Posted in ehon, nebula, think

Hari ke dua puluh dari catatan nebula kita: innohlet

Blue Mosque from hotel window, Istanbul, TurkeyTiba-tiba saja, aku teringat pada mendiang kakekku yang memiliki nama begitu banyak, orang biasa memanggil beliau Ridawi atau Daffari atau Dhobi atau Dhawi atau salah satu keponakannya memanggil kakekku dengan nama Tobi. Aku teringat pada setiap kebiasaan beliau, keunikan beliau, dan segala kedirian beliau.
Tiap subuh, biasa dilaksanakan shalat berjamaah di rumah. Nenek tetangga sebelah senantiasa ikut serta. Sedang aku biasanya masih tergeletak tidur di atas ranjang. Yang menarik dari semua ini adalah, saat aku terjaga—biasanya—shalat jamaah sudah usai, dan yang aku dengar pertamakali adalah gema wirid kakekku: innohlet-innohlet-innohlet, demikian berulang-ulang, menggaung, mengisi pagi yang masih pula sepi. Awalnya aku agak ngeri mendengar bunyi dzikir yang lain dari yang lain ini. Innohlet? Aku tidak pernah dengar sebelumnya ada bacaan sebegitu aneh kedengarannya. Waktu aku tanyakan pada ibuku, ternyata itu bukanlah innohlet seperti yang aku dengar, tapi bacaan lailahaillallah yang di baca dengan intonasi dan irama berbeda serta kecepatan hampir mencapai batas super sonic sehingga menghasilkan bunyi yang tidak seperti seharusnya terdengar. Saban subuh, innohlet-innohlet-innohlet.

Satu lagu kenangan yang tidak akan bisa dilupa oleh tiap anak cucunya, beliau juga punya suatu trik jitu dan luar biasa efektif dalam hal membeli buah. Mengenai triknya ini, sekali waktu ibu membocorkannya padaku waktu masih kanak lagi. Beliau bercerita jika kakek sedang membeli buah, maka beliau tidak akan membeli—bahkan mungkin benar-benar tidak jadi membeli—sebelum beliau puas makan buah terlebih dahulu. Bagaimana bisa? Puas makan buah bahkan sebelum membelinya? Caranya sederhana saja. Tiap pedagang buah berusaha memikat calon pembelinya dengan menawarkan buah pilihannya untuk dicicipi oleh si calon pembeli. Maka kakekpun berkeliling mendekati tiap-tiap penjual buah, berpura-pura hendak membeli dagangannya. Tak ayal, si pedagang akan mempersilahkan kakek untuk mencicip buahnya, dan mulailah beliau beraksi, memanfaatkan kesempatan emas yang murah harganya itu. Jika itu pedagang rambutan, beliau ambil beberapa buah, dimakan di tempat, lalu pindah ke pedagang di sebelahnya sambil sebelumnya menyatakan kurang suka dengan rambutannya. Lalu mencicipi daging melon yang diiriskan si pedagang melon di sebelah si pedagang rambutan. Setelah habis irisan melon tadi, beliau berpindah lagi ke pedagang buah di sebelahnya dengan alasan yang sama dengan yang diberikan pada si pedagang rambutan sebelumnya. Begitu seterusnya, gratis mencicipi semua buah yang ada di pasar. Anggur, salak pondoh, durian, manggis, nanas, jeruk, apel, dan lainnya. Setelah terpuaskan, berhentilah beliau di depan pedagang apel hijau khas Malang yang telah di taklukkannya tadi, mengeluarkan uang membeli apel setengah kilo buat keluarga di rumah. Tidakkah itu sangat jenial untuk orang sederhana seperti beliau?
Bagaimanapun, kakekku adalah jenis manusia yang diproduksi oleh suatu era di mana kepatuhan adalah mutlak dan harus dijalankan oleh setiap generasi muda pada generasi yang lebih tua. Maka yang diharapkan beliau adalah bagaimana setiap anak-cucunya untuk menaati beliau. Bagusnya, beliau bukanlah orang buruk yang jika ditaati justru menghancurkan si patuh. Beliau adalah seorang tokoh putra dari seorang tokoh pula. Meski pandangan hidupnya kolot dan kaku dalam urusan beragama—sesuatu yang akrab disebut sebagai fanatic, tapi beliau cukup toleran dalam memberi kepercayaan pada tiap putra-putrinya untuk menentukan jalan hidupnya. Hanya saja, karena aku bukanlah seorang yang terampil dalam hal keterampilan tangan, akupun tidak menjadi cucu favoritnya. Ha ha ha, itu bukan masalah, bagiku, karena beliau tidak pernah dengan begitu kaku dan otoriter mengomando kami—anak cucunya—untuk menjadi seutuhnya seperti yang beliau gambarkan dalam benaknya. Jadi, dalam hitungannya, hubunganku dengan beliau kuranglah akrab. Bahkan jika diingat-ingat, aku begitu takut pada beliau, tapi itu sama sekalai tidak mengurangi rasa hormatku pada beliau.
Mungkin sudah menjadi tabiat dasar manusia, bahwa manusia amat suka pujian. Siapa yang tidak, coba? Hampir tak tersisa. Dan kakekku ini, beliau akan mudah untuk diluluhkan jika kta tahu bagaimana mengambil hatinya cukup dengan pujian yang layak. Tapi seperti yang kukatakan tadi, aku bukanlah orang yang begitu mengesankan bagi beliau, jadi akupun susah untuk bisa mengambil hatinya, dengan cara paling sederhana sekalipun..
Yang bisa kulakukan, merenungkan setiap kebaikan yang telah beliau berikan pada keluarga kami, saya berdoa semoga Allah Swt. mengampuni segala salah dan dosa, semoga Allah Swt. memberi tempat yang mulia baginya, amin.
Pada suatu siang yang layu di bulan April, tanggal 27 tahun 2002, hari Sabtu, beliau dipanggil oleh Sang Pemilik tiap kehidupan. Aku besedih dan menangis.

IRING-IRINGAN
untuk kakenda

satu lagi iring-iringan berangkat
mengantar seorang tamu lama ke terminal
terminal yang sepi
pekat
mencekat
dan mengikat
orang-orang menangis
karena sepi
karena sendiri
karena ada yang pergi
karena ada yang berlari
(semoga sepi jadi ramai
semoga pekat jadi terang
semoga cekal jadi elus
dan ikat jadi renggang)

27-04-02, untuk mengingat yang pergi

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s