Posted in nebula, think

Aku Bosan Mengatakan Negara Kita Masih Terjajah

setanSahabat baikku sangat percaya jika dunia yang kita tempati ini baik-baik saja, dunia yang kita bangun ini tengah menuju pada suatu kehidupan yang kita dambakan, kecuali beberapa hal yang jelas sekali merugikan, seperti perang, aksi teroris, manipulasi, dan yang seperti itu lainnya yang jumlahnya jauh lebih kecil dari pada kebaikan global. Sahabat baikku itu tidak akan pernah percaya jika pengangguran sebenarnya tidak terjadi secara alami tapi disutradarai, dia percaya jika semuanya tengah mengusahakan kedamaian, negara-negara tengah menjalin kerjasama untuk saling menolong, dia tidak sanggup membayangkan bagaimana mungkin ada suatu konspirasi dibalik suatu program kerjasama antar negara, bilateral maupun multilateral. Dia tidak percaya bagaimana mungkin organisasi besar semacam PBB akan dengan bodoh mengebiri negara-negara tertentu. Bagaimana mungkin dia melakukan kejahatan itu di depan hidung semua negara di seluruh dunia? Tidak. Sahabat baikku yakin, kita tengah hidup di dunia yang selama ini kita cita-citakan.
Tapi, aku punya seorang kenalan, dia mencurigai semua hal yang bisa kau temukan di duia ini. Tidak ada yang bisa meloloskan diri dari cara berpikirnya yang skeptis—maksudku dia tidak percaya pada apapun yang disajikan oleh dunia pada umumnya. Dia percaya kita, umat manusia, tengah hidup di suatu film besar dengan beberapa gelintir orang memegang kendalinya. Hidup kita disutradarai. Orang-orang mengambil keuntungan dari manusia lainnya. Kita tengah diperdaya dan diperah. Semua hal yang terjadi di dunia ini tidak bisa lepas dari jaring scenario raksasa ini. Raksasa pemangsa manusia itu, dia menyebutnya: kapitalisme.
Pada beberapa bagian, aku merasa ngeri dengan cara berpikir kenalanku tersebut: dunia yang tengah dicaplok. Dia tentunya orang yang paling gelisah di dunia. Dia tentunya orang yang paling penuh prasangka, kekkhawatiran, ketakutan, dan juga tentunya, kehati-hatian berlebihan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bisa kita menjalani hidup yang sedemikian sempitnya, di mana kita sama sekali tidak punya bagian untuk menentukan jalan hidup.
Kenalanku itu bisa dipastikan akan ikut terjun dalam aksi demo menentang perdagangan bebas (global market), karena perdagangan bebas—sebagaimana yang diketahui semua orang—hanya akan menguntungkan para pemodal besar, mereka yang memiliki jaringan internasional dan merk yang menguasai pasar. Akibatnya, pedagang local yang sepanjang hidupnya megap-megap, akan tamat riwayatnya, mati dalam persaingan yang terlalu berat sebelah. Dia juga tida percaya pada omong kosong PBB pemelihara dunia. PBB tak lebih dari seperti sebuah big foot di lapangan parkir berisi segala jenis mobil. Dan yang mengendalikan big foot itu hanyalah beberapa orang kaya pemilik limousine. Mereka menggunakan big foot untuk melibas mobil-mobil lainnya yang mengganggu jalan limousine mewah mereka. Ingat peneyerangan ke Afghanistan tahun 2002? Atau ke Iraq tahun 2003? Apakah Amerika benar-benar berhak melakukannya? Siapa yang memberinya ijin? Dan mengapa “si siapa” memberinya ijin? Bukankah Amerika menekan habis-habisan si siapa untuk meloloskan resolusi yang mengijinkan penyerangannya? Begitu pula dengan virus aneh yang bertebaran, H5N1 (flu burung), H1N1 (flu babi), bagaimana mereka tiba-tiba saja bertebaran di muka bumi? Dan obat yang disetujui WHO (anak organisasi PBB) produk dari perusahan manakah itu? Dan apa pula hubungan pemilik perusahaan tersebut dengan PBB, WHO, dan Amerika? Bukankah semua negara berhak mengatur dirinya sendiri? Tapi mengapa semua negara harus mengikuti aturan buatan negara tertentu? Satu hal paling mencolok yang sangat ingin dia katakan pada semua orang tentang PBB, jika memang organisasi antar bangsa itu untuk semua bangsa, mengapa ada lima negara yang memiliki hak yang membuatnya setingkat lebih tinggi dari negara anggota lainnnya? Jika dalam suatu rapat PBB seluruh anggota sepakat untuk melakukan A, tapi ada satu dari lima negara pemilik hak veto itu yang menolak, gagallah kesepakatan itu. Jadi, milik siapakah big foot ini? Ingat rapat internasional di Nusa Dua, Bali tentang Global Warming? Bagaimana Amerkia menggagalkan kesepakatan para peserta rapat tentang pengurangan emisi oleh negara-negara industri maju? Dia berkata—kenalanku yang penuh curiga itu, bahwa dunia ini adalah bukan milik dunia tapi milik negara-negara tertentu saja.
Apa aku mempercayai kenalanku yang penuh curiga itu? Aku tidak ingin mempercayainya, tentu saja, semua pendapatnya kedengaran sangat berlebihan dan mengerikan. Tapi sialnya, semakin aku menganalisa dan mencocokkan keterangannya dengan fakta-fakta yang nampak, ternyata yang dia katakan benar adanya. Ini membuatku agak gelisah, membayangkan bahwa aku termasuk bagian dari target operasi negara-negara besar itu. Kita lihat bagaimana negara kita membuat perjanjian dengan beberapa negara besar dan perjanjian itu justru membelit kita dalam kerusakan. Freeport, latihan militer bersama Singapura di Natuna, Blok Cepu, dunia perbankan, dan banyak lagi. Hanya saja, betapapun benarnya semua yang dia katakana, aku tidak ingin menjadi manusia yang selalu mencurigai semua hal. Maksudku, kecurigaan yang sampai pada tingkat semacam phobia. Itu mengerikan. Tapi, mungkin juga aku ceroboh karena masih menaruh kepercayaan pada produk-produk kapitalisme.
Tapi, sahabat baikku tidak menerima—atau mungkin belum menerima—pendapat demikian. Dia tidak percaya ada monopoli di dunia ini. Dia yakin semuanya tengah bergerak pada arah yang akan menenteramkan kehidupan. Aku suka dengan pemikiran itu. Membuatku tenang. Nyaman. Tidak gelisah. Dan aman. Tapi aku tidak bisa menolak bahwa meyakini dunia kita sedang baik-baik saja adalah terlalu naïf dan kekanak-kanakan. Jika kita percaya penjahan telah benar-benar dihapuskan dari muka bumi, kedengarannya itu sangat lugu. Terbodohi. Sahabat baikku percaya jika WHO benar-benar telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Dia mengawasi makanan kita, melarang bahan-bahan beracun dalam pembuatan makanan, dan berusaha sebaik mungkin meningkatkan prouksi pangan yang berkualitas dan menyehatkan. Tapi itu tidak benar. Tidak benar. WHO tidak pernah memberikan larangan resmi mengenai pemakaian monosodium glutamate (msg) dalam makanan-makanan kita meskipun semua orang tahu msg adalah bahan berbahaya yang siap membunuh pengkonsumsinya. Juga fluoride. Ada yang pernah dengar bahaya fluoride terhadap gigi kita? Ya, fluoride berbahaya, tidak seperti yang digembar-gemborkan produsen-produsen pasta gigi manapun. Penelitian telah menunjukkan bahayanya bukan hanya pada gigi, tapi juga pada reproduksi kita: manusia, osteoporosis, kerusakan sistim syaraf (penelitian departemen kesehatan belgia), dll. Bahkan, Australia, New Zealand, beberapa negara Eropa, telah melarang pemakaian fluoride dalam pasta gigi. Pelarangan tersebut kini tengah dibahas untuk di terapkan menyeluruh di negara-negara anggota Uni Eropa. Tapi, apakah WHO melarangnya?
Dan aku kkhawatir sahabat baikku itu yakin jika setiap bantuan yang diterima negara kita (baca: hutang) baik dari IMF, Amerika, Eropa, atau dari siapa saja, adalah murni hutang tanpa embel apa-apa. Tidak, setiap hutang yang kita dapat tidak hanya menyaratkan menandatangani surat hutang piutang, tidak, tidak sesederhana itu. Negara manapun yang mendapat pinjaman dari IMF dll. Harus menandatangani kesepakatan tertentu, melibatkan pembuatan kebijakan negara, pengolahan SDA, pengaturan uang, pembuatan undang-undang, dan banyak lagi lainnya. Ketika sebuah negara berhutang, itu sama dengan menyerahkan beberapa bagian dari kemerdekaannya pada negara pemberi hutang, dia akan mulai diatur sedikit demi sedikit. Bahkan sebenarnya, tidak ada negara yang diharapkan mampu melunasi hutangnya.
Ingat undang-undang penanaman modal? Siapa yang beruntung? Bagamana jadinya jika perusahan-perusahaan multinasional di bidang energi membuat pom bensin di negara kita? Jangan heran, beberapa telah membeli tanah untuk membangun pom bensinnya. Mungkin sahabat baikku akan berkata, “tidak masalah, Pertamina akan memberi harga yang lebih murah untuk kita.” Tidak, tidak, itu tidak akan terjadi. Mengapa harga bahan bakar senantiasa meningkat? Di semua negara itu terjadi. Dan, mengapa harga-harga itu seakan disetarakan dalam nilai internasional? Karena, jika nanti mulai berdiri pom bensin asing di negara kita, mau tak mau pertamina pun akan memberi harga yang sama dengan harga jual pom bensin asing itu. Sebab keduanya memakai tolok ukur harga yang sama dalam produksi bensinnya! Dan bagaimana bisa UU. Penanaman Modal itu bisa keluar? karena negara kita mendapat tekanan pihak asing. Dan mengapa mereka berani-beraninya menekan kita? Karena negara kita berhutang pada mereka! Aku kkhawatir sahabat baikku belum membaca tentang ini. Dan pernahkah kita turut berpikir sejenak, menyadari bahwa setiap rupiah yang kita keluarkan, walaupun itu hanya seratus rupiah, akan lari ke rekening-rekening orang jauh di seberang lautan sana? Masuk kedalam kekayaan pemilik coca cola: sprite, fanta, dll, pemilik danone: aqua, berbagai merek roti dan susu, dunkin donut, pizza hut, dll. Menggelikan membayangkan betapa hidup kita secara ekonomi terjajah sampai keakar-akarnya. Mungkin sahabat baikku akan menganggap ini sebagai modernisasi, globalisasi, manfaat dari science dan teknologi, ya benar, itu benar, tapi sayang ada satu hal yang terlewatkan dari pembelaan semacam itu: yaitu semua hal mengenai modernisasi, globalisasi, science and technology semua itu bergerak untuk menyukseskan satu agenda besar: monopoli. Monopoli. Monopoli. Aku lelah menggunakan istilah kapitalisasi.
Dan aku khawatir sahabat baikku masih akan menolak jawaban ini, jadi perlu kukatakan lagi: pada beberapa hal aku sepakat dengan kenalanku yang pencuriga itu bahwa kita tengah hidup dalam dunia yang disutradarai dan diperalat oleh mereka (perusahaan dan atau negara) yang berpengaruh besar. Sebagai bukti, ada peraturan yang melarang pembangunan supermarket bedekatan dengan pasar tradisional, karena jika itu terjadi, konsumen akan lari semua meninggalkan pasar tradisional yang kumuh dan mengenaskan. Tapi kenyataanya, supermarket-supermarket besar yang mana dia adalah bagian dari jaringan supermarket internasional bertaburan di pelosok negeri, letaknya pun tak sampai satu kilometer dari pasar tradisional terdekat. Bagaimana ini terjadi? Mengapa mendapat ijin? Hanya soal suap-menyuap aparatkah ini? Atau konspirasi internasional dibalik semua ini? Tanpa perlu menyebut nama, anehnya, begitu sebuah supermarket dibangun di dekat pasar tradisional, pasar tradisional itupun mulai terkena musibah: kebakaran, keruntuhan gedung, dan kemudian terbengkalaikan.
Dan, ketika kenalanku yang pencuriga itu membahas tentang kematian yang dikapitalisasikan—kematian Jacko, sahabat baikku tidak bisa menerimanya, tentu saja, aku juga! Apa maksudnya kematian yang dikapitalisasi? berlebihan! Itu terdengar sangat konyol walau sebenarnya itu benar adanya. Benar adanya. Kematian Jacko memang dikapitalisasikan. Dimanfaatkan untuk mendapat keuntungan materi oleh pihak-pihak tertentu yang terlibat: industri musik, label musik, media. Mungkin ada yang lain? Jika dunia memang bergerak untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik, dan semua komponen mengusahakannya, mengapa begitu sedikit yang tahu tentang Malawi? Negara miskin di Africa yang penduduknya makan tikus untuk menyambung nyawa? Bukan karena tikus makanan pokok mereka atau makanan faforit mereka atau tradisi mereka, tapi karena tidak ada lagi yang cukup layak untuk dimakan. Bahkan, sampai ada kekhawatiran jika populasi tikus di malawi bisa saja habis suatu saat nanti. Dalam satu hari, orang berburu sampai lima ratus ekor dari satu ladang pertanian untuk dikonsumsi. Berapa orang yang perduli dengan kekacauan di Nigeria? Kehancuran di Somalia? Kerusuhan di Sudan? Pembantaian di Xin Jiang? Dan banyak lagi, banyak lagi, banyak lagi, banyak lagi lainnya.
Sahabat baikku, juga kenalanku, juga tetanggaku, juga teman-temanku, juga keluargaku, juga semua orang, seluruh umat manusia, apa yang sedang kita pikrkan? Bagaimana kita melihat dunia? Bagaimana kita mempercayai semua hal? Bagaimana kita menilai dan memprediksi kehidupan? Aku ingin tahu. Aku penasaran. Aku curiga. Sepertinya kita tengah terjebak. Terjebak pada sesuatu yang tidak menyenangkan dan menjadi kanker yang menggerogoti hidup kita tanpa sadar. Banyak dari kita tidak menyadari kita tengah dipermainakan dalam suatu sandiwara besar dengan sutradara yang kejam dan tidak adil. Dan karena di setiap tempat; di bangku sekolah, di depan tv ruang keluarga, di pinggir jalan, di ruang tunggu rumah sakit dan bandara udara, di dalam supermarket, di setiap tempat, kita dicekoki gambaran bahwa kta mengarah pada kehidupan yang seperti kita dambakan oleh televisi, koran, majalah, tabloid, iklan, semuanya. Untuk apa? Agar kita tidak menyadari scenario besar di luar kulit palsu kehidupan ini, agar sang sutrdara licik berhasil mencapai tujuan-tujuan jahatnya. Ini pendapat kenalanku yang pencuriga, dan aku percaya.

Tapi aku tidak sanggup hidup penuh dengan rasa curiga. Kalau anda bagaimana?

Oh ya, tentang judul tulisan ini, sebenarnya aku bosan mengatakan negara kita masih terjajah pada temanku, bukan sahabat baikku atau kenalanku yang pencuriga. Tapi pada temanku. Aku harap, dia akan menemukan kamus yang bisa memberinya penjelasan yang lebih luas tentang makna penjajahan, tidak melulu tentang tentara asing yang berkeliaran membawa senapan sambil membentaki pribumi. Dan tentang Iraq hari ini, itu memang penjajahan. Seperti yang terjadi pada Indonesia dulu. Tentara Amerika datang, menghancurkan pemerintahan yang ada, membentuk pemerintah boneka (pemerintahan dari orang Iraq sendiri tapi ada untuk melaksanakan keinginan Amerika), dan mengambil kekayaannya. Asal tahu saja, kemarin telah diadakan “lelang” mendirikan usaha di Iraq bagi perusahaan-perusahaan Amerika. Industri energi (minyak), konstruksi, dll. Tapi, kalau dia belum paham juga tentang keterjajahan negara kita, entahlah apa yang ada di kepalanya. Aku tidak perduli. Biarkan saja. Aku pusing dan mulai agak egois.

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

One thought on “Aku Bosan Mengatakan Negara Kita Masih Terjajah

  1. Negera kita, memang sudah tidak lagi terjajah. Hanya saja, para bangsa Indonesia itu sendiri yang aku rasa saling beradu domba menghancurkan negara kita yang tercinta ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s