melintas dibenakku, tapi segera gambaran itu hilang. Dengan apa aku akan ke sana? Sepertinya ibu juga terbebani dengan kenyataan ini. Aku bungsunya, manusia terakhir miliknya yang masih berkesempatan untuk menjadi sarjana, manausia yang akan menjadi kebanggaannya. Ibu memikirkan hal itu. Dan sebuah keputusan diambilnya tanpa sepengetahuanku—sebagaimana bisasanya terjadi.

Aku terkejut bukan main waktu kakak perempuanku memberitahuku bahwa ibu akan menikah lagi. Menilkah lagi? Bagaimana bisa? Bagaimana dengan ayah? Penantian selama ini? Dan terlebih lagi, pria seperti apa itu yang bisa mengalahkan ibu? Berbagai macam pikiran menggerayangi otakku. Hingga tiba saatnya kami anak-anaknya berbicara langsung dengan beliau, membahas apa pendapat kami tentang rencana pernikahannya.

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku tidak bisa berpendapat. Pikiranku buntu oleh kebodohan dan ketololan, dan terlebih oleh poertanyaan, ngapain nikah lagi? Kakak perempuanku, yang pernah sekali bertemu dengan ayah, tampaknya kurang sepakat dengan ide ini. Dengan bahasa yang tersamar dan harus diraba, jelas dia ingin ibu mengurungkan niatnya. Dan selama itu, aku hanya bisa menyimak.kediamanku baru hilang ketika ibu mulai berbicara bukan hany untuk salah satu dri kami, tapi untuk kami berdua. Beliau berkata, ”ibu nikah bukan untuk kesenangan ibu. Orang sudah tua, mau senang-senang apanya? Tapi ibu bersedia menikah dengan orang ini karena ibu tahu dia orang baik. Kalian juga tahu itu. Dan, dia juga sudah berjanji untuk memperlakukan anak-anakku segaimana ia memperlakukan anak-anaknya. Bukankah anak-anaknya adalah sahabat kalian sendiri? Apa ada yang masih bisa diragukan lagi tentang orang itu?” kami diam. Benar apa yang dikatakannya. Dan beliau melanjutkan, ”dan dia juga bersedia untuk berusaha menyekolahkanmu sampai tinggi, Am.”
Aku terdiam dan menunduk dalam setelah kalimat yang satu ini.
*
Bagaimana perasaan ibu sekarang?

Bagaimana perasaan ibu sekarang? Mengetahui bungsunya sebentar lagi selesai kuliahnya, sbeentar lagi jadi sarjana? Bagaimana perasaannnya mengenai semua ini? Entahlah. Aku masih punya bayangan tentang beberapa hal.

Karena kasih sayangnya pada anak-anaknya, beliau pun mengambil keputusan yang sangat berat dalam hidupnya. Beliau memutuskan untuk berhenti menunggu ayah setelah tujuh belas tahun lebih mengharap tanpa kejelasan. Ibu akhirnya menerima pinangan dari orang yang sangat beliau yakini kualitasnya demi anak-anaknya. Bukan karena harta, bukan, bukan, ibu tidak memikirkan itu sama sekali. Baginya, harta tak pernah menjadi pertimbangan yang bisa meluluhkan kesetiaannya. Tapi yang bisa meruntuhkan segala keteguhannya bertahun ini adalah kenyataan bahwa ia harus berbuat sesuatu untuk anaknya. Beliau harus melakukan sesuatu untuk menyambung harapan bungsunya, aku. Memikirkan ini, aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan ibu mengetahui bahwa ternyata aku kuliah masih dengan menjadi kuli di gudang ikan, sebagaimana ia melakukanakannya bertahun-tahun yang lalu. Apakah beliau kecewa? Entahlah.
*
Ibuku memang bukan orang yang paling mengerti aku. Ketika memasuki usia dewasa, kehidupan, pengalaman, dan bertambahnya wawasan membuatku agak sulit dimengerti oleh beliau. Karena perbedaan jaman, beberapa perbedaan idealisme, cita-cita pribadiku. Semua komponen itu membuatku agak sulit dimengerti. Tapi melampaui semua itu, beliau tidak pernah berhenti untuk menjadi ibunda terbaik bagiku. Dengan cintanya. Toleransinya. Doanya. Petuahnya. Kesabarannya. Kerelaannya menerima harapan-harapanku mengenai hidupku menjadi harapan-harapan hidupnya sendiri. Luar biasa. Sangat luar biasa, karena tak jarang aku temukan ibu, ayah, orang tua yang menjadikan anak-anaknya sebagai replica dari dirinya. Menumpahkan semua ambisi pribadinya yang tak tercapai ke pundak anak-anaknya. Memaksa mereka untuk meraihnya dengan mengabaikan semua cita-cita pribadi mereka. Seakan anak-anak itu hanyalah robot untuk meneruskan kehidupan para orang tua. Catat itu.

Kupikir, cara tebaik membahagiakan ibu adalah dengan menjadi anak terbaik yang pernah beliau punya. Dan itu yang aku lakukan.

3 Responses

  1. ” Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia..”

  2. ” Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia..” 😀
    Apapun yang sudah kita buat belum apa-apa dibandingkan dengan kasih sayang ibu yang telah diberikan pada kita.Ya Alloh , curahkan kasih sayang-Mu pada kedua orang tua this blogger, teramat khusus untuk ibu. Allahummaghfirlanaa wali-waalidainaa warhamhumaa kamaa rabbayanii shaghiiraa. Amiin ^^

  3. lam kenal bro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: