• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

A PICTURE FROM FUTURE (Sebuah Kisah Nyata)

big problemSetiap manusia pasti pernah melakukan suatu kesalahan. Mungkin sekali waktu dia melakukan perbuatan salah yang besar, kadang tidak begitu besar dan mudah saja dilupakan. Tapi, beberapa kesalahan tidak bisa untuk dihapus dari ingatan. Kesalahan seperti ini akan selalu ada, membuntuti pelakunya, mengintai, bagai serigala yang mengincar mangsanya dibalik gelap gulitanya malam. Lantas, bagaimana dengan kesalahan yang terlupakan? Apakah ia menghilang dalam lobang masa lalu? Raib dari dunia begitu saja? Tidak, seperti air yang tidak pernah hilang dari atmosfir bumi, kesalahan itu akan datang kembali. Bisa berupa telpon misterius di tengah malam, atau SMS tanpa nama, atau corat-coret di tembok rumah kita, atau, bisa jadi berupa sebuah surat misterius. Inilah yang terjadi pada kawanku.

Anggap saja namanya Fukad (nama aslinya Muhammad Fuad Shulkhan Tsania, tapi untuk kebaikannya tidak perlu saya sebutkan di sini). Dia sahabat di kampus, sekaligus adik kelasku. Pada suatu pagi, saat aku sedang menggarap proposal di depan computer, sebuah SMS darinya masuk tanpa permisi, dan, di sinilah semuanya dimulai. Fukad menceritakan jiika dia mendapat sebuah surat sekitar dua bulan lalu. Di situ jelas tertulis namanya dengan lengkap, juga alamat rumahnya dengan lengkap pula, hanya saja, tidak ada alamat pengirimnya. Satu-satunya petunjuk mengenai si pengirim surat adalah, cap pos pada perangko berangka tahun 2003 itu adalah cap pos Purwokerto. “aku bingung, aku sama sekalli tidak punya teman dari Purwokerto.” Begitu katanya. Aku pun memintanya untuk menjelaskan lebih banyak mengenai surat misteriusnya itu.

“Surat itu dialamatkan ke alamat rumahku,” dia memulai, “sangat jelas itu ditujukan ke rumahku, dan namaku juga tertulis dengan sangat jelas pula di sana, tapi tidak ada alamat pengirimnya, satu-satunya yang bisa ku ketahui, dari stempel posnya surat itu dari purwokerto. Padahal, seperti yang kukatakan tadi, aku tak punya satu pun teman dari purwokerto. Aneh kan?

“Karena aku kahawatir itu bukan untukku, selama satu setengah bulan surat itu ku biarkan saja. Kutanyakan pada semua kenalanku yang bernama Fuad, atau siapa saja yang namanya terdengar seperti Fuad (seperti Farhad, Muadz, Hubadz, Subhat, Maksiat, dan Kiamat.) apakah mungkin mereka yang dituju oleh pengirim misterius itu. Tapi ternyata tak satupun dari mereka yang mau menerimanya. Ini surat yang mulai menakutkan.

“Dan yang lebih aneh lagi—setelah satu setengah bulan baru aku buka surat itu—dalam amplop, tidak ada sepucuk surat pun di sana, hanya ada beberapa lembar foto. Dengan cermat, kuamati tiap-tiap lembar foto itu, dan, aku, sungguh sangat kaget, itu adalah foto seorang bocah wanita, seorang wanita dewasa, dan, aku!”

Kupikir si Fukad sedang mengada-ada, kutanyakan lagi apa dia yakin dengan wajah itu dan ternyata dia memang yakin dan mengakui, wajah pria di foto itu mirip dengan wajah yang dimilikinya hasil dari produksi kedua orang tuanya. “Dan yang lebih aneh lagi,” dia melanjutkan, “ternyata di sana ada tulisan singkat, bunyinya, “ini foto anakmu, Mas. Namanya Putri Ayu Aisyah” Ya, ada tulisan begitu di sana! Mana mungkin? Mana mungkin? Mana mungkin aku sudah punya anak? Padahal nikah saja belum, sealama ini aku selalu menjaga diri, aku tidak pernah melanggar keharaman yang satu itu! Sumpah! Aku tidak pernah melakukan itu kecuali beberapa kali dengan istriku nanti di masa depan!”
Blitz!!! Nanti di masa depan….

“Hei, hei, berhenti dulu sobat. Dengarkan, kau harus menenangkan diri, jangan panik begitu…” aku mencoba menenangkannya, bisa kubayangkan, betapa amburadulnya dia jika saat itu kita bicara bertatap muka. Lewat SMS aja udah sekisruh itu.
“Atau jangan-jangan…” dia melanjutkan SMSnya. “Itu adalah surat dari masa depan? Dari istri dan anakku di masa depan? Hah… mungkinkah?”

Aku diam. Entahlah. Perihal surat tidak bernama, tidak bertulisan dan hanya berisi foto memang pelik dan riskan. Bagaimana jika aku meyakinkan Fukad bahwa pengirim foto itu memang keluarganya, dia akan terbebani mentalnya dengan sangat. Dia akan merasa menjadi jejaka yang paling tidak perjaka di dunia, dia akan terlunta-lunta hidupnya dalam usaha menyelesaikan kuliah dan menemukan keluarga dadakannya di kota yang tak dikenalnya. Dan jika kukatakan padanya, bahwa surat itu memang datang dari masa depannya, dia akan lebih hancur lagi kejiwaannya. Pikirkan, hanya orang dari keluarga yang berpisah jauh atau bercerai saja yang mengirimkan foto anggota keluarga lainnya. Apakah di masa depan dia akan terpisah dari keluarganya? Atau dia bercerai padahal baru punya satu anak yang masih kecil pula? Dan lagi, akan menjadi sangat menakutkan baginya untuk menghadapi pernikahannya kelak. Bagaimana tidak, karena masa depan pernikahannya sudah dibayang-bayangi dua peristiwa mengerikan: terpisah jauh atau bercerai berantakan.

Maka untuk menghibur hatinya, kukatakan saja padanya jika itu adalah surat nyasar paling tepat yang pernah ada di muka bumi ini. Surat ini nyasar karena jelas bukan pada Fukad surat tersebut bersangkutan—dengan fakta tak mungkin Fukad ayah dan suami bagi kedua orang dalam foto tersebut, dan surat itu tepat karena penulisan nama dan alamatnya benar-benar sempurna dan hampir mustahil bisa disangkal dengan alasan apapun yang bisa dikemukakan. Yah, itulah surat simalakama.

Aku tak tahu bagaimana keadaan Fukad sekarang, apakah dia sudah lebih baik, atau dia masih dihantui oleh surat itu, atau, mungkin, apakah dia telah menikah dan kabur sejauh-jauhnya dari rumahnya sekaligus sejauh-jauhnya dari Purwokerto. Sehingga tidak ada kesempatan baginya untuk meninggalkan istrinya kembali ke rumahnya dan bagi istrinya untuk mengirim surat untuknya dari Purwokerto. Tapi, kalaupun dia memutuskan menikah, siapa yang mau jadi korbannya?

Our past is mirror which always shows our previous face, whenever we want to see how old we are today.

NB: kisah ini adalah kisah nyata, dan foto-foto yang dipostkan di sini adalah foto-foto yang dikirimkan oleh orang misterius itu. Jadi, kepada siapapun yang mengetahui identitas sebenarnya dari semua orang yang ada dalam foto-foto tersebut, tolong hubungi saya melalui blog ini, atau melalui facebook saya: Arul Chandrana. Atau, anda bisa menghubungi sahabat saya Fukad secara langsung di facebooknya: M Fuad Shulkhan Tsania (it’s such a difficult name, huh?).

Untuk bantuan anda semua, saya selaku penulis dan arul chandrana, juga selaku orang keren di sini, mengucapkan banyak-banyak terimakasih.

wanita misterius

gadis misterius

Advertisements

4 Responses

  1. wow….keadaanku mengenaskan banget……

  2. masih bingung dengan apa yeng terjadi…

  3. Posting yang bagus

  4. Hahaha.. Kau penulis edan dari Bawean. Aku suka gayamu yang ini: Menayangkan nama Fuad, temanmu, di dalam tulisan dan seolah-olah kau tidak melakukannya. Ingat, aku juga korbanmu. Kau bantai harga diriku, nama tengahku dan reputasi tautanku dengan keji di blog ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: