• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

KUE MADU LEMBUT, NENEK KATIBU DAN PENYIHIR TUA.

Dulu, sewaktu aku baru berumur tiga tahun, di sini ada seorang pembuat kue yang sangat luar biasa. Tidak ada yang tahu resep rahasia apa yang dia pakai. Kue itu berwarna kuning madu. Bentuknya bulat. Kue itu lembut tapi tidak cepat hancur di mulut, aromanya segar seperti daun akasia, dan rasanya, itu yang paling membuat kami heran, rasanya seperti madu. Benar-benar seperti madu. Oh, kalau begitu, kukatakan lagi, kue itu berasa madu.
Tidak ada orang yang tidak suka, semuanya doyan kue madu lembut itu. Orang dewasa apalagi anak-anak. Dan yang paling mengagumkan, kau tahu, kue itu gratis! Gratis beneran! Kami tidak usah membeli untuk menikmati kue madu lembut. Yang perlu kami lakukan hanyalah datang ke sana saat sore hari dan mendapat jatah kue masing-masing—kalau pagi kami pergi sekolah, dan siang hari entah kenapa rumah itu tertutup rapat. Kami bergerombol, bermain di halaman rumahnya yang luas, lalu perempuan itu akan keluar dengan tertawa seperti kebanyakan nenek tua lainnya. Dan di tangannya ada senampan penuh kue madu lembut. Masing-masing mendapat lima biji. Anak yang baik biasanya tidak menghabiskan kuenya, dia membawa dua atau tiga biji untuk keluarganya di rumah. Dengan begitu para orang dewasa ikut menikmati kelezatan kue madu lembut. Entah mengapa mereka tidak mau ikut datang bersama para anak kecil. Padahal pasti orang dewasa itu akan mendapat jatah yang lebih banyak. Perut mereka kan besar. Nah, tahukah kamu siapakah nenek baik hati jago bikin kue itu?
Namanya Nenek Katibu. Nama yang agak aneh kan? Biasanya orang memakai nama bunga-bunga yang cantik. Seperti mawar, anggrek, dahlia, atau melati. Ada juga yang bernama delima. Tapi nenek itu bernama Katibu. Dan aku sendiri tidak tahu apakah dia lahir di sini atau tidak. Ayahku hanya bilang, kalau Nenek Katibu sudah lama tinggal di rumahnya tersebut (nanti kau akan kuberitahu seperti apa rumahnya yang hebat itu). Aneh, aku bertanya apakah Nenek Katibu lahir di sini atau tidak malah dijawab begitu. Orang dewasa memang sering tidak bisa memberi jawaban. Mungkin nenek itu datang dari suatu negeri jauh yang semua penduduknya pembuat kue terlezat di dunia! Hmm, aku pernah berpikir untuk memintanya mengundang saudaranya yang bisa membuat kue rasa hamburger, kue rasa pizza, kue rasa mangga atau rasa nasi goreng. Tapi aku tidak mengutarakannya.
Perempuan tua menempati rumah yang juga tua bertembok tinggi di pinggir desa. Aku tidak tahu siapa yang membangunnya (ayah cuma bilang, rumah itu sudah ada bahkan sebelum ayah lahir). Aku pikir rumah itu berlantai dua, karena di bagian yang kelihatannya lantai ke dua, ada satu jendela besar menghadap jalan besar. Jendela itu tak pernah kelihatan terbuka. Di sekeliling rumahnya, tepatnya di pinggir halamannya, ditanami pohon buah bermacam-macam. Ada delima, jeruk, jambu, mangga, belimbing, jambu biji, kalak, sawo, pohon cherry, beberapa pisang emas, dan sebuah pohon lagi yang aku tak tahu namanya (begitu pula ayahku) yang tak pernah terlihat berbuah. Maka rumah itu sangat sejuk dan nyaman. Coba bayangkan, di sore hari, kau datang ke rumah tua itu, duduk di halamannya di bawah pohon buah rindang, di atas tanah berumput tebal, lalu Nenek Katibu keluar dari rumahnya sambil tertawa dengan membawa senampan penuh kue madu lembut. Hmmm, kau tidak akan mau pulang sampai matahari terbenam. Oya, ada ayunan di dahan pohon sawo, mangga dan pohon jambu.
Kemudian, sesuatu terjadi.
Saat itu, aku ingat itu hari senin, karena saat itu aku jadi pemimpin upacara bendera yang memalukan. Aku lupa hampir semua instruksi yang harus kukatakan dengan lantang. Pada hari itu, kenyamanan rumah Nenek Katibu yang biasa kami nikmati berakhir. Kau tahu kenapa? Karena seorang anak kecil mati setelah memakan kuenya.
Saat itu tengah hari ketika Pepi dan beberapa temannya yang nakal kabur dari sekolah. Mereka lari ke rumah Nenek Katibu. Padahal mereka tahu, siang hari rumah itu tidak terbuka bagi siapapun. Tidak anak kecil, tidak orang dewasa. Mereka ke sana, mengambil buah jambu kelampok yang ranum-ranum tanpa ijin—jika sore hari seperti biasanya, itu tidak masalah, tapi ini masih siang hari! Bukan hanya jambu, mereka juga memetik beberapa delima merah merekah. Mereka makan buah-buah itu dengan rakus dan membuang kulitnya sembarangan (padahal Nenek Katibu sudah menyediakan dua tempat sampah di bawah tiap-tiap pohon buah). Tiba-tiba, Pepi berbisik pada temannya, “pintu rumah terbuka!” dan kenakalan mereka pun menjadi-jadi.
Mereka terbayang akan kelezatan kue madu lembut. Mereka ingin memakannya sebelum tiba waktunya. Mereka akan mencurinya. Mereka mulai mengendap-endap, mendekati pintu rumah yang terbuaka itu. Dan dari dalam, terdengar suara Nenek Katibu sedang bersenandung ladu anak-anak yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Sesekali Nenek Katibu juga seakan sedang berbicara dengan seseorang. Pepi dan kawan-kawannya diam bersembunyi di bawah jendela dekat pintu. Lalu Nenek Katibu keluar rumah membawa senampan kue. Aromanya dan bentuknya seperti kue madu lembut, tapi warnanya coklat kehitaman. Nenek Katibu membawa ke samping rumah. Dia memanggil seseorang, “ayo datanglah anak-anak, makan siang buat kalian.”
Pepi tahu itu bukan untuk mereka. Menduga Nenek Katibu masih lama akan kembali, dia segera mengajak teman-temannya masuk ke dalam rumah. Rumah tua yang belum satu anak pun pernah memasukinya. Seorang dari mereka mencoba menghentikan Pepi, tapi Pepi mengancamnya. “Diam Dorin. Kau ikut, atau tidak berteman dengan kami lagi?!”
Di ruang tamu, mereka menemukan tiga nampan berisi kue madu lembut coklat kehitaman. Mereka pun segera memakannya dengan rakus. Menghabiskan satu kue dan mengambil kue lainnya. Kelembutan dan kelezatan kue membuat mereka lupa pada Nenek Katibu. Tapi hanya satu anak yang tidak ikut makan, Dorin. Dia terus-terusan berbisik, “kawan-kawan, Nenek Katibu bisa marah nanti…”
Tiba-tiba, pintu terbuka lebar, sesosok tubuh tampak membayang di sana, Nenek Katibu. Tapi ada yang berbeda, tubuhnya tampak seakan memanjang. Kepalanya menyentuh langit-langit rumah yang tinggi. Peremp-uan tua itu membelalakkan mata, dia berteriak, “kalian tidak boleh memakanya…..!!!”
Pepi dan kawan-kawannya terkejut. Mereka terlompat. Potongan kue yang ada di mulutnya terlempar keluar. Karena panik, mereka berlarian berpencar di dalam ruang tamu. Dan tangan Nenek Katibu yang sudah berubah panjang, menyambar kesana-kemari, mencoba menangkap mereka satu persatu. Dorin yang ada di belakang teman-temannya, berhasil menyelinap di antara kaki Nenek Katibu, dia berlari menuju pintu. Dorin mendengar teman-temannya menjerit, dia menoleh, di sana, di dalam rumah, dia melihat satu persatu temannya jatuh tersungkur di lantai. Dorin gemetar, dia mendengar Nenek Katibu menjerit keras, “itu bukan untuk kalian bodoh!!!”
Dorin pun berlari ketakutan. Meninggalkan teman-temannya yang tertangkap Nenek Katibu. Dia berteriak-teriak, “penyihir! Penyihir! Penyihir!”
Orang-orang di kampong pun segera tahu tentang kejadian di rumah Nenek Katibu barusan. Mereka segera datang ke sana laki-laki dan perempuan. Bukan hanya itu, mereka membawa pentungan, parang, kayu, tali, dan macam-macam lagi. Mereka semua marah. Mereka tidak menyangka sama sekali jika Nenek Katibu adalah seorang penyihir. Tapi tidak semua orang marah, mereka mencoba menenangkan yang lainnya. Tapi rombongan terus berjalan, dan akhirnya mereka sampai di rumah Nenek Katibu.
Rumha itu sepi. Pintunya tertutup rapat. Tidak ada suara terdengar dari sana. Bahkan suara burung berkicau pun tidak terdengar. Juga tidak ada suara angin di pepohonan.dalam kesunyian itu, mereka menemukan Pepi dan dua temannya yang lain tergeletak di luar pagar rumah. Mereka tidak bergerak. Diam seperti orang tidur. Segera orang tua masing-masing memeriksa keadaan mereka, dan mereka sangat terkejut. Wajah mereka pucat. Pepi dan ke dua temannya sudah tidak lagi bernyawa. Orang-orang langsung marah mengetahui ke tiga anak itu telah mati. Mereka ingin menangkap Nenek Katibu, menghancurkan rumahnya.
“tangkap penyihir tua itu!!! Tangkap!!! Hancurkan rumahnya!!! Hancurkan!!!”
Orang-orang mulai bergerak, mereka hendak melompati pagar pendek yang mengelilingi rumah ketika tiba-tiba, datang terpaan angin yang sangat kencang. Angin itu datangnya dari rumah Nenek Katibu. Angin itu sangat kencang sampai-sampai para penduduk limbung, tidak bisa berdiri tegak. Ketika angin sudah reda, para penduduk tidak langsung pergi. Mereka masih mencoba untuk masuk. Tapi tiba-tiba seseorang berteriak. “kulitku gataaal!!! Semuuuuuut!!!” demikan juga yang lainnya. Ternyata tubuh mereka penuh dengan semut berwarna kuning madu. Entah dari mana datangnya, mungkin bersama hembusan angin tadi, semut-semut itu merayapi tubuh mereka semua.
Maka mereka pun segera berlari pergi. Kembali pulang ke rumah masing-masing dengan kemarahan, kebencian dan dendam.
ĶĶĶ
“Apakah Nenek Katibu memang penyihir, kak? Apakah dia perempuan jahat?” Tanya adikku yang baru berusia delapan tahun. Di tangannya ada secuil kue yang belum habis dimakan.
“Tidak, dia bukan perempuan jahat. Dia perempuan yang baik. Sangat baik.” Jawabku.
“Tapi, kenapa Pepi dan dua temannya mati? Itu kan perbuatan orang jahat.” Tanyanya lagi.
“Oh, itu salah mereka sendiri. Mereka mencuri makanan bukan milik mereka. Mereka tidak tahu itu berbahaya.”
“Ng…terus, kakak tahu dari mana?”
“Seminggu setelah peristiwa itu, Dorin menceritakan kejadian sebenarnya di rumah Nenek Katibu. Maka orang-orang pun tahu jika anak mereka yang salah. Mereka pun membiarkan Nenek Katibu dan rumahnya. Mereka tidak lagi berusaha menangkap atau merusaknya.”
“Ah, iya, nek katibu gak mungkin jahat. Mm…andai aku bisa makan kue madu lembut.”
“Dek,” kataku sambil tersenyum. “kau bisa makan kue hebat itu. Karena, kakak tiap sore datang ke rumah Nenek Katibu. Hehehe, tapi ini rahasia kita berdua!” Adikku mengangguk senang.
“Benarkah? Hah? Bagaimana bisa kak?” adikku terheran-heran. Matanya berbinar penuh kesenangan.
“Tentu saja bisa. Karena kakak percaya Nenek KAtibu tidak mungkin mencelakai orang lain. Kakak percaya nenek Katibu sangat menyayangi semua orang. Dan memang dia wanita yang baik hati.” Sekali lagi adikku tersenyum. Di matanya terbayang lezatnya kue madu lembut rasa manggis yang masih hangat.

TAMAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: