• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Selamat Ramadhan, Saudara Di Rantau Orang

ramadhan2 Tulisan ini untuk semua muslim yang Romadlon kali ini sedang ada di rantau orang, terpisah oleh ruang dan waktu dari keluarga dan kerabat.

Apa yang kita pikirkan sekarang? Apa ada kerinduan? Kita selalu terkenang pada yang kita sayang bukan? Ramadlon di tanah orang memang penuh dengan perasaan. Bukankah pada tiap gema adzan yang bertalu dari masjid dan musola membuat kita terkenang pada wajah ayah bunda? Kasihan aku, juga mereka yang sedang di rantau.
Tiap Romadlon , kita tadarus Al-Qur’an jauh lebih giat dari biasanya—atau bagi sebagian yang lain, bunyi kalimatnya ini saatnya untuk tadarus Al-Qur’an. Aku sendiri, tiap kali mendengar perempuan membaca Al-Qur’an, wajah ibu selalu membayang, teringat akan merdu suaranya, teliti bacaannya, dan lama darusnya. Saban kali ibu membaca kitab suci itu, aku suka berdiam di sebelahnya, sekedar terlentang atau sampai tidur beneran. Pada saat yang sama pula, aku teringat pada kakak perempuanku. Yah, suaranya memang tidak semerdu ibu, tapi caranya membaca membedakannya dari semua perempuan di kampong halamanku. Bahkan, se Bawean . Kata orang, cara baca Al-Qur’an mbakku adalah cara baca Jawa. Sepertinya, kearifan menerima perbedaan diperlukan untuk semua keadaan. Jika semua muslim dari seluruh daerah di Indonesia dikumpulkan, lalu mereka disuruh membaca Al-Qur’an sesuai dengan cara daerahnya masing-masing, pastilah itu akan jadi pertunjukkan yang menggelikan.
Siang hari terasa lama, bagi sebagian orang, tapi juga cepat bagi yang lain, hanya saja aku belum bertemu orang yang mengatakan siang hari berlalu terlalu cepat. Kesibukan membuat kita memiliki cara berbeda menikmati siang hari Romadlon . Kesenangan yang selalu kupikirkan saat siang Romadlon di kampong halaman adalah saat-saat sibuk membantu ibu memasak (ada suatu waktu di mana aku hanya tinggal dengan kakak perempuanku, dan aku suka membantunya memasak) menyiapkan buka puasa. Aku suka memasak, walaupun pada dasarnya aku lebih suka memakan. Sebagian orang menganggap pria yang memasak itu seksi, tapi aku tidak mempertimbangkan itu. Aku senang, itu cukup. Dan lebih penting, bisa menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama ibu.

    Pada waktu tertentu, aku merasa rindu yang sangat pada beliau. Garis wajahnya semakin tahun semakin banyak. Beliau semakin tua.

dan Romadlon , aha! Romadlon senantiasa mengagumkan—apa aku sudah mengatakan itu tadi? Di tanah orang, uang benar-benar harus diempet keluarnya. Jangan sampai kurang, kalau tidak mau perutmu meradang. Tapi di bulan Romadlon , allah mengucurkan kasih sayang-nya lebih banyak lagi bagi para perantauan. Di mushola-mushola, di masjid-masjid (keduanya empat terbaik bagi umat islam), terhidang makanan alangkah banyaknya. Aku jadi ingat cerita seorang kawa yang tengah menuntut ilmu di pare. Tiap Romadlon , dia akan melakukan keliling masjid untuk buka puasa. Tiap hari berganti masjid untuk buka puasa. Dan, asal anda tahu, aku juga melakukannya! Wahahahaha, tapi ini bukan melulu soal makan gratis, ini juga tentang silaturahmi, juga tentang meramaikan masjid, juga tentang rahmat di bulan Romadlon .

    Jika suatu waktu aku akan tersesat di sebuah kota saat sedang mencari alamat seorang kenalan, aku ingin itu terjadi di bulan Romadlon . Jangan di bulan yang lain.

Tarawih bermacam-macam caranya. Itu masalah furu’iyah. Tidak masalah dan tak jadi soal. Tapi kalau boleh menilai, sepertinya kurang afdhol tarawih yang dilaksanakan dengan kecepatan luar biasa. Sejauh ini, belum pernah aku menemukan tarawih yang dilakukan secepat di tempat asalku, Bawean , khususnya di desaku Kumalasa . Shalat isya’ plus tarawih sebanyak dua puluh satu rakaat bisa ditemuh dalam waktu tak sampai tiga puluh menit. Itu rekor. Tapi dari cerita kawan-kawanku, di Jawa pun banyak yang tarawih ekspress. Suatu ketika, saking cepatnya si imam, beberapa makmumnya hanya bisa jungkir balik di belakangnya sambil nyebut subhanallah, bukan doa shalat semestinya.
Lagi-lagi, tarawih mengingatkan aku pada ibu. Di kampong, aku selalu mencari tarawih tercepat. Di mana mushola yang paling cepat selesai, di situ para pemuda berjamaah. Tapi ibu mencari tempat yang slow. Dan masjid selelu menjadi pilihan beliau. Ah, jadi ingat waktu sma, tarawih di sekolah. Bukan hanya untuk tarawih, tapi juga untuk ketemu si dia. Wahahahahaha.

    Sauuur, sauuur, sauuur, sauuur…!

Itu panggilan khas, hanya terdengar di bulan Romadlon . Dan di bulan yang hebat ini, hanya di bulan ini, orang rela dini harinya dibisingi oleh anak-anak muda. Itu tidak akan terjadi di bulan-bulan yang lain. Dengan membawa kenthung-kenthung (alat musik yang dibuat dari bambu, kentongan), para pemuda Bawean berkeliling kampungnya masing-masing, menyanyikan lagu saur yang monoton (anehnya, lagu saur ini sama dengan semua lagu saur di seluruh indonesia. Kenapa belum ada band yang menjadikannya lagu ya?) Dengan memukul kenthung-kenthung sekeras yang mereka sanggup. Dan, bukan hanya satu kelompok pembangun saur, tapi ada beberapa kelompok. Jika suatu kampong punya tiga kelompok pemuda—kelompok bermain maksud saya—maka akan ada tiga kelompok pembangun saur. Sialnya, masing-masing desa punya kelomok pemuda mulai dari tiga sampai enam! Mulai dari pukul dua lewat beberapa menit, hangar bingarlah seluruh kampong. Dini hari yang menakjubkan di bulan Romadlon . Ini berlangsung sebulan penuh. Anda mau coba? Datang saja ke Bawean kawan.
Beberapa keluarga berlangganan pada kelompok pembangun saur tertentu. Secara khusus mereka diminta untuk benar-benar memastikan keluarga itu telah bangun untuk santap saur. Tapi, tahukah anda, kelompok pembangun saur benar-benar tak menerima pamrih dari keluarga manapun!

    Imsaaaaaaak, telah tiba. Tak boleh makan, tak boleh minum, dan lain sebagainya.

Berani bertaruh, jika anda hidup di Kumalasa tahun 2002 ke bawah, anda pasti tahu kalimat siapa yang ku kutip di atas. Benar, itulah Pak Tua Yasin , alm. (semoga Allah melapangkan kuburannya, menganugerahinya dengan nikmat dan ampunan). Di Kumalasa , puasa identik dengan peringatan imsak Pak Tua Yasin . Suaranya yang panjang dan tinggi, agak sengau dan bergaya, telah puluhan tahun menemani hari-hari puasa orang Kumalasa. Ketika beliau tak lagi memberi peringatan imsak, dan diganti orang lain, sangat terasa perbedaannya. Tidak khas, tidak menggugah, tidak unik (buat yang kini mengganti posisi Pak Tua Yasin, mohon maaf, tidak bermaksud meremehkan saudara tapi saya sekedar bernostalgia).
Bahkan, kekhasan Pak Tua Yasin telah membuat namanya sendiri sebagai imsak itu sendiri. Orang-orang tidak berkata la imsak? (sudah imsak?) Untuk menanyakan imsak tapi Pak Tua Yasinla akasak? (Pak Tua Yasin sudah berbunyi?). Aku geli membayangkan bagaimana term akasak yang arti harfiahnya berbunyi dan hanya digunakan untuk benda, berubah tempat dan disandangkan pada nama Pak Tua Yasin . Rasanya, kehilangan Pak Tua Yasin sama dengan kehilangan satu pertanda Romadlon di Kumalasa . Orang selalu ingat beliau saat imsak telah tiba.

    To my Mom

Ada yang bilang, menggelikan seorang lelaki menunjukkan sayang yang amat pada ibunya, tapi bagiku, justru pria sejati adalah yang berani menunjukkan besarnya sayang pada keluarganya. Aku jadi ingat ibu. Tiap Romadlon . Tiap saat dimana aku merasa begitu melarat. Begitu tersusah. Begitu lapar di siang yang membakar. Dan, kalau sudah mengondok kerinduan ini, para perempuan paruh baya di angkot, di kaki lima, di pasar, di jalan depan rumah kos, semua jadi mirip ibundaku. Ini tidak aneh, ini cuma, cuma, cuma kangen saja.
Nanti mendekati Idul Fitri, tiba waktunya pulang, juga saudara-saudara muslim yang ada di perantauan, kita pulang. Aku akan menyeberang lautan. Anda akan melintas dengan kereta api. Anda akan terbang di udara. Kita pulang, menuju ibu-ibu kita. Meminta maaf yang dalam untuk tiap dosa. Tapi aku juga berpikir, oleh-oleh apa mau dibawa buat beliau dan kerabat lainnya? Wahahahahaha mengerikan berpikir tentang itu.

Dan untuk mengingatkan, mari kita semua saudara muslim meningkatkan iman dan taqwa kita pada allah di bulan yang penuh berkah ini. Jangan sampai hilang begitu saja. Kata Counting Crows, taksi kuning gede mncuri pacarku, apa kita ingin Romadlon yang agung ini dicuri begitu saja dari waktu yang kita punya? Berlalu tanpa makna? Aku percaya dengan persaudaraan muslim, dan kita mesti prihatin untuk yang terjadi pada umat ini di seluruh dunia. Di setiap pelosoknya. Di padang pasirnya. Di tanah hijaunya. Kita juga perlu bertanya, apa yang membuat kita begitu tercerai berai begini? Makanan di meja yang sedang dikeroyok umat lainnya. Mengapa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: