• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

ALIEN

alienSeseorang bisa menjadi orang aneh karena tingkah lakunya, penampilannya, atau pemikirannya. Jika hal tersebut mulai menyerong dari keumuman orang banyak, diapun secara resmi menjadi anggota sebuah klub maya dengan keanggotaan sangat terbatas dan selektif: Alien Alliance. Kumpulan orang aneh.
Anehnya, meskipun jarang, tapi jumlah anggotanya tidak sedikit. Coba tengok kelas kita, pasti ada kau temui orang aneh dari salah satu temanmu. Mungkin dia, si anak pesisir berambut tipis, ikal, dan bekulit gelap itu, atau sia anak petani berambut cepak, dan ikal itu, atau si rambut ikal yang berbadan bongsor itu, atau mungkin…dirimu sendiri? Yang jelas, meski banyak manusia berambut ikal yang menjadi anggota Alien Alliance, tidak membuat semua mereka serta merta menjadi orang aneh, itu patut dicatat. Tapi, pastilah ada orang yang benar-benar terpercaya keanehannya. Dalam perjalanan hidupmu, kau kan bertemu dengan Salvador Dali ini.
Siang itu aku shalat dhuhur di Masjid Jami’ Baiturrahman Jenu. Begitu mua’dzin mengumandangkan adzan, bergegas aku ambil wudhu. Air dari kran tersasa lembut nan sejuk, mengusap pori-pori wajah, tangan, kepala, dan kakiku. Kesegaran yang dalam meresapi tubuhku. Di dalam masjid tenang, sejuk dan damai. Hamparan sajadah panjang terbentang dari utara ke selatan. Para jama’ah shalat duhur sedang menunaikan shalat sunnah rawatib, shalat sunnah sebelum shalat wajib. Akupun segera ambil tempat untuk rawatib, di sebelah pilar utama. Di sebelah selatanku, berjarak enam sajadah, merapat ketembok, sang mu’adzin juga sedang shalat. Ada damai, gelisahku entah lari kemana. Sehabis shalat, aku berdzikir, sedangkan sang mu’adzin meraih mikrofon yang tergeletak di depannya. Seperti di masjid-masjid nahdliyyin lainnya, beliau hendak melantunkan puji-pujian atau shalawat nabi. Ternyata shalawat, mendayu merusuk kalbu. Suaranya yang lembut dan sendu membuatku merasa syahdu, tenang, damai. Kebisingan jalur pantura penghubung jawa timur- jawa tengah yang membentang tepat di sebelah masjid musnah dalam kehusyu’an shalawatnya. Jemaah terus berdatangan. Suaranya mendayu, lembut, merendah, sayup, dan kemudian menghilang. Masjid sepi beberapa jenak. Lalu muncul lagi suaranya. Shalawat untuk nabi. Dari nada yang memenuhi seluruh ruang masjid, menyayup, halus, dan ahirnya menghilang. Duh, hati yang bening, terenyuh dalam penuhnya cinta untuk sang nabi. Aku penasaran, bagaimana wajah pria mulia ini?
Ku amat-amati beliau. Mikrofon dalam genggaman tangan kanannya dekat ke bibir yang bershalawat itu, lalu lamat-lamat, tangan kanan itu jatuh pelan-pelan, terkulai. Sedang kepalanya manggut-manggut. Begitu tangan kanannya jatuh, kepalanya terkulai di dada, dan suaranya hilang, seperti tersentak kaget , beliaupun lekas-lekas kembali duduk tegak. Mengangkat mikrofon dekat ke bibir. Dan shalawatnya kembali nyaring. Aku mengernyitkan dahi. Ada yang aneh. Kuamati lekat-lekat beliau itu. Mata yang mengatup, suara yang melirih, kepala yang terantuk-antuk, dan tangan yang terkulai lemas, subhanallah! Aku kaget, beliau, sang mu’adzin itu, tertidur! Tertidur saat sedang melantunkan shalawat! Sontak aku menjadi geli. Bagaimana bisa beliau itu tidur sedangkan ia sedang melantunkan shalawat sebelum shalat? Pakai mikrofon lagi! Ini tak ubahnya dengan cerita seorang anggota regu paduan suara yang terpelanting dari pentas karena tertidur saat sedang melantunkan lagu Syukur yang melankoli itu, atau seperti seseorang yang sedang berjalan lalu terjungkal ke dalam tong sampah karena saat jalan dia tertidur-bukan berjalan saat tidur, tapi tidur saat sedang berjalan!-dan tidak melihat tong sampah terbuka di depannya, atau seperti cerita seorang yang sedang makan tiba-tiba kepalanya terkulai dan tak bergerak, seperti mati mendadak akibat menelan makanan beracun! Tapi ternyata dia jatuh tidur saat sedang makan! Hebat! Tak tertandingi! Betapa luar biasanya keanehan orang-orang itu, termasuk sang mu’adzin kita ini.
Akupun sering mengantuk, maksudnya, aku juga seorang pengantuk. Saat sedang ngaji, tiba-tiba mataku berat. Kemudian, dengan tak terkendali, aku yang duduk bersila ini mulai oleng kedepan, kebelakang, kekiri, dan kekanan. Seperti sampan reot yang sedang diterjang amuk badai samudera. Dan aku, dalam tidur sambil duduk ngaji itu, sering terlonjak tiap kali dengan tiba-tiba ustadzku mengeraskan suaranya atau menepuk dengkulku. Tapi yang aku alami ini tentu masih wajar, maksudku, orang lain juga banyak yang mengalami hal serupa. Mungkin karena saat kita mengaji kita jadi orang yang pasif, hanya duduk mendengarkan tanpa mau mencerna, sedangkan terkadang otak ini amat cepat suntuk yang akibatnya jadi ngantuk. Akantetapi ini, sang mu’adzin kita ini, beliau sedang dalam posisi pihak yang aktif seaktif-aktifnya. Beliau sedang bershalawat, tak tanggung-tanggung, dengan memakai mikrofon. Tidak hanya didengar oleh jamaah dalam masjid, tapi juga oleh semua yang bertelinga yang ada di luar masjid!
Sang mu’adzin pontang-panting berusaha menjaga kesadarannya. Tapi tiap kali beliau memulai bershalawat lagi, dalam detik ke lima belas, mulailah suaranya menghambar, menggerung-gerung, terseret-seret dalam gelap, samar tak tercerna. Kepalanya terantuk-antuk, badannya jatuh doyong kedepan, sedang tangan kanannya yang memegang mikrofon, seinci demi seinci jatuh terkulai ke pangkuan kakinya. Luar biasa, dan sangat ngeri! Bayangkan jika ini terjadi saat beliau sedang mengumandangkan adzan yang pasti dilakukan sambil berdiri-karena tidak ada orang adzan sambil duduk. Tiba-tiba mengantuk, maka, begitu selesai mengumandangkan “Hayya ‘alash shalaaaaa…..” akan disusul dengan bunyi berdebum yang berkelontang nyaring melalui pengeras suara di atap masjid. Seperti bunyi pesawat tempur jatuh diroket musuh. Bisa kau bayangkan kehebohan itu?
Di sini, di masjid Jami’ Baiturrahman Jenu ini, aku temui Salvador Daliku.

23-04-‘08

One Response

  1. wah…menarik juga. pasti lucu ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: