• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

GENERASI YANG DIPUNAHKAN

generasi yang dimusnahkan Aku sedang menerangkan peta Amerika Selatan ketika tiba-tiba kudengar jeritan dari kelas sebelah. Anak-anak nakal, gumamku. Mereka memang selalu begitu, berteriak-teriak saat jam pelajaran, menyepelekan guru, berbicara sendiri, bahkan (berdasar pengalamanku) pacaran di dalam kelas. Keterlaluan!

Aku melanjutkan lagi menjelaskan sungai-sungai besar dan terkenal di benua Indian itu ketika jeritan yang lebih keras dari tadi meraung dari kelas yang sama. Dan jeritan ini tak berhenti. Para murid itu terus berteriak-teriak. Mereka histeris. Bahkan beberapa anak perempuan mulai menangis meraung-raung. Seketika instinkku mengatakan jika ada sesuatu yang tidak beres di kelas sebelah. Sekarang hari Rabu, jam 10 pagi, mestinya ini jam pelajaran Bu Maryamah, guru akuntansi senior di SMA ini. Ada apa?

“Kalian tunggu sebentar, bapak akan memeriksa kelas sebelah. Ingat, pemangsa Amazon yang paling mengerikan akan segera datang dalam cerita kita! Jadi jangan rame, OK.” Anak-anak tersenyum, mereka suka gaya mengajarku yang filmis—yang mereka tak tahu, itu sebenarnya caraku untuk menumpahkan obsesi menjadi sutradara sejak dulu.

Begitu pintu kelas ku buka, aku tersentak mendapati semua siswa dari kelas yang kacau itu berhamburan keluar. Yang perempuan berlari sembari menutup wajah dan mengangis, tubuh mereka gemetar. Dan yang laki-laki berlari sekencang-kencangnyanya sambil meneriakkan “Bu Maryamah, Bu Maryamah…” Seorang siswa melintas di depanku, segera kutangkap lengannya. “Ada apa?” tanyaku. Tapi dia hanya diam, wajahnya pucat, lidahnya kelu. Dan berkata lirih, “Bu Mar…”

Entah apa yang terjadi, tapi sesuatu yang gawat pasti telah menimpa guru paruh baya itu. Aku segera menerobos masuk ke dalam kelas. Di sana kosong, hanya ada tiga siswa yang dikenal sebagai preman kelas berdiri melingkar di depan kelas. Di tengah mereka, seakan ada sosok tergeletak. Segera aku mendekat, menyibak kerumunan dan…jantungku berhenti, ada sesak yang pekat dalam dadaku, kepalaku terasa pening, aku merasa mual, tanganku gemetar.

“Apa yang kalian lakukan padanya?” tanyaku.

“Bukan kami pak,” salah satu dari mereka menyahut. “Tiba-tiba Bu Mar muntah darah, lalu dia berjalan sempoyongan, dan…” Dia tidak melanjutkan kalimatnya. Ya. Bukan karena dia tidak sanggup mengatakannya, Tapi karena dia tidak tahu kata apa yang tepat untuk mengatakannya.

“Ada apa pak Arul? Kenapa sangat kacau di sini?” suara seorang perempuan di luar pintu. Bu Harfiah, Guru BP yang kuakui memang sangat mengerikan. “Siapa yang muntah darah ini?” suaranya di dalam kelas, tinggi melengking. Tapi tak satupun dari kami ada yang menjawab. Kelatuk sepatu high heelnya mendekat. Dia di belakangku, mendorongku ke samping dan, “Aaaaaaaaa…” perempuan itu menjerit bagai kambing disembelih begitu menyaksikan tubuh Bu Mar. Aku menahan nafas, Bu Mar, tubuhnya terlipat ke belakang, belakang kepalanya menyentuh betisnya dengan sempurna. Tulang punggungnya tertekuk layaknya sebatang lidi yang dipatahkan.

Ж

Pada saat itu juga polisi datang ke sekolah kami, menanyai semua siswa yang diajar Bu Mar saat kejadian berlangsung. Jawaban mereka sama, Bu Mar sedang menjelaskan akuntansi—cara pencatatan debet kredit di buku besar—lalu beliau muntah darah, mereka sontak memekik ngeri, sesaat beliau berjalan sempoyongan beberapa langkah, kemudian, tiba-tiba saja, terdengar bunyi patahan, tulang punggung Bu Mar patah, dan beliau langsung tertekuk ke belakang. Mati saat itu juga.

Polisi mencatat semua informasi dengan tanda tanya besar menelangkup dalam benak mereka. Mungkin para ahli forensic punya jawaban utnuk hal ini. Dan hari itu para siswa dipulangkan lebih awal setelah kepala sekolah berpesan kepada mereka untuk tidak membahas peristiwa ini. “…peristiwa ini jangan kalian bicarakan di rumah, di mall, di jalan-jalan, di manapun juga.” Namun kami semua tahu, peristiwa besar seperti ini tidak akan didiamkan begitu saja. Semua dewan guru berkumpul di ruang guru.

“Bapak yang pertama kali sampai, kan?” Tanya pak Erfin, guru biologi.

“Ya,” jawabku singkat. Bayangan Bu Mar kembali menyerang. Aku tak tahan.

“Apakah…ng…tubuh beliau, maksudnya punggungnya…benar-benar…”

“Maaf Pak Erfin,” aku segera memotong. “Saya tidak sanggup. Mungkin bapak yang biologi sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu. Tapi saya, geografi, tidak pernah membahas manusia yang menekuk…maaf pak.” Aku tahu Pak Erfin tidak puas dengan penolakanku. Dia memang orang yang paling mudah penasaran terhadap segala sesuatu. Tapi pekikan seorang guru yang lain mengagetkan kami.

“Lihat!!! Lihat!!! Di TV juga ada!!!”

Kami semua menoleh ke layar televisi di seberang meja. Televisi layar datar 24” itu menyajikan gambar beberapa orang paruh baya berbaju safari dan batik digotong ke ambulan. Tiga dari mereka tampak biasa saja. Orang yang terbujur di atas tandu. Apakah mereka pingsan? Atau mati? Tapi dua yang menyusul, membuat kami semua berteriak histeris. Hampir kami semua melompat dari tempat duduk. Ibu-ibu guru langsung menutup wajah, sebagaian lagi berpaling dan memeluk siapa saja yang ada di dekatnya. Mereka histeris. Tangan kami gemetar, ada ketakutan yang membuat tubuh terasa dingin. Dua sosok yang diusung barusan, punggungnya terlipat, belakang kepala mereka menyentuh betis atau paha. Kuberanikan diri memperhatikan tiga sosok yang lebih dulu tampak di TV. Mencari sesuatu.

“Mereka sudah diluruskan, tapi kita masih bisa melihatnya.” Pak Erfin berkata pelan. Suaranya datar saja. Ternyata dia dari tadi terus memperhatikan layar televisi. “Perhatikan, bagian atas tubuh tiga mayat tidak lurus dengan bagian bawahnya. Tubuh mereka bergeser. Mereka patah pungunggnya bersamaan. Tertekuk sempurna.”

“Oh…” Aku merasa mual dan pusing.

Ж

Seluruh negeri kacau. Sejak hari rabu itu didapati banyak kasus patah punggung yang serupa. Di beberapa tempat, yang patah bukan tulang punggungnya, tapi kaki atau lengan. Semua peristiwa itu terjadi dengan tiba-tiba. Tanpa ada gejala awal, atau keluhan dari para korban.

Seorang anggota DPR jatuh tersungkur begitu keluar dari mobilnya, kedua tulang kakinya patah, menjadi beberapa potong dalam daging. Kepala sekolah, pemilik pabrik makanan instan, dosen, importer, direktur bank, pemilik pabrik rokok, tentara senior, bahkan dokter, semua orang dari berbagai profesi mengalaminya. Negeri ini jatuh dalam ketakutan massal. Bagaimana jika nanti bapak presiden mendapat gilirannya?

Ж

Bermacam-macam teori bermunculan. Para dokter menyalahkan buruknya gizi yang diderita oleh para penduduk. Kalsium yang sangat kurang mengakibatkan kerapuhan tulang yang mencapai tingkat kritis. Tulang-tulang itu begitu keroposnya sehingga bisa patah kapan saja, di mana saja. Tanpa ada indikasi sebelumnya. Tapi pertanyaannya, semua yang menjadi korban dari peristiwa misterius ini adalah orang-orang kaya, makanan mereka terjamin, empat sehat lima sempurna senantiasa tersaji di meja makan mereka. Bagaimana bisa justru kekurangan gizi dan kalsium menimpa orang-orang dengan kategori seperti itu?

Sebagian yang lain ada yang menyalahkan buruknya lingkungan di kota-kota besar. Polusi udara, polusi suara, polusi air, bahkan polusi psikis. Semua itu menggerogoti manusia dan sistim kekebalan tubuhnya. Membuat mereka begitu rentan dan kehilangan imunitas terhadap penyakit. Tulang-tulang mereka patah begitu saja. Tapi pertanyaannya, bukankah yang seharusnya menderita semua ini adalah para gelandangan kota metropolitan? Para pengamen dan anak jalanan? Tuna wisma yang setiap hari memakan sisa makanan? Mereka semua tak terlindung dari buruknya lingkungan kota besar.

Dan teori yang paling bisa diterima adalah, semua peristiwa ini merupakan teguran dari Tuhan bagi kaum yang ingkar. Para pejabat dan pembesar kita terlalu banyak melakukan dosa. Mereka membunuh manusia lainnya dengan berbagai cara yang kelihatannya terhormat. Mereka mencuri dengan cara-cara yang tak mungkin bisa dilakukan oleh maling kampung. Para pembesar itu kini sedang diancam oleh Tuhan, jika mereka masih saja terus berbuat dzalim, tulang-tulang mereka akan dipatahkan sampai ke jari jemarinya!

Ж

Sejak kecil ibu selalu mengajriku untuk menggosok gigi sebelum tidur. Sekarang, kegiatan itu justru menjadi semacam rutinitas yang tak boleh dilewatkan. Aku tak bisa tidur tanpa gosok gigi.

Malam ini—setelah minum susu dan gosok gigi—aku ingin segera tidur. Membaca berita akhir-akhir ini sungguh sangat melelahkan. Katastrofi Melanda Negeri. Para Penguasa Di Bawah Azab Tuhan. Tidak Ada Tempat Aman Dari Kematian. Dan sebagainya, dan sebagainya. Kami sedang ketakutan, dan para wartawan membuat ketakutan itu meningkat kadarnya ratusan derajad. Tapi, baru aku membaringkan badan, telepon genggam ku berdering. Oh Tuhan, siapa yang menelepon malam-malam begini? Kulihat HPku, Pak Erfin. Tidak, orang ini benar-benar menyebalkan semenjak peristiwa terror patah tulang belakangan ini. Dia tak hentinya membicarakan setiap kejadian yang muncul di koran atau TV. Dan sungguh aku tak berharap dia meneleponku di malam seperti ini. Saat aku sudah bersiap untuk tidur.

Kubiarkan saja. Tidak kuangkat. Nanti dia akan capek sendiri.

Tapi aku salah, dia terus saja berusaha meneleponku. Dia mengulang terus. Dan setelah sepuluh menit yang menyebalkan, aku pun mengangkat teleponnya itu.

“Halo, ada apa Pak malam-malam begini?” kubuat suaraku agak parau, agar dia merasa sungkan mengganggu tidur orang lain.

“Ehm, maaf pak Arul. Tapi aku punya sesuatu yang harus sampean segera ketahui. Sampean tidak akan percaya, tapi sungguh, aku tahu apa penyebab semua kejadian ini!”

Oh tidak, ini tidak akan segera berakhir. Aku terjebak dalam perbincangan yang menyakitkan. Maka aku diam saja. Hanya menggumam kecil.

“Pak arul? Halo pak?”

“Ehm, yah.. memang apa pak?” kuusahakan suaraku terdengar cuek.

“Perhatikan pak, penyebab mengapa orang-orang patah tulang mendadak seperti yang terjadi sekarang ini, adalah, pasta gigi. Ya, pasta gigi. Lebih tepatnya, fluoride!”

“Apa pak? Fluoride?” terkejut juga aku mendengar teorinya itu sehingga tanpa sadar berbicara dengan intonasi tertarik. Oh tidak…

“Yap, benar pak! Kita sebenarnya telah mengonsumsi racun dengan tanpa henti bahkan dengan suka rela dan bersemangat setiap kali kita pergi mandi, setiap kali kita habis makan, dan setiap kali kita akan tidur. Pak Arul juga gosok gigikan sebelum tidur? Apa yang kita lakukan, tak ubahnya dengan menyemprotkan puluhuan liter pestisida ke ladang tomat setiap harinya! Tiga kali sehari!”

Sekarang, aku benar-benar dibikin penasaran dengan teori gilanya itu. “Maaf, apa bapak tidak tahu bahwa odol justru menjaga kesehatan gigi kita? Tulang juga kan…”

“Apa? Odol menyehatkan gigi kita? Oh Tuhan, bapak tidak membaca rupanya. (sialan, dia menghinaku di saat seperti ini?) perhatikan Pak Arul, bahan utama odol adalah fluoride, bahkan fluoride dijadikan sebagai alat promosi oleh prodesen pasta gigi.

“Mereka mengatakan, fluoride akan menguatkan gigi anda, melindungi email anda, menyehatkan gusi anda. Tapi, apakah ada diantara kita yang tahu apa itu fluoride? Austria, Denmark, Prancis, Italia, Jerman, Belanda, Swedia dan Norwegia, negara-negara tersebut telah melarang penggunaan fluoride dalam produk apapun. Mengapa?”

“Benarkah itu? Maaf, saya tidak pernah tahu sebelumnya. Sebenarnya, saya pernah mendengar isu tentang bahaya fluoride, tapi saya pikir itu sekedar akal-akalan para kapitalis untuk menghemat biaya. Bukankah biaya produksi fluoride tidak murah.”

“Oh, Pak Arul tahu juga rupanya. Ehm, sekarang coba perhatikan, jika memang penggunaan fluoride dalam pasta gigi membebani biaya produksi, mengapa tidak mereka singkirkan saja bahan itu dari pembuatannya? Jika konsumen bertanya mengapa fluoride dibuang, katakan saja bahwa fluoride berbahaya, cukup kan? Tapi isu ini sangat mendunia pak. Tahun 1990 Dr. John Colquhoun melakukan penelitian pada 60.000 anak sekolah dan tidak menemukan perbedaan kerusakan gigi antara yg menggunakan fluoride dan yg tidak. Artinya, fluoride tidak membawa kebaikan bagi kita, umat manusia.”

Aku berpikir. Ada keraguan. Ada kebingungan. Aku percaya jika fluoride berkhasiat menguatkan gigi, tidak seperti yang disampaikan Pak Erfin. Dan, di samping itu, bukankah katastrofi yang melanda negeri bukan bencana patah gigi mendadak?

“Pak Erfin, ada beberapa hal yang membuat saya sangsi pada teori Bapak. Mungkin saja odol tidak begitu membantu menyehatkan gigi kita, tapi katastrofi yang terjadi sekarang bukan patah gigi, melainkan…”

“Benar sekali, bukan patah gigi. Bukan patah gigi. Bapak mengatakan demikian karena bapak tidak memperhatikan dengan seksama setiap berita yang ditayangkan. Yang diterbitkan. Saya tanya, apakah memang tidak ada gejala awal sebelum para korban patah tulangnya dengan misterius?”

Aku berpikir dalam. Mengingat sesuatu. Ya! “Ya, aku ingat, menurt ketarangan orang dekat korban, mereka mengalami copot gigi beberapa jam atau beberapa hari sebelum patah tulang. Semuanya mengalami hal serupa. Sebagian korban juga mengeluh ngilu pada tulang. Ya, aku tidak memperhatikan itu karena terlalu kaget oleh berita utamanya.”

“Pak Arul,” suara Pak Erfin ditelepon terdengar berat dan penuh otoritas. Dia batuk kecil—mungkin dibuat-buat. “Saya bisa menyebutkan nama-nama para pakar yang menentang pemakaina fluoride ini, sebut saja di antaranya Dr.Charles Gordon Heyd, Mantan Presiden Asosiasi Kesehatan Amerika, apa pendapatnya tentang fluoride? Fluoride adalah racun yang bisa menggerogoti; akan menyebabkan dampak yang serius dalam jangka panjang. Bahkan, seorang pemenang nobel mengatakan jika fluoride ini adalah penipuan ilmiah paling akbar abad ini. Pak, mengapa mereka semua menentang fluoride? Mengapa?” aku hanya bergumam kecil. Aku sama sekali tidak tahu tentang ini. Aku tidak pernah mencoba mencari berita tentangnya di internet. Selain karena aku jarang browsing, juga karena aku sama sekali tak terpikir untuk mencurigai fluoride. Aku bergumam tak jelas, menunggu kalimat Pak Erfin berikutnya.

“Fluoride adalah bahan yang juga digunakan untuk memproduksi bom atom semasa perang dunia II, dia juga racun yang sangat mematikan. Penyerapan fluoride oleh tubuh mengakibatkan Fluorosis—gigi keropos. Penuaan dini, aborsi mendadak, tulang rapuh bahkan, juga bisa menyebabkan kanker. Kenapa? Karena Fluoride bersifat carcinogenic.”

“Itu…itu terdengar mustahil…” Gumamku, lebih karena keterkejutan dari pada ketidak percayaan.

“Yah, terdengar mustahil memang. Kenapa? Karena dari kecil lingkungan telah mengajari kita bahwa pasta gigi, fluoride, semua itu bisa menyehatkan tulang, gigi. Sekarang, perhatikan fakta mengejutkan ini—yang anehnya tak satupun orang menyadarinya, yaitu, bukankah semua korban wabah aneh ini adalah orang-orang berusia 50 tahunan ke atas? Mereka orang-orang yang lahir dari keluarga kaya. Hidup dengan standar kesehatan modern sejak lahir. Dengan kata lain, mereka mengkonsumsi fluoride sejak bayi! Anda mungkin juga tahu, pasta gigi baru diproduksi di negeri ini sekitar enam puluh tahun yang lalu, itu artinya…” tut tut tut.

Telepon Pak Erfin mati. Aku berteriak memanggilnya tapi tak ada jawaban. Benarkah semua perkataannya itu? Dan andai pun itu benar, apa tujuan dibalik semua itu? Mengapa seseorang harus meracuni selurh umat manusia? Untuk apa? Dengan alasan apa? Di saat aku sedang berpikir, orang-orang di luar sana mungkin sedang bergelimpangan. Dan yang kurasakan kemudian, sebuah ketakutan asing menyergapku, aku takut pada semua rutinitas hidupku. Aku bangkit dari tempat tidur dan segera berlari ke kamar mandi. Semua pasta gigi itu, semua pasta gigi itu, semuanya…

Arul Chandrana,

Monday, March 01, 2010

3 Responses

  1. wah, cerpen yang mengejutkan! ternyata odol berbahaya! hebat. salut

  2. duuuh cpek bca kya gni banyakya hahah

  3. Wow. Bang arul keren poll tulisan-tulisannya..ckck

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: