• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

BAGAIMANA CARA MENGALAHKAN NAGA TERBANG YANG MENYEMBURKAN API

—buat kakak perempuanku yang telah sangat membantu.

chinese-dragon-redPersahabatan; adalah ikatan yang tak mungkin tergantikan, tak habis dikikis jaman, selalu membutuhkan kesetiaan. Persahabatan adalah janji dalam hati, tak bisa ditulis tak bisa dibaca, tapi tak terpisah oleh jarak, tak terganti oleh masa. Sekali berikrar, selamanya berakar.
(Bagian akhir salah satu cerpen karya Mei)

“Tembakan tiga angka tim Fantastic akan dilakukan Dico.” Milvan, si komentator nyentrik, menggema suaranya dalam ketegangan, “Dico, si kurus berhidung jangkung—seperti kita semua tahu, tidak pernah gagal melakukan eksekusi seperti ini.” Sorak sorai mengelukan nama Dico riuh gemuruh. Beberapa cewek lintas kelas melonjak-lonjak membawa karton bertulis “Dico Pahlawan Tampan.”
“Coba lihat itu,” suara melengking Milvan kembali menggaung. Pasti dia sudah mendapat korban. “Lihat mereka, para cewek di tribun B, apa yang membuat mereka amat keranjingan pada Si Hidung Palem?” Cemooh Milvan disambut huuu panjang dari sebagian besar penonton, malah ada yang mengacungkan tinjunya. Tapi dasar Milvan, dia hanya nyengir.
“Ok ok ok, kalian sabar dulu dong. Aku tidak bermaksud merusak konsentrasi Si Hidung Pan…eh, maksudku Dico. Tapi tahukah kalian bahwa aku sangat berharap Dico berhasil melobangi Maverick? Hidup Dicoooo!”
Sorak sorai girang dan berang menggaung bersama. Anak-anak Matematika 2007 B, pemilik tim Maverick, meneriaki Milvan, mengancamnya. Tapi kegemuruhan pendukung tim Fantastic—timnya Dico—mengalahkan semuanya.
“Dico! Dico! Dico!” Para pendukung Dico tak lelah bersorak mnyemangati.
“Sebenarnya teman-teman, aku mendukung Dico bukan karena aku suka pada hidung pensilnya, tapi tentu saja karena cheerleader mereka! Emiiiiiiiiii…. Nouraaaaaaa…” Sepertinya kegilaan Milvan sudah benar-benar akut. Dia komentator pertandingan basket paling gila sepanjang sejarah. Namun demikian, tak ada satupun yang cukup puas jika posisinya itu digantikan orang lain yang lebih waras sedikit.
Priiiiiit. Peluit wasit melengking. Dico berhenti mendrible bola, ambil posisi di freethrow area. Mencondongkan badannya agak kedepan dan, sebelum semua orang menyadari apa yang akan terjadi, bola basket merah tua itu melayang, terbang melengkung, kemudian menukik mantap dan…jeritan histeris Milvan bersama ratusan penonton lainnya menggetarkan gendang telinga.
“Masuuuuuuuuk! Masuuuuuuuuuuk! Fantastic menang atas Maverick! 102 lawan 92! Luar biasa! Luar biasa! Lihat Emi dan Noura di pinggir lapangan, lihat mereka! Luar biasa!” Milvan memekik girang.
“Milvan! Komentar yang bener! Lihat peristiwa di lapangan!” Terdengar suara samar membentak dari belakang Milvan.
“Maaf Pak, maaf Pak. Well, akhirnya pertandingan pagi ini usai sudah dengan hasil yang seperti kita harapkan…”
“Milvaaan…!”
“Maaf pak Helmi… Nah, kita saksikan di lapangan…hei lihat itu, Emi salto!”
***
Para penonton melonjak-lonjak kegirangan di tribun, meneriakkan nama Dico tanpa letih. Di pinggir lapangan, cheerleader tim Fantastic beraksi dengan gerakan akrobatik yang memukau. Mereka membentuk piramida tiga tingkat. Emi, yang ada di puncak piramida, bersalto dua putaran dengan lincah ke depan di sambut gemuruh tepuk tangan kekaguman. Dalam keriuhan dan kegembiraan itu, Mei duduk tenang di kursi official tim. Di tangannya tergenggam dua botol air minum milik Emi dan Noura. Dia menatap kedua sahabatnya yang kini sedang menari bersama anggota cheerleader lainnya. Dalam sorot matanya yang tenang, terpancar suatu keinginan yang tak mudah diartikan. Mei, Emi dan Noura adalah tiga sahabat yang telah bersama semenjak SMP, sampai kini duduk di bangku kuliah. Ajaib sekali, mereka senantiasa ada di satu jurusan bahkan di satu kelas. Saat kuliah, Emi dan Noura menemukan bakat baru dalam diri mereka, menjadi anggota cheerleader. Bukan hanya itu, Noura kemudian tahu jika dia sebenarnya cukup berbakat untuk menjadi penyanyi, maka selain bergabung dengan cheerleader tim basket kelas dia juga bergabung dengan klub musik kampus. Sementara Mei, tidak berubah semenjak dulu, menyukai dan hanya menyukai dunia tulis menulis. Di kampus dia bergabung dengan salah satu komunitas penulis, melanjutkan hal yang sama saat masih SMA. Meski demikian, mereka tetap selalu bersama. Selalu muncul bertiga saat latihan cheerleader, latihan menyanyinya Noura, dan…kecuali saat perkumpulan komunitas penulis, Mei seorang diri tanpa dua sahabatnya.
Mei menghela nafas, Milvan masih asyik berkoar di mikrofonnya. Memuji penampilan Emi dan Noura cheerleader tim Fantastic, hanya sesekali menyinggung permainan tim Fantastic, dan sama sekali tidak menyebut nama tim Maverick seakan tim itu tidak pernah tampil di depan mereka selama 40 menit barusan. Dan semua orang sudah faham, begitulah perlakuan diskriminatif Milvan. Tapi Milvan benar dalam satu hal, semua orang, hampir tanpa kecuali, begitu mengagumi Emi dan Noura, Emi dan Noura. Tanpa Mei.
***

“Hari yang melelahkan!” Noura bicara. Mereka bertiga—Emi, Noura dan Mei—sedang berjalan menuju kantin.
“Melelahkan tapi luar biasa!” Emi yang punya suara ringan dan periang menimpali.
“Tadi pertandingannya seru banget ya, gak nyangka kita bakal menang.”
“Tertinggal empat belas poin di quarter ke tiga, dan menang di akhir pertandingan.” Emi bicara sambil memutar HPnya.
“Tapi jujur saja, yang paling heboh sebenarnya adalah penampilan kita!” ucap Noura bangga disusul tawa riang Emi, dan Mei—meski dengan setengah hati.
“Semua orang, apa lagi si Milvan, terpukau dengan saltomu tadi Mi.” Untuk pertama kali Mei angkat suara, asal saja. Di kepalanya sedang berseliweran pikiran tentang lomba menulis cerpen yang semalam dia baca di internet.
“Mereka tidak tahu tragedy dibalik keindahan itu,” kata Noura dramatis.
“Kaki dan tangan keseleo, dan hampir leher patah!” Kata Mei, mengenang masa-masa latihan sahabatnya yang berat itu. Sedikit melebihkan, leher patah?
“Tapi hasilnya tidak mengecewakan kan?” Emi senyum lebar.
“Semalam aku baca di internet ada lomba cerpen dengan hadiah yang menakjubkan. Jutaan rupiah.” Mei mengganti topic pembicaraan dan cepat-cepat menambahi untuk menekankan betapa menakjubkannya lomba itu.
“Oya? Jutaan rupiah?” Noura menanggapi. Sekedarnya.
“Benar, jutaan rupiah.” Mei sengaja menyimpan info selebihnya, menunggu kedua sahabatnya untuk bertanya lagi, apa kamu ikut Mei? Apa judul cerpenmu? Wah, kamu harus menang Mei!
“Wow, pasti aku gak boleh ikutan neh,” Kata Emi seenaknya.
“Kalaupun kamu ikut, mana ada yang mau baca tulisanmu yang mirip iklan kapur barus itu,” ledek Noura dan disambut tawa lepas Emi.
Mei diam saja, menyimpan kekecewaannya pada sikap tak acuh dua sahabatnya. Seseorang datang mendekati mereka.
“Halo Emi, Noura, seneng banget kelihatannya. Tadi penampilan kalian luar biasa lho.” Ternyata Dika, mahasiswa Biologi 2006 C. Dia melupakan Mei.
“Ups, Dika, ada apa neh, tumben,” Tanya Noura.
“Iya Nor, cuma mau ngabari kita pendukung Fantastic lintas kelas mau ngadain pesta kecil-kecilan buat kalian di Freshteen. Datang ya, pukul lima sore.”
“Di Freshteen? Kamu serius Dik? Gila, pasti kita datang.” Emi berseru girang, hampir melompat-lompat saking excitednya.
“He he he, yup, ini memang spesial. Jadi, Emi, Noura, kita tunggu ya.” Usai berkata begitu, Dika berbalik hendak pergi, tapi tiba-tiba berhenti, “Hampir lupa, Mei, kamu datang juga yah.”
“Da-da dika…!” Noura dan Emi berseru bersama, koor menjengkelkan yang anehnya selalu membuat orang semakin kesengsem pada mereka berdua.
***
Mei berbaring di kamarnya, membolak balik buku harian tua bersampul merah muda, di situ tertulis: Mei-Noura-Emi, ada untuk bersama, satu untuk selamanya. Sesuatu menyelinap dalam benaknya, kenangan yang indah dan panjang. Kenangan yang selalu membahagiakan. Tapi seindah apapun itu, kenangan, selalu dia adalah segala yang telah ditinggalkan. Mei teringat saat bersama Emi dan Noura beberapa tahun lalu, waktu mereka masih kelas satu SMA. Mereka senantiasa berangkat ke sekolah bersama bersama naik sepeda. Menyanyi sepanjang perjalanan tanpa memperdulikan orang. Datang terlambat dan bersama-sama mendapat hukuman. Makan di kaki lima hanya karena membuntuti seorang siswa yang menurut mereka misterius. Ke perpus bersama dan mengacaukan ketenangannya. Menyembunyikan helm seorang guru hanya karena ulangan dapat C. Semua, semua hal yang gila dan mengagumkan—seperti memenangkan lomba kreatifitas remaja tingkat kabupaten, pernah mereka lakukan bersama. Dan kala itu tidak ada yang lebih populer atau kurang mengagumkan diantara mereka. Semuanya sama. Semuanya hebat dan mempesona.
“Benarkah kami sekarang berbeda?” Mei menggumam pada dirinya sendiri. Membanding-bandingkan bagaimana persahabatan mereka dulu dan kini. “Tidak, tidak, tidak ada yang berubah, tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk di antara kami bertiga. Kami adalah sahabat sejati.” Desah Mei lirih. Tapi suara yang lain, jauh di dalam hatinya, berkata sebaliknya, jika kalian tidak berbeda, mengapa kau disisihkan? Aku tidak disisihkan oleh siapapun! Kau tidak merasa dinomor duakan? Siapa yang peduli padamu? Sahabatku! Mereka peduli padaku dan akan terus begitu! Kau membohongi dirimu sendiri, kau tahu mereka tidak lagi peduli padamu, pernahkah mereka mendengarkan ceritamu sebagaimana kau mendengarkan cerita mereka? Mereka peduli padaku! MEREKA SELALU PEDULI! Peduli katamu? Bagaimana bisa ketak acuhan kau anggap sebagai kepedulian? DIAAAM!
Dalam kekalutan hatinya, HP Mei berdering. SMS dari Emi: mei, td kok gk ikut k frshten? Mei menarik napas sejenak, memejamkan mata, lalu membalas SMS Emi: map mi, q sibuk td sore. Seru gk? Begitu SMS terkirim, suara sinis yang bersembunyi itu terdengar lagi, lebih bengis dari tadi, kau berbohong! Yang benar adalah kau mencoba menghindar dari ketersisihanmu! Dan belum sempat Mei menentang kata hatinya, HPnya kembali berdering, balasan dari Emi: gila, seru bngt mei! Hmpir smw anak bhs inggrs angktn qt dtg. Mrk tak henti2nx ngmbil foto q n noura! Mei tidak menjawab SMS, dia matikan HPnya kemudian melemparnya dengan kesal.
Mei tengkurap, menutupkan bantal kekepalanya, berusaha mendiamkan tawa ngeri yang berdentam jauh didalam dadanya. Tawa yang menyudutkan.
“Mereka adalah sahabatku!” raung Mei pada dirinya sendiri.
***
Fantastic berhasil mengalahkan Maverick dengan skor telak, 102-92. Fantastic—tim basket jurusan Bhs. Inggris 2007 C—bukan hanya jago memasukkan bola tapi mereka juga punya cheerleader terhebat sepanjang sejarah. Dibawah komando duo Emi dan Noura, cheerleader ini mengalahkan kehebatan cheerleader tim lainnya.
Mading kampus hari ini meliput pertandingan basket kemarin. Selain foto anggota tim Fantastic, foto anggota cheerleader juga ditempel dengan ukuran yang mencengangkan.
“Rasanya aku masih bisa mendengar gemuruh sorak sorai kemenangan kita.” Noura bicara begitu mereka beranjak pergi dari depan mading menuju kelas mereka.
“Kalian tambah populer dong sekarang?” Mei nyeletuk.
“Huuu emangnya bintang sinetron pake populer-populeran segala. Biasa aja tuh.” Emi menjawab dengan tidak bisa menyembunyikan nada kebanggaan di dalamnya.
“Eh, udah berapa lama ya kita gak ke perpus kota?” Mei ganti topik.
“Iya ya, rasanya sudah sangat lama sekali sejak terakhir kali kita kesana, kapan ya?”
“Mmm…lupa. Gimana kalau sore nanti kita ke perpus?” Mei mengusulkan. Tapi sebenarnya ada sesuatu yang dia sembunyikan—atau rencanakan. Dia ingin menilai bagaimana sebenarnya persahabatan mereka kini, Mei ingin mendapatkan kepastian atas semua keraguan yang dia—akhir-akhir ini—rasakan. Dan jeda yang hadir di antara mereka selama beberapa detik sudah cukup untuk menggelisahkan hati Mei. Dia berharap, karena itu dia merasa takut pada kekhawatirannya. Belum ada yang bicara.
“Ng…Mei, kayaknya sore nanti gak bisa deh, aku ada latihan nyanyi, kamu tahu kan?” Noura menyampaikan penolakannya. Dan tanpa bertanya, Mei tahu apa yang akan dikatakan Emi, aku harus menemani Noura, maaf ya. Mungkin lain kali kita bisa pergi bersama. Kayak dulu.
“Benar, seperti dulu,” Mei mengulang kata-kata Emi—tepat seperti dugaannya.
***
Di pinggir jalan, bunga dan pohonan sedang berkembang. Warna-warni indah semarak bermunculan di sela hijau yang dominan. Dan lebah, terbang lembut mengintai di antara hembus angin. Dalam dengung lembut sayapnya, ada aroma harum yang semerbak. Langkah kaki Mei ringan menapak jalan berpaving. Seorang diri dia menuju perpus. Pada saat yang sama, Emi dan Noura sedang tertawa bersama teman-teman musiknya. Sudah kuduga, sudah kuduga. Suara itu bertalu dalam benak Mei. Noura tidak akan mau pergi bersamaku, dan Emi, dia takkan mau menemaniku. Aku tidak populer, tidak seperti Noura.
Tanpa disadari, seseorang berjalan di belakang Mei, membuntutinya. Tapi kemudian, orang asing itu memanggil Mei—menyadari jika dia tetap diam Mei tidak akan menyadari kehadirannya.
“Mei, kok sendirian? Mau kemana?”
“Eh, kamu. Ada apa?” kata Mei setelah berbalik, ternyata Higar, temannya di komunitas sastra. Dia berhenti berjalan.
“Aku yang bertanya duluan, he he he. Mau kemana Mei?”
“He he he, ke perpus.” Jawab Mei, lalu melanjutkan kembali jalannya. Higar merendenginya. “Kamu sendiri mau kemana Gar?”
“Ke perpus juga. Bareng yuk.” Ajak Higar.
Mereka melanjutkan perjalanan sambil membahas lomba mengarang yang kemarin dibaca Mei di internet. Perpus tinggal seratusan meter lagi. Higar adalah teman yang menyenangkan, tapi dalam hal berpendapat, dia terlalu blak-blakan, bahkan untuk soal yang mestinya tidak diungkapkan.
“Kemarin kamu kok gak ikut pertemuan? Padahal seru lho, kita ngebahas The Devil and Miss Prym. Gak nyangka pesertanya buanyak.” Higar memulai perbincangan.
“Oh…maaf, aku lupa ngasih tahu. Kemarin aku nonton pertandingan basket. Tim kelasku main. Kita menang lho, kamu tahukan?”
Higar tidak menjawab. Setelah diam sesaat, dia bcara lagi.
“Emi dan Noura kemana? Biasanya kalian kan selalu bareng.”
“Mereka lagi ngeband. Jadi aku berangkat sendirian ke perpus.”
“Hmmm…” gumam Higar. Mei membaca gelagat ini. Sesuatu hendak dikatakan Higar. Itulah intronya. “Saat latihan cheerleader, kamu ada di sana, waktu latihan band, kamu juga ada di sana, tapi…” Higar berhenti bicara, menjebak.
“Apa yang ingin kamu sampaikan Gar?” Mei memotong cepat.
“Gini, kenapa waktu kamu lagi di komunitas sastra, mereka gak pernah…”
“Mereka tidak terdaftar sebagai anggota, Gar. Kamu tahu itu.” Mei memotong lagi.
“Dan tidak ada larangan bagi orang luar untuk berpartisipasi,” Higar melawan sengit. “Waktu kamu ke perpus, mereka juga…”
“Sebenarnya apa maksudmu Gar? Kan sudah kubilang tadi, mereka ada kegiatan.” Suara Mei mulai ketus, tapi ada sesuatu yang bergejolak di tenggorokannya.
“Mei, maaf kalau lancang, tapi akhir-akhir ini aku sering memperhatikan kamu.” Mei terkejut mendengarnya. Dia berhenti melangkah, menatap Higar yang juga menatapnya—tajam penuh selidik. “Aku yakin kau pasti memikirkan ini Mei. Semua kegiatan mereka, dua temanmu itu, pasti adalah kegiatanmu juga. Di cheerleader kamu ada menemani, di band kamu pun ada menemani, tapi pernahkah kegiatanmu menjadi kegiatan mereka? Pernahkah mereka mengorbankan waktu untuk me…”
“HIGAR!” Mei membentak—lebih keras dari yang dia duga, “kau sedang membic-arakan sahabat-sahabat baikku!” Tapi Mei sendiri merasakan, ada yang aneh dalam suaranya saat mengatakan sahabat baikku. Hanya saja dia tidak ingin memikirkannya sekarang. “Kamu tidak tahu apa-apa tentang kami Gar, mereka sahabatku semenjak SMP, dan apapun yang kau lihat sekarang, itu tidak berarti apapun!”
“Tidak berarti apapun?” Higar balik membentak, “mau tahu apa yang ku lihat? Yang kulihat adalah bahwa mereka, sahabat baikmu itu, sedang meninggalkanmu, meninggalkanmu Mei! Kau bodoh kalau tidak menyadarinya Mei!”
Bibir Mei bergetar. Dia ingin membantah, tapi sesuatu yang dingin dan pekat mengalir dalam kerongkongannya, mencegat suaranya keluar. Higar merasakannya.
“Mereka memang sahabat baikmu, tadinya,” Higar menyerang lagi. “Tapi kenyata-annya sekarang mereka sedang meninggalkanmu. Mei, sadarlah, mereka tidak peduli lagi padamu! Mereka terkenal, mereka populer, dikagumi banyak orang. Cheerleader yang seksi. Penyanyi berbakat. Mereka lebih peduli pada semua itu dari pada kamu, sahabat baiknya sejak SMP. Tidak masalah bagi mereka apakah kamu masih ada atau tidak. Kau…kau sudah tidak dianggap Mei.”
Itu adalah kebenaran, Mei membatin. Tapi dia, sebagaimana banyak orang lainnya, cenderung membenci kebenaran yang tidak diharapkan dari pada menerimanya.
“CUKUP! Apa sebenarnya maumu mengatakan semua ini?” suara Mei bergetar.
“Ini demi kamu Mei. Aku ingin kau sadar dan membuat pilihan pada siapa mestinya kamu berteman, memberikan prioritas. Berapa banyak waktu yang bisa kau manfaatkan untuk mengembangkan bakat menulismu dengan berhenti mengekor dua sahabatmu itu? Sangat banyak! Kau hanya perlu membuat pilihan. Siapa yang harus kau pertahankan dan siapa untuk kau tinggalkan.”
“Jangan ngaco kamu Gar!” Mei membantah. Tapi terdengar tidak meyakinkan.
“Mereka adalah naga terbang yang menyemburkan api Mei, dan kamu hilang di bawah bayangannya. Kamu kehilangan makna! Kamu mestinya tahu itu. Apa artinya keberadaanmu bagi dua cewek populer yang dipuja hampir di mana saja? Apa? Bisa kau jawab itu Mei?”
***
Hiruk pikuk yang lebih gemuruh. Semua orang bersemangat, penonton dan pemain, semuanya tersulut oleh gairah yang panas membakar. Semua perhatian terpusat ke tengah lapangan. Tim Fantastic sedang membantai D2 Samurai, salah satu tim basket dari jurusan Bahasa Jepang. Di quarter ke dua ini, tim Fantastic unggul dua puluh poin.
“Gila, gila, benar-benar gila!” Milvan mulai lagi, sepanjang pertandingan tidak habis-habisnya dia meledeki D2 Samurai. Dan seperti biasa, lebih mengomentari Emi dan Noura dari pada tim Fantastic. “Sepertinya Musashi akan bangkit dari kubur melihat nama samurai dipermalukan seperti ini di sini! Hei, lihat itu, di pinggir lapangan, Emiiiiiiiiii…! Bajunya itu….”
“Tidak akan ada yang tahu, tidak akan ada.” Mei membatin. Tangannya gemetar. Di tangannya itu, dua botol minuman milik Emi dan Noura. Perlahan dia memutar tutup botol minuman Noura. “Aku harus melakukannya. Ini tidak akan mencelakai mereka, tapi akan membuat mereka mengerti. Mereka akan tahu apa artinya disisihkan. Arti merasa dikalahkan. Dilupakan.”
Lagi, Mei mengawasi orang di sekitarnya. Ya, aman. Tak satupun yang tidak menonton pertandingan. Tak satupun akan ada yang menyadari tindakannya. Mei merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah bungkus plastik transparan berisi serbuk putih.
“Mereka akan lumpuh selama satu jam. Hanya itu yang aku inginkan.”
Mei menatap kedua—dulunya—sahabatnya, mereka meloncat-loncat energik bersama anggota cheerleader menyemangati Dico yang sedang membawa bola. Mei merasakan sesuatu, justru di saat semua sudah begitu dekat, tinggal menuangkan serbuk putih kemasing-masing botol. Perasaan itu, kenangan dan harapan.
Wajah berkeringat Noura dan Emi. Teriakan semangat mereka. Lompatan girang mereka. Semua itu, adalah semua yang dulu mereka miliki bersama. Semua itu, adalah bagian dari kehidupan mereka. Kebahagiaan. Kesetiaan. Kepedulian.
“Kita karah, haik! Kita karah, haik!” Milvan meniru lidah jepang yang tidak bisa melafalkan huruf ‘l’ begitu Dico melakukan dunk membobol keranjang D2 Samurai. Cheerleader Fantastic bersorak meriah, ‘Fantastic! Fantastic! You know we are great!’
Mei meremas bungkusan di tangannya. Dia ragu. tepat saat semua tinggal melaksanakannya. Ada sesuatu yang mengiris dalam hatinya. Terasa perih. Ketulusan yang mengalir di antara kemarahan. Kekecewaan di antara kesetiaan. Sesuatu yang hangat merembes di pipinya, mengalir turun, menyelisip di antara bibirnya, tercecap lidah, getir. Air mata. Keindahan itu adalah kenangan mereka. Kehidupan masa lalu. Dan kini, saatnya untuk memilih telah tiba. Masing-masing dari mereka telah memilih kemana harus pergi. Dan dia harus menerimanya dengan lapang dada, karena itulah arti dari menjalin persahabatan, memberi, menerima, dan mengambil keputusan, bertahan atau terpisahkan. Persahabatan bukan paksaan, tapi ikatan pengertian. Dan pengertian membimbing pada pilihan, semuanya adalah pilihan. Jadi, haruskah aku menentang keputusan sahabatku? Sanggupkah aku menyakiti mereka? Dan mengapa?
“Naga itu ada dalam diriku sendiri, bukan sahabatku. Naga terbang yang menyemburkan api itu mendekam dalam diriku. Dan hampir saja dia membakarku seluruh.” Kata Mei dalam hati. Menghirup nafas dalam, mencoba merasakan hal terakhir yang terasa oleh inderanya. Semangat di mana-mana. Dia merasakannya, ya, kebahagiaan itu, kebahagiaan sahabatnya. Dan Meipun tahu, jika dia tidak bisa memaksakan sesuatu yang di luar kendalinya. Sahabatnya telah mengambil keputusan.
“Bola terbang dan o… o… masuk! Masuk! Gila! Kalau aku punya adik perempuan, kupaksa kau Dico untuk menikahinya!” Milvan berteriak tak karuan menyambut masuknya bola yang dilempar Dico dari tengah lapangan. Anggota tim berebutan mengangkat tubuhnya. Para suporter cewek memaki-maki Milvan yang tertawa kesenangan mendapat perhatian. Dan cheerleader di pinggir lapangan, menampilkan gerakan akrobatik memukau menyambut kemenangan di depan mata. Di pintu keluar gedung olahraga, Mei melangkah pergi seorang diri. Bungkus plastic dimasukkannya kedalam saku bajunya.
***
Mei duduk sendiri di kamarnya. Kursor di layar laptopnya berkedip tak letih. Halamannya putih bersih, tak sebaris katapun tertera disana. Truth, cry, and lie mengalun lembut dari winamp. Mei mendesah mengingat beberapa malam lalu, setelah bertemu Higar di jalan menuju perpus. Apa yang merasuki dirinya hingga memutuskan untuk meracuni sahabatnya? Apa yang membuatnya begitu marah? Dia merasa dikhianati, ya, itulah penyebabnya. Dia merasa dikhianati. Dia merasa dibuang, dan itu tidak bisa diterimanya dengan mudah. Kemarahan yang kemudian menyusulnya membuatnya kalap, memutuskan untuk melakukan apa saja agar mereka mengerti perasaannya, agar mereka bisa kembali seperti semula, agar masa kebersamaan yang indah itu datang kembali. Tak peduli apapun caranya. Dan siang tadi, hampir, hampir saja dia melakukannya, melarutkan serbuk pelumpuh temporer dalam minuman sahabatnya.
Mei menghela nafas berat. Jari-jarinya menempel di tuts, siap mngetik.
Akhirnya, kita memilih jalan masing-masing. Jalan yang tidak pernah kita bayangkan akan terbentang dan menjadi pilihan di depan kita. Dan kenangan yang panjang, kenangan selama bertahun yang indah, akan senantiasa menjadi…
Gaung bel menghentikan jemari Mei. Dengan malas dia beranjak keluar kamar, ayah ibunya sedang di luar—bertemu kolega bisnis. Mei membuka pintu depan perlahan.
“Maaf mencari si…” yang tampak di depan pintu mengunci lidah Mei. Di situ, dua gadis cantik nan seksi berdiri tegap, tersenyum lebar, sorot matanya berbinar-binar. Di tangan salah satu dari mereka, kue lezat mahal terbuka menggiurkan.
“Selamaaat…ha ha ha,” keduanya berseru kompak. Lalu tanpa aba-aba, melompat menerjang Mei, memeluknya erat-erat sampai susah bernafas.
“Haf…haf…ada…a…pa ini..Nour..Mi..?” Mei megap-megap dalam pelukan erat dua sahabatnya, Noura dan Emi.
“Ada apa? Kau tidak tahu? Cerpenmu masuk tabloid kamu malah gak tahu! Mi, keluarin tabloidnya,” Emi yang tidak membawa kue segera mencabut sebuah tabloid remaja dari saku belakang celananya. Menunjukkan kolom cerpen, nama Mei di situ. Mei terperangah, bergantian menatap cerpennya dan wajah bahagia ke dua sahabatnya. Mei kehilangan kata-kata, tak bisa lagi mengungkapkan perasaanya kecuali dengan uraian air mata. Air hangat itu mengalir deras di pipinya, menyelisip di antara bibirnya yang bergetar. Aneh, air mata itu kini terasa manis, dan membahagiakan.
Malam itu, ketiga sahabat, Noura, Emi, dan Mei merayakan terbitnya cerpen Mei sekaligus keberhasilan tim Fantastic mengalahkan D2 Samurai. Tapi bagi Mei, ini adalah pesta kembalinya dua sahabatnya yang hampir hilang.
“Maaf ya, tadi aku gak bisa ikut sampai pertandingan selesai,” kata Mei.
“Gak papa kok. Mei, ada yang mau kita sampaikan.” Jawab Emi. Sontak Noura diam. Dan Mei merasakan sesuatu, sesuatu yang entah bagaimana cara menjelaskannya.
“Apa? Katakan saja.” Jawabnya lirih.
“Kami, kami…mau minta maaf Mei. Kami bersalah padamu Mei.” Emi yang biasanya riang suaranya bergetar. Sementara Noura, entah bagaimana sudah terisak menahan tangis. “Kami …kami meninggalkanmu selama ini Mei, kami larut dalam sanjungan sampai melupakan sahabat kami. Kami minta…” suara Emi hilang, Mei menghambur memeluknya erat, erat, sangat erat seakan takut Emi bisa menghilang kapan saja. Lalu Noura menghambur, memeluk mereka berdua. Ketiganya berpelukan. Dan tangis yang merdu mengalun mengiringi jatuhnya tiap butir air mata. Dalam hati, Mei berkata, maafkan aku juga sahabat, maaf karena hampir aku bertindak bodoh pada kalian.

***

Dan sampai sekarang, ketika hubungan kami sudah kembali seperti masa-masa SMP-SMA dulu, aku belum menceritakan tentang niatku meracuni mereka. Aku tidak berani, lebih tepatnya, aku malu. Namun apapun itu, kini aku bahagia, sangat. Dan—tentu saja—lebih dewasa menyikapi romantika persahabatan kami. Oh ya, tentang bagaimana mereka tiba-tiba bisa sadar, karena cerpenku yang masuk tabloid itu bercerita tentang persahabatan yang hancur karena kepopuleran. Mereka membacanya, tentu saja.
Dan satu hal yang kupelajari, untuk mengalahkan naga terbang yang menyemburkan api ternyata adalah ketulusan hati. Ketulusan memberi, ketulusan memaafkan. Tak perlu heran, karena betapa ketulusan hati pula yang mampu melembutkan kerasnya hati untuk menerima cinta. Seperti yang dilakukan seseorang padaku kini, he he he.

Catur Amrullah
Sunday, June 14, 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: