• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

HENTIKAN KEKEJAMAN SATPOL PP

Bagaimana ini bisa terjadi lagi? Kejahatan yang terulang lagi, kelaliman yang terus ditunjukkan. Sejak kapan ini dianggap sebagai tontonan? Jadi mengapa terus berulang-ulang dipersaksikan? Rakyat yang dikorbankan, warga tak berdosa yang ditumbalkan, manusia lemah yang hendak dipersembahkan. SATPOL PP yang sekali lagi “membantai” warga biasa. Kami bukan criminal, kami bukan pula pelarian dari salah satu penjara terkutuk kalian, kami bukan pula maling yang sedang bersembunyi, tapi mengapa begitu bahagia kalian menindas kami?

Darah lagi di Tanjung Priok. Darah lagi. Darah lagi. Umat Islam lagi. Dengan berbagai alasan kalian mencoba membenarkan tindakan kalian, tapi, tidak maukah kalian berhenti sebentar, berpikir sejenak, haruskah kalian mengkhianati Ibu Pertiwi hanya untuk memuaskan nafsu keserakahan pemerintah dan perusahaan “penyewa” kalian? Ada apa? Mengapa? Apa yang sedang kalian cari? Kalian menemui rakyat biasa dengan senjata, baju tahan pukul dan segala perlengkapan anti huru-hara. Mengapa? Kalian sedang bersiap untuk menghadapi amuk warga? Karena kalian tahu jika tindakan kalian akan memicu kerusuhan, kan? Karena kalian tahu warga tidak akan diam saja melihat keangkuhan kalian? Ayolah, akui itu! Akui itu! Akui saja kebusukan itu!

Rasanya, bernafas menjadi lebih sesak akhir-akhir ini. Di telivisi diceritakan berulang kali korban dari pihak SATPOL PP, dan bagaimana dengan korban dari pihak rakyat? Apa kalian sedang berusaha membangun simpati buat para preman pasar? Begitukah, huh? Kalian ingin membuat kami berpikir para SATPOL PP itu orang-orang baik penegak hokum yang gugur dalam tugas? Begitukah? Petugas bersenjata lengkap yang kalah oleh semangat warga? Aku curiga, apakah karena korbannya orang Islam sehingga kalian berbuat demikian? Hahaha…

Lagi-lagi, lagi-lagi dan selalu terulang lagi. Kemana kalian, para petugas pamong praja yang jantan, kemana kalian buang hati nurani? Begitu melegakankah di hati kalian bisa melaksanakan tugas dari atasan dengan menghancurkan orang miskin rendahan? Apa kalian sudah lupa perbuatan kalian di Surabaya? Bocah mati tertumpah ari panas dalam penggusuran kalian? Apa kalian puas? Apakalian bahagia? Apa kalian merasa menjadi manusia dengan itu? They’re just innocent and poor people! Begitu teganya kalian! Kalian puas, huh? Kalian senang, huh? Kalian bangga bisa menghidupi keluarga kalian atau mentraktir pacar kalian dengan “membantai” keluarga yang lain? Kalian puas? Puas? Puas? Dan sekarang, kalian merasa jantan huh? Merasa jantan karena bisa melawan umat Islam, huh? Kalian mengkhayalkan sedang menjadi Densus 88 kan? Begitukah? Kalian memalukan!

Gaji yang kalian makan itu uang rakyat. Kau pikir dari mana pemerintah mendapatkan uang? Dari kekayaan alam? Bah! Kekayaan alam negeri ini telah dijual pemerintah kalian pada orang kulit putih “yang terhormat”. Hahaha. Kalian memakan uang rakyat sobat, kalian membeli susu untuk bayi kalian dengan uang rakyat. Kalian mengobati ibunda kalian yang sakit dengan uang rakyat. Kalian memakan hasil dari pajak! Kalian memakan uangku! Kalian memakan uangku! Kalian memakan uangku yang setiap bulan harus membayar uang keamanan di pasar! Kalian memakan uang ku yang harus diserahkan untuk sepetak tanah yang kutempati, dan secuil bangunan yang kuhuni! Kalian memakan tulang belulangku, kalian mangsa tulang belulang kami!

Dan aku bertanya-tanya, orang tua mana itu yang ridlo putranya menjadi anggota SATPOL PP? Istri mana itu yang bangga bersuami SATPOL PP? kau bilang menertibkan, huh? Menertibkan, huh? Pernahkah kalian mengkritik pimpinan kalian yang menyimpang? Pernahkah? Pernahkah? Walau hanya dengan sindiran, pernahkah? Kalian pembunuh! Yang kalian lakukan adalah menghancurkan orang-orang miskin yang sedang lintang pukang mencari makan. Uang kalian obrak-abrik itu rombong dan warung orang-orang melarat yang sedang bekerja. Mengapa kalian hancurkan? Becak-becak yang kalian patah rusakkan, mengapa? Mereka hanya orang miskin yang sedang mencari biaya sekolah buat anak-anaknya! Kalian brengsek! Bagaimana jika seluruh orang miskin di Jakarta, seluruh orang melarat di Surabaya, di Medan, di mana-mana, datang ke kantormu dan menghancurkan semua perlengkapan kerja kalian? Kalian suka, huh? Mungkin memang mereka mengganggu ketertiban, tapi tolong, tolong, tolong ingat ini setiap kali kalian sedang beraksi wahai para jagoan: mereka hanya orang miskin yang mengais nafkah, maka tolong, tolong jangan hancurkan.

Dan sekarang, kalian merasa jago dengan menghadapi umat Islam? Oh Tuhan, apa yang kalian piker? Bagaimana jika semua orang ber-KTP Islam di negeri ini memberontak karena dipicu arogansi kalian? Berpikirlah, berpikirlah, renungkanlah semua sebelum bertindak dan tunduk buta pada pimpinan kalian. Namun demikian, tentu saja aku berterimakasih pada kalian, terimakasih untuk semua penertiban warung remang-remang yang meresahkan, terimakasih untuk penyitaan alcohol di pinggir-pinggir jalan, terimakasih untuk pengumpulan dan pembinaan PSK di mana-mana. Terimakasih untuk itu—walau kalian tetap membiarkan semua itu asalkan ada surat ijinnya. Hahaha, bukankah memang begitu sobat, kalian makan dari pajak tempat prostitusi resmi, kalian makan dari pajak minuman kers resmi, dan sejenisnya dan sejenisnya.

Saya mohon maaf jika ada banyak kata-kata kasar di sini, mohon maaf, mohon maaf, tapi setidaknya itu sudah cukup, karena aku tidak akan pernah bisa melakukan tindakan kejam. Menghancurkan kehidupan orang lain, jadi tolong maafkan kasarnya perkataanku.

3 Responses

  1. Bang Sat – ups, maksudku bang SATPOL -, bukankah pelayan harus hormat pada ndoronya, pada orang yang menggajinya? Jawab pertanyaanku, Bang Sat: Berasal darimana uang yang kau terima tiap bulan? Jika kau sudah tahu bahwa itu dari rakyat, dari Mbok Mi yg rumahnya yg kau gusur, maka tak sepatutnya kau berbuat begitu thd majikanmu.

    Jangan kau sok berkuasa, bang Sat. Sebelum ini, fungsi utamamu hanyalah sebagai aparat penjaga gedung pemerintah, tidak lebih. Sekarang saat kau beralih fungsi, kau salah gunakan jabatan itu. Bisakah kau memaeri aku alasan yg baik kenapa kau gusur rumah mbok Mi; kau bredel jajanan Kang Jo? Jawab, Bang Sat

  2. Don’t be irritated, bang!

  3. bgus kawan. qt stukn tgn qt . qt rpatkn brisan qt. dn qt tgakkn hk2 qt. bner kawan bang sat emang bangsat bejat tk brmoral panu kadas kurap kutu rakyat. anjing kurap. liat aj bang mati loe bkal melarat. ih najis kotor. ingat mati bang. hdupmu d dunia tiada berarti hnx menumpuk dosa. mnang mungkin predikatmu phlwan tp nmu d mta msyrakat bang. . . . d mta ankmu istrimu ibumu ayahmu cucumu. . . . . aq hny brpesan ingtlh mrk bang. . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: