• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

PENCULIKAN

iraq-warSekali waktu aku pernah menyaksikan sebuah penculikan tepat di depan mata kepalaku sendiri—di siang bolong. Itu peristiwa yang cepat dan sungguh berani. Aku sedang naik taksi ketika tiba-tiba taksi itu direm mendadak, dikejutkan oleh ledakan keras yang menggaung dari tempat entah berapa blok di depan. Puluhan mobil lainnya tertahan di depan. Kemacetan yang sangat berbeda rasanya dengan kemacetan di oleh lampu merah menyeruak ke dalam benakku. Tiba-tiba, ada keributan yang janggal di sekitar lima mobil di depanku. Aku bertanya-tanya dalam hati, apa yang terjadi? Ada apa ini? Aku tahu kesan ini, juga kekacauan seperti ini, tapi benarkah itu?

Ternyata benar, dari celah-celah jejeran mobil tampak lima pria dewasa berpakaian serba hitam mengenakan penutup wajah seperti ninja bergerak gesit. Mereka menyeret seseorang. Seorang perwira tentara Amerika! Pria itu meronta dan tiap kali itu pula tubuhnya dihantam dengan popor senapan. Di belakang mereka, di dekat mobil yang terbuka lebar pintu-pintunya, seorang wanita berambut pirang dengan dua orang bocah perempuan dalam pelukan, menangis meraung-raung tanpa ada yang memperdulikan, ‘No! No! Please! Don’t take him bastards! No…! Please…!’ tak ada yang bisa dia lakukan selain mengumpat dalam bahasa yang tidak dimengerti para penculik suaminya.

Sang perwira Amerika terus saja meronta, jeritan yang melengking dari mulutnya tidak bisa lagi kupahami, tertutup oleh cekaman rasa takutnya yang membuncah. Sewaktu gerombolan itu melintas di dekatku—dan kami hanya terpisah satu mobil—tahulah aku jika perwira itu tidak sedang berteriak apalagi menjerit. Aku juga tahu betapa pucat wajahnya. Betapa putus asa roman mukanya. Mulutnya berkomat-kamit cepat, tapi yang terdengar hanya erangan tertahan mengenaskan, ‘please, please, please…’. Aku tertegun, dan saat kedua mata kami bertemu untuk sekitar tiga detik yang terasa lama, aku tersentak. Tatapan itu, tatapan itu, itu bukan lagi sekedar ketakutan, bukan lagi, itu adalah ucapan perpisahan. Aku tahu dia menghiba meminta pertolongan pada siapapun yang bisa mendengarnya, tapi yang berkecamuk dalam hatinya adalah satu hal saja, yaitu kesadaran bahwa dia hanya akan berakhir dengan kematian. Tidak ada yang lain. Dan dia benar.

Ini adalah tempat yang tidak pernah kau bayangkan untuk kau kunjungi. Bukanlah tempat yang jika—entah kesialan apa yang mebuatmu melakukannya—ternyata kau mengunjunginya kau ingin untuk mengenangnya. Ini bukanlah tempat yang menyenangkan untuk diceritakan pada anak turunmu sebagai dongeng pengantar tidur. Ini bukan seperti apapun yang kau kehendaki untuk kau temui atau kunjungi dalam hidupmu. Jika bisa, terkadang aku berdoa pada Tuhan di sela-sela ketakutan di antara desingan peluru saat tengah malam, aku meminta pada-Nya agar menghilangkan semua senjata dan tangan orang-orang yang terus berperang itu. Mereka terus berperang, tak perduli pada kenyataan bahwa mereka sebenarnya tak lagi tahu untuk alasan apa perang itu mereka lakukan. Mereka gila. Mereka berperang hanya karena satu-satunya yang hal yang diketahui adalah: ayah, kakek, juga moyangku dulu, mereka semua memerangi kelompok itu. Entah kenapa mereka melakukannya. Aku tak tahu. Tapi yang kutahu dengan pasti adalah, bahwa aku juga harus memerangi kelompok itu seperti leluhurku memerangi mereka.

Arul Chandrana
Friday, October 30, 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: