Posted in sastra

BELALANG PEMBERANI MENCARI NEGERI BARU

Kemarau kali ini berbeda dari tahun yang lalu, dan tahun-tahun sebelumnya. Lembah kering, tak ada rumput yang benar-benar hijau dan segar. Pohon-pohon juga agak layu. Tidak ada daun yang benar-benar enak untuk dimakan. Bahkan pucuk daun muda pun rasanya agak pahit. Ini kemarau yang tak pernah terjadi sebelumnya di lembah belalang.
Para belalang yang tinggal di lembah mulai gelisah. Mereka khawatir akan terjadi hal buruk. Bagaimana kalau hujan masih lama turunnya? Bagaimana kalau tak lama lagi rumput mengering dan tak bisa lagi dimakan? Bagaimana jika pohonan mati dan tak ada lagi tempat untuk tinggal? Para belalang sedang cemas. Tentu saja.
“Kita harus pindah ke lembah yang lain,” kata Momogi, ketua para belalang. “Kalau kita tetap bertahan di lembah yang mengering ini, kita bisa mati satu persatu.” Katanya lagi.
“Tapi kita tidak bisa langsung pergi ketua,” Komogi, wakil ketua belalang berbicara. “Kita tidak tahu lembah mana yang bisa kita tempati, sejauh mata memandang, semuanya mengering. Di mana-mana kering ketua.”
“Benar,” kata Momogi, “kita tidak akan langsung pindah, tapi kita akan mengutus Bangsir Sang Ksatria belalang untuk mencari lembah yang bisa kita tempati. Baru kemudian kita pindah.” Ketua belalang menjelaskan. Komogi mengangguk setuju. Itu ide yang sangat bagus. “Panggil Bangsir segera, suruh dia menemuiku!”
Maka Komogi pun pergi memanggil Bangsir. Ketua Momogi diam di tempatnya, berpikir, “semua ini gara-gara sungai yang tiba-tiba kering. Kenapa sungai itu bisa kering? Dan lembah pun ikut kering di musim kemarau ini. Padahal tak pernah terjadi sebelumnya.”
***
Bangsir adalah pahlawan belalang di lembah ini. Semua anak-anak mengidolakannya. Orang-orang tua bangga padanya. Bangsir adalah belalang yang kuat dan besar. Tubuhnya berwarna kuning mengkilat dengan dua kaki belakang yang kokoh dan berduri tajam. Bangsir akan mencari lembah baru yang hijau untuk masyarakat belalang.
“Kemarau telah membuat sungai kering.” Bangsir berkata di depan para belalang yang telah berkumpul, “dan rumput di lembah hampir tak bisa dimakan. Oleh karena itu, aku, Bangsir, belalang pahlawan di kampung ini, akan mencari lembah yang hijau dan rumputnya enak dimakan buat kalian semua!”
“Horeeeeee…” para belalang bersorak senang dan penuh harapan. Sebagaian lagi melompat terbang berputar-putar. Mereka percaya akan kemampuan Bangsir.
“Ehm, ehm, oleh karena itu, karena aku akan menghadapi perjalanan yang jauh dan bahaya yang tidak bisa dibayangkan, aku minta, kalian menyumbangkan selembar rumput paling segar yang kalian punya…”
Para belalang yang tadinya senang tiba-tiba diam. Terkejut. Tapi segera ketua Momogi maju dan memberikan selembar rumput segar miliknya. Dan katanya, “itu untuk bekal pahlawan kita.” Maka semua belalang yang lain pun melakukan hal yang sama.
“Baiklah, kurasa bekal sudah cukup. Aku akan ke hilir untuk mencari lembah!” Bangsir pun berangkat dengan banyak rumput segar.
“Horee….!!! Semangat!!! Cepat pulang Bangsir!!!”
***
Tapi, ternyata tidak semua belalang mengidolakan Bangsir. Ya, ada yang menertawakanya. Mereka adalah tiga belalang kembar, Gigirong si sulung, Gangsir si tengah, dan Angghos si bungsu. Mereka tiga belalang yang pemberani, juga nakal. Mereka telah berjalan jauh sampai ke tempat-tempat yang tak nampak. Sore itu, mereka berjalan ke hilir, mengikuti jejak Bangsir.
“Apa kau yakin Bangsir membohongi para belalang?” Tanya Angghos.
“Ya, tentu yakin. Masak kau lupa, kita dulu pernah berjalan ke hilir waktu sungai masih mengalir. Dan apa yang kita temukan?” Gangsir balik bertanya.
“Air Besar yang rasanya sangat tidak enak! Seperti keringat yang sangat asin!” Gigirong berkata. “Dan itu artinya…”
“Tidak ada lembah baru di hilir sana! Seharusnya Bangsir ke hulu!” Angghos menyimpulkan.
“Yep. Benar sekale!” Gigirong menjawab. “Hei, coba lihat itu!” Tiba-tiba dia berseru sambil menunjuk ke depan. Di sana ada gua kecil, dan di dalamnya seekor belalang besar kuning tengah berbaring santai memakan rumput segar. Dia adalah…
“Tepat sekali, itu Bangsir! Dasar pecundang. Dia membohongi orang-orang!” Gangsir marah. Dia ingin menangkap Bangsir tapi adik dan kakaknya mencegahnya.
“Kita tidak akan bisa menangkap Bangsir yang perkasa.” Kata Gigirong, “tapi…”
“Kita bisa mencari lembah hijau ke hulu,” kata Angghos. “Ayo kita temukan lembah itu!”
***
Di lembah kering, para belalang berdoa dan cemas menanti kedatangan Bangsir. Satu hari sudah lewat. Mereka berkumpul di rumah pohon keluarga masing-masing. Mereka memakan daun dan rumput hijau sedikit-sedikit, karena mereka tak tahu berapa lama lagi Bangsir akan kembali dari perjalanannya.
Saat itu ketua Momogi sedang membaca awan ketika keluarga Gigirong bersaudara datang sambil menangis. Ibu Gigirong hampir-hampir tak bisa lagi berjalan. Dia dituntun oleh suaminya yang juga tampak sangat sedih.
“Ada apa? Ada apa ini? Kalian kan orang tua si kembar Gigirong, Gangsir dan Angghos?” Tanya ketua Momogi penuh simpati.
“Benar ketua, kami orang tua mereka. Dan, mereka, mereka hilang ketua…” Ibu Gigirong menangis lagi, suaranya parau karena kebanyakan menangis dan kurang minum.
“Hilang lagi? Oh Tuhan, anak-anak itu. Di saat seperti ini…” ketua Momogi menggeleng-geleng kepala. Tangannya mengepal geram.
“Ketua, maksud kami datang kemari adalah, bisakah ketua meminta para belalang untuk mencari anak kami itu?” ayah Gigirong berkata. Suaranya memelas dan mengharukan. Dia takut permintaannya ditolak. Dan ternyata…
“Maaf, maaf ibu bapak Gigirong. Maaf. Saya ikut prihatin atas keadaan yang menimpa kalian. Tapi, dalam keadaan buruk begini, kemarau panjang dan kehidupan tak jelas, terlalu berisiko untuk keluar rumah. Pemangsa ada di mana-mana…”
Ibu si Gigirong menjerit keras. Dia gemetaran. Memikirkan anaknya di makan burung atau ular. Maka mereka pun pamit kembali ke pohonnya dengan berlinang air mata. Ketua Momogi bergumam, “dasar anak-anak nakal, bisanya menyusahkan orang tua! Kali ini pergi ke mana mereka? Kasihan orang tua itu…”
***
Nah, kira-kira sampai di manakah tiga saudara kembar yang pemberani itu? Mereka terus berjalan ke hulu. Mengikuti bekas aliran sungai yang kering. Batu-batunya yang hitam dan besar kelihatan semua. Ketika mereka sudah sangat jauh berjalan, tubuh mereka kelelahan, dan matahari sudah akan terbenam di barat, Gangsir mengajak mereka untuk segera kembali ke lembah. Dia khawatir orang tuanya akan panik mencari mereka. Tapi, tiba-tiba Angghos melihat permukaan tanah sungai yang agak basah di depannya. Sumber mata air sudah dekat!
“Kita istirahat dulu di sini, hulu sudah dekat, tapi matahari akan segera tenggelam.” Gigirong memberi perintah. Kedua saudaranya saling menatap. “sebaiknya kita mencari pohon untuk tidur.” Kata Gigirong lagi.
“Apa tidak sebaiknya kita pulang saja ke lembah?” Tanya Gangsir.
“Iyah. Tempat ini mengerikan.” Angghos menambahi.
“Tidak, sudah terlanjur sampai di sini. Sebentar lagi malam, kita tidak bisa pulang di malam hari.” Maka mereka pun tidur di pohon dekat situ.
Malam itu mereka tidur berdempetan. Dan saat hari mulai gelap, tiba-tiba, mereka melihat ada sangat banyak cahaya di kejauhan sana. Cahaya itu sangat dekat ke bumi. Mereka tahu itu bukan bintang karena tidak berkedip-kedip. Tapi mereka tak tahu cahaya apa itu.
Besoknya, begitu matahari terbit, mereka segera melanjutkan perjalanannya. Makin ke hulu makin basah. Bahkan kemudian, ada airnya yang menggenang. Dan mereka terkejut, karena mendadak, di depan mereka, berdiri bangunan sangat besar dan tinggi yang tidak mereka kenal sebelumnya. Itu bangunan yang sangat aneh, tidak seperti rumah rayap atau semut tanah. Bangunan itu sangat-sangat-sangat-besar sekali. Dan, dari atasnya, ada air yang mengalir. Sangat pelan sekali. Bangunan itu sangat misterius.
“Sepertinya, dialah yang telah meminum air dari sungai ini!” kata Gangsir. “Ayo kita periksa!”
Dan benar saja, di balik bangunan itu, ada air yang sangat-sangat-sangat-banyak sekali. Ketiga saudara kembar itu terheran-heran. Gigirong teringat pada Air Besar, maka dia pun mencicipinya, ternyata tawar, sama sekali tidak terasa seperti keringat yang tidak enak. Tidak seperti Air Besar yang mereka datangi di hilir dulu. Mereka pun minum sebanyak-banyaknya.
“Lihat itu!” Angghos lagi-lagi melihat sesuatu. Agak jauh dari bangunan besar itu, terhampar lembah yang sangat luas. Semuanya hijau. Semuanya segar. Dan ada air yang mengalir dari bangunan ini ke lembah hijau itu. Itulah lembah idaman mereka. Tapi ada yang aneh di sana, di lembah itu ada makhluk berkaki dua yang bisa berdiri. Mereka berjalan mondar-mandir di antara tanaman. Saat Gangsir menanyakan makhluk itu pada Gigirong, si sulung menjawab sederhana, “mungkin itu monyet yang sudah pintar. Sepertinya tidak berbahaya. Nah, ayo, segera kita laporkan pada ketua Momogi!” Gigirong siap-siap terbang. Tubuhnya terasa kuat setelah minum.
“Tunggu!” Angghos berseru. “Ada yang mau kulakukan sebentar!”
***
“Hai para belalang, bergembiralah, karena aku telah kembali dengan membawa berita baik bagi kalian yang kelaparan dan kehausan!” Bangsir berteriak dari atas gundukan tanah. Orang-orang pun berdatangan. Mengerumuni Bangsir yang berdiri sambil berkacak pinggang. “Aku telah berhasil! Ketua Momogi, aku telah menemukan lembah hijau itu di hilir sana. Kita bisa pindah ketua. Sekarang!” Bangsir berkata mantap.
“Benarkah itu Bangsir? Oh, aku sangat senang dan lega mendengarnya.” Jawab ketua Momogi bersemangat. “Para belalang, dengarkan, kita akan pindah ke lembah yang ditemukan Bangsir sekarang juga!” para belalang menyambut dengan sorakan yang nyaring.
“Ketuaa…tapi anak-anakku belum kembali! Tolong, tunggulah sampai mereka datang…” Ibu Gigirong memohon. Tapi Bangsir menolaknya dengan kasar.
“Tidak bisa! Kita harus berangkat sekarang. Lembah hijau yang kutemukan…”
“Dia berbohong….!!!” Tiba-tiba, terdengar teriakan Gigirong, Gangsir dan Angghos memotong ucapan Bangsir. “Dia berbohong! Dia tidak menemukan lembah hijau. Dia menipu kita! Mengambil rumput hijau kita!” Gigirong berkata lantang. Semua orang terkejut. Ayah ibu Gigirong berteriak penuh kebahagiaan, tapi Bangsir berteriak penuh kemarahan.
“Anak nakal! Beraninya kau menuduhku pembohong! Kalian harus dihukum karena kelancangan ini!” Bangsir berang.
“Tidak, kau yang berbohong! Kami yang menemukan lembah hijau. Bukan di hilir sungai, tapi di hulu. Di sana ada bangunan raksasa yang meminum semua air sungai sehingga sungai ini kering. Tapi di sana ada lembah hijau. Kita akan pindah ke sana.”
Para belalang tertawa. Mana ada bangunan yang sangat besar sampai-sampai meminum habis air sungai? Ketua Momogi marah. Dia akan menghukum ke tiga anak kembar itu. Tapi wakilnya, Komogi, berhasil mencegahnya. Dia menyarankan ketua untuk meminta bukti dari kedua belah pihak.
“Hm…itu bijaksana. Baiklah, kalian, Bangsir dan Gigirong bersaudara, tunjukkan bukti bahwa kalian telah menemukan lembah hijau yang baru!” Bangsir terkejut, dia tidak punya bukti, dia tidak punya apa-apa. Karena memang dia hanya berbohong. Sementara itu, dengan percaya diri, Angghos maju ketengah-tengah kerumunan, lalu dari balik sayapnya dia mengeluarkan selembar daun hijau. Sangat hijau, sangat segar, dan kelihatannya sangat lezat. Bukti yang nyata.
“Jadi, siapa yang percaya pada kami?” katanya. Serta-merta, kedua orang tuanya maju. Kami percaya padamu, anakku. Kata mereka. Gigirong bersaudara tersenyum. Mereka berganti menatap wajah belalang-belalang yang lainnya.
“Aku juga percaya pada kalian.” Komogi sang wakil maju dengan penuh keyakinan.
***
Di lembah itu, pertanian maju pesat. Bendungan sudah selesai dibangun, menampung air sungai sehingga sekalipun musim kemarau ladang tetap bisa diairi dengan cukup. Walau sungai di bawah bendungan jadi kering dan mati. Saat itu seorang petani tengah sibuk memeriksa cabenya ketika datang ratusan belalang hinggap ke lembah yang hijau dan menawan itu. Para belalang itu tampak sangat bahagia.

Thursday, February 11, 2010

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s