• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

MENCARI ANGEN YANG DICULIK

Dulu, orang Bawean tinggal di hutan-hutan. Mereka membangun rumah dan bertani di sana. Mereka menanam singkong, talas, pisang, mangga, pohon sukun, juga pohon nangka. Pada jaman itu, orang-orang hidup dengan sangat sederhana. Mereka tidak punya hiburan apa-apa selain nyanyian burung-burung hutan dan pemandangan lembah yang hijau luas terbentang. Jauh di sana, ada laut biru yang terhampar tak bertepi.
Tapi ada satu masalah, di hutan rimba Bawean ada binatang-binatang yang suka merusak tanaman. Mereka adalah babi hutan dan gerombolan monyet. Mereka tak pernah berhenti mencuri buah-buahan atau umbi-umbian. Pada siang hari, saat orang sedang makan setelah mencangkul sepagian, para monyet datang mengendap-endap masuk ke ladang. Mereka mencabuti singkong, menggali talas, menurunkan buah nangka, dan memakan pisang tanpa sisa. Para petani akan berlarian keluar dari gubuk (sekaligus rumah) mengusir monyet-monyet jahat itu. Dan pada malam harinya, saat orang tidur istirahat setelah sehari penuh lelah bekerja, kawanan yang lain datang menyerang. Kawanan babi hutan. Mereka kawanan binatang perusak yang berbahaya. Datang dalam rombongan, mereka menyeruduk semua tanaman, merusak ladang yang sudah di cangkul dengan moncong kasarnya.
Tapi untunglah, para penduduk Bawean punya sahabat setia yang selalu menemani dan menjaga tanaman mereka. Sahabat setia yang pemberani dan selalu siap membantu, mereka adalah para anjing penjaga tanaman. Setiap keluarga memiliki kelompk anjing penjaganya masing-masing. Dan mereka sanagat akrab dengan para pemiliknya.
Bohar adalah seorang anak yang memiliki dua ekor anjing kesayangan. Semuanya berbulu coklat keemasan. Anjingnya itu dia beri nama Kelap dan Angen, artinya kilat dan angin, karena keduanya bisa berlari secepat kilat dan secepat angin. Mereka juga anjing yang pemberani. Mereka sudah berhasil menangkap enam ekor monyet yang menyusup ke kebun keluarga Bohar. Karena itu, gerombolan monyet berencana untuk menangkap Kelap dan Angen, atau salah satu dari keduanya.
“Kita harus bisa menyingkirkan Kelap dan Angen dari kebun itu,” kata Selloran, pimpinan para monyet. Para monyet yang lain mengangguk-angguk setuju. “Tapi bagaimana caranya?”
Para monyet diam berpikir. “Bagaimana kalau kita tangkap besok siang?” Kata seekor monyet. Dia bergelantungan di cabang sebuah pohon. Ekornya panjang membelit.
“Apa kau bodoh?” Selloran malah membentaknya. “Kalau kita mendatangi mereka di siang bolong, justru kita yang akan ditangkapnya. Kita akan dimakan oleh anjing-anjing yang lain! Apa kau mau seperti kawan kita yang dulu?”
Para monyet berteriak ketakutan. Mereka ingat temannya yang berhasil ditangkap Kelap dan Angen dulu saat sedang mencuri singkong. “Aku punya usul,” kata monyet yang lain. Wajahnya bulat dan taringnya panjang. “Kita tangkap mereka di malam hari. Mereka tidak akan tahu kedatangan kita karena kita berbulu hitam. Begitu kita mendapatkan mereka, kita langsung bawa mereka pergi!”
“Hahahaha, itu ide yang cemerlang. Kita laksanakan nanti malam!”
ĄĈĄ
Malam itu, Bohar tidur dengan lelap. Dia membantu orang tuanya menanam bibit pisang seharian. Badannya pegal-pegal. Dia tidur dengan sangat lelap. Bohar tidak tahu bahwa segerombolan monyet jahat tengah menyusup ke kebunnya. Gerombolan itu kemudian mendekati tempat para anjing tidur. Setelah mereka melihat-lihat, akhirnya mereka menemukan Kelap dan Angen yang tidur bersama. Mereka mendekat perlahan-lahan. Kemudian, lima ekor monyet terbesar di antara mereka melompat dengan tangkas, menyergap ke dua anjing yang sedang tidur pulas.
ĄĈĄ
Keesokan paginya, Bohar terkejut mendengar keributan anjing-anjingnya. Mereka menggong-gong tanpa henti, membangunkan para pemiliknya. Ayah dan ibu Bohar segera lari keluar, diikuti Bohar, dan mereka pun tahu jika Kelap dan Angen telah hilang. Mereka bertanya-tanya, kemana perginya dua anjing pintar itu? Tidak biasanya mereka menghilang tanpa jejak seperti ini.
Tiba-tiba seekor anjing menyalak. Di depannya, di permukaan tanah yang masih basah, ada bekas telapak kaki monyet. Bekas telapak kaki yang sangat banyak! Bohar terkejut, dia pun sadar jika anjingnya itu telah diculik oleh para monyet jahat. Bohar mengepalkan tangan, rahangnya mengeras menahan marah. “Aku harus membawa mereka kembali!”
Guk guk guk!
Dari kejauhan, terdengar anjing menggonggong berulang-ulang. Semakin lama suaranya makin mendekat. Setelah diperhatikan, ternyata itu gonggongan si Kelap. Bohar segera berlari menyongsong anjingnya itu. Dan betapa terkejut Bohar dan orang tuanya melihat keadaan Kelap yang penuh luka. Ada banyak bekas cakaran di wajah dan punggungnya. Darah memercik di bulunya yang kotor karena tanah.
“Kita harus menyelamatkan Angen!” kata Bohar.
ĄĈĄ
Setelah semua perlengkapan siap, Bohar meminta restu kedua orang tuanya untuk mencari Angen. Ke dua orang tuanya berpesan agar Bohar segera menemukan Angen dan kembali sebelum hari malam. Bersama dua anjng lainnya, Bongres dan Alopan, Bohar bergerak mencari Angen.
Kelap ada di depan barisan, dia mengendus jejak kawanan monyet yang menculiknya semalam, para monyet itu pergi ke arah Hutan Besar. Bohar dan para anjing harus berhati-hati, karena hutan besar adalah sarang para monyet. Mereka harus siap menghadapi segala macam serangan yang mungkin datang.
Setelah setengah hari berjalan, mereka pun sampai di tengah Hutan Besar. Mereka mendengar teriakan-teriakan monyet yang menyera kan. Segera mereka berempat bersembunyi di bawah pohon rindang. Di depan mereka, di sepetak tanah lapang di antara semak belukar, Angen terikat ditengah-tengah kepungan para monyet bertaring panjang dan besar, berkuku tajam. Monyet-monyet itu bersiap untuk mencabik Angen.
“Kita harus cepat bertindak,” bisik Bohar. “Dengarkan, kau Kelap, Bongres, dan Alopan, pergilah ke sebelah selatan para monyet. Bersembunyi di bawah semak belukar. Kemudian, menggonggonglah sekera-kerassnya. Suara kalian akan menggema dan terdengar banyak. Aku akan membebaskan Angen. Kalian siap?” Tiga ekor anjing itu menguik pelan tanda mengerti. Mereka segera berlari ke selatan, memutari gerombolan monyet. Setelah bersembunyi dalam semak belukar, mereka menyalak dengan liar. Suara gonggongan mereka menggema di dalam hutan yang lebat. Seakan ada ratusan anjing yang datang.
Para monyet liar panik, tidak menyangka akan ada serangan dari para anjing secepat ini. “Jangan takut, jumlah kita lebih banyak, kita hadapi mereka di selatan. Kita pasti menang!!!” Selloran memberi komando. Dan, mau tak mau, para monyet yang lain ikut berlari ke selatan.
Gerombolan monyet itu berlompatan, mereka menggerung keras pamrah. Suaranya menggemparkan seisi hhutan. Burung-burung beterbangan dari dahan pepohonan.
Tanpa menyia-nyiakan kesempetan, segera Bohar berlari melepaskan ikatan Angen. Begitu tali terlepas, mereka pun mengendap-endap meninggalkan tempat berbahaya itu. Setelah agak jauh dari tempat penyekapan, Angen mengonggong tiga kali, memberi tahu ke tiga anjing lainnya untuk segera pergi. “teman-teman, aku sudah selamat, ayo kembali ke lading!”
Ke tiga ekor anjing yang bertugas memancing para monyet berhenti mengyalak. Mereka segera berputar. Melewati kawanan monyet yang mengejar ke selatan. Akan tetapi, seekor monyet yang ada di ekor barisan menoleh ke belakang. Dia tidak melihat angen di sana. Anjing itu telah pergi, menghilang bersama hilangnnya gonggongan para anjing dari selatan.
“Selloraaaan…. Anjing itu melarikan diri…!!!”
ĄĈĄ
Bohar, Angen, Kelap, Bongres dan Alopan terus berlari tanpa henti. Mereka tahu, gerombolan monyet sekarang pasti berbalik mengejar mereka. Tapi untunglah, sebelum matahari terbenam, saat langit merah di barat sana, mereka sudah sampai di pinggir ladang. Mereka selamat. Mereka berhasil lolos dari kejaran gerombolan monyet jahat yang tak kenal ampun.
Ke dua orang tua Bohar menyambut kedatangan mereka dengan penuh kebahagiaan. Kini mereka lebih berhati-hati, karena suatu saat nanti Selloran dan gerombolannya pasti akan datang lagi. Dan jika saat itu tiba, mereka harus siap untuk menghadapi mereka.

TAMAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: