• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

TETANGGAKU SEORANG PELAUT MISKIN.

NelayanTradisionalsedangistirahatDia pelaut yang hanya memiliki sebuah jaring tua dan laut yang tidak lagi cukup kaya untuk bisa menjamin kehidupan yang bebas dari hutang bagi anak-keluarganya. Saban sore, dia keluar ke hamparan laut untuk memasang jaring, dan berdiri menunggu dalam rendaman air laut yang asin, berharap ada cukup banyak ikan gila yang akan menerjang jaring rentanya. Tidak seberapa dia dapat dari kerjanya itu, sementara ada tiga mulut yang harus dia hidupi, dan sebuah tanggungan sekolah untuk putranya.
Itu hidup yang tak mudah, dan kadang terasa demikian pahit. Tak jarang dia merenung sendiri di teras rumahnya sembari menghisap rokok tak bercukainya.
Yang menarik yang akan kucertakan tentang pria ini adalah, kenyataan bahwa dia tidak pernah menghandiri pertemuan wali murid dengan dewan sekolah menengah tempat anaknya belajar. Dia tidak pernah menghadiri acara tersebut. Tidak sekalipun. Setiap kali ada perteuaan wali murid, istrinya disuruhnya mewakilinya. Apakah karena dia saking sibuknya sehingga tak ada lagi waktu tersisa untuk pertemuan sekitar tiga jam itu? Atau karena dia merasa tidak cukup berpindidikan untuk berkumpul dengan para wali murid lainnya? Tidak, tidak karena itu. Suatu pagi yang mendung, dia menceritakannya padaku.
Pria itu merasa sangat sungkan lagi berat untuk hadir karena dia khawatir ketika sudah ada di aula sekolah, kemudian namanya di panggil oleh wali kelas anaknya, dia di dudukkan, lalu diberitahu bahwa putranya menunggak uang SPP, uang buku, uang gedung, uang kebersihan, dan segala jenis uang-uang aneh lainnya. Dia takut bukan main. Tentu saja bukan karena dia orang yang tidak mau membayar untuk pendidikan anaknya, tapi karena dia tidak tahu akan bilang apa pada sang wali kelas terhormat, dia tidak tahu jawaban cukup meyakinkan seperti apa yang bisa dia ajukan yang akan membuat sang wali kelas tidak naik darah dan memerengutinya, dia tidak bisa membuat macam-macam alasan. Berbeda—menurutnya—jika istrinya yang didatangkan dan mendapat pertanyaan serupa dari orang yang sama, sang istri tinggal menjawab, “iya pak wali kelas, saya akan membayarnya, nanti jika bapaknya anak-anak datang dari laut dan dapat banyak ikan, pasti akan segera saya lunasi.” Sudah, beres, habis perkara. Sang wali kelas terhormat tidak akan repot-repot lagi dan si istripun sudah terbebas dari kewajiban menjawab lebih lanjut. Tapi, jika dirinya yang mendapat pertanyaan seperti itu, pada siapa dia akan melimpahkan tanggung jawab pembayaran tunggakan anaknya? Akankah dia berkata, “iya pak wali kelas, akan segera saya bayar begitu istri saya dapat uang.” Begitu? Tidak mungkin!
Entah bagaimana caranya, pendidikan kita telah membuat para wali murid menjadi begitu merasa tertekan, tertindih oleh beban mental yang menyakitkan. Saya butuh bantuan untuk mengetahui apakah kondisi seperti ini berpengaruh negative bagi perkembangan si anak di sekolah, tapi bisa saya bayangkan—dan tentu juga anda semua—betapa tidak menyenangkannya menjadi wali murid dengan beban perasaan seperti ini. Kalau tidak salah, di sekolah-sekolah America ada suatu kesempatan tertentu di mana siswa harus membawa ayahnya ke kelas untuk dikenalkan pada teman-temannya. Lalu sang ayah akan mulai bercerita tentang dirinya dan pekerjaannya. Saya bersyukur belum pernah mendengar hal serupa diterapkan di sini, khususnya di sekolah tempat anak tetanggaku itu berada. Jika itu sampai terjadi, sepertinya, tetanggaku itu akan lebih memilih untuk pergi melaut dan tidak pernah kembali ke darat sampai peraturan itu dhapus oleh sekolah bersangkutan. Itu bisa menghabiskan waktu sepuluh tahun di laut. Mungkin lebih. Entahlah.
27 Juli 2009

Advertisements

4 Responses

  1. mau pasang iklan baris gratis

    Ya sekarang udah ada sekolah gratiss
    apanya yang gratis ya

    http://iklanbaris-gratis.org

  2. Tetanggaku mati gara-gara dipaksa ke sekolah. Dia miskin. Kepala sekolah meminta ia melunasi biaya putranya. Tetanggaku tak punya uang. Guru kelas juga tidak mau membantu ketika diminta tolong. Tetangga rumah pun begitu. Tetanggaku anaknya kurus, jarang makan. Dipaksa bekerja. Ibunya sakit.

    Putus asa, tetanggaku bunuh diri dg minum sebotol obat serangga. Ibunya ikut minum. Sekarang yang tersiksa adalah anaknya, bocah kelas 4 SD. http://davidjuly.co.tv

  3. Oh, kasihan sekali mereka. Oh, seharusnya, saya bersyukur karena kedua orang tuaku sampai bisa menyolahkanku sampai saat ini, serta keempat saudaraku semuanya. Aku harap mereka akan berakhir bahagia seperti daku. Amin

  4. […] YANG KINI SEMAKIN MISKIN) Posted on December 13, 2009 by arulchandrana Masih ingat tentang tetanggaku yang pelaut miskin? Yang tidak mau hadir di tiap pertemuan wali murid yang diadakan sekolah anaknya karena minder akan […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: