Posted in sastra

KARENA SAYANG IBU, AKU TAK AKAN MENYERAH

Beberapa hari ini, arul tampak mengantuk di kelas. Dan dia selalu ingin oulang cepat. Sungguh tidak seperti biasanya. Sebagai sahabat dekatnya, Titin ingin tahu dan akan membantu jika dia dibutuhkan. Hari itu, pada jam istirahat, Titin berbicara pada arul.
“hei, kamu kok ngatukan sih? Kenapa?” Tanya Titin.
“ng…gak papa din. Cuma ngantuk. Hehe.”
Meskipun arul tidak memuaskannya, tapi dina tidak mau bertanya lebih banyak. Dia berpikir, mungkin itu sesuatu yang rahasia. Maka dia pun mengajak arul bermain bersama teman-teman yang lain.
Й
Memang ada sesuatu yang dirahasiakan oleh arul, dia tidak bermaksud untuk menceritakannya pada siapapun. Bahkan tidak pada ibunya yang sangat dicintainya. Yang belum diketahui Titin adalah, arul selalu pulang terlambat, dan bajunya agak kotor. Kotor yang bukan karena bermain di sekolah.
“Arul, kenapa kamu pulang terlambat lagi nak? Tidak biasanya kamu begini.” Bu Abidah, ibunya Arul, menanyai putra tunggalnya itu. Tapi arul hanya diam. Dia segera masuk kamar dan menaruh tasnya. Ibunya menysusul, dia merasa aneh dengan sikap anaknya itu.
“arul, kamu kenapa nak? Lihat neh, bajumu juga kotor.” Tanya Bu Abidah. Dia pun duduk di sebelah arul, membelai rambutnya yang jarang diminyaki.
“tidak ada apa-apa kok bu, arul tadi main dengan teman-teman. Maaf bu…”
“oh. Main tidak apa-apa nak, tapi jangan sampai kotor begini.”
“ng…nanti arul cuci sendiri bu. Eh, ibu mau ambil kayu di hutan? Arul temani yah. Biar gak kesepian bu.”
Bu Abidah tersenyum. Sudah berulang kali arul menawarkan diri untuk menemani ibunya mencari kayu di hutan, tapi beliau selalu menolaknya. Beliau tidak tega melihat arul yang barus SD kelas empat harus bekerja payah. Bu Abidah selalu menyuruh Arul untuk menjaga rum,ah sambil belajar dari pada ikut ke hutan mengumpulkan kayu.
“tidak usah nak, kamu di rumah saja. Cukup ibu yang nyari. Nasinya sudah siap, segera dimakan, entar keduluan kucing lho. Semoga hujan tidak turun hari ini.”
Й
Arul memang bukan dari keluarga berada. Sehari-hari ibunya harus ke hutan mengumpulkan kayu, atau daun jati, atau menggali umbi liar, lalu menjualnya ke pasar. Dengan itu dia menghidupi keluarganya dan membiayai sekolah Arul.
Akan tetapi, arul masih saja bertingkah aneh. Dia sering datang ke sekolah terlambat, pulang juga terlambat. Sekali waktu ibunya memarahinya, tapi arul hanya diam saja. Air matanya menetes perlahan, jatuh membasahi ujung jari kakinya. Arul menyembunyikan sesuatu.
Maka hari itu, Titin mendesaknya agar bercerita. Selama ini, titin telah banyak membantu arul, dia sering memberi arul pensil atau buku bekas untuk menulis. Mengingat semua itu, arul pun akhirnya bercerita pada titin.
“sebenarnya, aku datang telat karena aku…mengumpulkan kayu bakar dalam perjalanan ke sekolah. Aku ingin membantu ibu. Aku tahu, tiap musim hujan datang penyakit ibu pasti kumat. Ibu kenak athma. Tapi ibu tak pernah membeli obat, karena jika ibu beli obat, tidak ada uang buat beli nasi dan ikan.
Jadi, aku mengumpulkan kayu agar kalau penyakit ibu kumat, aku bisa membelikan ibu obat. Aku sudah punya beberapa ribu di tas, dengan menjual kayu yang kukumpulkan hari ini, aku bisa membeli obat buat ibu.” Mendengr itu titin meneteskan air mata. Bibirnya bergetar. Dia tidak tahu jika selama ini sahabatnya itu telah bersusah payah demi ibundanya tercinta.
“aku punya uang, kau ambil saja Rul buat tambahan beli obat.” Titin menawarkan bantuan.
“tidak Tin,” arul menggeleng. “aku ingin obat itu dari hasil usahaku. Ibu melarangku untuk selalu menerima bantuan orang lain.” Meskipun terasa berat, tapi arul tersenyum. Mengabarkan bahwa dia kuat dan sanggup berusaha.
Й
Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba hujan deras turun, disertai angin yang bertiup kencang. Petir menyambar-nyambar, gelegar guntur menggetarkan dada. Udara sangat dingin dan pandangan jadi kabur. Suasana ini, dingin ini, arul tahu apa yang terjadi di rumahnya, dalam keadaan seperti ini, penyakit ibunya pasti kambuh lagi. Maka arul bergegas menuju tempatnya mengumpulkan kayu bakar. Dia periksa tasnya, bukunya basah kena air hujan, tapi uangnya selamat, karena dia membungkusnya dalam plastic hitam yang dia pungut dari jalan.
Sesampainya di tempat kayu, ternyata seseorang, atau seekor binatang, telang mengobrak-abriknya. Kayu-kayu itu berantakan, padahal arul sudah mengikatnya dan tinggal membawa ke pengumpul. Di bawah guyuran hujan yang makin deras, dalam bayangan sambaran petir yang membuat langit terang mengerikan, dan tiupan angin yang membuat gigi gemelatuk kedinginan, arul mengumpulkan satu persatu batang kayu yang telah dikumpulkannya sejak kemarin.
Setelah terkumpul, segera dia mengikatnya. Kepayahan arul menggotong kayu itu. Kayu yang tadinya ringan, kini berubah berat karena basah oleh air. Belum lagi jalan yang menjadi licin, arul harus sangat berhati-hati.
Й
Di rumah, bu Abidah terbaring kesakitan, dadanya terasa sesak, beliau kesulitan bernafas. Tangannya yang kurus berusaha meraih gelas air di meja kecil dekat tempat tidur. Tapi karena gemetar, gelas itu jatuh dan airnya tumpah membasahai lantai. Udara dingin menerobos masuk dari dinding rumah dari anyaman bambu. Itu membuatnya semakin tersiksa. Nafasnya semakin sulit, dadanya terasa semakin semakin sakit, perlahan, pandangannya mulai redup. Samara-samar, dia mendengar pintu depan di buka. Dia memanggil nama arul. Tapi tak ada jawaban. Yang ada hanya bunyi angin yang makin kencang, menggoncang pepohonan di luar rumah.
Й
Karena terlalu berat, arul menyeret kayu itu sampai ke rumah si pengumpul. Orang tua baik hati itu terkejut melihat arul membawa kayu bakar di bawh hujan badai seperti ini.
“pak, huf huf huf, mana uangnya, huf huf huf, saya mau membeli obat buat ibu!”
Arul segera berlari menuju toko obat. Tidak dia pedulikan tubuhnya yang menggigil kedinginan, atau tenaganya yang sudah kepayahan. Dia tahu, saat ini pastilah athma ibunya telah kambuh, dan dia tidak ada di sampingnya.
Setelah mendapatkan obat, arul segera berlari pulang. Tidak dia pedulikan sisa uangnnya. Baginya itu sama sekali tidak berarti. Dia hanya ingin segera pulang, dia ingin segera menemui ibunya yang sedang sakit, dia ingin ibunya segera minum obat dari kerja kerasnya itu. Dia tidak ingin pulang terlambat. Obatnya dia genggam erat-erat. Itulah harapan ibunya.
Karena panik, arul tidak memperhatikan jalan yang licin tertutup air. Kakinya terpeleset dan jatuh terguling-guling. Wajahnya terbenam ke dalam genangan air, sedangkan obatnya terlepas. Arul segera berdiri, mencari bungkusan plastic putih tempat obatnya berada. Tapi derasnya hujan dan tingginya genangan air, menyulitkan pencariannya. Perlahan, dalam keputus asaan, arul meneteskan air mata. Obat itu hiloang, hanyut terseret air entah ada di mana. Di depannya hanya ada denangan air merah dingin lagi kotor. Arul memanggil ibunya berulang-ulang. Harapannya telah hanyut. Dia kemudian jatuh terduduk tak berdaya.
Arul menangis. Hujan yang turun makin deras tidak terasa lagi oleh tubuhnya. Angin yang makin kencang bertiup tak terasa lagi dinginnya. Harapannya hilang, obat itu telah hanyut. Dia telah terlambat sekolah dan pulang selama ini dan yang didapatkannya hanya sia-sia. Arul menyesali kecerobohannya. Mengapa aku harus jatuh? Arul pun berteriak memanggil nama ibunya sekuat yang dia bisa.
Й
Di rumah, Bu Abidah terkejut melihat siapa yang muncul dihadapannya. Bukan Arul. Meskipun pandangannya mulai kabur, tapi dia tahu siapa yang mendatanginya. Wajahnya yang pucat dan lelah berusaha utnuk tersenyum menyambut kedatangan mereka.
“jadi, kalian yang datang…” Katanya pelan.
Й

Namun, bayangan wajah ibunya yang tersenyum kembali datang. Dan dia sadar, walau pun obat itu telah lenyap, dia masih punya kasih saying untuk diberikan pada ibunya pada saat yang buruk seperti ini. Dia masih bisa merawat sang ibu dengan tenaganya. Tak seharusnya dia membiarkan ibunya seorang diri saat hujan badai begini. Tak seharusnya dia berputus asa saat ibunya menanti kedatangannya. Maka arul pun kembali berlari, mengejar waktu yang terasa makin sempit. Arul berdoa semoga ibunya baik-baik saja di sana. Ibu, aku tak akan menyerah, karena aku menyayangi ibu.
Di depan, rumah bambu itu sudah kelihatan, terselimuti hujan yang tak kunjung reda. Ibu, arul datang, Bu.
Arul langsung menerobos masuk ke dalam rumah sambil memanggil ibunya, dan betapa terkejutnya dia melihat apa yang ada di depan matanya. Di sana, di sebelah tempat tidur kecil dan reot itu, duduk Titin dengan ke dua orang tuanya. Dan ibunya tersenyum lega di atas pembaringan..
“Aku memberi tahu ayah kalau ibumu sakit, maka kami datang untuk menjenguk beliau. Kamu kenapa terlambat?” Titin bertanya, sedang Arul hanya tersenyum bahagia.
“Arul, kemari nak. Titin sudah menceritakan semuanya pada ibu. Kemari anakku sayang. Ibu mencintaimu dengan sepenuh jiwa.” Arul berlari memeluk ibunya, disaksikan Titin dan kedua orang tuanya. Mereka semua menangis terharu atas kejadian itu. Dalam hati, ARul sangat bersyukur atas kemurahan Tuhan dan keluarga sahabatnya itu. Terimakasih Allah .

Arul chandrana
Monday, March 01, 2010

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

4 thoughts on “KARENA SAYANG IBU, AKU TAK AKAN MENYERAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s