Posted in sastra

Apa Yang Terjadi Saat Tengah Malam Di Jalan Depan Rumah

huss lanjangAda waktu yang sangat singkat antara ujung malam dan ambang pagi, waktu yang datangnya tak terduga, tiba-tiba muncul, kemudian menghilang dalam sekejap mata, dan ia tidak seorang diri. Waktu itu datang merayapi tiap bangunan diiringi langkah tertatih Si Ilung Lanjang*. Lalu keduanya menghilang. Tepat sebelum fajar putih menyerpih.

Ħ

“Temanmu melihatnya?” Tanya Windi penuh heran pada putranya saat mereka sedang sarapan. Ada kepura-puraan pada nada bertanyanya yang tentu saja tidak disadari oleh Ray, putranya yang masih TK itu.
“Ya! Henki melihatnya. Dia cerita pada teman-teman Mah.” Ray menjawab tanpa mengalihkan perhatian dari nasi gorengnya. Sendoknya naik turun menyuap nasi.
“Dia ketakutan Mah!”
“Ketakutan? Apakah hantu itu …” Windi tidak meneruskan pertanyaannya, khawatir Ray akan jadi percaya dan benar-benar takut.
Ray diam sejenak. Berpikir. Mengingat sesuatu, lalu katanya.
“Henki bilang, saat melihat Ilung Lanjang, dia sangat ketakutan, tapi sekarang dia sudah tidak takut lagi Mah.” Ray bercerita dengan bangga, seakan mengabarkan pada ibunya bahwa salah seorang teman baiknya terpilih sebagai siswa terbaik di kelas.
“Bahkan, Henki bilang, kalau dia ketemu lagi dia akan tarik hidung si Ilung Lanjang sampai bengkok! Biar gak gangguin orang. Dia pemberani ya Mah?”
“Wow, hebat sekali! Memang kalian tidak usah takut pada Ilung Lanjang.” Windi menimpali putranya dengan tak kalah bersemangat. Tadinya dia khawatir cerita Henki tentang pertemuannya yang mencekam dengan Ilung Lanjang akan menakuti Ray, tapi ternyata kekhawatirannya tidak perlu. Kengerian sosok hantu Ilung Lanjang tidak berpengaruh pada Ray. Sebelum suapan terakhir sarapannya, Ray kembali bicara, kali ini suaranya berbisik, seakan tidak ingin yang akan diucapkannya terdengar lebih dari ibunya. Sorot matanya sangat bersungguh-sungguh.
“Tapi Ray tahu, sebenarnya Henki masih takut, dia hanya sok berani. Dia pasti nangis kalo ketemu Ilung Lanjang lagi. Eh, Mama jangan bilang-bilang ya!”
Windi tersedak, dia bukan hanya kaget karena kekhawatirannya tiba-tiba terbukti, tapi lebih karena betapa seriusnya roman muka Ray saat mengatakan hal tersebut, seakan ingin menegaskan bahwa Ilung Lanjang benar-benar sedang berkeliaran menghantui orang-orang, dan Windi benar-benar khawatir kini, buru-buru dia menanggapi.
“Ya, tentu saja, mama gak akan bilang siapapun. Tapi Ray gak perlu takut, Ilung Lanjang hanya datang pada anak nakal.” Windi menatap wajah putranya sembari tersenyum. Ray hanya diam, “Kalau Ray gak nakal, rajin belajar, nurut sama mamah, pasti Ilung Lanjang gak berani datang!”

Ħ

Windi memiliki pengalaman buruk berkenaan dengan cerita horor waktu kecil. Dia anak ke dua dari empat bersaudara. Waktu itu—waktu Windi masih kanak, rumah mereka ada di pinggir kota, dekat pekuburan. Si bungsu yang malang menjadi korban keisengan kakak-kakaknya. Mereka, khususnya Windi, gemar sekali menakut-nakutinya dengan kisah-kisah hantu yang bergentayangan dari kuburan di belakang rumah mencari anak-anak kecil yang kesepian. Dan akibatnya, adiknya menjadi seorang anak penakut yang akut. Sangat takut pada kegelapan, tidak berani berada sendirian, dan menjadi sangat rapuh di malam hari. Keadaan itu berlangsung sampai ia berusia 14 tahun. Bahkan kadang ketakutan itu muncul mendadak bertahun sesudahnya. mengubahnya menjadi orang dewasa yang terjebak dalam selimut trauma masa kecil.
Hal itu memukul perasaan Windi sangat dalam, dia merasa sangat bersalah dan benar-benar menyalahkan dirinya atas gangguan mental yang diderita adiknya itu. Dan karena itu, perihal cerita-cerita hantu bagi anak-anak adalah masalah yang sangat serius lagi sensitif bagi Windi. Dia tidak ingin musibah serupa diderita anak-anak manapun juga, apalagi anaknya!
“Tak semestinya anak sekecil itu sudah harus menderita ketakutan diawal-awal hidupnya.” desah Windi setiap waktu mendapati peristiwa serupa.
Ray, putra tunggalnya, tiba-tiba empat hari yang lalu bercerita tentang Ilung Lanjang—sosok hantu yang digambarkan sebagai kakek renta dengan hidung panjang menyentuh tanah dan menjadikannya sebagai tongkat, Ilung Lanjang suka membawa anak kecil yang bangun tengah malam ke kuburan tanpa sepengetahuan ibu dan ayahnya.
Windi tentu saja terkejut, dia tahu baik dirinya maupun suaminya tidak pernah sekalipun mendongeng cerita hantu pada Ray. Tapi kemudian, segera dia tahu bahwa teman kelas Ray, Henki, yang menjadi sumber cerita tersebut. Sejauh ini tidak terjadi apa-apa pada Ray. Dan Windipun senantiasa menyemangati Ray, berusaha membuatnya untuk tidak percaya bualan Henki dan yakin pada dirinya sendiri.

Malam itu, mereka berdua sedang asyik belajar menggambar di ruang keluarga. Windi sibuk membuat contoh gambar kura-kura di whiteboard kecil yang menempel di dinding (hanya saja, dia sangat buruk dalam menggambar, berulang dihapusnya gambar kura-kura setengah jadi karyanya, dan memulai yang baru sambil tertawa). Pada akhirnya, justru Windi sibuk sendiri dengan kura-kura payahnya, sementara Ray sudah merampungkan gambarnya-gambar kreasi sendiri.
“Mah, coba lihat gambar Ray,” panggil Ray saat Windi sibuk menyelesaikan kepala kura-kura yang kelihatannya hampir tak beda dengan kepala anakonda.
“Wow, kau sudah menyelesaikan kura-kura Ray? Ha ha ha …” Windi berujar, tangannya berhenti menggoreskan boardmarker. “Boleh mama melihatnya say …?” tak selesai kata-kata Windi saat dia berpaling pada Ray yang mengangkat tinggi-tinggi gambar crayonnya. Meski carut-marut, tapi jelas maksud gambar anak enam tahun itu.
Seorang laki-laki tua renta, rambutnya yang jarang acak-acakan, punggungnya bungkuk, berdiri limbung, dan hidungnya panjang menyentuh tanah, Ilung Lanjang!
Ada bunyi “uhh!” tertahan di tenggorokan Windi. Buru-buru dia mengambil buku gambar Ray, sampai-sampai Ray terkejut. Sedetik kemudian, Windi sadar tindakannya yang agresif akan memberi pengaruh yang buruk bagi Ray, maka segera dia perpura-pura bertindak wajar. Menyimpan kagetnya, dia memaksa untuk tertawa, hambar.
“Bagus! Bagus! Bagus Sekali Ray! Gambarmu mengingatkan mama pada kakek Didi. Kau pasti menggambar kakek Didi. Bagaimana bisa kau masih mengingatnya sayang? Hmm… coba mama periksa … tidakkah hidungnya terlalu panjang sayang?” Windi mengomentari gambar itu dengan semangat. Dia berhenti untuk menatap ekspresi Ray, ingin mengetahui apa sebenarnya yang tengah berlari di dalam benak si kecil ini. Tapi Ray dingin, segera Windi mengubah taktik. Dia tidak ingin ada pembicaraan tentang Ilung Lanjang. Tidak malam ini, tidak dirumahnya.
“Tebakan mama salah yang?” Windi memancing, tapi Ray masih diam. “kalau begitu, pasti ini gambar kakek Muri! Ha, ha, ha … kakek Muri yang berhidung pan … ehm, berhidung mancung! Ini gambar kakek Muri bukan?”
“Bukan Mah.” Jawaban Ray datar saja, tapi sudah cukup membuat Windi gelisah. Dia tahu apa yang akan meluncur berikutnya dari mulut putranya itu. “Itu gambar Ilung Lanjang, Henki ngasi tau kami. Katanya semalam dia melihat Ilung Lanjang lagi, Mah!”
Sisa waktu belajar itu dihabiskan Windi untuk mengalihkan pikiran Ray dari si Ilung Lanjang. Dalam hati dia kesal bukan main pada Henki, teman sekelas Ray itu, juga pada guru-guru di kelasnya yang kurang mengontrol murid-muridnya. Saking gigihnya berusaha, sampai-sampai Windi menyetel film kartun untuk membuat Ray lupa pada Ilung Lanjang, suatu hal yang selama ini tidak pernah ia lakukan. Sedangkan si kecil Ray tampak sangat senang karena ibunya yang tiba-tiba berubah jadi sangat baik itu. Diam-diam Windi menyembunyikan gambar Ilung Lanjang karya Ray. Gambar sempurna pertamanya.
Windi mematikan lampu kamar Ray. Di atas tempat tidurnya dalam balutan selimut bergambar robot-robot Transformer, Ray tampak samar dan jauh lebih kecil. Windi tersenyum di pintu sebelum dia mengucap selamat malam, tiba-tiba Ray bicara.
“Mah …”
“Ada apa sayang?”
“Kapan papa pulang…?” Suara Ray mendesah. Tak terdengar seperti pertanyaan, tapi sebuah permintaan yang sangat dan berharap. Windi tersenyum, tidak mengucapkan selamat malam, tapi masuk kembali, duduk di pinggir tempat tidur putranya. Dia genggam tangan Ray dengan penuh kasih sayang.
“Sebentar lagi anak pintar. Papa sedang sibuk, tiga hari lagi pasti sudah di rumah.”
Windi patut khawatir. Dia tahu, pertanyaan putranya itu bukan semata karena merindukan papanya—atau mungkin dia memang benar-benar tidak rindu papanya, tapi karena Ray mulai terpengaruh pada cerita Henki tentang si Ilung Lanjang. Ray mulai mempercayainya. Dia mulai merasa takut, hantu itu kini bersarang di benaknya. Dan dalam keadaan seperti ini, dia membutuhkan papanya untuk melindungi.

Ħ

Paginya Windi sangat gembira. Ray bangun dengan wajah ceria seperti biasanya. Dia bernyanyi saat mandi. Melompat-lompat seperti kangguru dalam balutan handuk dan ibunya mengejar dari belakang. Ray sangat bersemangat dan lincah.
Dia makan dengan lahap. Berceloteh terus tentang film kartun kesayan-gannya. Dengan penuh antusias, Windi menimpali celoteh anak semata wayangnya itu.
Pagi itu, yang sebenarnya tidak jauh beda dengan pagi-pagi lainnya, terasa spesial bagi Windi. Traumanya pada hantu masa kecil yang menimpa adiknya membuatnya sangat protektif pada Ray. Namun demi mendapati Ray sama sekali tak terpengaruh dengan cerita hantu itu, diapun sangat lega.
Setelah Ray berangkat dengan bis sekolah, Windi menelpon suaminya. Menceritakan semua yang terjadi 4 hari belakangan ini. Dia juga meminta suaminya agar lekas pulang, supaya Ray segera “recover”. Tapi Windi kecewa, karena ternyata urusan suaminya di luar kota belum selesai.
“Papa belum bisa pulang mah, mungkin 1 minggu lagi. Ada beberapa klien yang harus papa temui, kalau tidak, Si Gendut bisa meradang dan mencopotku, mama sabar dulu yah…”

Ħ

“Bagaimana sekolahnya tadi, sayang?” Windi menanyai Ray saat mereka duduk di meja makan. Dia taruh dua potong ayam goreng di piring Ray, dan mata Ray pun berbinar-binar. Dia menyeringai, “asyik!”
Ray tidak langsung menjawab, dia gigit ayamnya. Windi menunggu jawaban.
“Sayang, kalau ditanya mama jawab dulu, jangan makan, taruh! Nanti berubah jadi belalang lho”
“He he he …” Ray tertawa, mulutnya penuh daging ayam. Beberapa jatuh dari sudut bibirnya. “Bagus mah. Ray dapat biji delapan tadi.”
“Wow! Hebat sekali anak mamah!” Dan dengan tanpa ampun lagi, Windi memuji-muji Ray, karena begitulah caranya menyemangati putranya. Sejenak Ray diam mengunyah nasinya.
“Mah, tadi Henki gak sekolah.”
“Temanmu yang ketemu … (dia potong ucapannya sendiri, sangat anti untuk menyebut nama hantu di depan putranya) … kenapa Henki? Sakit?”
“Kata ibu guru Henki sakit ma.”
“Oh… kasihan, semoga cepat sembuh, sakit apa ya Henki?” Ray tidak menjawab, dia menatap mamanya. Windi kembali curiga, dia menduga.
“Ibu guru bilang dia demam, (oh… sukurlah, desah Windi) tapi Ray tahu, dia sakit karena terlalu sering bertemu Ilung Lanjang!”

Ħ

Sakitnya Henki menjadi awal dari semua yang digelisahkan Windi. Sebelum ini, Ray adalah bocah yang aktif. Dia sanggup menghabiskan waktu seharian mengobrak-abrik halaman rumahnya, bermain dengan robot-robotannya. Dia juga selalu ke kamar kecil seorang diri. Ray benar-benar tak memiliki pengetahuan tentang makhluk gaib menakutkan yang menghantui anak-anak. Tapi sekarang semua berubah setahap demi setahap. Hari minggu itu, sepanjang pagi Ray mendempet ibunya. Kedapur dia mengekor, ke depan dia membuntut, mencuci dia ikut, menjemur diapun turut. Awalnya Windi mengira Ray ingin membantunya, degan senang hati pula dia melibatkan Ray, tapi saat dia minta tolong Ray untuk mengambilkan air ke dapur, ekspresi Ray menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi. Ray takut.
Ray kehilangan keberaniannya, dia tidak berani seorang diri, dia tidak berani bermain di halaman seorang diri, ke dapur seorang diri, ke kamar kecil seorang diri, kemanapun. Dan terlebih, Ray takut pada kegelapan.
“Ray, kau tidak perlu takut, sayang. Apa yang ditakutkan? Di sinikan ada mama?” Windi mencoba menguatkan putranya.
Ray bergeming, kepalanya menunduk. Dari ekor matanya, dia melirik pintu dapur yang terbuka sedikit. Dia tak berani menatap pintu itu lama-lama, karena sekilas tadi, dia melihat sesuatu berkelebat cepat melalui celahnya. Jantungnya berpacu.
“Ray, lihat mama,” Windi berkata lembut. Perlahan Ray mengangkat wajahnya. “Apa yang perlu kau takutkan? Tidak ada, tidak ada apa-apa di rumah ini, sayang. Hanya kita berdua, kau tidak perlu takut.” Windi mengamati wajah putranya, tersenyum. “Nah, sekarang tolong ambilkan mama air, ayo cepat sayang. Ray kan anak jagoan, pasti bisa! Ayo, saying.” Kali ini Windi mendorong Ray.
Ray beingsut-ringsut menuju pintu dapur. Langkahnya berat dan meretihkan. Lima langkah lagi dia mencapai daun pintu. Windi tersenyum di belakang punggungnya.
“Ayo sayang, kau buka pintu dan ambilkan segelas air buat mama.”
Tangan kecil Ray menjangkau ke depan, menyentuh gagang daun pintu, mendorongnya terbuka beberapa inci. Dan, dia telonjat-memekik kebelakang. Windi terperanjat, segera dia bangkit berlari menghampiri putranya. Ray pucat pasi, menatap wajah ibunya yang jengkel.
“Ma! Ray melihatnya, dia di dapur Ma!” Ray mengadu. Tapi Windi tidak mau mendengar jerit keluh Ray. Ini harus segera diatasi.

Ħ

Windi percaya—belajar dari pengalamannya, bahwa membuat anak percaya pada hantu berarti menciptakan rasa takut yang paten pada si anak itu sendiri. Untuk menjadi berani, seseorang harus tidak memiliki alasan untuk merasa takut. Maka, sekuat tenaga dia memaksa Ray untuk yakin bahwa tidak ada hantu apapun jenisnya di rumah, bahwa mereka aman, bahwa mereka tidak perlu takut dan harus percaya diri. Dan Windi punya caranya sendiri untuk menjalankannya.
Ray selalu dimintanya untuk mengambil sesuatu seorang diri di tempat-tempat tertentu di dalam rumah. Ray juga dipaksa untuk bermain dihalaman rumah—suatu hal yang tidak pernah dilakukannya sebelum ini. Tapi hasilnya hanyalah penolakan dari Ray. Ray benar-benar tidak mau, lebih tepatnya, benar-benar tidak berani. Dan berulang kali pula Ray katakan pada mamanya bahwa Ilung Lanjang sering mengendap menyusup ke dalam kamar-kamar rumahnya. Mencari-cari sesuatu entah apa. Semakin keras Windi memaksa, Ray pun semakin keras menolaknya, akhirnya, menangis histeris sebagai protesnya. Berulang kali dia minta papanya untuk segera pulang.
“Ray, papa pulang dua hari lagi, dan papa akan sangat kecewa mengetahui jagoannya jadi cengeng dan penakut seperti ini.” Ray terpaku di depan pintu kamar mamanya. Ini ke tiga kalinya dalam tiga malam berturut-turut Ray meminta untuk tidur di kamar Windi, tapi Windi selalu menuntunnya kembali ke kamarnya.
Ray meringkuk diam di atas ranjang. Matanya terpejam erat namun pikirannya berlarian mencoba bersembunyi.
Malam itu Windi menelepon suaminya agar lekas pulang. Dia ceritakan keadaan Ray yang sangat mencemaskannya.
“Mama tidak ingin Ray seperti adikku dulu, Pa!”

Ħ

Entah pukul berapa, sudah larut sekali pastinya. Ray terbangun dari tidur gelisahnya. Dia ingin pipis, tapi tidak sanggup untuk beranjak meninggalkan kamarnya. Raypun hanya bisa meringkuk. Menahannya sampai terasa sangat saki di selangkangan. Dia tidak berani ngompol, mamanya pasti marah, tapi dia juga sangat takut untuk keluar kamar, bahkan untuk membuka mata saja dia tak sanggup. Dia memanggil papanya dalam keluhan. Satu jam kemudian, dia benar-benar tak tahan. Dia memutuskan memilih untuk berlari ke kamar kecil melawan takutnya dari pada ngompol di kasurnya.
Ray beringsut turun, matanya memicing tak berani dibuka penuh. Begitu telapak kakinya menjejak lantai keramik yang dingin, dia mendengar derit pintu dibuka. Ray menahan nafas, berharap itu ibunya walau dia tidak yakin pintu yang mana yang berderit tadi. Ray menunggu. Tidak ada suara, dan sakit diselangkangannya sudah menggila, perlahan Ray bangkit. Dan baru saja melangkah, dia mendengar pintu depan dibuka dengan amat perlahan. Bulu roma Ray menegak. Siapa itu yang keluar dari rumah? Mamakah ? Tapi untuk apa malam-malam begini? Atau … jangan-jangan?!
Belum berani Ray menebak, didengarnya langkah kaki tertatih dari halaman rumahnya, diiringi seperti bunyi tongkat kayu yang diantukkan ke muka tanah, suara langkah kaki itu terus menjauh. Lalu terdengar bunyi pagar dibuka perlahan. Dalam takutnya, Ray tak bisa menyadari tindakannya. Dia merayap menuju jendela kamar. Membuka gordennya sedikit, mengintip jalan di depan rumah. Berhenti nafas, darah Ray berdesir, jantungnya keras berdetak. Di bawah sinar rembulan temaram, di luar pagar rumahnya, di tengah jalan yang sepi dia menyaksikan silhouette sosok renta dan bungkuk berjalan tertatih. Dari kepalanya ada garis hitam memanjang menyentuh permukaan jalan. Ilung Lanjang!
Ray menggigil, tidak dia sadari sesuatu yang hangat membasahi celananya. Seluruh panca inderanya tertumpah pada silhouette di jalan depan rumah itu. Dalam ketakutannya, Ray tak menyadari sosok gelap yang lain menyelinap diam-diam ke dalam kamarnya yang temaram tanpa lampu.

Catur Amrullah
25/01/09

* Ilung Lanjang adalah hantu dari masa lalu berwujud laki-laki tua renta berhidung panjang menyentuh tanah digunakan sebagai tongkat dalam mitos suku Bawean yang dipercaya bergentayangan sat tengah malam mencari anak-anak nakal dan membawanya kekuburan untuk dijadikan anaknya.

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s