• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

MEREKA YANG TIDAK KUTEMUI SAAT WISUDA (PADAHAL AKU SANGAT INGIN MENEMUI MEREKA!)

Jelas aku sangat senang bisa bertemu semua orang yang kutemui dalam wisudaku itu. Mereka benar-benar membuat hatiku berbunga-bunga. Ini adalah kebersamaan yang sangat langka, bahkan hanya ada sekali seumur hidup. Tidak akan ada lagi pertemuan sebesar ini sesudah hari ini—selama di dunia tentunya.
Namun demikian, ada beberapa orang yang karena sesuatu yang sangat berat, mereka tidak bisa hadir dalam acara tersebut. Mereka adalah orang yang sebenarnya kunantikan kehadirannya. Mereka kuharapkan semalaman sebelum hari H tiba. Tapi begitulah, mereka tidak bisa hadir. Menyisakan satu lubang hitam dalam rongga dadaku. Orang-orang spesial itu adalah:

Ibuku (Mawiyah)
Beliau tidak bisa datang ke wisudaku karena hari ini beliau sedang sakit, juga ayah—tiri—ku. Beliau tidak bisa meninggalkan bawean. Tidak bisa menghadiri acara yang telah dijanjikan kehadirannya semenjak empat tahun lalu. Beliau telah berjanji dan bertekad untuk bisa datang dalam acara wisuda itu, beliau telah menyiapkan banyak hal untuk itu.
Perhatikan, perhatikan sahabat, empat tahun ibu berjuang, berharap, dan menanti momen wisudaku, tapi ketika saatnya tiba, beliau jatuh sakit. Siapa yang tak tersiksa hatinya?
Hari itu, beberapa hari sebelum wisuda, beliau menelelponku dan menyatakan penyesalannya atas ketidak hadirannya nanti. Aku tahu beliau sangat terpukul. Dan aku hanya bisa mengabulkan permohonan maafnya. Ketahuilah ibu, sebenarnya tak ada yang perlu dimintai maaf., tidak ada. Perjuanganmulah yang menyisakan sehamparan kecewa, kecewa karena engkau tidak bisa melihat puncak dari semua itu, engkau tidak sempat memenuhi keinginan yang telah engkau pupuk sejak empat tahun itu. Momen yang hanya akan bisa engkau saksikan sekali dalam seumur hidup—karena kenyataan akulah satu-satunya putranya yang jadi sarjana.
Aku termenung memikirkan ini. Dan berkaca-kaca.

Kakak ke-tigaku (Laili Tri Astana)
Jika dia ada di sini, pastilah dia akan datang. Menyaksikan bagaimana adiknya yang dulu menyebalkan ini kini telah menjadi sarjana. Mbak ku itu ada di Malaysia, terpisah laut dan perbatasan negara. Dia di sana, aku berpikir, mungkin diasedang merenungkan diriku.
Mbak ku itu begitu berani berkorban untukku. Aku tahu dia sangat menyayangi kancil kecil ini. Aku ingat saat kita masak bersama, dan, aku ingat, dia menangis di dermaga bawean saat melepasku ke jawa, lima tahun lalu.

Kakak ke-duaku (Dwi Khafid Afero)
Dia tidak bisa hadir karena harus tetap di sidoarjo, menjaga warung sotonya. Orang paling lucu yang telah mengisi masa kecilku. Memeriahkan masa kanakku dengan dongeng. Mengajariku cara bercerita. Menguatkan imajinasiku. Mengayakan kosa kataku.
Sewaktu kecilku, kami menjaga lading yang letaknya di lereng gunung. Tidak ada hiburan apa-apa di sana, kecuali sebuah radio tua bermasalah. Di saat senggang, mulailah aku meminta dongengnya—tak satupun dari dongnengnya itu ada yang bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya, tapi siapa perduli? Wahahahahah. Itu kenangan yang membentuk diriku.
Dan kini, dalam salah satu momen yang—kukira—penting dalam hidup keluarga kami, dia tidak bisa datang. Ya, tidak datang.

Ayahku (asmui)
Sebenarnya, aku memang tidak mengharapkan kehadiran beliau karena alasan rasionalitas. Ini sudah delapan belas tahun, beliau di Malaysia an tidak kembali, jadi apa alasannya akan datang hari ini? Yah, aku tidak berharap. Bahkan mungkin beliau pun kurang begitu tahu tentang kuliahku. Terserah.
Aku memang tidak mengharapkan kehadirannya karena alasan rasionalitas, tapi sebenarnya, jauh di suatu tempat yang remang-remang di sudut hatiku, ada tawa ironis yang mendengking tak henti: mana ayahmu? Mana ayahmu? Kau hampir tidak punya, hah?
Dan karena itu, akupun tahu jika sebenarnya aku berharap beliau datang.

my best mate
Dia tidak hadir. Tidak menyempatkan hadir, padahal dia ada di Tuban. Bagaimana bisa itu terjadi? Bagaimana bisa? Entahlah. Yang jelas dia juga repot saat itu. Mungkin sebenarnya ada waktu baginya untuk datang, tapi entahlah, dia memilih opsi yang tidak aku ajukan: tidak datang.
Mungkin ini sepele, atau kurang berarti, atau biasa-biasa saja? Menghadiri wisudanya sahabat baik apa itu cukup urgen? Apa itu cukup perlu? Mungkin pendapat itu benar. Mungkin. Tapi aku ingin menunjukkan padanya. Aku ingin dia tahu. Aku ingin dia menyaksikan dan merasakan salah satu momen yang sepertinya penting dalam hidupku. Aku hanya ingin dia tahu bagaimana ini rasanya.
Aku hanya bisa memintanya hadir—sejak beberapa hari sebelumnya. Tentu aku tidak bisa memaksanya, karena dia juga ada kesibukan, urusan keluarga dan jelas itu penting baginya. Tapi, ah, andai dia meluangkan satu menit saja. Yang jelas, ketidak hadirannya memang beralasan.

Atau aku yang terlalu egois tentang semua orang yang tidak bisa hadir itu? Jika dibandingkan dengan apa yang dialami sahabatku Habibi The Krobok Man, pastilah aku sangat egois. Meski orang-orang di atas tidak hadir dalam wisudaku, tapi itu masih mending, aku punya kakak, ipar, dan bibi yang turut datang. Sedangkan habibi, dia datang seorang diri! Seorang diri! Hanya seorang diri. Tidak ada ibunya, kakaknya, atau paman bibinya, bahkan adiknya pun tidak. Walaupun dia bilang itu tidak apa-apa baginya, tapi aku merasakan seakan ada kegetiran jauh di dalam sana. Dia tidak akan mengatakannya padapun.
Ya, aku jauh lebih beruntung dibandingkan sahabta baikku itu. Tapi, tidak bolehkah aku berharap mereka yang di atas itu bisa turut hadir? Atau setidaknya salah satu dari mereka saja? Sampai di sini, aku tidak bisa meneruskan tulisanku. Ada yang panas di kelopak mataku. Aku merasa sangat sedih untuk ibu.

Advertisements

2 Responses

  1. aku selalu dsamping habibi …. 🙂
    hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: