Posted in sastra

SPARKLING LIP ICE!

buat Tina, trims lip icenya. Buat semua teman-temanku, persahabatan itu dibangun, dipertahankan, dan diwariskan. Diwariskan—kecuali kau tak kebagian jodoh, ha ha ha.

lip iceLarut malam. Sekarang giliranku. Saatnya untuk main internet: gratis! Temanku Habib penjaga sebuah warnet laris di Jalan Ketintang. Pelanggan yang datang tidak pernah berhenti sampai waktu tutup tiba, pukul sepuluh malam. Sebagai sahabatnya, tentu saja aku bisa main internet gratis di situ, tapi sebagai manusia berperasaan halus, aku tidak mau menggunakannya pada jam-jam sibuk. Bersama sahabatku Amar, kami menyingkir selama jarum jam belum menunjukkan pukul sepuluh malam. Atau lebih seringnya duduk menemani Habib di meja operator.
Kubuka google, berpikir sejenak, apa yang ingin kucari? Tidak mungkin mencari materi ‘x’ di warnet ini. Fakta tentang Habib adalah: dia muslim taat, sholat tak pernah telat, dan di depannya jangan coba-coba berbuat maksiat! Aku membutuhkan sesuatu yang bisa membantu, sesuatu yang menantang. Perlahan, setelah menarik nafas dalam-dalam, aku mulai menekan tuts keyboard yang telah hilang cetakan huruf di permukaannya, “lomba menulis 2009.” Dalam hitungan sepersekian detik, muncul di halaman google info lomba menulis tahun 2009 ini. Kubaca satu persatu dan terhenyak menemukan yang satu ini: Lomba Menulis Berhadiah Total 80 Juta Rupiah! Masya Allah! Orang gila macam apa yang telah dengan nekadnya menyelenggarakan lomba menulis dengan hadiah sebesar ini? Dengan keserakahan tasmania kubuka pengumuman tersebut, kubaca isinya, mencermati segala peraturan yang ditetapkan, dan tentu saja, lima kali bolak-balik membaca besarnya reward yang akan diterima para pemenangnya!
“Ini gilaaa!” Aku memekik excited. “Aku kayaaaa!” Teriakan ku ini memeranjatkan Amar yang baru saja terlelap di lantai. Menyentak Habib yang tengah sibuk mengetik makalah orang.
“Hei, ada apa? Malam-malam kok teriak-teriak, dimarahi tetangga tahu!” Habib menyentak dari mejanya. Tapi aku sudah terlanjur senang. Aku menatapnya dengan tatapan penuh semnangat, penuh gairah dan harapan. Sementara Amar menatap kami bergantian.
“Kau dapat pacar baru?” Tanya Amar tak sadar.
“Bukan! Bukan sobat! Tapi jauh lebih hebat dari apapun yang pernah kalian dengar tentang ku! Ini adalah penemuan terhebat setelah temuan batu Ponari yang spektakuler itu. Aku sedang berbicara tentang peluang perubahan hidup sebesar 99% untuk kita semua!” Antusiasme yang memancar dari sorot mataku dan energi positif yang menyebar dari kata-kataku memengaruhi saraf kedua sahabat baikku itu. Mereka seperti tersetrum oleh semacam energi listrik yang telah membangkitkan Frankenstein dari mati surinya. Mereka melonjak dari tempatnya masing-masing, menghambur ketempatku berada. Dan serta merta membaca posting di layar komputer di depanku.
“Lomba-Menulis-Cerpen-Remaja-Berhadiah-Total-Delapan-Puluh-Juta-Rupiah!” Habib membaca satu persatu kata-kata yang dicetak besar-besar itu. “Delapan puluh juta rupiah? Delapan-puluh-juta? Apa aku sudah gila? Gila! Ini luar biasa! Ini…” Habib kehabisan kata-kata. Dia terkesima dengan apa yang tersaji di depan kami. Amar, diam-diam mengumpulkan kembali kesadarannya yang hilang separuh. Dia berulang-ulang membaca berita itu. Lalu katanya.
“Ini lomba terkeren yang pernah ada! Tiga juara utama tidak hanya mendapat uang jutaan rupiah tapi juga sebuah televisi, dan karyanya akan diterbitkan. Luar biasa…dan…kau berencana untuk ikut lomba ini?” Aku tahu, ada yang berubah dalam nada bicara Amar pada kalimat terakhirnya. Dan aku juga merasa Habib mulai menatapku dengan tatapan yang sama dengan yang dia berikan pada para pelanggan yang diam-diam mengetikkan tiga kata berawalan “s” di search engine. Ini sepertinya akan mulai menyebalkan. Tapi aku tentu harus mengatakan tekad apa yang telah muncul di kepalaku sejak detik pertama aku mengklik “telusuri dengan google” di komputer ini.
“Ya, aku akan mengikuti lomba ini. Aku ikut. Ikut!”
Mereka berdua mulai berdehem. Perlahan mengambil kursi dan duduk dengan tenang. Aku tahu Amar akan mengawali berbicara.
“Ya, tentu saja kau akan ikut. Itu hebat. Salah satu jalan menuju roma kan?”
“Ya, benar.” Habib menimpali. “Dan, apapun itu, kusarankan agar tidak terlalu menaruh harapan atasnya. Kau tahu, harapan yang terlalu besar beresiko kekecewaan yang terlalu besar pula.”
“Hei, apa yang kalian katakan?” Aku mulai bersungut. Menatap mereka bergantian dengan tajam. “Aku akan ikut lomba ini, aku akan memenangkannya, atau setidaknya, karyaku akan diterbitkan lewat lomba ini!”
“Sobat, kami hanya berkata agar jangan terlalu berharap. Kami tidak ingin kau terlalu kecewa nantinya.” Habib mencoba menenangkannku. Tapi tak berhasil. Tentu saja.
“Tidak, aku yakin aku akan menang. Lihat saja Bib.”
“Dua puluh kali cerpen ditolak Jawa Pos.” Amar berkata.
“Lima belas tidak diterima Tempo.” Habib menambahi.
“Dua puluh enam kali dikembalikan Kompas.” Amar melanjutkan.
“Tujuh kali gagal dalam tujuh lomba mengarang berbeda.” Habib melengkapi.
“Dan murung satu hari tiap satu kegagalan.” Amar memberi detailnya.
“Ng…kalian…kalian mengingat semua itu?” Aku terkejut mendengarnya. Alih-alih marah, aku merasa suatu bahagia yang aneh karenanya. Sahabat-sahabatku sangat perduli padaku. Mereka sangat perhatian. Mereka mengingat semnua hal penting yang kulakukan. Aku merasa ada yang hangat dipelupuk mata. Mungkin kau akan bilang aku cengeng, tapi ketahuilah, tidak ada yang lebih menyentuh selain dari tulusnya persahabatan. “Kalian mengingat semua itu…”
“Hei, tak usah terharu begitu…” Habib terdengar agak canggung.
“Bukannya kau mencatat semua kegagalanmu di kertas karton di dinding kamarmu? Tiap kali masuk, kami mau tak mau terbaca tuli…” Belum selesai kaliamat Amar, aku sudah meangkulnya poenuh haru.
“Tidak kusangka, kalian begitu perhatian padaku. Kalian mengingat semua penderitaanku. Dan sekarang, demi kalian semua, aku akan ikut kompetisi menulis berhadiah delapan puluh juta rupiah ini!”

Beberapa orang terlahir untuk menjadi orang keras kepala. Baiklah, kau pasti tahu aku salah satunya. Ya, memang benar. Aku sudah bertekad untuk mengikuti lomba menggiurkan itu. Ini bukan hanya soal rewardnya, tapi ini lebih kepada soal cita-cita yang lama mengeram dan ingin mengaum keluar. Aku telah bercita-cita menjadi penulis sehebat Iwan Simatupang jauh hari semenjak aku masih SMP.
“Aku tidak akan menghalangimu, tentu saja, bahkan polisi paling korup sekalipun tidak punya hak untuk menghalangimu mengikuti lomba ini. Dan sebagai sahabatmu, aku berkewajiban untuk membantumu terhindar untuk menambah daftar di kertas karton di kamarmu itu.”
“Ok, aku paham.” Siang itu aku dan Amar duduk membahas rencana langkah strategis pemenangan kompetisi terhebat. Jam pertama kuliah dimulai masih tiga puluh menit lagi.
“Pertama-tama, kita tentukan karaya apa yang akan kau bikin kali ini. Ini harus benar-benar tepat-akurat-kuat-memikat-dan-hebat.”
“Aku tahu!” Aku bersorak gigih. Beberapa mahasiswa yang berjalan dekat kami menoleh penasaran. “Aku akan menulis tentang pengorbanan seorang bocah menemukan batu ajaib yang bisa menyembuhkan!”
“Ng…apa ini fiksi dari Ponari?” Amar curiga.
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Sialaaan! Ini lomba cerpen remaja! Cari tema yang sesuai!” Amar meledak, rupanya dia tidak setuju dengan gagasanku.
“Ok, ok, ini cerita remaja, kalau begitu, aku akan menulis tentang seorang anak yang rajin membantu ibunya yang sakit mencari nafkah, meski begitu dia masih tetap rajin sekolah, dan dia punya sebuah rahasia…” Aku putus kalimatku untuk menciptakan efek penasaran.
“Pada suatu hari, bocah itu menemukan batu ajaib dalam perjalanan pulang dari sekolah?”
“Yup! Dia menemukan batu ajaib yang datangnya entah dari mana.”
“Dan batu itu bisa menyembuhkan sakit ibunya? Juga orang lain di kampungnya?”
“Yup! Batu itu bisa menyembuhkan penyakit ibunya.”
“Dan kemudian dia jadi kaya? Bagitu? Hoaaaa…! Kau gila! Itu Ponari versi barumu! Singkirkan dari otakmu!”
“Kau bilang ini cerita remaja! Ponari sudah hampir menginjak usia remaja. Dan aku akan membuat dia lebih tua dalam ceritaku nanti agar benar-benar remaja!” Aku membantah penolakan Amar atas ideku.
“Dengar, ini cerita remaja, cerita remaja, tentang kehidupan remaja, hidup sewajarnya, tidak ada batu ajaib, tidak ada batu aneh, ini tentang hidup dan kehidupan. Ada cinta, persahabatan, kebahagiaan dan kesedihan, kekecewaan dan harapan. Jadi, bisakah kau pahami sekarang kisah seperti apa yang diharapkan?”
“Ooo…ya, aku paham sekarang, aku tahu! Kisah yang harus kutulis adalah ten…”
“Cukup! Cukup! Itu idemu, jangan kau keluarkan sekarang, simpan saja, oke. Ungkapkan itu pada komputer nanti malam.”
“Baiklah, kalau itu maumu. Jadi, sekarang sudah tidak ada yang perlu kita lakukan lagi?” Tanyaku sembari hendak beranjak. Di kejauhan, kulihat Elly berjalan dengan beberapa teman ke kelas.
“Aku belum selesai! Kalau kau pergi dari sini hanya karena melihat Elly (sial, dia tahu arah lirikan mataku!), seumur hidup kau akan gagal menjadi penulis sukses!” Amar melancarkan kutukan kuno peninggalan jaman berburu dan mengumpulkan makanan. Ini adalah kutukan yang mampu membuatku tak berkutik seincipun. “Langkah penyuksesan ini belum selesai, syarat keikutsertaan lomba ini adalah kau harus menyertakan satu kemasan Lip Ice satu segel pengaman Selsun. Nah, kita harus menemukan salah satu dari kedua barang berharga itu! Tak peduli betapa hebat…perhatikan aku! Kau dari tadi melirik Elly terus…(maaf, maaf, lanjutkan)…tak peduli betapa hebat cerpenmu, tanpa barang-barang itu, kau akan gagal dengan mengenaskan. Nah, untuk…dengarkan aku!…(maaaf…) sekali lagi kau melirik Elly, kucukur rambutmu.”
“Maaf, maaf. Baik, lanjutkan kolonel, saya siap melaksanakan tugas, pak!”
“Karena kita tidak memakai Lip Ice, atau membeli Lip Ice, dan tidak mungkin kita mncarinya di tong sampah asrama putri, maka kita harus…”
“Merampas? Merampok? Kau ingin aku menjambret Lip Ice?” Aku terperangah oleh ide gila si Amar. Habib bisa muntab kalau tahu kami merencanakan Lip Ice criminal ini.
“Hrrr…” Amar menyeringai, sesuatu berkilat di matanya, berkelebat tajam. Ada rencana di sana, kejam dan penuh mara bahaya. Dan, demi memulai langkah pertama menjadi penulis sukses, aku berani melakukan rencana jahatnya itu. Soal urusan dengan polisi, biar Habib yang nanggung! Aku menunggu kalimat saktinya keluar. Ayo kawan, katakan saja, katakan, aku akan melaksanakan rencana hebatmu demi mendapatkan Lip Ice! “Bagus, kau sepertinya siap melakukan apapun untuk Lip Ice!” Seringai Amar.
“Benar! Aku siap! Aku penasaran siapa target operasi pertama kita.”
“Dengarkan baik-baik!” Amar mencondongkan badannya, aku mendekat, kami sedang mencapai klimaks ketegangan. “Kita akan mendatangi para cewek di kampus ini satu persatu dan dengan sopan dan baik-baik meminta kemasan Lip Ice yang mereka punya. Meminta dengan sopan!”

Ini siang terberat dalam sejarah perkuliahanku. Bukan karena rumitnya pelajaran statistik yang harus kuhadapi di semester lima ini, atau udara panas yang mencekik menekan punda, tapi karena—seperti yang kau duga—bingung memikirkan bagaimana caranya merayu para perempuan di kelasku agar mereka bersedia menyerahkan kemasan Lip Icenya padaku. Ini sungguh luar biasa sulit, aku sudah bisa membayangkannya. Akan jauh lebih sulit daripada sekedar mencoba meminta uang seribu rupiah dari pengendara mobil pribadi di jalan raya, atau mengurus turunnya uang dari PR III untuk mendanai kegiatan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), ini luar biasa jauh lebih rumit dari semua itu. Sepanjang pelajaran yang makan hati tersebut, aku memeras otak mencari kalimat apa yang akan ku pakai untuk melunakkan hati para gadis pemakai Lip Ice.
Jam pelajaran usai, dan belum ada kepastian metode serta strategi untuk mendapatkan Lip Ice. Aku dekati Amar yang tengah merapikan bukunya. Rencananya, kami akan bergerak bersama mendekati gadis-gadis, Amar membuat pembukaannya, aku menyampaikan intinya.
“Kau sudah siap kadet?” Tanyanya tegas layaknya instruktur militer.
“Siap, pak.” Aku menjawab tak kalah bersemangat. Aku tak mau Amar mengendus ketaksiapanku.
“Bagus. Nah sekarang dengarkan. Ini bukan usaha yang mudah atau bisa selesai dalam waktu singkat. Jadi, kita berpencar. Kelas ini jadi markas kita, aku akan keluar searah jarum jam, dan kau kadet, bergerak berlawanan dengan arah jarum jam. Siap kadet?!” Amar tegasnya luar biasa. Dia benar-benar menganggap ini urusan serius.
“S-s-si…ap, P-pak…” Aku menjawab terbata, dan dengan tanpa menunggu aku menyelesaikan kalimatku, Amar telah menghambur keluar kelas. Tubuhnya raib dari pandangan, terhalang dinding kelas. Aku tertinggal, bengong, melongo tolol dalam kelas seorang di…tidak, aku tidak sendirian, di sana, di sudut kanan depan, duduk si Fatin. Ya, hanya kami berdua dalam kelas ini. Berdua. Perlahan pancaran semangat Amar membakarku, Fatin, dialah tikus percobaanku. Telah kuputuskan untuk menjadikan gadis pendekar ini—pendek kekar—sebagai tolok ukur dalam usaha mendapatkan kemasan Lip Ice dari para gadis. Dengan langkah satu-satu, aku merangsek mendekatinya. Fatin yang mungil, Fatin yang gempal, Fatin yang tenang, Fatin yang berotot, aku datang!
“Ehm, ehm…Tin, ng…maukah kau menyerahkan Lip Icemu padaku? Sekarang.”
Ini siang yang panas. Langit cerah. Burung berloncatan di batang pohon mangga dan akasia yang banyak ditanam di sekeliling halaman kampus, kicaunya merdu dan mereduksi kegerahan. Di koridor, seorang mahasiswa berlari terhuyung sembari memegangi hidungnya ke arah toilet kampus. Di belakangnya, sebuah sosok gempal besar dan mungil memekik nyaring, “temui aku lagi kalau ingin kupatahkan semua gigi kotormu!” Beberapa orang menoleh ke arah si peneriak, tapi segera berbalik lagi begitu sosok itu mengacungkan tinju kanannya yang sebesar tangan gorila.
Di toilet.
Aku meraung kesakitan. Darah mengalir dari lobang hidung kiriku. Rasa nyeri dan perih mengeram di batang hidungku. Rasanya panas dan menusuk. Air mata mengucur tanpa bisa kukendalikan. Bercanting air kusiramkan ke mukaku, berkali-kali air kumasukkan kelubang hidung kiriku untuk menghentikan aliran darahnya. Gila, benar-benar gila. Tadi di kelas, begitu kalimatku selesai, Fatin dengan gerakan sangat cepat—secepat serangan kaki depan belalang sembah yang mematikan!—menghajar hidung tak seberapa mancungku. Begitu kepalan tangan itu mengenai sasaranya, aku merasakan nyeri yang tiba-tiba menyengat wajah, panas yang membakar hidungku, dan pening yang menghantam kepalaku. Aku terhuyung kebelakang sembari memegangi batang hidungku. Sekilas kulihat Fatin bangkit berdiri, rupanya dia belum selesai dengan serangan pertamanya. Dan tanpa menunggu jab kedua mendarat di mulut, aku kabur ke toilet sambil dibuntuti makiannya.
“Ginga! Ginga! Dasang gonginga!” Aku merutuk dengan suara sengau menyeramkan. Samar-samar aku mencoba mengingat apa kira-kira yang membuat gorila coklat itu murka. Apakah karena hari ini bibir Fatin lagi memble parah gara-gara sariawan akut sehingga dia langsung berang saat kusinggung soal Lip Ice?
Setelah darah yang menetes mulai berhenti dan suaraku terdengar agak lebih baik, aku mengindap-indap keluar dari toilet, khawatir Fatin masih memburuku. Syukurlah, tak di manapun kulihat ada bayangannya di atas permukaan tanah. Dengan langkah gontai aku meninggalkan komplek toilet. Dan sesuatu mengejutkanku, di depan sana, di bawah pohon beringin yang selalu ramai dengan mahasiswa lesehan, Amar sedang sibuk berbicara—atau mungkin merayu?—dengan tiga cewek sekaligus. Oh Tuhan, aku trenyuh melihatnya. Betapa Amar dengan gigih mengusahakan Lip Ice untukku. Dia rela merendahkan dirinya demi menolongku mendapatkan Lip Ice. Lagi, semangat dan keberanian memanasi diriku. Dengan mantap aku berbalik arah, bertekad menemukan mahasiswi lainnya untuk kumintai Lip Ice. Langkah kakiku kuat dan optimis.
Fakta: Amar sedang sibuk membujuk tiga mahasiswi agar mereka bersedia memberinya contekan untuk PR syntax yang selalu membuatnya pusing tujuh ribu keliling, bukannya sedang berjuang mendapatkan kemasan Lip Ice. Memang sih, tadi dia ada menyebut-nyebut tentang Lip Ice, tapi itu hanya berupa kalimat pendek yang bunyinya: kalian tahu, Lip Ice bagus lho buat cewek keren kayak kalian. Dan begitu para gadis tersenyum manis, Amar langsung berjuang mendapatkan contekan syntax.

Pada semua mahasiswi yang kutemui, khususnya yang telah kukenal atau yang kukira aku mengenalnya, ku tanyakan apakah mereka memakai Lip Ice atau tidak. Jika bilang iya, maka kutanyakan apakah mereka punya kemasannya di rumah. Jika bilang iya, maka kutanya maukah memberikan kemasan Lip Ice tersebut padaku. Dan jawaban yang kudapat dari mereka: maaf yah, gue baru beli, masih banyak. Atau, maaf yah, belum habis. Atau, mau lo apakan? Melet gue ya? Sorry, aku sudah berpengalamn dengan trik murahan kayak gitu!
Tak terhitung berapa jumlah mahasiswi yang kutanyai, berapa yang kumintai, dengan cara tersopan dan termenawan yang kuketahui, dan semuanya menampik. Menolak dengan halus atau dengan kasar. Tapi untunglah tidak ada yang meniru suri tauladan yang diberikan Fatin. Bisa kau bayangkan jadi apa hidungku jika masing-masing mereka, lebih dari dua puluh delapan mahasiswi, menonjok hidungku sebagai jawaban atas permintaan tulusku. Pasti hidungku mirip hidung kerbau terpesek di dunia.
Begitu kami kembali ke kelas saat pelajaran di mulai, Amar langsung mencegahku yang hendak melaporkan hasil kerjaku.
“Jangan sekarang, nanti malam kita rapat evaluasi!”

Pukul sepuluh kurang sepuluh menit. Aku duduk gelisah disebelah Habib. Amar belum datang. Dia menghilang begitu saja sejak kuliah berakhir tadi sore.
Pukul sepuluh kurang lima menit. Beberapa pelanggan selesai ngenet. Membayar rental dan segera pergi keluar, meninggalkan aku yang duduk beku di sebelah Habib. Amar tidak kunjung datang.
Pukul sepuluh tepat. Pelanggan yang tersisa mulai beranjak. Aku makin gelisah. Amar tidak ada tanda-tandanya akan datang.
“Daripada kau bingung menunggu si Amar, tidakkah lebih baik kau mulai menulis cerpenmu?” Tanpa menjawab usulannya, aku melangkah menuju komputer terjauh dari Habib. Aku butuh ketenangan. Mulai menulis.
Kita takut akan mati. Kadang kita merasa saat kematian telah datang mendekat. Kita tidak tahu. Kita hanya menebak. Dan sebenarnya kita merinding dalam membayangkannya. Ketika seorang kerabat kita menghembuskan nafas terakhirnya, kita berpikir, harus diapakan mayat ini? Dikubur? Dikremasi? Dihanyutkan ke sungai seperti orang Indian kuno? Atau di mumi seperti Fir’aun? Kita tidak tahu. Kita hanya menduga-duga apa yang diinginkan si bekas manusia.
Tersebutlah seorang pemuda di sebuah desa terpencil. Pemuda itu sedang gelisah karena ibunya tengah menderita sakit tak bernama. Kata orang pintar yang tinggal di relung gua di kaki gunung, dia harus menemukan batu keramat untuk menyelamatkan nyawa ibunya tercinta. Batu keramat itu hanya ada satu dan tersembunyi di…
“Sialaaan…!!! Ini bukan cerpen remaja! Kau gila! Kita tidak sedang membuat Ponari versimu, kita sedang membuat cerpen remaja, C-E-R-P-E-N R-E-M-A-J-A! Apa kau pahaaaam…!” Tiba-tiba jeritan iblis milik Amar melengking tepat di belakang telingaku! Aku tersentak kaget sampai melompat dari kursi.
“Apa salahnya dengan ini? Apa? Ini kisah yang hebat! Pemuda yang…” Aku membela diri.
“Cerita yang hebat menurutmu? Pemuda yang…yang baik? Ini gila! Mau tahu kenapa cerpenmu selalu ditolak koran? Mau tahu kenapa?”
“Kenapa?!” Aku meraung menjawab Amar.
“Karena tidak ada yang kau ceritakan selain petualangan pendekar! Akik warisan orang asing! Jimat kebal! Senjata mustika ilegal! Dan…dan…pendekar konyol berkeliaran mencari musuh! Itu apa?”
“Kau tidak tahu! Cerpenku belum terbit bukan karena itu, tapi memang belum saatnya! Dan Brown ditolak puluhan kali sebelum Da Vincinya terbit, juga Rowling, Gone By The Wind juga! Ini proses Mar. Bib, kau setuju denganku kan?” aku beralih ke Habib mencari dukungan.
Habib yang sedari tadi mengamati kami, tersenyum pasi. Dia mengangguk sebelum bicara.
“Benar,” katanya. “Cerita-ceritamu sebenarnya terasa aneh dan ng…tidak layak terbit. Menurutku.” Aku tersedak mendengar jawaban Habib. Amar tergelak.
“Nah, kau dengar sekarang? Kau dengar? Jadi, berhentilah…”
“Sudah, cukup, cukup berdebatnya.” Habib bangkit dari kursinya. “Ini tidak akan selesai sampai bulan depan. Lebih baik kita duduk bersama dan kau mulai lagi menulis. Kami akan membantumu dari belakang. Maksudku, kami benar-benar akan duduk di belakangmu.”
Hfff, ini hari yang aneh. Aku akan mengarang dengan dua preman mengintai dari balik punggungku. Sangat tidak menyenangkan.
“Baiklah, kalau itu kehendak kalian. Aku akan mulai menulis. Tapi kuperingatkan, jangan mengacau.”
Hari yang lain di bulan Februari. Tidak ada yang tahu kenapa hujan turun terus tanpa jeda empat hari ini, dan tiga hari lagi empat belas Februari tiba (ini yang kumaksud, Amar menggumam di belakang. Sst, diam, Habib mengomel. Grrr, aku menggerutu). Malam terasa jauh lebih dingin dari pada malam-malam di bulan yang lain. Dalam deras hujan, sesuatu berkelabat di antara rumah-rumah yang gelap. Bayangan itu melompat ke atap, lalu meloncat dengan cepat dari satu atap rumah ke atap rumah yang lain. Di punggungnya terselempang sebilah pedang panjang lagi…
“Hentikaaaan!” Amar menjerit. Tapi tak ku perdulikan. Aku terus menulis.
Tak seorangpun pernah berbicara dengan lelaki itu. Kabar angin mengatakan dialah pemilik pusaka…
“Tidaaaaaaak!” Amar meraung.
Di sebuah hutan terpencil di…
“Salaaaaaaah!” Amar meledak. Aku menggerung. Diam sejenak. Berpikir dalam.
Pada jaman dahulu kala…
“Persetaaaaan!” Amar memekik sambil memegang kepalanya. Lalu beranjak, menerjang pintu dan lari hilang di telan malam. Wajahku memerah. Marah dan tidak terima dihina begitu rupa. Akan kujadikan kau penjahat dalam cerpen-cerpenku! Aku bertekad dalam hati.
“Hei tenanglah. Jangan tersinggung. Dia sedang ada masalah.” Habib bicara, suaranya tenang dan dalam seperti biasa.
“Masalah? Hanya karena aku menulis cerpen seperti ini dia bermasalah? Dasar kutu tak bermoral! Tungau tak beretika! Kuman tak bertulang belakang! Sahabat macam…”
“Bukan, bukan kau masalahnya. Dia sedang bertengkar dengan pacarnya. Tadi dia menelpon, marah-marah. Sepertinya pertengkaran kali ini gawat.”
“Jangan membelanya, Bib! Orang yang membela penjahat sama saja jahatnya!”
“Aku tidak membelanya. Pacarnya ngoceh terus dari tadi, makanya dia nyuruh berhenti. Dia kelihatannya lagi depresi sekarang.”
“Tapi, kenapa dia lari keluar? Dan persetan itu?”
“Ceweknya sekarang sedang ada acara, tapi dia bertekad menemuinya, tidak perduli meski acara itu khusus para cewek yang ikut program diet”
“Trus, kenapa mereka bertengkar? Bukankah selama ini baik-baik saja?” Aku mulai melunak, menerima penjelasan Habib yang aku tahu tidak akan berbohong padaku.
“Memang, tapi tidak sampai dia ketahuan sedang merayu Delfy untuk mendapatkan Lip Icenya.”

Hari-hari yang payah dan menegangkan. Kami belum dapat Lip Ice. Aku juga belum menulis cerpen. Aku tidak bisa berpikir karena sedang diperas untuk membantu Amar memulihkan hubungannya dengan pacarnya. Seakan semuanya terus bergerak menuju kekacauan.
Setiap mahasiswi yang kuhubungi selalu merespon dengan cara yang aneh dan menyebalkan. Mereka merasa menyerahkan Lip Icenya sama dengan menyerahkan separuh diri mereka untuk kuperlakukan dengan semena-mena. Para cewek yang biasanya pemurah itu berubah menjadi pelit luar biasa. Protektif dan menyebalkan. Di tempat kos mereka, tong sampah tidak kelihatan, disembunyikan entah di mana.
Malam harinya, kami seperti biasa berkumpul di warnetnya Habib. Aku sibuk menggarap PR English Phonology sambil tak henti menguap. Habib sibuk ngetik. Dan Amar, terbaring bisu sembari menatap foto pacarnya. Aku jadi cepat mengantuk akhir-akhir ini. Dan saat tengah malam terbangun seperti orang disetrum, dicabut dari mimpi yang gerah sambil menjerit-jerit, Lip Ice! Lip Ice! Lip Ice! Di sebelahku, Amar meracau dalam tidurnya seperti penjaja obat pinggir jalan: Tidak! Sumpah! Aku cuma minta Lip Ice! Cuma Lip Ice! Lalu diam. Sepi. Kemudian dia berteriak lagi: aku tidak sengaja memegang tangannya! Sedangkan Habib menggelung seperti trenggilin. Pada saat-saat seperti itu, aku jadi mudah ingat ibuku. Wanita yang lelah. Banyak kerja. Banyak tanggung jawab. Mengurus anak yang bahkan belum pernah sekalipun memberinya sesuatu. Kecuali beberapa potong doa.

Seminggu lewat, waktuku makin berkurang untuk mendapatkan Lip Ice dan membuat cerpen. Ini menjengkelkan. Di kelas pikiranku jadi agak kacau. Tidak bisa konsentrasi pada dosen tanpa rambut yang tengah memberi kuliah. Yang menggoda khayalanku akhir-akhir ini adalah tiba-tiba ada teman cewek melompat ke kursi sebelahku dan dengan cepat menyelipkan kemasan Lip Ice ke saku hemku. Dan aku mendesah lesu lagi berat di akhir kuliah mendapati itu tak pernah terjadi.
Tapi musibah sebenarnya baru akan terjadi. Dendam kemarin hari belumlah hilang. Sariawan Fatin belum sembuh. Bibirnya jontor seperti milik kuda nil habis dijotos Mike Tyson. Dan begitu kelas usai, teman-teman sudah pada keluar, sementara aku sendirian berkutat dengan kertas-kertas yang berserakan, pendekar peninggalan jaman megalitikum itu mendekatiku. Langkahnya satu-satu. Gesekan sepatunya di lantai mengiris hatiku. Belum puaskah dia mematahkan hidungku? Sebagai langkah pencegahan dan meminimalisir pancingan emosi, aku pura-pura tak tahu. Sial! Cucu king kong itu tetap saja mendekatiku!
“Hei…bisa bicara sebentar?” Dia mulai cari masalah. Menanti jawaban tantangannya.
“Ng…” Aku harus menghindari konfrontasi konyol ini. “Ng… Tin, maaf soal kemarin ya. Aku…ng….”
“Cuma itu?” Sial! Dia tidak puas dengan kata maaf! Dia benar-benar ingin menghisapku!
“Aku… Aku… Kemarin itu… Aku gak bermaksud begitu.” Aku salah tingkah. Fatin kini hanya tiga langkah. Jangkauan pukulannya kurang beberapa centi untuk mendarat di hidungku.
“Kamu pengen Lip Icekan? Aku punya. Karena sariawan gak pernah ku pake. Kamu ambil aja. Nih tak bawa. Kemarin Habib cerita tentang rencanamu ikut lomba nulis cerpen. Selamat berjuang ya.”

Itulah kecantikan. Itulah keindahan. Itulah pesona. Semuanya, adalah Fatin semata. Fatin. Fatin. Si cucu king kong, pendekar sisa jaman megalitikum, petinju sariawan, telah berubah menjadi Cinderella, menjadi Kristen Stewart, menjadi Gita Gutawa, semua berkat kebaikan dan ketulusan hatinya. Fatin, luar biasa!
Malam harinya aku menggasak komputer Habib dengan brutal. Tanpa makan malam. Tanpa minum. Hanya berhenti untuk sholat. Aku menulis terus. Kesetanan. Ternyata masalah kebuntuan otakku adalah gara-gara belum dapat Lip Ice. Dengan Lip Ice di tangan, ide jadi sangat lancar untuk menulis cerpen remaja yang benar-benar remaja. Bukan pendekar jaman Wiro Sableng atau varian baru pemuda Ponari yang kukagumi. Pukul dua belas lewat lima puluh sembilan menit, aku tergeletak setelah berhasil menyelesaikan cerpen sepanjang sepuluh halaman. Rasanya, ini tidur paling nikmat sepanjang sejarah tidurku.

“Sudah jadi cerpennya?”
“Sudah. Lumayan bagus. Tidak kusangka dia bakal bisa bikin kayak gini. Beda.”
“Bukan tentang jimat-jimat lagikan?”
“Enggak. Baca aja. Tentang persahabatan, kayaknya dia punya bakat bikin cerpen dramatis-ironis.”
“Ha ha ha ha. Ng… Dia sudah tidur rupanya. Kasihan dia. Kau ikut lomba juga?”
“Nggak, hitung-hitung mengurangi pesaingnya. Lagian, aku udah bolak-balik masuk koran. Majalah.”
“Kau harus jujur padanya tentang ini. Lagian, kenapa pake dirahasiakan segala?”
“He he, entahlah. Mungkin, dia akan kehilangan semangat kalau tahu aku cerpenis. Maksudku… Ng…”
“Yah yah, aku paham. Oya, gimana nasib pacarmu? Kalian jadi putus?”
“Iya. Putus.”
“Kasihan. Kau selalu gagal ya.”
“Enggak juga. Aku sekarang jalan ama Delfy.”
“Apa? Delfy? Yang kamu mintai Lip Ice kemarin itu?”
“He he he he, sebenarnya, aku emang merayu dia kok. Gak dapat Lip Ice tapi dapat orangnya.”
“Kutu hyena kau!”
“Ha ha ha ha ha.”

Awal September 2009. Brondong

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s