• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

bagaimana aurora tercipta dan berkemilau terang

aurora unirow 2005Karangan ini aku persembahkan untuk sahabat-sahabatku mahasiswa Bhs. Inggris 2005 C UNIROW Tuban. Mendapatkan kalian dalam bagian perjalanan hidupku, adalah mendapatkan bagian yang menjadi titik balik seluruh kehidupanku. Merekalah Aurora dalam hidupku.

Prolog
Pada 22 juni 1987, dari sebuah pasangan yang tinggal di rumah berdinding anyaman bambu bertabur lubang di sebuah desa pinggir laut di jalur Pantura-Lamongan, Jompong, lahirlah seorang bayi laki-laki. Bayi itu lahir premature—hanya tujuh bulan dalam kandungan, tubuhnya sebesar botol, kulitnya merah hampir transparan, sampai otot-ototnya yang berkedut bisa terlihat. Bayi itu tampak begitu lemah, rentan dan rapuh, tapi tangisannya sangat kencang. Si kecil merah itu adalah putra keempat dari pasangan yang sehari-harinya bekerja sebagai kuli di gudang ikan yang ada di desa tersebut, jompong.
Keseluruhan kisah dari si bayi yang dipanggil kacung abang—bocah merah—ini tak jauh berbeda dengan kehidupan bocah yang hidup di batas paling bawah garis kemiskinan lainnya. Sandang yang serba kurang, pangan yang jauh dari mengenyangkan, dan rumah yang atapnya berlobang-lobang—cukup besar untuk mengintip bintang di langit kala malam terang. Saat si kacung abang berusia empat tahun, salah seorang tetangganya yang baik hati berkenan memberinya sebuah jas sisa anaknya dipakai karnaval. Sungguh pemberian yang sungguh luar biasa. Baju bekas itu adalah baju termewah yang pernah ada. Si kacung abang ternganga mengelus jas tersebut. Kakak lelaki tertuanya berkata jika jas tersebut adalah jas bekas Pak Soeharto (presiden pada masa itu). Ini membuat si kacung abang semakin bangga dengan jas bekasnya. Kemanapun dia memakainya, dia katakan pada orang-orang bahwa jasnya itu adalah jas bekas pak su-alto—dia tidak bisa melafalkan nama ‘Pak Soeharto’ dengan benar. Tapi yang paling menarik adalah, saban kali dia memakainya, dia mengenakan celana pendek butut dengan warna yang telah luntur sebagai bawahannya. Keluarganya terlalu miskin untuk bisa membelikannya celana bekas yang layak—bahkan makan yang layak saja belum bisa.
Menginjak usia enam tahun, si kacung abang yang kini kulitnya mulai berwarna gelap akibat kebanyakan dibakar matahari, ikut ibunya pindah ke Bawean, sebuah pulau di Kabupaten Gresik. Itu adalah pulau yang indah, eksotis, juga tempat segala kekayaan alam dan kepercayaan mistis bersemayam dengan kokohnya. Banyak tempat yang dikaitkan dengan legenda-legenda berhubungan dengan jin atau hal-hal mistis lainnya. Dan karena suatu kesalahan administrasi yang sangat lumrah terjadi pada masa itu, si kacung gelap—bagaimana mungkin kita masih akan memanggilnya kacung abang sementara kulitnya tak lagi abang?—terubah tempat dan tanggal lahirnya menjadi Gresik, 17 Mei 1987, dua puluh enam hari lebih muda dari usia yang sebenarnya. Jadi, anda tahu sekarang bahwa berubahnya tempat dan tanggal lahir seseorang bukanlah karena ulah jin atau gendruwo, tapi karena ulah manusia waras yang jadi pejabat. Dan perpindahan itu sendiri merupakan bagian yang mengubahnya dari seorang Jawa menjadi seorang Bawean, perubahan yang membuat kisah hidupnya mendapatkan makna dan nilainya. Bocah itu, oleh ayahnya diberi nama Catur Amrullah.

1. Telepon di Malam Bulan Juni
Sembilan belas tahun kemudian.
Ya, tentu saja, Aku belum pernah seumur hidupku membayangkan ini, membayangkan menjadi mahasiswa di kampus ini. Bahkan sebelum ini, aku tidak pernah tahu kalau ada kampus beginian di dunia ini. Aku sungguh tak pernah tahu sebelumnya. Saat itu, aku masih di Bawean dan baru saja lulus dari bangku MA (Madrasah Aliyah, setingkat SMA), dan tak beda dengan teman-temanku yang lainnya, aku adalah lulusan yang bingung mau ke mana setelah sekolah. Bayangkan, lulus sekolah hanya untuk bingung mau kemana selanjutnya, betapa hebat pendidikan yang aku dapat. Tapi, setelah melakukan pertimabangan yang dalam dan memakan banyak biaya serta waktu dan beberapa kali istikhoroh yang tak terlaksana, akupun berkeputusan untuk meneruskan studiku ke BEC, tempat kursus Bahasa Inggris di Pare yang legendaris itu dan hampir semua orang tahu. Kak Erna, tetanggaku yang sudah sedang belajar di sana, membantuku mendaftarkan diri menjadi bagian dari kursusan prestisius tersebut dan mencarikan tempat kos jika nanti aku sudah di Pare. Semuanya sudah direncanakan dengan sistematis dan matang. Taktis.
Suatu malam di bulan Juni, kak Rizal, kakakku nomor satu yang tinggal di desa kelahiranku, Jompong—sebuah village by the sea, menelepon. Aku, ibu, dan kakak perempuanku berlari tergopoh-gopoh ke rumah Pak Taufit, orang kaya pemilik satu-satunya wartel di desaku, Kumalasa, sebuah desa puncak gunung di pulau Bawean. Dari halaman rumahku, aku bisa melihat laut biru nan luas memerangkap pulau kecil ini.
“Kamu mending kuliah di Tuban aja, bukankah kamu pingin belajar mandiri, kalau kuliah di Tuban, kamu bisa nyambi kerja, kuliah biaya sendiri. Beda kalau kursus di Pare, tiap bulan kamu menunggu kiriman ibu.” Suara di pesawat telepon itu terdengar meletup-letup dari suatu ujung yang amat jauh di seberang laut sana, seakan suara itu berasal dari sebuah kerajaan jin yang menyediakan layanan SLJJ dengan sinyal payah.
Dan, kebingungan yang menjengkelkan mulailah dengan ganas menggerogoti pikiranku, seperti kanker otak yang telah menewaskan artis entah siapa itu namanya. Yang jelas, malam itu perutku rasanya ngilu, rasa yang yang selalu kualami jika sedang di timpa pemikiran yang berat dan kebetulan pula malam itu aku belum makan. Menjengkelkan.
Aku dilemma antara memilih Pare atau Tuban, walaupun sebenarnya hasilnya akan sama saja, yaitu aku akan belajar Bahasa Inggris di sana. Hanya saja, jika aku memutuskan untuk memilih Pare, aku tidak perlu terlalu khawatir karena sudah ada teman-teman sekampung yang sudah lebih dulu belajar dan tinggal di sana. Sedangkan di Tuban, jika aku memilih untuk kuliah di IKIP PGRI Tuban (sebelum sekarang bertransformasi menjadi UNIROW Tuban), aku akan menjadi orang Bawean satu-satunya di tanah Ronggolawe itu, menjadi satu-satunya manusia berbahasa asing di antara kerumunan manusia berbahasa sugeng dalu, sugeng riyadi, didi riyadi, didi kempot. Tak ubahnya seperti seekor antilop yang terasing dan terancam berada diantara kawanan leopard. Memikirkan betapa ngerinya keterasingan yang mungkin melahapku jika aku kuliah di Tuban nanti, membuatku merinding dan perutku makin kejang karena belum juga makan.
Sebenarnya, aku tidak punya suatu alasan rasional tertetu untuk mengapa merasa bahwa aku akan terasing ditempat asing itu. Perasaan itu tiba-tiba saja datangnya, seperti kentut yang dengan mendadak ditembakkan pria gendut di sebelah kita dan serta-merta meracuni segala system pernafasan kita. Tanpa permisi tanpa malu, tiba-tiba saja menyerbu. Karena sebenarnya aku lebih memilih untuk melanjutkan studi ke Pare, maka malam itu aku tidur sambil membayangkan menjalani ritual puasa Senin-Kamis untuk menghemat uang kiriman ibu dari Bawean. Sebagaimana yang dipraktekkan teman-temanku yang terlebih dahulu ada di sana.
Tanggal 22 Juli 2005, aku sudah menginjakkan kaki di tanah Jawa untuk yang kesekian kalinya. Tanah tempat segala macam universitas prestisius dan penjara misterius berdiri. Dalam perjalanan ini, aku berlayar dari Bawean ke Jawa seorang diri untuk pertama kalinya. Aku ingat, saat itu malam bulan purnama. Sungguh sangat luar biasa. Menyaksikan bulan penuh yang berkilau kuning lembut dari atas kapal di tengah lautan maha luas tak bertepi adalah suatu pemandangan yang takkan pernah dapat digambarkan dengan kata-kata bagi mereka yang belum pernah melihatnya sendiri. Bulan bersinar tenang dan terang tanpa ada sesuatupun yang menghalangi pandangan. Sementara di sekelilingmu, kau sadar sewaktu-waktu gelombang gila bisa saja menelan dan menyeretmu ke halaman istana Nyi Roro Kidul. Seandainya itu beanr-benar terjadi, tak bisa kubayangkan berapa gaji yang akan kudapat andai aku dipaksa jadi anggota pasukan kuning di kerajaan Ratu Jin itu. Saat turun di pelabuhan Gresik keesokan paginya, kepalaku terasa agak pening, aku merasa bingung dengan tempat tersebut. Untunglah kakakku nomor satu dan nomor dua menjemputku. Melihat senyum lebar mereka, sungguh membuatku lega. Syukurlah, karena yang menyambutku bukan cengiran singa laut atau intel jin utusan dinas rahasaia Nyi Roro Kidul melainakan kedua kakakku yang sama sekali tidak mirip singa laut atau jenderal jin manapun.

Dan, tahukah engkau yang terjadi pada ku mulai keeesokan harinya? Sejak pukul lima lewat beberapa menit di pagi hari, aku harus sudah lari lintang pukang meninggalkan kamar yang nyaman dan hangat, menyerahkan diri untuk dimangsa dingin dan lembabnya udara pagi yang membekukan menuju gudang pengolahan ikan manyung berbau mematikan. Di dalam gudang reot lagi sempit itu, udara pagi yang lembab dan dingin terperangkap tak bisa keluar, akibatnya, udara tak sehat itu berubah menjadi semacam gas biologi pemusnah massal setelah bersenyawa dengan bau-bauan kejam tak berperikemanusiaan yang menguar dari gendong dan jeding penyimpanan mayat-mayat ikan manyung. Di tempat pengolahan ikan itu, aku bekerja sampai nanti pukul lima sore. Sehari penuh, sehari penuh dari waktu 24 jam yang aku punya kusumbangsihkan untuk gudang manyung tersebut. Sehari penuh aku bergumul penuh mesra dengan almarhum-amarhumah ikan manyung jantan dan betina. Dua belas jam dari hidupku setiap hari kudedikasikan untuk mengolah mayat-mayat ikan manyung yang gugur di tangan para nelayan entah berapa hari sebelumnya. Jenazah-jenazah amis itu masih menyimpan kotoran dalam perutnya, juga bagian-bagian dari organ dalam yang tak karuan dijejali garam kasar. Maka, campuran dari segala kotoran dan jeroan rusak diperam dengan garam di dalam perut si ikan hasilnya adalah suatu bau enek yang tak pernah kukenal sebelumnya yang menyerang dengan ganas kedalam hidungku. Luar biasa, luar biasa sengitnya pertarungan melawan aroma asing itu. Belum lagi energi yang kukerahkan untuk menangani ikan-ikan manyung. Wow, tak sanggup kata-kata menjabarkan betapa payahnya. Untuk benar-benar meresapi apa yang kualami tiap pagi hari di dalam gudang manyung itu, kau sekali waktu harus mencoba menjadi kuli jambal manyung. Hmmm, baru tahu rasa.
Sungguh, ternyata memang benar sekali, setiap nasib seorang turunan Adam benar-benar tak bisa diduga. Aku yang sudah 80% mantap memilih BEC, ternyata malah kuliah di IKIP PGRI Tuban—sekarang berubah menjadi Universitas PGRI Ronggolawe Tuban. Padahal semua guru Aliyahku sudah kukabari tentang rencanaku melanjutkan studi ke Pare. Dan, yang dimaksud sambil kerja oleh kakakku nomor satu itu, ternyata adalah nguli di gudang manyung. Luar biasa, aku tertawa serang diri di kamar mandi memikirkan ini. Tapi asal kau tahu kawan, saat itu sama sekali aku tiada merasa sedih, meski berpisah dengan ibu yang telah lebih dari sembilan belas tahun tak pernah jauh dariku, meninggalkan teman-teman sepermainan yang dulu waktu masih SD sembunyi-sembunyi menghisap puntung rokok sisa jama’ah shalat Jum’at, jauh dari kakak perempuanku yang pemarah tapi penyayang dan menangis saat aku bertolak ke Jawa, lepas dari semua yang kukenal yang kusayang. Ya, saat itu sama sekali tiada duka dan nestapa, sama sekali tidak! Karena aku tahu, ini adalah keputusanku, pilihan yang harus ku perjuangkan. Bahkan, bekerja di gudang manyung berbau kuburan Fir’aun ini menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagiku. Meski tak jarang saat kuliah masih melekat di tubuhku aroma ganas mendiang ikan manyung, meracuni otak teman-teman sekelasku, mengubah mereka menjadi zombie gila—maaf cuma bercanda, sungguh aku bangga!
Walau terkadang, dalam keheningan malam ketika aku tiba-tiba terjaga, aku merasa mendengar lagi suara ibu melepas keberangkatanku, ate-ate rato bulo, ate-ate rato jimat, ate-ate e naggorana oreng, hati-hati rajaku, hati-hati azimatku, hati-hati di negeri orang. Demikianlah, ungkapan kasih sayang seorang ibu pada putranya dalam budaya Bawean sangatlah mendalam. sang anak adalah rajanya, sang anak adalah azimat keselamatannya, sang anak adalah pusaran hidupnya. Dan kenyataan bahwa aku tidak begitu sedih berpisah dengan ibu bukan berarti aku adalah tipe seorang anak bejat calon pendurhaka abad internet yang nantinya akan terkutuk menjadi search engine tak laku, tidak, tentu saja tidak! Aku tidak bersedih bukannya karena tiada rasa sayang, tapi karena keikhlasan ibu melepasku membuat segalanya mudah bagiku. Ringan dan menguatkan. Adakah yang bisa kauharapkan lebih berarti dari pada keridlaan seorang ibu terhadap putranya? Tidak.

2. Setiap Yang Pertama Adalah Yang Tak Terlupa
Bersama adik kakak ipar perempuanku yang juga akan kuliah di IKIP PGRI Tuban, aku pergi mendaftar. Saat itu sudah masuk pendaftaran gelombang dua. Wanita muda anggun berpostur pahlawan super hero itu duduk tenang di angkot, aku di sebelahnya. Perasaanku saat itu seperti anak kecil diantar ke pak dokter untuk disunat. Takut dan senang tumpang tindih tak karuan. Sesekali Firoh, begitu namanya, kudapati sedang tersenyum, mungkin dia menertawakan kegelisahanku. Di luar mobil, rumah, pohonan, warung, dan kendaraan diparkir tampak seperti berkejar-kejaran. Suatu tipuan mata hasil dari kecepatan mobil. Tiap kali angkot itu berhenti, penumpang bergantian keluar masuk. Ada bakul ikan, anak sekolah, pengamen, kakek-kakek, pasangan suami istri, copet yang sedang menyamar jadi jambret, orang yang sedang selingkuh, orang miskin yang pura-pura kere, dan kemudian, dengan sangat tidak terduga lagi menghebohkan, masuklah ke dalam angkot itu an extra super big fat woman—seorang perempuan yang sungguh amat sangat benar-benar gemuk, dia langsung membanting pantatnya yang sebesar meja ke tempat kosong di sebelahku. Gila! Separuh tubuh perempuan super itu tumpah keatasku. Aku terjepit diantara dua perempuan, sumpah, seumur hidup tak pernah sebelumnya aku berada dalam keterjebakan seperti ini!
Sesampainya di pintu gerbang kampus yang megah itu, aku malah tak bisa berkata-kata di depan pak satpam berseragam putih, celana gelap, perut tambun dan wajah bengis tapi lugu (aku yakin para mahasiswa UNIROW Tuban tahu siapa beliau yang terhormat yang aku maksud ini). Walau Firoh berkali-kali mencolek tanganku agar segera bicara, aku masih diam membisu, hilang-raib semua kosa kata yang kupunya. Dalam hatiku, aku berdoa agar Firoh mengasihaniku dengan mengambil tanggung jawab berbicara pada pak satpam, tak terus memaksaku. Karena sesungguhnya lidahku kelu dibawah bayang-bayang kumis mas satpam itu.
“Tempat pendaftarannya dimana pak?” Firoh akhirnya angkat suara setelah putus asa mengancamku agar bicara. Ya, padahal hanya itulah yang harusnya kukatakan, tempat pendaftarannya dimana pak?, hanya lima kata itu! Tapi jelas-jelas aku tidak berdaya untuk menyuarakannya. Demikianlah sobat, nasib anak pulau bertemu satpam kampus berkumis untuk pertama kali.

Belum ada cermin besar dikamarku saat itu, kecuali sebuah cermin kecil bekas bedak viva. Dengannya aku merapikan diri. Kemeja putih dan celana gelap membungkusku dengan dasi hitam melingkar di leher yang membuatku kelihatan seperti orang tolol yang tak tahu cara gantung diri karena putus asa setelah patah hati untuk yang kelima belas kali. Pagi ini aku akan memulai tahap awal yang paling berarti dalam rangkaian sejarah hidupku, suatu periode yang memberi tanda yang amat jelas dan panjang yang membuatku tidak menjadi aku yang dulu lagi, awal dari sebuah turning point. Pendaftaran mahasiswa baru telah aku lalui tanpa ada rintangan yang berarti—kecuali dengan mas satpam berkumis itu, semuanya berjalan lancer. Dan sekarang, hari ke delapan di bulan Agustus pada tahun 2005, pada hari ini akan berlangsung tes tulis untuk seleksi mahasiswa baru, dan besoknya tes wawancara. Aku benar-benar menyiapkan diri dengan gila-gilaan untuk kedua test tersebut. Walaupun aku siswa terbaik untuk pelajaran Bahasa Inggris dulu waktu MA, entah bagaimana aku merasa bahwa para peserta tes yang semuanya orang Jawa itu pasti jauh jauh lebih baik dari ku. Sepertinya tiap orang pulau punya rasa minder saat berhadapan dengan orang Jawa, merasa seakan telah kalah beberapa langkah sebelum berjumpa. Mungkin perasaan rendah diri ini muncul karena Bung Karno, proklamator kemerdekaan sekaligus presiden pertama Indonesia, adalah seorang Jawa, atau mungkin juga karena Sumanto si kanibal dan Ryan si penjagal adalah orang Jawa. Entahlah. Hari-hari menjelang test masuk itu tak ubahnya dengan hari-hari menjelang pelaksanaan UAN dulu. Semua serba menyesakkan menggelisahkan. Nasi kumakan terasa sekam, air kuminum serasa hidrargirum, suara manusia terdengar seperti sorakan kegagalan, pintu yang berderit terdengar seperti robekan kertas karena kecewa, dan gudang manyung itu, baunya menjadi makin menewaskan!—seperti yang anda harapkan untuk saya tulis, bukan?.
Seampainya di kampus, aku malah dihajar habis-habisan oleh beban-beban yang tidak berperikemanusiaan. Aku tegang karena akan menghadapi tes masuk sementara disini aku tak kenal satu orang pun kecuali Firoh. Ditambah lagi, kami sekarang kebingungan mencari dimana tempat tes kami akan berlangsung. Aku yang memang sering bingung di depan peta—perlu dijelaskan, waktu Aliyah dulu aku belajar ilmu geografi yang sangat aneh. Dalam peta besar yang digantung di depan kelas, benua Australia dan separuh dari Amerika belum tercantum. Aku pikir itu karena peta yang kami pakai peta terbitan dari jaman baheula, tapi ternyata kedua benua tersebut hilang dari peta karena dicuri para tikus—melongo tolol di depan denah yang menunjukkan tempat-tempat pelaksanaan tes. Denah itu sama sekali tak membantuku! Untunglah Firoh tampak mesam-mesem pertanda mengerti, dan itu justru membuatku makin kecut, ternyata orang jawa pandai membaca denah , apalagi hanya soal-soal tes masuk? Pasti dilibas habis!
Jika aku bisa masuk menyusuri lubang cacing yang tersembunyi dalam black hole di luar angkasa sana, lalu kembali ke hari pelaksanaan tes masuk kuliah di tahun 2005 itu, aku pastinya akan tertawa terpingkal-pingkal menertawai diriku sendiri demi melihat bagaimana dengan otoriternya Firoh menyeretku ke Barat ke Timur dalam suatu perburuan liar mencari ruang kelas tempat ujian tes tulis kami diadakan. Berkali-kali Firoh membawaku masuk keruangan yang salah, sedangkan aku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya berdoa dengan lirih dan gelisah pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Rupanya teman-teman, orang Jawa yang bisa baca denahpun masih bisa bingung dan kesasar.
Tapi, jika kau pikir hari itu kami benar-benar menyedihkan, ketahuilah, hari itu belumlah terlalu mengenaskan dibandingkan dengan hari kedua, saat tes wawancara dilaksanakan. Saking dari khawatirnya menghadapi tes tersebut, aku mbolos nguli demi mempersiapkan diri menghadapi tes wawancara itu. Ingat saudara-saudara, belum pernah seumur hidupku sebelumnya menjalani yang namanya tes wawancara dengan orang universitas. Ini sungguh sungguh menentukan, mendebarkan, seperti seorang pria yang telah menunggu empat puluh tahun untuk menikah dan akhirnya datang juga saatnya, dan pemikiran yang selalu datang adalah ketakutan jika pernikahan itu akan gagal sebelum pelaksanaan. Ditambah lagi, ada kabar tes wawancara untuk anak jurusan bahasa inggris akan menggunakan bahasanya Shakespeare itu. Wah, sepanjang hari mbolos itu aku tak habis-habisnya membaca buku percakapan bahasa inggris. ‘Hello, my name is Catur Amrullah, I am from Bawean, emm…I love English and I love your daughter Sir, ha? Tidaaaaaaaaaaak!’
Maka, sepanjang perjalanan menuju IKIP PGRI Tuban, mulai dari keluar rumah sampai duduk dalam mobil, untuk memaksimalkan persiapan yang telah kami lakukan aku dan Firoh senantiasa berkomunikasi dengan bahasa Inggris sebagai pemanasan. Para bakul ikan, laki-laki penjual kaca mata keliling, perempuan tua, bakul jamu gendong genit, aktivis peminum tuak, anak-anak sekolah yang tengah menyelinap kabur dari sekolah, bahkan sampai sopir dan kernetnya, semuanya ternganga-nganga dan geleng-geleng kepala melihat kami. Seakan merasa jika di antara mereka tengah duduk dua muda-mudi dari kota London yang sedang dalam perjalanan wisata ke Goa Akbar di Tuban. Aku sempat menangkap lirikan mata beberapa penumpang, penuh penghormatan dan penasaran. Asiknya jadi mahasiswa Bahasa Inggris. Entah apa yang ada dalam benak wanita muda bertubuh kekar yang kini sedang nyerocos disebelahku itu, yang jelas hari ini aku sangat bersemangat, aku merasa bisa untuk mengatakan, “yes I can!”
Begitu sampai di kampus, kembali kejadian sialan seperti kemarin terulang. Ya Tuhan, kenapa tukang gambar denah tak berbudi pekerti itu tidak Engkau kirim saja ke Nusa Kambangan agar tidak lagi menggambar denah kampus ini? Aku melongo di depan denah yang tampaknya lebih rumit lagi sekarang, sedangkan Firoh dengan serius dan percaya diri menelisik tiap alur yang ditunjukkan denah ‘misterius’ itu. Sesekali tangannya menunjuk-nunjuk mengikuti garis, lalu, kembali bibir tipisnya tersenyum seperti hari kemarin. Kali ini aku harus agak curiga pada senyum manis itu, jangan-jangan…
Maka, saudara-saudara sekalian pembaca yang budiman, pada suatu siang di IKIP PGRI Tuban, saat matahari cerah di bulan Agustus menyinari ratusan mahasiswa yang berjubel untuk mengikuti tes wawancara, tersajilah sebuah adegan yang lebih mengiris hati dibandingkan dengan film Ratapan Anak Tiri ataupun Titanic. Aku, seorang calon mahasiswa baru di IKIP PGRI Tuban dari pulau Bawean yang mendedikasikan hidupnya dengan ikhlas sebagai kuli jambal manyung part time, diseret pontang panting oleh Firoh seorang calaon mahasiswi baru dari Jawa yang berprofesi sebagai TU sekolah dengan tanpa belas kasihan dalam usaha mencari ruangan dengan tulisan BAU (Biro Administrasi Umum), tempat tes wawancara kami. Ternyata, orang yang tersenyum di depan denah jelas belum tentu bisa dipercaya. Setelah pencarian yang memalukan dan mengerikan, akhirnya tempat keramat itu ketemu juga. Hampir setengah wilayah kampus ini kami telusuri, dan ternyata BAU ada di jarak sekitar 20 langkah saja dari tempat denah sialan itu berada. Di depan pintu masuk, firoh tersenyum puas, lupa akan semua kegagalan yang dilaluinya. Sungguh tipe wanita berjiwa besar.
Jika kau pikir kami bernasib amat sial hari tiu, maka ketahuilah, ada lebih banyak lagi yang jauh lebih sial. Selama kami mengantri di depan pintu BAU (kala itu aku belum tahu apa arti BAU, aku lebih suka membacanya ‘bau’ dan kemudian menertawakannya. Aku berbisik ke Firoh, “Kita wawancara ditempat BAU?”) berkali-kali kami kedatangan mahasiswa kesasar. Berjalan seorang diri atau berdua, kepala clingak-clinguk seperti monyet kelaparan di hutan Bawean mengincar pisang pak tani, sedang matanya menyorotkan cahaya keputusasaan yang dalam. Mereka adalah para calon pemimpin masa depan bangsa ini yang tengah kesasar mencari ruang tempat dilaksanakannya tes wawancara. Bahkan ketika kami sudah selesai wawancara (yang ternyata sama sekali tidak seperti yang aku khawatirkan) ada beberapa mahasiswa yang sedang ngantri dengan bimbang dan ragu di depan pintu.
“Sampean wawancara di BAU Mas ? “ Tanyaku pada salah satu dari mereka.
“Tidak Mas, di ruang Kajur Bahasa Inggris,” jawabnya lesu. “Ini ruang kajur ya?”
Aku terkaget-kaget, bagaimana bisa dia tersesat di jalan yang salah selama ini? Lalu kami pun mengantarnya ke ruang Kajur Bahasa Inggris yang telah kami ketahui letaknya karena tepat di sebelah pintu masuk. Dan ternyata, tes wawancara di ruangan tersebut telah usai beberapa waktu lalu. Alangkah nestapa nasib saudara kita itu. Sebelum kami pulang, masih sempat kulihat bagaimana pria malang itu susah payah memotivasi dirinya untuk berani masuk ke ruang Kajur yang mulai sepi. Sementara di punggungnya, kulihat basah yang luar biasa. Berliter-liter keringat tumpah sia-sia.

3. Dalam Saku Seseorang, Peta Hidup Kita Terlipat
Tapi sejarah yang sebenarnya baru akan di mulai hari ini, hari pertama dalam rangkaian dua hari OSPEK. Aku sudah akrab dengan cerita mengenai kejamnya pelaksanaan OSPEK. Terlebih lagi, kala itu baru saja tragedi ITPDN (sekarang IPDN) terjadi. Malam sebelum hari mencurigakan itu tiba, aku berpikir macam-macam tentang kemungkinan apa yang mungkin akan terjadi padaku. Mungkin aku akan disuruh lari keliling kampus hanya bercelana panjang, atau disuruh Push Up 50 kali di depan toilet, atau disuruh memakai baju dari kantong plastic, atau di suruh ngamen. Ah, kejam nian peristiwa-peristiwa yang melesak dalam pikiranku, sebuah mimpi buruk yang datang bahkan sebelum mata tertidur.
Pukul tujuh lewat beberapa menit, kami terlambat datang ke kampus. Para satpam (aku belum tahu kalau ternyata mereka adalah panitia dari satuan MENWA, bukannya satpam seperti yang kuduga) bekeliaran merapikan para mahasiswa baru yang terserak tak beraturan seperti anak ayam di kejar musang. Aku bersijingkat lari ke dalam barisan sebelum ketahuan. Kesan militer yang di pendarkan dari uniform mereka benar-benar mengintimidasiku. Sewaktu upacara pembukaan, aku benar-benar gelisah. Ini dia hari yang paling menyeramkan itu, dia telah datang ke depan mataku, dan dia juga telah menyiapkan kutukannya bagi kami, para mahasiswa baru yang masih lugu. Kampus ini tiba-tiba berubah menjadi salah satu camp konsentrasi milik Nazi yang digunakan untuk menyiksa para tawanannya, semua orang selain bangsa Aria.
Maka terjadilah hal itu, OSPEK mengerikan itu, yang ternyata sungguh di luar dugaanku! Masa satu hari OSPEK hampir 90% kami habiskan dengan duduk di dalam ruangan panjang dan panas, mendengarkan presentasi dari orang-orang paruh baya membawakan materi-materi berat menyakitkan yang sama sekali tak bisa dimengerti. Membuat banyak mahasiswa sakit kepala, pantat terbakar, sebagian lagi malah sampai pingsan, eh, maksudku ketiduran. Hari itu aku menyaksikan hipnotis massal terhadap para calon mahasiswa baru. Aku sendiri tersesat jauh dalam kebingungan. Entah karena yang dijelaskan sama sekali tak bisa kupahami atau mungkin karena pria ini, pria berstyle yang telah menyesatkan persepsiku tentang dirinya. Pria muda yang penampilannya seakan diliputi oleh sihir yang menundukkan tiap pandangan, yang saat berjabat tangan dia sebut namanya dengan cepat: David! Karena aku samasekali tak menduga seorang Jawa akan memiliki nama yang tak ada hubungannya dengan bunyi parno, parto dan marno, ku minta dia mengulangi namanya, khawatir tadi aku salah dengar.
“David, namaku David! “ Katanya cepat.

Kau tak pernah tahu siapa itu orang yang menggenggam peta jalan hidupmu, yaitu orang yang jika kau bertemu dengannya maka dengan suatu cara yang tak kau sadari dengan pasti bagaimana ia telah menuntun arah orientasi hidupmu. Orang seperti itu adalah takdirmu yang telah menunggu bertahun-tahun untuk kau temukan. Dan pada siang itu, di dalam gedung I yang humid saat tiga orang wanita yang tak lagi muda presentasi tentang perpustakaan kampus (baru kemudian hari, aku tahu kalau tidak ada beda antara memperhatikan atau tidak presentasi itu), aku telah berjabat tangan dengan pria muda yang disalah satu sakunya terlipat rapi peta hidupku. Pria muda itu, tentu saja Si Kampret, suatu panggilan yang jauh lebih akrab di telinga orang Indonesia yang dikemudian hari mengganti nama aslinya, David, yang sama sekali aneh dan asing bagi telinga orang Indonesia.
Wajah pria muda ini pasti membuat tiap perempuan lawan bicaranya berantakan degup jantungnya (dengan pengecualian wajahnya saat baru bangun dari tidur selama tiga hari tiga malam). Dengan gerak kepala dan gerak tangan yang proporsional, pronunciation yang tidak mengesankan lidah orang Jawa, aksen yang sangat terdidik bergaya ibu kota, serta kilat mata disetiap kata-katanya yang mengandung semangat, mengesankan dengan amat meyakinkan bahwa anak lelaki lawanku bicara ini adalah orang dari kalangan The Have, orang-orang beruang. Warna kulitnya sama sekali tak seperti warna kulitku yang dengan tegas menjelaskan aku sebagai orang yang harus pontang panting dibawah hujan dan terik matahari untuk menyambung hidup, gelap seperti malam. Sekilas, wajah pria ini ada kemiripan dengan Salman Khan, superstar Bollywood itu. Akan tetapi, saat risetku beralih pada pakaiannya, celananya, tas dan sepatu yang dipakainya, semua itu menginformasikan padaku bahwa si David ini tidaklah beda stratanya dengan ku. Baju putihnya adalah baju bekas SMA dulu, ya, aku tahu sekali itu dari model potongannya. Sedangkan celananya adalah celana yang telah kelelahan dipakai 5 kali sehari ke musholla. Tasnya butut dengan warna yang telah kusam menyedihkan. Sedang sepatunya, aku tidak tahu bagaimana harus menggambarkannya tapi yang jelas, aku punya firasat bahwa tak lama lagi sepatu itu akan koyak, menganga lebar seperti mulut buaya di pinggir sungai Nil, kedua-duanya. Tahukah anda apa yang berkecamuk dalam pikiranku saat itu? Aku menduga, mungkin David ini adalah seorang putra dari keluarga kaya raya tapi berjiwa sederhana, berpikiran maju dan benci atribut. Baginya isi kepala tak bisa dibandingkan dengan tetek bengek asesoris ragawi. Seakan ingin menerapkan filosofi ‘don’t judge a book by its cover.’ Atau, jika dia bukan anak orang kaya seperti aanggapanku semula, mungkin dia anak orang miskin yang malas membantu orang tuanya, tapi aku tak percaya terhadap dugaan terakhirku ini. Lepas semua itu, pria muda ini telah dengan sopan dan santun merampas semua simpatiku, rasa sayang dan kesetiaanku. Maka dimulailah semenjak hari ospek itu babakan baru dari teater kehidupanku. Sebuah kisah yang akan membakar keraguan dan kekhawatiran dengan semangat perjuangan pemuda tanggung demi mencapai khayalan-khayalan dan ambisi-ambisinya. Dialah Kampret, orang terbaik yang pernah ku temui. Yang selalu memahamiku dengan sangat tepat. Dia seakan bisa membaca pikiranku, menelisik ide-ideku, meramunya, lalu menampakkannya padaku dengan caranya yang mengejutkan. Setiap ide yang kutelurkan, akan menemui kesempurnaannya saat dia menanganinya. Seperti saat aku berencana untuk menerbitkan bulletin The Evidence, lalu dia turun tangan untuk menggarapnya. Dialah sahabat pertamaku yang membuatku yakin bahwa aku memiliki kemampuan dalam bidang tulis-menulis, dialah orang pertama yang menghargai tulisan-tulisanku, dialah orang pertama yang membuatku berani untuk benar-benar bercita-cita sebagai penulis. Bagiku ini adalah keajaiban. Bahkan ini adalah takdir. Bayangkan, sebelum ini aku tidak pernah membayangkan akan ada orang seperti dia di kolong langit ini. Kami tidak saling kenal, terpisah Laut Jawa yang maha dalam dan bergelombang, tapi begitu bertemu, hanya dengan satu pertemuan kebetulan di gedung I, kita langsung seperti saudara. Luar biasa.
Pembaca yang budiman, sudahkah anda temukan orang yang seperti itu dalam kehidupan anda? Di mana dalam salah satu sakunya terlipat peta kehidupan anda? Segeralah temukan selagi ada kesempatan, karena terkadang kita begitu sering menyadari sesuatu tepat saat semua telah terlambat, atau hampir terlambat dan tak ada lagi waktu untuk berbuat.

4. Vic Zhou dan Aku dan Julianto
Sebelum aku pindah ke Jawa, selama bulan Ramadhan di salah satu stasiun televisi swasta nasional ditayangkan drama Asia MARS yang dibintangi oleh Vic ‘F4’ Zhou dan gadis imut lugu nan ayu Barbie Hsu. Aku tidak bisa bohong bahwa aku sangat suka drama itu. Jalan cerita yang menegangkan dijalin dengan kiah-kisah romantis—walau absurd—ditambah lagi dengan karakter tokoh-tokohnya yang unik dan memenasarankan, menjadi alasan mengapa aku tergila-gila pada serial Taiwan tersebut. Tapi, sebenarnya ada satu hal yang amat berkesan dalam memoriku hingga hari ini berkenaan drama Asia tersebut, suatu kesan yang telah berubah menjadi semacam tumor kerinduan, ingin dilupakan tapi selalu datang, hendak dihilangkan tapi menyakitkan. Kesan itu adalah: jalan menuju kampus Vic Zhou yang kiri kanannya penuh ditumbuhi pohon-pohonan yang tinggi nan rindang. Aku membayangkan, alangkah sejuk dan damainya pikiran jika melintasi jalan itu bersama orang kesayangan, ah, tak terlukiskan. Aku berharap suatu waktu nanti akan menemukan tempat seperti itu.
Dan, yang luar biasa adalah, jalan Manunggal sepanjang sekitar lima ratus meter yang melintas di depan kampusku ini kiri kanannya juga ditumbuhi pohon-pohon yang meskipun amat tak sebagus dan serindang di Mars, namun cukup mampu untuk melahirkan sensasi damai itu. Aku, Mbak Firoh, juga David, dengan suatu keberuntungan yang luar biasa berada dalam satu kelas yang sama, kelas 2005 C. Maka, begitu selesai kuliah kami beserta teman-teman 2005 C lainnya yang rumahnya di timur kota Tuban serta tidak membawa sepeda motor, berjalan bergerombol ke Utara menyusuri trotoar rusak berlobang dan patah-patah, dinaungi pohonan tak rindang, disemprot asap hitam pekat dari knalpot bobrok truk-truk jompo yang melintasi jalan Manunggal. Perlu aku tulis, tak ada truk yang melintas di jalan menuju kampusnya Vic Zhou dalam serial Mars. Dan setiap kali menyusuri jalan Manunggal itu dengan teman-temanku gerombolan 2005 C, aku merasa tiba-tiba berubah menjadi Vic si cute yang dengan penuh pesona berjalan ditemani Barbie Hsu si ayu. Hanya saja dalam kasus ini, yang memerankan posisi Barbi Hsu adalah si Kampret.
.Tiap kali pulang, bergerombol menyusuri jalan manunggal, dengan pohon-pohon disisi jalan, aku membayangkan jika ini adalah salah satu adegan dari sekian banyak adegan hebat MARS. Dan aku adalah Vic Zhou nya! Aku benar-benar menikmati sensasi ini, bahagia dan bangga luar biasa, dan sebagai representasinya, seulas senyum manis aku haturkan untuk alam semesta. Ahhhhh…. luar biasa jalan Manuggal ini. Walaupun aku berjalan tidak bersama seorang Barbie Hsu tapi dengan seorang pria malang yang kesurupan jin dari Inggris dan sewaktu kecil punya tabiat seperti kuda—suka berlari tanpa henti, dan entah dukun nyentrik mana yang menyarankan orang tuanya agar menamainya Eko Khoirul David Julianto, tapi aku puas, sangat puas sekali. Sahabat-sahabatku itu adalah orang-orang yang sempurna dalam spesiesnya masing-masing. Mereka adalah kekayaan alam ciptaan Tuhan yang bisa membuat jiwamu makin dewasa, makin indah, makin tegar. Syukur Tuhan atas semua anugerah-Mu.

Begitu pula tiap kali masuk kelas, senantiasa aku merasa merinding bulu-bulu kudukku saat menapak koridor, terpukau melihat ruang kelasku yang luas itu ternyata hanya memiliki satu buah meja—meja untuk dosen. Sedangkan bagi kami para mahasiswa, telah tersedia kursi yang dengan suatu rancangan yang unik dan berani telah tertempel meja di sisi kananya, luar biasa! Belum pernah kutemukan yang seperti itu di Bawean. Meja dan kursi dikutuk menjadi satu oleh sang tukang kayu. Aku tak bisa membayangkan, alangkah sulitnya anak kidal yang kebagian kursi plus meja kutukan seperti ini. Mendapati semua itu, rasanya aku masih tidak percaya bahwa sekarang aku adalah mahasiswa.

Di antara anak perempuan teman-teman ku, ada satu yang mengagumkan. Dia tidak memakai baju ketat seperti yang lainnya, atau celana, tapi tubuhnya aman dengan perlindungan jilbab anggun yang dikenakannya. Wajahnya menyiratkan kematangan jiwa dan kedewasaan, kata-katanya tegas dan sorot matanya menundukkan. Dia wanita yang jika bicara mengangkat kepalanya tegak dan menggerakkannya sedikit, kalimatnya padat dengan pilihan kata yang membuatmu harus cermat untuk menjawabnya, karena sepertinya dia akan menghantam tiap kata yang salah terucap dari lidahmu, jika tertawa dia menutupi mulutnya, menambah kewibawaan yang memendar darinya. Walau demikian, wanita itu punya nama panggilan yang aneh, mengingatkanku pada salah satu temanku yang jadi bulan-bulanan dulu waktu Aliyah. Nama wanita itu adalah: Icang. Tapi aku ternyata kurang jeli, pemilik nama itu rupa-rupanya adalah seorang yang kejam, setelah perkenalan pertamaku dengannya—yang sebenarnya telah membuatku makin mengagumiya, interaksi selanjutnya mendadak berubah menjadi suatu terror yang tak kenal ampun. Aku merasa eksistensiku terancam setiap kali dekat-dekat dengannya. Hebatnya, saat itu Kampret juga merasakan nuansa terror yang sama pada Icang, kami berdua terteror oleh keberadaan sosok anggun beraura nan misterius itu. Maka mulailah saat itu kami menganggapnya sebagai tokoh antagonist dalam kelas kami, kelas 2005 C. kami merasa bahwa Icang ini tak akan pernah setuju dengan gagasan-gagsan yang mungkin akan kami keluarkan, dan tidak akan pernah mau dekat dengan pria-pria kumal dan butut seperti kami. Kami merasa bahwa Icang adalah suatu representasi dari segala pertentangan yang akan menghadang kami. Dia adalah antithesa kami. Dan anehnya, entah bagaimana kami agak-agak takut kalau ada dia.
David selalu tergila-gila mengajak teman-teman untuk senantiasa berkomunikasi dengan sesama mahasiswa bahasa inggris dengan memakai bahasa inggris, tapi dia akan jadi kikuk dan tampak tolol jika sekonyong-konyog Icang datang sambil melemparkan lirikan mata elang padanya dan menjatuhkan mentalnya. Dia wanita bermata pisau. Icang ini seakan tengah menggerus semangat belajar kami.
Kala itu, kami sepakat untuk bertahan melawan aura jahatnya. Dan, kala itu juga, kami tidak tahu bawa putaran nasib bisa sangat aneh, sangat mengejutkan dan kadang tak masuk akal. Kami kala itu tidak sadar bahwa cerita dengan Icang akan berbuntut panjang, menjadi salah satu kisah terbaik yang pernah kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, dan bahwa dia adalah bagian yang mengagumkan dari sejarah kami. Kami tidak tahu itu. Dari suatu keadaan di mana perang psikologi tengah dilancarkan berubah menjadi kasih saying yang amat dalam. Siapa yang berani menduga—bahkan membayangkan saja tidak sanggup rasanya—jika pada akhirnya justru Icang ini akan menjadi kekasih sehidup semati sahabatku Eko Khairul Kampret Julianto?

5. Introducing Aurora
Jalan Manunggal ini tak pernah sepi. Segala jenis kendaraan bermotor melintas di punggungnya yang mulai renta. Yang paling menyebalkan adalah truk-truk raksasa tak tahu malu. Jika salah satu dari truk-truk itu ada yang melintas di salah satu jalan di kota Paris, pasti sopirnya akan dihukum gantung oleh walikota kota Paris. Asap hitam pekat merusak paru-paru disemburkan dengan sombong dari knalpot karatnya. Tapi kami tak ambil perduli. Sepanjang jalan kami bercanda, menggoda, tertawa, dan terbatuk-batuk karena asap. Hima dan Lina, ratu-ratu kecantikan dari Republik Terasi, senantiasa tersenyum dan tertawa dengan cara yang memikat hati. Awalnya aku tidak percaya mereka berasal dari suatu keluarga yang telah turun temurun beroprasi dalam jaringan sindikat pengedar sekaligus produsen terasi karena suatu alasan sederhana, mereka sama sekali tidak memiliki cita rasa keterasian dalam setiap penampilannya, bahkan sekedar bau terasipun tidak tercium dari baju mereka! Hal ini sangat bertolak belakang dengan ku. Baru beberapa bulan bergelimang manyung, sudah tampak seperti orang yang dengan suatu kesialan tertentu telah dilahirkan oleh ibunya di dalam gudang manyung paling bejat di dunia dan dengan suatu kenestapaan tertentu pula, tampak seperti orang yang akan tamat riwayat hidupnya di antara mayat para manyung pula. Dengan mengagumkan aku telah berevolusi dari suatu jenis anak pulau yang introvert dan kurang gaul dan tidak keren sama sekali menjadi pemuda dengan kepercayadirian yang meluap-luap dengan suatu aroma amis ikan manyung yang senantiasa terhembus dari sekujur badannya. Dengan kata lain, aku telah menjadi seorang pemuda bau amis yang tak tahu diri! Tapi kawan, kita lihat saja nanti apa yang akan dibuat oleh pemuda amis ini.
Di dalam kelas, selalu duduk disebelah Hima, si anggun Chloe Sullivan; ya, jika kau nonton Smallville, kau tahu siapa itu Chloe Sullivan. Di sini, di kelas ini, juga ada Chloe Sullivan. Tak peduli jika kau sangat tidak setuju dengan pernyataanku tapi setidaknya mataku yang menderita minus parah ini menyatakan betapa miripnya temanku itu dengan Chloe Sullivan. Siapakah wanita itu? tentu saja tak lain tak bukan adalah Lina, mutiara di dalam lautan terasi, partner setia si Hima, yang tiap kali pulang kuliah akan mengatakan, ‘Aroma, wartel Aroma’ pada kernet saat mau berhenti. Maka jadilah kami menyebut gang rumahnya itu dengan sebutan “Aroma Therasy”. Dan lebih dari apapun itu, ada cinta yang tak sampai buatnya. It’s another sad story of my life.
Saat menyusuri jalan Manunggal, selalu berjalan di depan barisan, Diana dan Firoh. Diana tetangga satu desa kami. Dia di anugerahi Tuhan dengan suara emas yang luar biasa merdunya, menakjubkan. Tiap kali dia menyanyikan cuplikan lagu Christina Aguilera seakan mulutnya itu telah berubah menjadi hi-fi stereo yang melantunkan lagu I Turn To You di suatu pagi yang syahdu. Dia luar biasa, selalu luar biasa. Jika bicara menggunakan bahasa Inggris, kedengarannya indah betul tiap kata yang dilafalkannya, walau aku ragu entah benar atau salah pronunciationnya, yang jelas, terdengar sangat luar biasa dan indaah di telinga. Tapi ingat, jangan sekali-kali bikin ulah dengannya, karena Diana ini bukanlah sosok yang mau merendahkan suara dan berlembut kata jika bertemu dengan yang tidak berkenan dihatinya. Jika kau lakukan itu, hhhmmmmm…., tunggu saja, tamat riwayatmu kawan.
Habibi dan Halili, duo dari Paciran yang selalu kompak, seperti jalinan kerjasama tukang bakso dan penjual es degan, saling melengkapi dalam tiap aksi. Halili adalah sahabat yang menyenangkan—meskipun dia termasuk orang yang akan sulit ditemukan dalam lingkungan yang remang-remang—karena dia selau rela untuk jadi tumpangan gratis. Saat pulang kuliah, sepeda motor tuanya itu dengan semena-mena dan tanpa peri kesepeda motoran diperas tenaganya oleh kami bertiga—aku, Habibi, dan Halili sendiri. Jika di dunia ini ada kelompok perlindungan hak-hak sepeda motor untuk berkehidupan yang layak, kami pastilah akan menjadi orang-orang yang menempati urutan pertama daftar para terdakwa pemerkosaan hak sepeda motor tua. Di kemudian hari, Halili punya nama special yang lumayan mendirikan bulu roma: Krackok, ya, kami memanggilnya Krackok, entah apa musababnya. Sebagaimana yang terjadi pada tiap-tiap julukan, tidak ada satupun yang mengingat mengapa dan sejak kapan teman berkulit gelap itu mendapatkan julukan sedemikian rupa—julukan yang mengingatkan orang pada buaya: croc! Tapi satu hal yang tidak mungkin kukatakan pada siapapun bahwa akulah sebenarnya yang mengawali penjulukan itu. Ini rahasiaku, dan tak seorang boleh tahu meski merayu, tidak juga kau! Dan Habibi, ini dia pria jangkung dengan bakat melukis yang mengagumkan. Pertama aku datang ke rumahnya, aku terkagum-kagum melihat jejeran kaligrafi buatannya, dengan media kaca dan tentunya dilukis dengan terbalik. Seandainya dia mau menjajakannya ke rumah-rumah seperti para pedagang kaligrafi keliling yang banyak ditemui di tempatku, mungkin sekarang dia sudah menjadi pelukis sekaligus pedagang yang terkenal, kalau bukan yang frustasi dengan banyak lukisan bertumpukan. Habibi ini kulitnya putih, banyak yang berkata jika dia itu tampan, kecuali aku! Karena mereka tidak pernah melihat apa yang pernah kulihat tentang pria ini. Suatu ketika, saat berkunjung ke rumah David, kami menyusuri jalan yang gelap dan mendaki. Tidak ada lampu sepanjang jalan yang sepi itu, nah, dalam kegelapan itulah, si Habibi tampak seperti seorang kakek-kakek jangkung yang menyeramkan. Maka dari itu, aku tidak setuju dengan teman-temanku yang mengatakan dia tampan.

Ada yang aneh mengenai kami—aku, David, Fuadin, dan Habibi ini. Kami saling memanggil dengan satu sebutan, KROBOK. Sebenarnya Habibilah yang memiliki hak paten untuk dipanggil Krobok. Seperti yang selalu kulakukan. Dan tahukah engkau, warna ketiga dari aurora itu adalah si krobok ini. Dialah pria yang kisah hidupnya lebih aneh dari komik. Absurd, tapi benar-benar nyata. Dia telah berkali-kali menceritakan kisah yang belum juga selesai dalam kehidupannya itu, tapi berkali-kali pula aku berkata, ‘wah, mustahil!’ Sangat sulit bagiku untuk percaya, tapi jelas aku tak bisa menolak fakta yang diajukannya. Itu adalah bukti konkrit.
Dan kami, David dan aku, di ekor gerombolan ajaib ini, seperti orang gila tiada jeda speaking English. Selalu bicara dalam bahasa inggris, tiada putus-putus, tiada pause, tiada bosan, begitu terus sepanjang jalan. Saat nunggu angkot, saat duduk dalam angkot, saat keluar dari angkot, kita selalu berkomunikasi dengan bahasa inggris. Aku dan david seperti radio dan baterainya, jika disatukan, maka suara-suara hebat itu akan meluncur dengan deras tanpa diminta. Aku tak tahu apakah orang di sekitar kami tersiksa oleh kamiatau tidak, tapi yang jelas, beginilah seharusnya mahasiswa bahasa inggris dalam persepsi kami. Aku, Firoh, Diana, Krobok, Kampret, Krackok, Hima dan Lina sang Chloe Sullivan yang spesial, adalah gerombolan dari kelas 2005 C yang rumahnya di Timur dan menyusuri jalan Manunggal saat pulang kuliah. Mari kuperkenalkan sekarang dengan teman-temanku yang lain, yang rumahnya terpencar di pelosok-pelosok bumi lainnya.

Yang paling mengagumkan dari semua ini, bahkan lebih hebat lagi dibandingkan dengan film Kuch Kuch Hota Hai yang meledak itu, adalah bagaimana kami semua telah terkumpul dalam satu kelas ini, bagaimana kita telah dipersekongkolkan oleh Tuhan dalam kelas C yang bagiku penuh dengan kejutan-kejutan tak terduga. Kami sama sekali tidak menyadarinya ketika tangan-tangan Tuhan menjalin benang-benang hidup kami yang awalnya terbentang sendiri-sendiri berubah menjadi satu anyaman indah. Dengan tanpa sadar, sebenarnya, tahun-tahun kuliah ini telah membuat kami dekat satu sama lain. Sebagian telah kumasuki rumahnya, melangkahi pintu masuk kamarnya, minum dari gelasnya, dan makan nasi dari piringnya. Alangkah luar biasanya semua ini. Apa bisa kau bayangkan betapa telah dengan hebatnya Allah mempertemukan kita semua?
Maka mulailah engkau perhatikan semua sahabat-sahabatmu, temukan keunikan mereka, banggakan mereka, cintai mereka, dan berharaplah supaya mereka sakit agar kau punya kesempatan untuk menunjukkan bahwa kau peduli padanya. Karena bukankah sering kali kita hanya peduli pada teman kita ketika mereka jatuh sakit?

Tak pernah sebelumnya kubayangkan di dunia ini akan ada orang yang bernama Cik Inturni, sebuah nama yang sejak tiga bulan pertama mengetahuinya membuatku tak pernah berhenti terkekek-kekek. Cin Inturni? Chick in Turning? Chicken Turning? Atau Kanang, sebuah nama yang memaksaku untuk ingat Mansyur S, saat dia dengan wajah melas melantunkan lagu “Kana, Kana, kaulah gadis impian “. Betapa miripnya Kanang dengan Kana! Atau Sholah, si wajah kotak seperti sabun lifebuoy, dengan jenggotnya yang berserakan membuat wajah kubusnya seperti lapangan sepak bola denagn rumput liar tumbuh di sana-sini. Karena tubuhnya yang gede gempal seperti The Hulk, akhirnya kami memanggilnya DANRAMIL! Si Keamanan Kelas. Aku masih ingat betapa pak Gatot tertawa saat mengetahui nama barunya itu. Bayangkan, pernah kau berpikir bertemu dengan orang-orang seperti itu? Bertemu dengan Kholis yang jika bicara maka alat bunyinya itu bisa bergerak sangat cepat memberondongkan kata-kata seperti senapan mesin otomatis paling canggih yang mampu menembakkan 5000 butir peluru dalam satu detik? Atau bertemu dengan Pukadin yang hampir gila mencintai Liverpool, bahkan suatu malam dia pernah bermimpi berkunjung ke Anfield Stadium, markas football club tersebut. Uniknya, aku yang tidak ada sangkut pautnya dengan Liverpool malah ikut muncul dalam mimpi gilanya itu. Kami berlari sambil memekik-mekik histeris di jalanan lengang menuju pintu masuknya. Dan juga Isti’ah, gadis Rembang yang sedari pertama kuliah pernah kuminta memakai jilbab dan pada akhirnya diapun mengenakan pakaian sempurna itu, hingga jadilah dia bidadarinya kelas kami. Namun dia ini pelitnya bukan main soal ujian, tidak bisa kau main contek dengan wanita yang satu ini. Jika kau mau coba-coba, dia akan membinasakan dirimu. Pernah suatu ketika, karena saking jengkelnya aku punya niat untuk mendatangi kosnya di suatu malam berangin dan gelap mencekam. membuka jendelanya pelan-pelan, kemudian dengan sigap menyekap tubuh kecilnya, menggotongnya keluar di bawah bayangan bulan muram, mengikatnya di kursi tua dalam sebuah gudang bobrok tak jauh dari situ, dan mulailah aku beraksi, mempreteli satu persatu jawaban PR Semantic yang sulitnya amit-amit. Hanya saja rencana itu tak pernah terlaksana, aku selalu ketiduran sebelum pukul setengah sepuluh malam, saat di mana kosnya lumayan sepi.
Tapi tentu tak seheboh Amar, bujangan asal Slawe yang entah apa alasannya Tuhan memberinya wajah mirip Hrithik Roshan habis dihajar begundal kota Mumbay. Di awal kuliah, dia adalah penjahat yang suka menjawili para cewek, sehingga mengundang kemarahan teman-teman. Tangannya itu seperti besi sedangkan magnetnya adalah mahasiswi-mahasiswi itu. Senantiasa tersedot utuk jowal-jawil. Suatu hari, kami mendapat kabar Amar ini meninggal dunia—dua hari sebelumnya dia jatuh dari sepeda motor. Sontak kami semua terkejut bukan main, panik, tercekam kehilangan dan kesedihan. Kami merasa itulah hari yang paling mendung pada musim kemarau itu. Lina segera mengambil HPnya, memandangi foto amar sambil menitikkan air mata. Riris menelponi teman-teman, termasuk aku, hanya untuk menguatkan dirinya yang benar-benar tergoncang oleh berita mengejutkan tersebut. Kamipun saling menghubungi satu sama lain untuk memastikan kabar tersebut dan merencanakan kapan akan menziarahinya. Dan tiba-tiba, datang sebuah berita tak diduga lainnya bahwa si Hritik Roshan gadungan ini masih hidup, masih bernyawa bahkan masih doyan ketawa. Dengan kecepatan yang luar biasa, segala kepanikan dan kesedihan yang meracuni kami menghilang, menguap dan diganti dengan selaut kemarahan, siapa orang lancang yang tega-teganya membuat isu jahat seperti itu? Tiap kali teringat peristiwa itu, aku merasa ngilu di ulu hati. Alangkah menyakitkan dan menakutkan kemarahan mereka. Aku, jika bisa, ingin rasanya menghapus memori tentang peristiwa itu dari kenangan kami semua. Tiap kali ada yang mencoba menyinggung peristiwa itu, aku selalu mencoba menghindar, karena sebenarnya, akulah yang membuat isu kematian konyol itu—dan aku pula yang menjadi sasaran kemarahan. Betapa gilanya aku hari itu, entah setan stress dari Negara miskin mana yang merasukiku sampai-sampai nekad bikin isu kematian!
Istianah, pernah kau pikir akan bertemu wanita seperti itu? Yang setiap berbicara tampak tersipu malu, selalu malu, dia kijang paling pemalu yang pernah kutemui di UNIROW ini. Dia juga pernah meminjamiku novel berjudul “Uncle Tom’s Cabin”, novel perjuangan negro Amerika melawan kejahatan rasisme. Novel yang membuatku terharu dan berkaca-kaca. Ada juga Riris, orang yang di semester pertama kami nobatkan sebagai gadis paling ayu dikelas kami tapi akhirnya kita semua (para cowok) harus gigit jari, karena orang lain telah keburu mendapatkannya. Yang membuatku heran, apakah semua orang yang bernama Riris adalah orang yang menawan?
Ada pula Bidayanti, yang seluruh saudaranya bernama hampir sama: Bidayana, Budiyanto, atau jika ada lagi tentu akan bernama Bedanyata. Dan Mbak Ifa, Mbak Lina, kemudian Mbak Zizah, mereka harus aku panggil mbak karena merekalah yang pertama kali berkeluarga. Padahal awalnya aku berpikir bahwa aku yang mungkin pertama kali pensiun dari masa lajang, ternyata tidak. Dan tentang mengapa aku tidak kunjung menikah aku belum berani untuk melakukan analisa SWOT.

6. Yang Berjuang Dan Yang Diperjuangkan Serta Yang Tak Beruang
Kemudian, baru aku tahu jika hampir semua teman-temanku juga berjuang mati-matian untuk bisa meneruskan pendidikan tingginya. Aku yang awalnya mengira perjuanganku sudah sangat heroic untuk bisa ke kampus ini, terasa hambar jika dibandingkan dengan bagaimana teman-temanku yang lain melakukan perjuangannya demi pendidikan.
Si cantik Riris, begitu dia lulus dari SMA tidak langsung kuliah, tapi berhenti salama satu tahun bekerja untuk mengumpulkan biaya. Dengan bantuan Oomnya, dia bekerja di sebuah perusahaan garment dekat rumahnya. Selama satu tahun itu hidupnya tertumpah di atas mesin jahit yang bising mendesis bunyinya. Pagi hari, setelah beres-beres rumah, dia harus segera sudah sedang duduk di kursi, mencangkukkan punggung di atas mesin jahit, mengayuh pijakan mesin dan dengan ketelitian tingkat tinggi menjahit taplak meja atau pakaian. Ini bukan pekerjaan mudah. Mengayuh mesin jahit tua bandel bisa membuat kaki kita mengejang dan otot-otot menegang, menciptakan suatu kram yang menyengat. Belum lagi kram di pantat akibat terlalu lama diam tak bergerak. Duduk selama hampir dua belas jam penuh dengan punggung terlipat dan mata melotot pada sebatang jarum yang naik turun dengan kecepatan super serta kaki tak henti mengayuh pijakan yang berat bukanlah pilihan yang menyenangkan. Aku sendiri khawatir Riris ini akan bungkuk beberapa tahun lebih awal. Namun demikian, dia adalah seorang pekerja keras, gadis dengan tekad baja dan tak ingin memasrah. Semenjak semester pertama kuliah, bahkan semenjak pendaftaran kuliah, Riris menggunakan uangnya sendiri untuk semua keperluan kuliah. Suatu ketika dalam angkot saat pulang bareng, Riris berkata lirih padaku, “jika semua uangku untuk kuliah ini kukumpulkan, pasti aku sudah punya sepeda motor sekarang. Tapi untuk apa sepeda motor? Memiliki ilmu jauh lebih berarti dari sekedar sepeda motor.” Renungkan, betapa dia gigihnya memperjuangkan semua ini. Sepeda motor yang bagi masyarakat kami merupakan barang ajaib yang bisa mengerek gengsi, tidak ada artinya sama sekali bagi Riris. Dia sungguh bersyukur demi bisa meneruskan kuliah. Aku kagum padanya, tapi juga agak kecewa, bagaimana bisa dia tidak sadar betapa beruntungnya dia telah bertemu denganku? Padahal aku sering merepotkannya, minta dibelikan jajan, minta ditraktir bakso, ngerjain sampai kejang-kejang, bagaimana bisa dia tidak bersyukur telah bertemu aku? Dan aku sangat terkejut mengetahui bahwa semua slip pembayaran yang dia keluarkan semenjak pendaftaran sampai semester akhir tersimpan rapi di lemarinya, buat kenang-kenangan, katanya. Kini, tahulah sudah aku kenapa kadang di matanya—di bawah matanya, ada kantong hitam menggelantung.
Sama dengan Riris, Bidayanti pun harus berhenti beberapa tahun setelah lulus sekolah sebelum melanjutkan kuliah—jadi itu jawaban kenapa dia tampak lebih tua dari kami semua? Hoaaa!! Yanti bekerja menjadi TU di bekas sekolahnya, mengurusi pendaftaran siswa baru, inventarisasi, administrasi, dan banyak lagi lainnya. Sialnya, kepala sekolahnya bukanlah tipe kepala sekolah yang mau menarik nafas simpati ketika melihat bawahannya pontang-panting mengerjakan tugasnya, atau mau memberi kelonggaran mengetahui bawahannya punya tanggung jawab yang lain—dalam hal ini, kenyataan bahwa Yanti kuliah. Sang kepala sekolah tetap membebaninya dengan tugas-tugas yang pastinya sangat menjengkelkan: angka-angka, nama-nama, nomor urut, administrasi, keuangan, dan seterusnya dan seterusnya. Bahkan saat dia sedang KKN (Kuliah Kerja Nyata), kepala sekolah teladan dalam bidang ketidaktoleransian itu memberinya perintah untuk tetap masuk kerja. Selama waktu KKN itu, kecuali hari libur, Bidayanti harus bolak-balik dari tempat KKN ke sekolahnya menempuh jarak tak kurang dari 50 km. Lebih parahnya lagi, karena tentu saja dengan keadaan seperti itu Yanti tidak bisa bekerja optimal, hal itu dijadikan bahan gunjingan oleh sang kepala sekolah. setelah KKN, salah seorang rekannya mengatakan hal ini pada Yanti. Sungguh atasan yang menyenangkan. Aku tak habis pikir, bagaimana caranya Yanti mengatasi hal itu? Bagaimana caranya dia tetap bisa menyelesaikan semuanya pada waktunya? Bagaimana dia menjaga kesehatannya—Yanti ini orangnya super kurus, jika ada Bantuan Daging Langsung Tunai untuk mahasiswa, dia harus menempati urutan pertama—yang rawan itu? Tidak bisa kubayangkan jika itu adalah aku, pasti dengan penuh hormat aku akan menemui kepala sekolah, menyapanya riang, lalu membisikinya dengan lembut: “Ehm ehm, saya sanggup bekerja sampai pukul 11 malam kalau bapak berkenan.” Tapi Yanti orang yang cerdas, dia tidak melakukan itu karena tahu kepala sekolahnya akan dengan girang dan tanpa ampun lagi mengiyakan lelucon berbahaya tersebut. Dan begitulah, Yanti senantiasa ada bersemangat walau kadang juga lelah lagi payah, tapi dia senantiasa punya harapan dan tekad. Dia telah bertahan sejauh ini di bawah tekanan hanya agar bisa kuliah, dengan uangnya sendiri! Wajahnya jadi putih pucat karena kelamaan di depan komputer—atau mungkin karena bedak yang banyak? Entahlah, itu urusan cewek.
Istiah, tiga semester awal dia masih bergantung pada kiriman uang dari rumah. Menginjak semester ke empat, sesuatu mengubah pikirannya, dia bertekad untuk berhenti hidup tergantung, mulailah dia bekerja untuk mencukupi semua kebutuhannya di Tuban. Pertama kali, Istiah bekerja di sebuah pabrik pupuk, di bagian pengemasan. Dari pagi sampai pukul satu siang dia bergelut dengan pupuk. Kemudian pulang ke kos, dan setengah dua sudah harus berangkat kuliah. Istiah yang memang kurus dari awal—pembaca yang budiman, maaf karena aku tidak bisa mengatakan padamu apakah dia kurus karena memang keturunan atau karena kurang makan, semoga bukan karena banyak pikiran—jadi tambah kurus karena jadwal manggung yang demikian padat. Beberapa bulan kemudian, dia berhasil mendapatkan pekerjaan baru, jadi guru di sebuah TK Islam di pinggir kota. Hebat bukan, mahasiswa yang tadinya pengangguran, jadi buruh pabrik pupuk, kemudian jadi guru TK. Begitu pula si jangkung Pukadin. Selain bekerja di gudang pengolahan kepiting, dia juga harus ikut melaut untuk bisa membantu orang tuanya membiayai kuliahnya. menginjak semester tiga, ketika keadaan uang keluarga sedang payah, Pukadin ambil cuti satu semester untuk bekerja di sebuah pabrik ubur-ubur di Pulau Dewa, Nusa Tenggara Barat. Pulau Dewa adalah sebuah pulau kecil terpencil tanpa sumber air tawar. Pulau itu sebenarnya lebih tepat dijadikan tempat penangkaran Tyrannosaurus Rex dari pada sebagai tempat manusia. Panasnya luar biasa. Sepulangnya dari sana, dia bercerita betapa susahnya bekerja di situ. Tinggal di pulau terpencil yang terputus dari peradaban umat manusia, satu-satunya hiburan yang bisa dinikmati Pukadin hanyalah menyanyikan lagu yang dihapalnya sebanyak 23 kali sehari. Dan lagu itu selalu sama, lagu rindu gubahan Tomy J. Pisa, di batas kota ini…di batas pulau ini… Ketika kerinduan akan kampong halaman mulai menyerang, Pukadin diam-diam mengendap pergi dari pabrik, duduk menyendiri di pantai pasir putih tak bernama, menatap matahari yang turun perlahan keufuk, merasakan kesepian yang dalam, dan bau badan yang muncul akibat beberapa hari tidak mandi. Namun demikian, di semester akhir perkuliahannya keberuntungan datang memerangkapnya. Dengan suatu kombinasi antara kebetulan yang unik dan nasib baik yang luar biasa, dia berubah menjadi guru SD Negeri dengan gaji yang pastinya membuat pria normal jadi pengen cepat-cepat nikah—tapi ini bukan berarti Pukadin pria tidak normal karena sampai sekarang dia belum juga menikah. Satu-satunya masalah adalah kenyataan bahwa dia masih belum juga bertemu jodohnya, atau lebih tepatnya, belum bertemu korbannya.
Begitu pula teman-teman yang lain, mereka semua harus berjuang untuk bisa terus kuliah. Kanang merangkap sebagai petani di sawah sekaligus guru di Madrasah untuk membiayai sekolah. Si Amar juga. Hima dan Lina melibatkan diri secara langsung dalam jaringan sindikat pengedar dan produsen terasi milik keluarganya. Mereka pekerja yang ulet, dengan itu mereka membiayai kuliahnya. Habibi jadi penjaga konter pulsa, kemudian ganti jadi penjaga warnet. Profesi sebagai penjaga warnet sepertinya profesi yang paling dicintainya dari semua yang pernah dia geluti, bahkan lebih dia suka dari membuat kaligrafi atau komik. Dia sanggup bertahan di warnetnya ini sampai pukul tiga pagi, padahal jam tutupnya pukul sembilan malam. Halili membantu ayahnya bekerja di tempat isi ulang air minum kemasan. dengan telaten dia mengurusi perusahaan yang mulai merangkak pada keruntuhan. pembayaran yang tidak lancer, gallon menghilang, dan saingan yang bermunculan. pada semester ke lima dia melamar kerja jadi TU di MTs, dan jadilah dia sampai sekarang bekerja sebagai TU, meninggalkan perusahaan air minum yang kini mendekati tarikan nafas terakhirnya. Allah telah menyelamatkannya tepat di saat-saat yang paling menentukan.
Namun demikian, tidak semua orang perjuangannya seheroik yang lain. Ada juga yang bertahan sebagai pengangguran—tak perlulah aku sebutkan Kampret dan Solahudin menempati posisi ini, kita harus menjaga kekurangan sahabat-sahabat kita bukan? Kampret ini pernah bekerja di los dekat desanya, tapi kemudian berhenti. Jika alasan berhentinya ini karena kehabisan modal, aku bisa memakluminya. Karena bagaimana mungkin dia akan menawar ikan dari nelayan jika saat menawar dia berkata begini: “How much is it, Mr. Fisherman? How much? Hooowwww mmmuuuuccchhh…?” Yang kami hadapi sebenarnya bukanlah masalah dengan diri kami sendiri, tapi kesempatan yang begitu sedikitnya tersaji. Ratusan orang merebutkan sebuah peluang, jika seorang telah mendapatkan, ratusan lainnya pun tergelimpang dan menjadi pengangguran. Belakangan, Kampret mulai beranjak menjadi seorang blogger kesetanan paling parah sekampus. Tiada waktu yang tidak dia lewatkan tanpa mengutak-atik blognya melalui HP bututnya—jika di dunia ini ada kelompok perlindungan hak-hak HP butut untuk diperlakukan dengan layak, dia pastilah akan menjadi orang yang menempati urutan pertama daftar para terdakwa pemerkosaan hak asasi HP butut. Dengan gigih Kampret merintis apa yang disebutnya sebagai mobile blogging—dan ternyata kemudian dia temukan jika bukan dia seorang yang menggarap proyek tersebut, ini membuatnya bertekad untuk menjadi yang pertama muncul di search engine Google jika ada yang mencari tentang mobile blogging. Terakhir, dengan seluruh kerja kerasnya yang tiada henti untuk mengoptimalkan blognya, blognya itu berhasil masuk sand box google, artinya, alih-alih blognya muncul yang pertama di search engine malah dia dipenjara dan postingan barunya tidak bisa muncul di google, terkucil dari masyarakat internet yang penuh kompetisi. Menyedihkan.
Dan aku? Oh Tuhan, pasti selalu menarik membicarakan apa yang menimpaku. Selain di gudang manyung, aku juga berusaha merintis bisnis pulsa berjalan; karena tidak punya konter, maka tubuhku mengambil peran sebagai penjual sekaligus konternya, jadilah mobile konter. Kemana-mana membawa daftar harga pulsa dan pertanyaan pertama yang dilontarkan pada siapapun yang berkenalan denganku adalah: “Apa kartumu? Kalau butuh pulsa kamu tidak perlu repot-repot, aku ada untuk melayanimu.”
Awalnya bisnis modern ini baik-baik saja, proses perputaran uang lancar dan profit yang didapatkanpun lumayan. Tapi, entah menginjak bulan ke berapa, atau minggu ke berapa, masalah mulai datang. Pelangganku lebih banyak yang membayar kata-kata dari pada membayar dengan rupiah, belum lagi deposito pulsa tersebut juga turut hilang untuk konsumsi pribadi. Ini dia konter yang makan pulsa. Akibatnya, bisnis macet dan kemudian gulung tikar sampai kelantai-lantainya sekalian. Dua kali aku mengulangi bisnis ini sebelum kemudin memutuskan tobat berbisnis pulsa.
Tepat tanggal 27 April 2007 aku berhenti bekerja di gudang manyung yang penuh kenangan itu, aku berhenti bergumul dari pukul lima pagi sampai lima sore dengan para mayat manyung yang baunya sungguh mematikan. Sebagai gantinya, aku pindah ke Tuban dan bekerja di penjilidan skripsi, memberi les privat, mejaga konter beneran, hampir saja jadi tukang cuci mobil dan truk, bergabung dengan lembaga kursus, dan terakhir, menjadi penjaga mushola. Sungguh luar biasa. Aku meninggalakan profesi kuli jambal karena di semester tiga aku kos di Tuban, dan mulailah petualangan kerja tadi.

Mendapati kenyataan ini, aku terpesona akan kegigihan sahabat-sahabatku dalam memperjuangkan kuliah mereka. Mereka punya keinginan, meyakininya, lalu memperj-uangkannya sekaligus mempertahankannya. Mereka berjuang demi tercapainya cita-cita, dan itu bukanlah perjuangan yang bisa begitu saja dipandang sebelah mata. Ini masa-masa yang berat tapi sarat akan hikmah. Apa yang dicapai oleh kami sejauh ini membuatku yakin jika tidak ada cita-cita yang mustahil jika kita yakin dan memperjuangkannya. Semua orang bisa menaklukkan tantangan kehidupannya, asal dia benar-benar berusaha. Banyak oang yang selalu khawatir untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, mereka dibayang-bayangi oleh sulitnya keuangan. Padahal jika mreka mau menyadari, di dunia ini tidak ada yang tidak kesulitan soal finansial. Yang membedakan orang-orang seperti itu dengan kami adalah, kami memiliki impian dan berjuang untuk mewujudkannya sedangkan mereka cukup hanya mempunyai impian tapi kemudian memasung dirinya pada apa yang nampak di depan mata, tak punya visi, tak punya semangat berubah atau cita-cita yang menyala. Mereka pasrah pada opini menyesatkan yang bergentayang dalam masyarakatnya sehingga merasa jalan perubahan itu alangkah mustahilnya untuk ditempuh. Padahal tidak semustahil itu.
Para aurora telah membuktikannya, mereka bercita-cita untuk bisa menyelesaikan program sarjana dan mereka berjuang untuk merealisasikannya. Dan terbukti, mereka melakukannya dengan mengagumkan. Tuhan telah menetapkan jatah rizki masing-masing manusia, jatah yang mencukupi untuk masa hidupnya beserta segala keperluannya. Pertanyaannya, siapa yang paling gigih menjemput jatah tersebut? Para aurora adalah keajaiban bagiku. Ini adalah persahabatan yang mengubah, bukan hanya mengubah pergaulan tapi juga cara bagaimana menyikapi dunia. Ini persahabatan yang mengajarkan kedewasaan—meski mungkin untuk mata pelajaran yang satu ini aku agak telat.

Jika ada yang bertanya apa cita-citaku, aku telah punya jawabannya. Dan aku sangat yakin. Itu adalah pertanyaan yang jawabannya telah kupersiapkan bertahun yang lalu, sedari aku kelas enam madrasah, semenjak anak tetanggaku yang baru berumur satu tahun belum bisa menulis, semenjak jembatan suramadu belum ada apa-apanya. Jawabannya, cita-citaku adalah…menjadi penulis. Ya, menjadi penulis. Dan untuk itu aku akan terus berjuang sampai dunia tahu jika aku penulis yang tidak mungkin tidak diperhitungkan. Tidak perduli betapa semua cerpenku senantiasa lolos masuk ke recycle bin redaktur koran-koran dan majalah, betapa semua puisiku tidak ada yang sempat nampang di halaman majalah atau koran manapun, bahkan belum satupun tulisanku yang terpublikasikan—kecuali di bulletin buatanku sendiri—aku tidak perduli. Cita-citaku tidak untuk dipertimbangkan lebih lama lagi, tapi untuk diperjuangkan sesegera mungkin. Tuhan tidak buta, tapi dia menunggu, sembari melihat seberapa keras hamba-nya telah berusaha. Aku yakin itu. Bukankah persamaan untuk ini bunyinya adalah: besarnya hasil didapatkan setara dengan besarnya usaha yang dikeluarkan?

Epilog
Demikianlah bagaimana aurora tercipta dan bersinar terang, mengindahkan langit kelabu dan memesona siapa saja yang mendongakkan kepala untuk melihatnya. Aurora itu tercipta dari indahnya jalinan ketulusan persahabatan, kerelaan untuk memaafkan tiap kesalahan yang datang, dan kegigihan untuk terus berjuang mewujudkan tiap apa saja yang dianggap oleh kebanyakan orrang sekedar khayalan. Aurora itu membentang memenuhi cakrawala dengan warnanya yang mampu menguatkan mereka yang ada di dalam bersit cahayanya.
Pada akhirnya, semua ini mengacu pada satu pemahaman yang menyenangkan, bahwa persahabatan dan perjuangan adalah dua hal yang kita butuhkan untuk mencapai yang kita cita-citakan. Persahabatan yang indah membantu kita mengahadapi hidup dengan lebih bermakna, memberi semangat, dan menguatkan. Sementara perjuangan demi mencapai apa yang dicita-citakan adalah pintu bagi keberhislan untuk berkunjung ke rumah kita. Tidak bisa kita bayangkan pedihnya menjadi seorang pejuang kesepian, pada siapa dia akan menumpahkan beban? Pada malam bisu lagi gelap di bawah pohon beringin? Bisa-bisa malah kesurupan. Persahabatan dan perjuangan memberi kita energi positif untuk tetap optimis, yakin bahwa semua pasti akan tiba masanya untuk memanen hasilnya. Hanya saja, kadang sering kali kita menidak pentingkan arti persahabatan dan perjuangan. Masihkah itu akan kita lakukan?
Dengan semua sahabat mendukungku, dan tekad yang menempa segala usahaku, aku merasa memiliki kekuatan untuk terus meraih potret-potret masa depan yang kugambarkan di malam-malam menjelang tidur. Dalam tiap keheningan, ada doa yang dihaturkan pada Sang Pengatur kehidupan. Dan pada suatu malam, aku menjadi yakin pada cita-citaku.

Juli ‘09
Catur Amrullah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: