• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Anatomi Keajaiban

arul chandrana, anato,i keajaiban, pohon setan, jam waktuAnatomi Keajaiban
Kau tahu, berapa banyak wajah yang kau ingat? Berapa banyak nama yang kau hapal? Berapa banyak pertemuan yang kau kenang? Tak banyak. Sangat sedikit malah. Aku akan pingsan kalau kau bilang kau ingat seribu wajah, hapal delapan ratus nama, dan mengenang lima ratus pertemuan. Itu hampir mustahil bukan. Aku termasuk salah seorang pelupa yang handal. Kau bisa membuktikannya suatu ketika nanti. Datangkan seseorang padaku, sebutkan nama, tunjukkan wajah, dan tentukan tempatnya. Besok, atau mungkin delapan jam setengah kemudian, aku akan terheran-heran mendapati orang itu memanggilku dengan nama asliku (maaf, aku tidak akan pernah rela memberitahukan pada anda jika namaku sebenarnya adalah *******). Itulah sebagian dari kita, kekuatan memori kita semakin lama semakin berkurang. Aku curiga selain karena makanan yang buruk, computer juga menyumbang penurunan kualitas memori kita. Bukankah otak butuh latihan untuk bisa mengingat dengan kuat? Sedangkan computer benar-benar membebaskan kita dari latihan menghapal. Akan tetapi, ada juga sedikit orang yang bisa mengingat seribu wajah, delapan ratus nama, dan mengenang lima ratus pertemuan! Hebat bukan?

Tempat pertemuan yang sering diacuhkan.
Anda pernah bepergian tanpa mengendarai kendaraan pribadi? Baik dengan bis, angkot, dokar, atau bahkan tossa? Pastinya pernah. Nah, tahukah anda, kendaraan umum adalah tempat pertemuan terbesar dan tersibuk bagi umat mausia di seluruh dunia. It’s a serendipity. Ya, anda harus menyadari hal itu sesegera mungkin. Dalam kendaraan umum anda senantiasa bertemu wajah-wajah baru, profesi-profesi baru, dan seragam-seragam baru. Anda hampir bisa bertemu separuh dari keseluruhan jenis manusia di sana. Bayangkan, betapa banyak transportasi memori yang berkelebatan dalam sel-sel syaraf kita?

Karena itu, wajar jika kebanyakan dari kita tidak mengingat siapa saja yang dijumpainya di angkot. Apalagi sangat jarang di antara para penumpang yang saling berbincang dengan penumpang lainnya. Padahal, sungguh angkot akan terasa hangat dan menyenangkan jika tiap-tiap penumpangnya saling berbagi dalam percakapan yang ramah. Sebagai penulis, aku sangat menikmati “menguping” pembicaraan orang di angkot. Aku seakan menyaksikan kehidupan baru, seakan membaca buku baru yang diterbitkan dalam edisi terbatas. Jadi itulah yang terjadi, kita menemukan begitu banyak wajah, mendengar begitu banyak nama, dan bertemu begitu banyak orang, tapi kita melupakan semuanya. Kita melupakan segalanya, tak bersisa. Kecuali orang-orang khusus yang sedikit itu.

Aku lupa kapan tepatnya itu terjadi, saat itu aku ulang kemalaman dari kampus bersama david. Tahukan david yang satu ini? Pria malang dan menestapakan hati ini? Pria yang selalau lupa untuk menutup mata jika sudah di depan computer? Ah, kau pasti ingat dia. Kami pulang naik angkot dan menderita sempitology elomob (untuk yang satu ini kalian mengenaskan kalau lupa). Kami tak kebagian duduk di kursi penumpang, jadi kami duduk di kursi cadangan, tepat di belakang sopir, menghadap kebelakang. Sepanjang perjalanan kami membicarakan kualitas film dari sebuah negeri jiran yang isinya cuma makan dan belanja di shopping. Film mereka jauh di bawah level sinetron murahan kita sekalipun. Dan, tentu saja kami ngobrol dalam bahasa inggris. Itu memang kebiasaan—keterlaluan—kami, jadi tolong jangan heran. Nah, di depan kami ada seorang perempuan dengan ransel besar yang kelihatannya agak ngantuk dan lelah. Sepertinya dia seorang pendaki yang baru turun gunung. Aku penasaran, binatang buas apa saja yang telah tega mengejarnya selama ini?

Akhirnya, sampailah kami ke Dewa Kayu, nama sebuah perusahaan kayu di pinggir jalan di luar kota tuban. Perempuan itu turun di sana. Karena kasihan melihat bawaannya yang lumayan dan beratnya ransel yang dia bawa, aku menolongnya mengangkat ransel. Ya, hanya itu, cuna itu saja, setelah itu dia pun hilang seiring berlarinya angkot yang aku tumpangi. Aku kembali ngoceh dengan david dan perempuan itu hilang entah kemana. Sebuah pertemuan yang tak butuh lima belas detik untuk melupakannya. Dan itu terjadi entah kapan lamanya. Aku sudah benar-benar lupa sampai datang hari itu, ha ha ha ha, aneh sangat.

Hari itu, aku mampir di rental temanku di manunggal utara untuk mengopy film—dia punya Mystic River yang sudah bertahun-tahun kutunggu. Kebetulan di sana ada seorang perempuan yang sedang mengerjakan makalah untuk lomba karya ilmiah remaja. Kami pun berbincang. Dari perbincangan itu aku tahu dia sedang mengerjakan research pemanfaatan buah mahoni untuk mengamankan jading dari nyamuk—sepertinya serbuk itu juga cocok untuk menggeleparkan si david! Dan, tahukah anda, apa yang terjadi kemudia? Ha ha ha, ternyata dia perempuan bertampang pendaki gunung yang kutemui di angkot beberapa lama berselang! Aha, bayangkan, dia kutemukan berbentuk perempuan dewasa pendaki gunung di dalam angkot dan sekarang dia muncul sebagai anak SMA yang sedang mengerjakan karya ilmiah untuk lombanya—sebagai tambahan, dia sudah pernah menang KIR tingkat nasional dan dia mendapatkan sepuluh juta untuk itu. Bukankah itu mengagetkan? Sekarang coba pikirkan, berapa banyak orang lain yang juga kita temui dalam angkot, lalu kita temui di depan toko roti, lalu kita temui lagi di antrian bank, lalu kita temui lagi di pinggir jalan, lalu kita jumpai lagi tergeletak di tengah jalan sehabis dirampok, tapi kita benar-benar tidak menyadarinya! Kita tidak menyadarinya! Kita menganggap orang di depan toko roti itu orang asing yang belum pernah kita lihat sebelumnya, orang di bank itu orang asing yang belum pernah kita berjumpa sebelumnya, begitu pula orang yang di seberang jalan juga orang yang terkapar di tengah jalan itu. Kita merasa asing pada orang-orang yang sebenarnya pernah kita temui. Kecuali beberapa orang, ya, beberapa orang saja, seperti si pelajar SMA berwajah pendaki gunung itu.

Mikroskop elektron
Pada tahun 1632 Anthony van Leeuwenhoek menemukan mikroskop untuk pertama kalinya. Dan sejak saat itu manusia mulai sadar jika kehidupan di dunia ini tidak hanya ditempati oleh mereka yang tampak oleh mata, tapi, justru malah sebaliknya, kehidupan di dunia ini dikuasai oleh organisme yang tak tampak mata telanjang. Mereka, para kuman, amoeba, virus, baksil, bakteri, dan lainnya, menempati hampir semua tempat yang ada di ruangan bumi. Kuman ada di tong sampah, di jalan raya, di tembok rumah, di baju bahkan di bawah hidung kita—juga di dalam perut kita! Manusia mulai menyadari jika ada sebentuk kehidupan lain yang mengawasi mereka setiap saat.

Kini, kita juga harusnya sadar, dengan mikroskop pengalaman kita bisa tahu ternyata kehidupan tidak hanya berkaitan dengan apa-apa yang kita temui di dalam ruang kelas atau ruang kuliah kita, di dalam rumah kita, di lingkungan RT kita, tapi juga bisa kita temukan di…kita temukan di….kita temukan di dalam angkot! (wakakakaka).

Jadi, sudahkah anda temukan anatomi dari keajaiban yang bolak-balik kita perbincangkan dengan kawan kita di rumah? Ya, sederhana saja, sederhana saja, semua hal biasa yang kita alami adalah butiran-butiran yang berkilau, kita semua butiran itu berkumpul, dia akan membentuk suatu bangunan keajaiban yang gemerlapan. Dan mengejutkan. Dan indah. Dan selamanya…

It’s all about caring and regarding people around us.
Buat Profesor Winda, terimakasih kuliah anehnya.

Advertisements

2 Responses

  1. eMMMhh…. SMA2 kak aruL.. hehe oh my god, q bNar2 trtarik isi blog u.. bGus,cocok… cocok bgt bwt dUnia sains. dUnia yg kmi cintai, ya emg otak kita di anugerahi 1 milyar neUron sjk kecil sma Allah kak.. jdi kmampuan qt mengingat sungguh Amazing,,,hahaha. blog y ttg Anatomi dh q bca smua.. tulisan reality, n lugu n pNuh mKna…….. mf cm dkit cz sbuk

  2. Hah am I really the first reply to your incredible article!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: