• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

The last ESO of my life (?)

partingMenyedihkan memang, menyadari bahwa memang tidak ada di dunia ini hal yang abadi. Tak ada. Kau bisa melihat bagaimana istana runtuh, bagaimana menara rubuh, bagaimana tempat ibadah ambruk, dan tembok retak serta remuk. Semuanya berakhir. Dan bagiku, kemarin tanggal 30 September bisa jadi adalah ESO (English Student Orientation) terakhir yang kuikuti. Setelah empat tahun. Lima kali ESO. Dalam seluruh masa kuliahku. Akupun mencapai titik kulminasinya. Perasaan apa yang kini meracauku?
ESO adalah momen di mana para freshmen (para mahasiswa baru) dari semua kelas berkumpul dalam satu acara temu akrab yang meriah dan mengesankan, paling mengesankan setahuku. Dalam ESO itu, mahasiswa yang masuk siang hari bisa bertemu dengan mahasiswa pagi hari, make friends, and keep it until the end. ESO hanya diperuntukkan bagi mahasiswa baru. Lantas, aku dengan segala ketakbaruannya sebagai mahasiswa bagaimana bisa mengalami lima kali ESO? Tentu saja, karena aku adalah panitianya, kecuali ESO pertamaku, aku menjadi peserta ESO, tentu saja. Dan justru inilah yang membuat semuanya semakin biru, menyesakkan dan menyedihkan.
Menjadi panitia ESO adalah pengalaman yang sangat hebat. Aku belajar banyak hal tentang berbicara dalam acara besar dengan senantiasa menjadi seksi acara dalam kegiatan tersebut (dan memang aku senantiasa jadi seksi acara di tiap kegiatan organisasi yang kuikuti—tidak terus selalu sich, tapi sangat sering begitu). Di ESO, aku merasakan sensasi menjadi pusat perhatian empat ratus lebih mahasiswa baru saat sedang membawa acara, aku merasakan sensasi menjadi orang yang ditunggu oleh empat ratus orang mahasiswa lebih (kau harus ikut ESO itu untuk tahu betapa hebohnya aku membawa acara tersebut. menyenangkan), dan semua itu membuatku begitu memahami teknik membawa acara yang tidak membosankan. Bayangkan, dibangku kuliah mana aku bisa belajar ilmu antik itu?
Banyak kenangan di ESO. Hebatnya, semua kenangan itu tentang tawa, tak ada yang air mata. Pada masa-masa awalku menjadi panitia ESO dan memegang seksi acara, aku bersama karibku David, menyajikan acara yang berkelas Harvard namun membumi. David dengan kemampuan bahasa inggrisnya yang menakjubkan membuat peserta merasa seperti kedatangan bule asal Amerika. Dan aku yang konyol dan memiliki gaya melawak yang…ng….um….aku tidak bisa menjelaskannya, membuat para peserta tetap merasakan keakrabannya dengan asal daerah mereka. Ini sangat menyenagkan, dan merupakan pengalaman hebat dalam hidup kami berdua. Kemudian, saat David berhenti dari ESA (organisasi yang menyelenggarakan ESO), aku membawa acara dengan Emi atau Rifai. This was my mad season. Emi jago ngocol, dan juga memiliki pronunciation yang sangat menakjubkan. Rifai humoris yang menjengkelkan, dan itu membuat tak terlupakan. Dan kemudian, saat mereka berdua tak lagi aktif di ESA (dan aku masih saja aktif) pasanganku ganti si Hadi walaupun waktu bersamanya singkat, tapi dialah pembawa acara gila yang paling banyak memiliki kesamaan denganku. Kita sangat kompak waktu itu. Can anybody stand with no laugh when they see us? I guess no body.
Banyak kenangan menakjubkan lainnya mengenai ESO bagiku. Mau tahu di antaranya seperti? Ehm, ehm, seperti aku mendapatkan gadis yang jatuh cinta padaku pada pandangan pertama (kau boleh percaya boleh tidak, tapi itulah faktanya!), aku bertemu gadis yang mencintaiku sejak dia kelas satu sma (dan aku saat itu masih freshmen sebagai mahasiswa), dan banyak lagi—sepertinya, yang aku sendiri tak tahu mungkin jauh lebih banyak lagi.
Untuk semua itu, semua kenangan dan pelajaran yang aku dapatkan itu, aku ingin berterimakasi pada para ketua ESA yang telah mengambilku sebagai seksi acaranya, mereka adalah mas Khuluq—sekarang dia menikah dengan mbak Niken, bendaharanya di ESA dulu! Terimakasi buat Taufiq Munir, sahabatku yang menjadi ketua ESA—terimakasi untuk kepercayannya selalu menunjukku sebagai ketua seksi acara, dan terimakasi buat suharmono yang lebih tenar dengan sebutan Simon, adik kelasku yangmenjadi ketua ESA—terimakasi tidak memecatku dari ESA walau sebenarnya aku sudah sangat tua untuk tetap jadi anggota ESA. Pada mereka semua, aku harus sangat berteimakasi.
Satu hal yang sangat ingin kusampaikan pada teman-temanku pengurus ESA adalah, bahwa menjadi seksi acara di ESO—juga kegiatan ESA lainnya, setidaknya menjadi simalakama tersendiri bagiku. Suatu ketika, seorang kawan berkata padaku, selamat, kau berhasil mendapatkan begitu banyak pengagum atau penggemar dengan semua aksimu itu, tapi sepertinya kau lupa, kau juga mendapatkan orang yang kesal padamu hampir sama banyaknya. Sepertinya kawanku itu benar. Atau hampir benarlah—aku percaya masih jauh lebih banyak yang suka padaku dari pada yang tidak suka, he he he.
Baiklah, seperti yang aku tulis di awal, segalanya di dunia ini pasti menghadapi keakhirannya, begitu pula tulisan ini, dia akan berakhir di paragraph ini. Aku ingin mengatakan bahwa aku sangat berterimakasih untuk semua yang ada di kepengurusan esa, mulai dari jamannya mas khuluq sampai simon. Maaf aku tidak bisa menyebutkan nama kalian satu persatu. Terimakasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: