Posted in sastra

Menyelamatkan bintang jatuh

Buat adikku Titin—tentu saja, memangnya ada yang lain?

bintang jatuh, falling star, star, bintang berekorBagus, akhirnya aku dapat kesempatan camping di halaman rumah dengan adik perempuanku, Titian. Ini akan menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan. Bahkan mungkin tak terlupakan. Sudah sejak tiga bulan yang lalu aku menjanjikannya, tapi tiap kali kuutarakan niat ini ke bunda, beliau selalu menolaknya.
“Arul, kau baru sepuluh tahun dan adikmu tujuh tahun, apa yang ingin kau lakukan di luar sana? Bunda tidak akan mengijinkan, kecuali jika kami, bunda dan papa, ikut menemanimu.”
Meskipun papa percaya camping berdua dengan adikku baik untuk melatih tanggung jawabku tapi papa tidak pernah berniat untuk menentang bunda. Jadi selama itu pula aku tidak pernah bercamping dengan adikku. Walau itu hanya di halaman rumah.

Tapi malam ini, bunda tidak di rumah! Seorang temannya melahirkan di sebuah rumah sakit di kota. Ibu berlari-lari panik saat temannya yang lain datang menjemputnya. Sambil memunguti satu persatu peralatan kosmetik dan beberapa bingkisan, bunda menyampaikan serangkaian hal yang harus dilakukan ayah selama ia tidak di rumah. Dan pesan terakhirnya, “jangan ijinkan anak-anak camping di halaman rumah. Bahkan di ruang tamu sekali pun. Tak boleh!”

Dan inilah kami sekarang! Kami ada di halaman rumah dengan tenda mungil berdiri kokoh. Papa membantu kami mendirikan tenda—dan sepertinya tenda ini tidak akan pernah berdiri tanpa bantuannya. Sedang Titian kerjanya cuma ngrepoti dengan bertanya banyak hal yang tidak perlu.

“Papa, kenapa harus diikat di sini? Papa, kenapa di pakukan ke tanah? Kak Arul, apa kita aman dari banjir dengan tidur di rumah plastik seperti ini?”
“Dasar anak kecil, mana ada banjir, hujan aja tak setetes pun turun.” Jawabku ketus.
*
Pukul tujuh malam dan semuanya sudah di dalam tenda. Aku dan Titian duduk melipat kaki di mulut tenda. Papa berjongkok di depan kami. Tatapannya yang lucu memeriksa pakaian kami. Jaket hangat musim hujan membalut tubuh.
“Jadi anak-anak, kalian akan bercamping malam ini.” Kami hanya tersenyum. Bukan ini yang mau papa katakan. Ia sedang mencari pembuka. “Arul, kau perhatikan adikmu, jangan sampai dia sakit. Kalau ada apa-apa segera hubungi papa.”
“o.k Pa.” Jawabku sembari menyalakan walkie-talkie memanggil satunya lagi yang dipegang papa. Alat itu berkemerasak. “Halo papa, Titian hilang diculik belalang! Ganti.” Kataku kemudian. Papa tersenyum sambil menepuk pundakku. Titian meringis cemberut.
“Dan kau, Putri Bintang,” papa selalu memanggil Titian putri bintang—tapi bunda memanggilnya Si Kecil Tengil. Titian tersenyum manis, kedua tangannya menggendong Kim, kucing angora peliharaannya. “Jangan kau lepas jaketmu. Dan ingat, jangan pernah menjauh dari kakakmu, o.k? Kau janji?”
“Janji pa,” jawab Titian sambil mengaitkan jari kelingkingnya ke kelingking papa. Papa tidak keberatan untuk berjanji gaya anak kecil.

Setelah yakin semua beres, papa berdiri. Dilihatnya halaman rumah yang luas ini. Aman, pagar kayu setinggi satu meter mengelilingi rumah ini. Melindungi siapapun di dalamnya dari binatang liar yang mencoba menerobos—atau lebih tepatnya dari kambing tetangga yang suka makan tanaman bunga peliharaan bunda. Papa melangkah menuju pagar. Mengecek apakah ada celah yang cukup untuk dikhawatirkan. Papa kembali dengan tersenyum. Artinya semua beres.

Sampai di depan tenda, papa berjongkok lagi, memeriksa kami sekali lagi. Ada sesuatu di matanya. Tapi semangat yang memercik di wajah kami menenangkannya. Namun, masih beliau harus mengatakannya.

“Ingat, jika ada apa-apa, segera hubungi Papa. Mm…kalian benar-benar akan camping? Berdua? Di halaman rumah?”
“Iyaaa Paaa…” kami berteriak bersama.
*
Di luar pagar, kebun jagung keluarga kami tampak mengantuk dalam keremangan malam. Kebun jagung ini membentang dua hektar ke depan sana. Di tengahnya ada jalan yang cukup lebar untuk dilewati dua mobil berjejeran. Malam ini, jejeran batang jagung yang rapat tampak seperti tembok gelap tebal yang bergoyang.
zodiak, rasi bintang, malam tenang, bintanng jatuh,Pukul 09.45
Biasanya kami sudah tidur, tapi malam ini, malam yang spesial ini, kami sengaja bangun sampai larut. Berbaring dengan kepala di luar tenda, kami menyaksikan pemandangan langit jernih dengan leluasa.

Ada banyak kilauan. Bintang yang memenjar. Bedak putih bercahaya yang memmbentuk wujud aneh—itu nebula namanya, Titian. Dan rembulan separuh yang diam tak bergerak di sebelah barat. Ini malam yang menakjubkan. Bintang-bintang yang mengerjap mengingatkannku pada pemandangan kota dari jauh saat malam.
“Di atas sana, ada apa kak ya?” Titian bertanya. Tangannya sibuk mengelus bulu Kim yang lembut. Kucing itu sudah mendengkur dari tadi. “Kok kosong ya di sana.” Lanjutnya lagi.
“Mmm…entahlah. Di sana ada banyak bintang. Planet. Komet. Batu-batuan—batu-batuan? Buat apa? Siapa yang bawa ke sana?—bukan siapa yang bawa Tin, tapi memang sudah ada di sana dari dulu. Coba lihat itu, itu namanya rasi bintang scorpion, bagus yah? Panjang banget ekornya.”
“Eh kak, di langit kok gelap yah, padahal kan banyak bintangnya, kayak lampu gitu. Ada bulan dan planetnya juga. Kita siang hari aja udah terang, padahal cuma matahari, gak ada bintang, gak ada bulan, batu-batu dan planet.” Titian membalik badannya, melihat bagian langit yang lain.
Aku mengerutkan kening. Bener juga yah? pikirku. Tapi, guru di sekolah pernah bercerita tentang ini, apa yah? Emm…sepertinya aku lupa. Ini seperti, matahari adalah bintang, bintang adalah matahari, lantas, bulan itu apa? Planet? Bintang kok kecil? Matahari kok besar? Sementara aku berpikir, Titian berkata lagi.
“Kak, temenku kemarin pernah berdoa waktu ada bintang jatuh. Apa dia gak kasian ya, ada bintang jatuh kok malah berdoa. Mestinya kan ditolong.”
Aku tertawa mendengar kata-kata Titian yang polos. Tapi aku sebenarnya tidak bisa menjelaskan jika dia minta penjelasan. Bintang jatuh. Katanya dia bisa mengabulkan doa, gimana caranya? Sedangkan dia sendiri sedang jatuh. Tapi, seandainya dia bisa mengabulkan doa, maka, hmm…, tentu aku akan meminta…
“Kak! Kak! Lihat!” Tiba-tiba Titian memekik. Dia bangkit dari tempatnya dan langsung merangkak keluar tenda. Berjongkok sembari mendongak di bawah langit. Bayangannya mengingatkan ku pada serigala yang sedang melolong menatap purnama. Aku terkejut.
“Titin, ada apa?” Bergegas aku menyusulnya, khawatir ada sesuatu. Tanpa sadar, walkie-talkieku jatuh di lantai tenda.
“Lihat di atas kak! Kak Arul, di atas lihat!” Titian berseru dalam bahasa yang kacau. Aku tidak mengindahkan seruannya. Ku kejar dia, dan langsung ku peluk begitu sampai di belakangnya. Aku ingat dulu, sewaktu dia masih empat tahun. Dia hampir saja tenggelam di bak mandi gara-gara aku.
“Ada apa? Kenapa lari keluar? Kau membuat kakak takut tau! Ayo masuk lagi, atau ku bilang papa.” Tapi Titian tidak mendengarkanku. Kepalanya masih mendongak ke atas. Dan dia hanya berkata lirih.
“Atas lihat, kak.”

Dan sepintas aku melihat kilatan cahaya putih terang berkelebat di dalam bola matanya yang bening. Dadaku berdesir. Sesuatu melintas di otakku. Mungkinkah? Bergegas aku menoleh dan…benar. Jauh di angkasa hitam sana, dalam kekosongan yang gelap, cahaya putih terang meluncur dengan cepat ke bumi. Sesuatu dari angkasa sedang jatuh. Ekor cahaya berkemilau panjang di belakangnya. Benda entah apa itu semakin lama semakin mendekati tempat kami.

Aku gemetar, tanpa sadar, kupererat pelukanku pada Titian. Tapi Titian sangat tenang. Aku tidak merasakan ketakutan padanya. Benda cahaya itu makin dekat dan akhirnya jatuh menghantam bumi tak jauh dari tempat kami. Dia jatuh di ujung ladang jagung. Hilang dari pandangan tertutup rimbunnya batang jagung. Sejenak kemilau cahaya putih melayang di angkasa. Kemudian, keremangan kembali turun di atas pucuk-pucuk tanaman. Dan perlahan sekali, Titian berbisik, “tadi bintang jatuh kan? Kak, kita cari yuk!”
*
Aku sangat menyayangi Titian. Papa mengajarkanku untuk menjadi kakak yang sempurna baginya. Menolongnya dan menemaninya. Tiap berangkat sekolah, aku selalu menemaninya karena papa dan bunda sibuk di ladang—juga karena kita sekolah di tempat yang sama. Dan malam ini, Titian merengek minta di antar mengambil si bintang jatuh. Mana mungkin? Mencari benda se kecil itu di tengah malam begini? Aku ingin membangunkan papa tapi Titian malah merengek. Tentu saja, karena papa pasti akan melarang kami. Bahkan mungkin akan memasukkan kami ke dalam rumah sebelum genap setengah malam camping di luar.
Kami berjalan berdempetan, mengencangkan jaket, memasang syal, menyorotkan lampu senter lurus-lurus ke depan. Kim tidak ikut, dia tidur dan tak mau bangun. Gesekan daun jagung di sekitar kami menimbulkan bunyi aneh yang tak pernah kami dengar sebelumnya, membuat malam terasa seakan hidup. Mereka seperti berbicara. Membisikkan sesuatu yang rahasia dan mengerikan.

Kami sudah mencapai ujung ladang. Di depan kami kini ladang cabe milik tetangga. Sepanjang tahun dia memnanam cabe. Dan yang kami temukan hanya kegelapan malam. Tidak ada cahaya lampu yang sampai ke sini. Hanya ada semburat tipis sinar rembulan dan bintang-bintang dari atas sana dan sebaris cahaya lampu sorot kami. Keremangan yang memerangkap.
“Kak, ayo cari.” Bisik Titian.
“Ng…a…ayo.” Jawabku. Tapi tak satupun dari kami ada yang bergerak. Kami terdiam tepat di ujung jalan yang membelah ladang kami. Tangan kami berpegangan. Sepertinya tiba-tiba kami sadar bahwa kami harusnya tidak kesini dan merasa takut dengan keadaan ini. Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa selain diam menanti. Memandang sekeliling.
“Kalian bisa membantuku?” Sebuah suara terdengar entah dari mana datangnya. Titian memekik kecil. Dia melompat memelukku. Menyebutkan namaku berulang kali. Dan akupun didera ketakutan yang sama. Kami, bagaimanapun hanyalah dua anak kecil sendirian di tengah malam.
“Hei, kalian kenapa? Aku tidak akan menyakiti kalian. Aku…aku butuh bantuan kalian…”
“Kamu siapa? Di mana? Dan…mau apa kamu ke sini malam-malam?” Jawabku.
“Aku di sini. Kalian tidak melihatku? Oh maaf. Lihat, aku di depan kalian.”
Begitu suara itu menghilang, tiba-tiba saja ada cahaya berkilau amat terang di depan kami, menyeruak keluar dari batang-batang cabe yang rimbun. Sejenak mataku silau. Cahaya itu memenuhi sekitar kami, lalu meredup, meredup, meredup, hingga akhirnya tinggal berupa cahaya yang berbentuk. Titian mengangkat wajahnya dari ku, menatap sosok cahaya di depan kami dengan takjub. Dia bergumam lirih, bintang jatuh.
“Oh tepat sekali. Aku memang bintang, tapi bukan bintang jatuh. Maksudku, namaku bukan bintang jatuh, tapi, aku memang jatuh tadi dalam perjalananku.”
“Oh Tuhan, jadi kau memang bintang? Menakjubkan. Mengapa kau di sini?” Aku bertanya heran.
“Kan sudah ku bilang, aku terjatuh dalam perjalanan tadi. Dan aku harus segera kembali ke angkasa. Meneruskan perjalananku tadi.”
“Kamu…ingin aku tolong?” Titian berkata pelan. Tatapannya penuh ketakjuban juga kesungguhan.
Si bintang menatap Titian penuh selidik. Menilai, lalu ganti menatapku, menyelidik juga, lalu dia menghembuskan nafas berat. Sepertinya dia kecewa. Entah kenapa.
“Kenapa? Kau bilang tadi butuh bantuan, aku dan adikku menawarkan bantuan buatmu.” Si bintang jatuh tidak menjawab. Dia malah duduk di atas rumput yang basah oleh embun. Wajahnya tampak lesu. Aku berbagi pandangan dengan Titian. Kasihan, begitu sorot matanya berkata. Lalu kami pun ikut duduk. Mungkin kami bisa menemaninya sepanjang malam ini sambil memikirkan jalan keluarnya.

“Sebenarnya, aku ingin pergi ke galaksi Andromeda, rumahku ada di Bima Sakti Selatan, ibuku menyuruhku untuk menemui paman Encarta di sana. Aku berangkat dengan beberapa yang lain, kau tahu, komet, meteor, asteroid, kami berjalan bersama. Tapi tiba-tiba, sesuatu terjadi. Saat melewati Tuan Matahari, dia marah-marah. Sepertinya Matahari semakin tua semakin mudah marah. Dia mengeluarkan lidah api. Aku tidak sanggup menahan koronanya. Aku terlempar dari rombongan dan akhirnya jatuh di sini. Aku pasti sudah tertinggal jauh dari teman-temanku. Dan mereka tak bisa menolongku. Aku terpisah, aku sedih, aku…aku…aku juga takut.” Si bintang mulai terisak. Bahunya bergerak-gerak.

“Kasihan,” Titian bergumam. “Kau baru…ng…delapan tahun tapi sudah harus pergi jauh-jauh. Ibumu jahat ya.”
Si bintang seketika terdiam. Mendongakkan kepalanya dengan cepat. Menatap Titian lekat-lekat. “Apa? Dengar baik-baik ya anak kecil, aku bukan delapan tahun! Usiaku dua milyar tahun! Dan ibuku tidak jahat, beliau percaya pada kemapuanku! Ingat itu!” Ternyata si bintang bisa galak juga. Titian merapatkan tubuhnya padaku karena dibentaknya. “Ibuku bintang yang luar biasa, tapi, tapi aku mengecewakannya. Hiks…hiks…aku gagal mencapai Andromeda, aku tidak bisa menemui paman Encarta.” Si Bintang kembali terisak.
“Kak,” Titian membisik ke telingaku. “Aneh ya, dia sudah sangat tua tapi masih suka nangis. Bintang yang cengeng. Kakak bisa bantu dia?”
Aku diam sebentar. Berpikir.
“Bintang, apa ada yang bisa kami bantu? Mungkin…dengan itu kau bisa meneruskan perjalanan.”
“Aku butuh tempat tinggi,” jawabnya kemudian. “Tempat tinggi sehingga aku bisa melompat dan menumpang angin ke luar angkasa. Setelah itu aku akan terbang dengan kekuatanku sendiri. Kalian mana bisa menyediakan tempat tinggi seperti itu.”
Tempat yang tinggi? Di mana ada tempat yang tinggi? Di sini tidak ada pohon tinggi yang bisa dipanjat oleh kami yang masih anak-anak, apa lagi malam-malam begini.
“Eh, aku…aku tahu tempatnya. Bintang tua, kau bisa terbang lagi.” Titian tersenyum lebar. Aku menatapnya heran, apa yang dia rencanakan? Sedangkan si bintang hanya meliriknya tak yakin.
*
Angin di sini bertiup sangat kencang. Dinginnya bisa menembus tebalnya jaket yang ku pakai. Rasanya wajahku agak kebas. Tapi semangat dalam wajah Titian membuatku mampu menahan dinginnya angin malam ini. Kami ada di puncak menara pengawas ladang.

Jauh di pinggir hamparan ladang-ladang ini, di didirikan beberapa menara pengawas. Orang-orang membangunnya selain untuk mengawasi ladang dari pencuri atau binatang, juga untuk tempat berteduh. Menara itu cukup tinggi untuk mengawasi separuh dari seluruh lahan pertanian ini. Kami, aku, Titian, dan si bintang, berdiri di salah satu puncak menara terdekat.
“Yuhuuu, yuhuuu, ini angin yang kuat! Aku bisa terbang! Aku akan tebang kembali! Menemui paman Encarta.” Si bintang meompat-lompat kesenangan. Tubuhnya berkemilau, cahaya merah, kuning, hijau dan putih silih berganti memancar dari tubuh mungilnya. Titian tersenyum lebar menatapnya sembari mengencangkan syal.
“Bintang tua, kamu bisa melanjutkan perjalanan sekarang.”
“Eh, ng…iyah. Tin, terimaksih ya.” Bintang berhenti melompat. Dia menatap Titian dalam-dalam. Dan tersenyum.
“Terus, bagaimana kau akan terbang?” Aku bertanya. Si bintang tersenyum lucu.
“Melompat! Aku tinggal menunggu angin kencang datang, dan langsung melompat ikut tiupannya.”
“Tanya boleh, bintang tua?”
“Yah, apa yang ingin kau tanyakan Tian?”
“Apakah…apakah kau juga mengabulkan doa? Kata temanku, kalo ada bintang jatuh, kita harus mengucapkan keinginan kita. Lalu terkabul.”
“Oh, itu, perhatikan baik-baik putri kecil,” bintang melangkah ke pinggir. Menatap jauh ke atas sana. Menunggu angin kencang datang. “Tiap doa yang kau ucapkan, adalah harapan sekaligus keyakinan yang kau tanamkan dalam benakmu. Ketika kau berdoa, maka kau harus berusaha mencapainya. Bintang tidak sempat perduli padamu karena mereka juga punya urusan sendiri, jadi jangan berharap pada bintang. Tapi berharaplah pada dirimu. Pada keyakinanmu. Tidak ada yang bisa mengubah keadaanmu kecuali atas usahamu sendiri.”
Angin kencang berhembus kuat. Helai-helai rambut kami berkibaran. Kugenggam tangan Titian kuat-kuat. Sementara itu, si bintang siap melompat. Senyumnya terkembang. Dia seperti mengatakn sesuatu, tapi kencangnya angin menyamarkan suaranya, hanya kilau matanya yang berbinar. Dan kemudian, hup! Dia melompat. Tubuhmya ringan dibawa terbang. Dia meliuk-liuk bersama angin. Semakin jauh terbang ke angkasa. Sebuah cahaya putih benderang melejit dari bumi ke langit gelap yang sepi. Berpijar penuh kekuatan.
“Selamat jalan bintang jatuh.” Gumamku.
“Kakak, Titian percaya pada doa Titin sendiri.”

Monday, November 23, 2009

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

7 thoughts on “Menyelamatkan bintang jatuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s