• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

TAKDIRNYA PUN SUDAH DATANG (TETANGGAKU PELAUT MISKIN YANG KINI SEMAKIN MISKIN)

pelaut melaratMasih ingat tentang tetanggaku yang pelaut miskin? Yang tidak mau hadir di tiap pertemuan wali murid yang diadakan sekolah anaknya karena minder akan kemiskinannya? Ya, itu kisah yang lalu. Beberapa bulan lalu. Sekarang, takdirnya sudah terjadi. Apa yang memang sudah dikhawatirkan sebelumnya telah terjadi menimpanya. Anaknya sudah berakhir, dia bukan lagi anak sekolah, dia seorang pembantu di sebuah warung soto di Sidoarjo.

Kemiskinan, besarnya tuntutah untuk biaya hidup, kecilnya pemasukan, membuat orang harus memangkas kebutuhan-kebutuhan sekunder. Yang menjadi pokok utama urusan rumah adalah: adakah yang bisa dimakan hari ini atau esok hari? Kebutuhan selalin itu akan diusir jauh-jauh sebelum yang pertama tadi beres. Rasional memang, tapi sungguh amat ironis, kalau mau tahu.

Negara kita, Indonesia, adalah Negara dengan kekayaan alam yang sangat berlimpah. Hampir tidak ada bagian dari tanah negeri ini yang tidak bisa berubah menjadi uang, atau menjadi sumber kehidupan. Kita bisa menanam hampir semua jenis tanaman yang ada di muka bumi di tanah Indonesia, kita juga bisa menemukan hampir seluruh barang tambang di bumi di dalam perut tanah Indonesia. Batu, pasir, pohonan, air, ikan, gurita, ternak darat, semuanya bisa kita temukan di tanah keajaiban ini. Dan hebatnya, di atas segala kekayaan ini berjejalan orang-orang yang bahkan tidak makan kecuali sekali, atau tidak makan kecuali sisa orang yang telah dibuang, atau tidak memakai baju kecuali apa yang telah mereka miliki semenjak hampir empat tahun lalu. Dan apalagi soal pendidikan, seakan hampir tabu untuk merasa heran jika ada yang putus sekolah karena terganjal masalah biaya. Orang-orang hampir di semua tempat sedang menunggu datangnya giliran. Mereka seakan menghitung hari, kapan akan terdepak dari bangkus ekolah dengan kutukan yang sama: tidak ada biaya.

Jadi begitulah, si nelayan miskin itu telah terjungkal. Apa yang dia perjuangkan beberapa lama ini akhirnya mencapai bagian akhirnya. Anak pertamanya berakhir di smp, tidak lulus. Begitu pula putra keduanya itu, dia berakhir di smp. Apakah ini karena anak-anak itu tidak punya minat belajar yang tinggi? Apakah karena, seperti kata sebagian orang, bahwa anak-anak Indonesia tidak punya keinginan berubah? Atau seperti tuduhan pemerintah bahwa kesadaran berpendidikan rakyat Indonesia sangat rendah? Omong kosong! Bukan itu masalahnya! Mereka kehilangan semangat belajar bukan karena mereka tidak bersemangat tapi karena mereka kasihan melihat penderitaan orang tuanya dalam mencarikan biaya sekolah! Anak-anak itu adalah, bagaimanapun juga, manusia yang berperasaan. Mereka hancur hatinya melihat bagaimana kesusahan menimpa keluarga mereka karena ingin membiayai sekolahnya. Mereka pun akhirnya mengambil jalan keluar yang paling dibenci para orang tua tapi tidak bisa ditolak: putus sekolah dan bekerja. Bekerja menjadi apa saja. Jadi, sudah tahukah anda sekarang yang sebenarnya terjadi, saudara? Ini bukan tentang pelanggaran hak anak, bukan, ini adalah tentang kemiskinan yang membunuh!

Aku melihat, para nelayan sedang menghadapi kiamatnya seorang diri. Para juragan—pemilik perahu, yang memiliki abk untuk menjalankan perahunya—satu persatu tumbang. Jatuh dari orang yang berada menjadi orang yang dililit hutang. Bagaimana bisa terjadi? Kita tahu harga solar—bahan bakar untuk menggerakkan perahu nelayan—sangat melambung. Dengan demikian, konsekwensinya adalah para pelaut harus mendapat tangkapan yang banyak (para pelaut menyebutnya along) untuk menutupi semua pengeluaran untuk melaut. Masalahnya, laut kita tidak lagi sekaya dulu kala.laut Indonesia saat ini benar-benar kurus, hampir semua sumber daya laut telah dirampas habis mulai dari permukaan laut sampai kelumpurnya. Bukan hal aneh jika pelaut sampai tiga kali melaut dan mereka tidak mendapatkan apapun. Pulang dengan tangan hampa. Dan jika itu terjadi, para juragan akan gulung tikar dan terjerat hutang untuk menutupi semua cost yang dikeluarkan. Bahkan tak jarang sampai menjua perahu dan segala peralatannya. Lantas, apa yang kita dapatkan kemudian? Jumlah orang miskin yang bertambah. Dan apa yang kita dapatkan kemudian? Anak-anak para pelaut yang harus copot dari sekolahnya.

Mungkin ada yang menganggap ini berlebihan, tiga kali gagal melaut bagaimana bisa membuat juragan bangkrut? Ini penjelasannya. Untuk melaut, para pelaut membutuhkan solar, minyak tanah, es (untuk mengawetkan ikan tangkapan), onderdil mesin, dan konsumsi abk untuk waktu tujuh sampai sepuluh hari di laut. Pengeluaran untuk perahu pancing rawe kecil dengan abk enam orang, juragan mengeluarkan modal kurang lebih tujuh juta, sedangkan untuk perahu rawe besar dengan sembilan orang abk, juragan mengeluarkan modal kurang lebih sepuluh juta. Sekarang silahkan anda kalkulasi, anda hitung dalam hati, tiga kali pelayaran dan tiga kali pula tidak mendapatkan hasil, berapa kerugian yang ditangung? Masalahnya, ini adalah pengusaha kelas kacang, orang yang berusaha dengan modal yang amat terbatas. Mereka bukan jutawan, mereka—apalagi—bukan milyarder, kerugian tiga kali saja sudah dapant menghancurkan lapangan kerja yang mereka buat. Dan para abk adalah korban berikutnya.

Dan tetanggaku pelaut miskin itu, dia akhirnya terkena pula kutukan sebagai warga Indonesia—kutukan paling kubenci sepanjang masa, yaitu hidup makin lama tak makin sejahtera tapi makin sengsara. Ini kutukan turun temurun sejak jaman penjajahan. Apa ada yang mau berkata: mereka miskin karena mereka malas berusaha? Apa ada yang terbersit kalimat itu di dalam hati? Astaga! Tetanggaku itu orang paling gigih yang pernah kutahu. Saat laut tenang, dia melaut dengan perahu rawe. Menjelajah laut yang maha jauh dan maha luas karena sudah tidak ada lagi ikan di perairan dekat—dan inilah penyebab mahalnya modal melaut, harga solar. Di musim barat, di mana laut menggila dan berubah menjadi pembunuh tua yang mengancam para nelayan, tetanggaku itu beralih menjadi penjaring ikan di perairan dangkal. Dia adalah pelaut yang tidak pernah berhenti! Dia adalah pelaut yang tidak memiliki hari libur kecuali hari raya dan saat jatuh sakit! Dia adalah pelaut yang tidak bisa berhenti sejenak untuk bernafas lega! Dia aalah pelaut yang hidupnya telah terjaring dalam perangkap kemiskinan akibat buruknya pemerintah kita mengelola sumber daya alam, akibat buruknya pemerintah kita mengatur negara, akibat korup dan diskriminatifnya pemerintah kita! Aku lelah memikirkannya. Tetanggaku itu bukan pemalas, bukan pula orang yang meremehkan pendidikan, bukan pula orang yang mudah menyerah. Tetanggaku itu adalah pelaut yang terkutuk di tanahnya sendiri oleh pemerintahnya sendiri. Aku sangat berharap ada yang bisamenunjukkan padaku bahwa pendapatku salah.

Sebelum tulisan ini berakhir, kakakku datang dan mengatakan jika tetanggaku itu telah menjual rumah dan tanahnya. Dia pindah ke pinggiran desa, membeli sepetak kecil tanah dan membangun sebuah gubuk bambu reot di sana. Astaghfirullah, astaghirullah, aku hanya bisa menulis tentangnya, berharap ada anggota DPR yang masih waras membaca tulisan ini dan terketuk hatinya. Atau siapa saja yang mau perduli.

Catur Amrullah, Saturday, December 12, 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: