Posted in 2005 C

Bagaimana aurora tercipta dan bersinar terang

(kisah ini aku persembahkan untuk sahabat-sahabatku penghuni kelas Bhs. Inggris 2005 C. It’s wonderful to meet you all guys)

aurora1. Telepon di Malam Bulan Juni
Ya, tentu saja, aku belum pernah seumur hidupku membayangkan ini, membayangkan menjadi mahasiswa di kampus ini. Bahkan sebelum ini, aku tidak pernah tahu kalau ada kampus beginian di dunia ini. Aku sungguh tidak pernah tahu sebelumnya. Saat itu, aku masih di Bawean dan baru saja lulus dari bangku MA (Madrasah ‘Aliyah), tak beda dengan teman-temanku yang lain, aku adalah lulusan yang bingung mau kemana. Bayangkan, lulus ‘Aliyah hanya untuk bingung mau kemana! Tapi, setelah melakukan pertimbangan yang dalam dan memakan biaya serta waktu dan beberapa kali istikhoroh yang tak terlaksana, akupun berkeputusan untuk meneruskan studiku ke BEC, tempat kursus Bhs. Inggris di Pare yang fenomenal itu dan hampir semua orang tahu. Kak Erna, tetanggaku yang sudah sedang belajar di sana, membantuku mendaftarkan diri menjadi bagian dari kursusan prestisius tersebut dan mencarikan tempat kos jika nanti aku sudah di Pare. Sungguh suatu perencanaan yang sistematis dan matang. Taktis!
Suatu malam di bulan Juni, Kak Rizal, kakakku nomor satu yang tinggal di Jompong (sebuah village by the sea), menelepon. Aku, ibu, dan kakak perempuanku berlari tergopoh-gopoh ke rumah pak Taufit, orang kaya pemilik satu-satunya wartel di desaku, Kumalasa, sebuah desa puncak gunung di pulau Bawean yang mana dari halaman rumahku aku bisa melihat lautan luas nan biru memerangkap pulau kecil ini.
“Kamu mending kuliah di Tuban aja, bukankah kamu pengen mandiri? Kalau kuliah di Tuban, kamu bisa nyambi kerja, kuliah biaya sendiri. Beda kalau kursus di Pare, tiap bulan kamu menunggu kiriman ibu.” Suara kakakku di pesawat telepon itu terdengar meletup-letup dari suatu ujung yang amat jauh di seberang laut sana, seakan suara itu berasal dari sebuah kerajaan jin yang menyediakan layanan SLJJ.
Dan, kebingungan yang menjengkelkan mulailah dengan ganas menggerogoti pikiranku, seperti kanker otak yang menewaskan artis entah siapa itu namanya. Yang jelas, malam itu perutku rasanya ngilu, rasa yang selalu kualami jika sedang ditimpa suatu pemikian yang berat, dan kebetulan malam itu aku belum makan. Menjengkelkan.
Aku dilemma, antara memilih Pare atau Tuban, walaupun sebenarnya hasilnya akan sama saja, yaitu aku akan belajhar Bhs. Inggris di manapun di antara keduanya. Hanya saja, jika aku memutuskan untuk memilih Pare, di sana aku tidak perlu terlalu hawatir karena sudah ada teman-teman yang sudah lebih dulu belajar dan tinggal di sana. Sedangkan di Tuban, jika aku memilih kuliah di IKIP PGRI Tuban (sebelum sekarang bertransformasi menjadi UNIROW Tuban) itu, aku akan menjadi orang Bawean satu-satunya di tanah Ronggolawe tersebut, menjadi satu-satunya orang berbahasa asing di antara kerumunan orang-orang berbahasa ‘sugeng dalu, sugeng riyadi, didi riyadi, didi kempot’. Tak ubahnya seperti seekor antilop yang merasa terasing dan terancam berada di antara kawanan leopard. Memikirkan betapa ngerinya keterasingn yang mungkin melahapku jika aku jadi kuliah di Tuban nanti, membuatku merinding dan perutku makin kejang karena belum juga makan.
Sebenarnya, aku tidak punya suatu alasan rasional tertentu untuk mengapa merasa bahwa aku akan terasing di tempat asing itu. Perasaan itu tiba-tiba saja datangnya, seperti kentut yang dengan mendadak ditembakkan pria gendut di sebelah kita dan meracuni seluruh system pernafasan, tanpa permisi tanpa malu, tiba-tiba saja datang menyerbu. Karena sebenarnya aku lebih memilih untuk belajar ke Pare, maka malam itu aku tidur sambil membayangkan menjalankan puasa senin-kamis untuk mengirit uang kiriman ibu dari Bawen. Seperti yang dipraktekkan teman-temanku yang lain.
Tanggal 22 Juli 2005, aku sudah menginjakkan kaki di tanah Jawa untuk yang kesekian kali. Tanah tempat segala macam universitas prestisius dan penjara tersohor berdiri. Aku berlayar seorang diri untuk pertamakalinya. Aku ingat, saat itu malam bulan purnama. Sungguh luar biasa, menatap bulan penuh dari lautan luas seakan tak ada tepi. Suatu pemandangan yang tak kan pernah dapat digambarkan bagi orang yang belum pernah melihatnya sendiri. Di langit bulan bersinar lembut dan tenang, tanpa ada sesuatupun yang menghalangi pemandangan, sedangkan di sekitarmu gelombang gila siap sewaktu-waktu menelanmu dan menyeretmu ke halaman istana Nyi Roro Kidul. Tak bisa kubayangkan berapa gaji yang akan kudapat jika aku dipaksa jadi anggota Pasukan Kuning di istana ratu jin tersebut. Saat turun di pelabuhan Gresik, kepalaku terasa agak pening, aku bingung dengan tempat ini. Untunglah kakakku nomor satu dan nomor dua menjemputku, melihat senyum mereka membuatku lega. Syukurlah, karena ternyata bukan cengiran singa laut utusan jendral jin yang menjemputku, tapi dua kakakku yang sama sekali tak mirip dengan singa laut manapun apa lagi jendral jin.
Dan, tahukah engkau yang terjadi pada ku mulai keesokan harinya? Sejak pukul lima lewat beberapa menit di pagi hari, aku harus sudah lari lintang pukang meninggalkan rumah yang hangat dan nyaman, menyerahkan diri untuk dimangsa dingin dan lembabnya udara pagi yang membekukan menuju gudang pengolahan ikan manyung yang berbau mematikan. Di dalam gudang reot dan sempit itu, udara pagi yang lembab dan dingin seakan berubah menjadi semacam senjata biologi pemusnah massal setelah bersenyawa dengan bau-bauan tak berperikemanusiaan yang menguap dari gendong dan jeding penyimpanan mayat-mayat ikan manyung. Sungguh suatu perjuangan antara hidup dan mati di hari-hari pertamaku dalam meniti karier sebagai kuli jambal kelas teri. Aku bekerja sampai nanti pukul lima sore. Sehari penuh; sehari penuh dari waktu 24 jam yang aku punya aku sumbangsihkan untuk gudang manyung ini. Sehari penuh aku bergumul penuh mesra dengan alamarhum-alamarhumah manyung jantan dan betina. Dua belas jam dari hidupku setiap hari aku dedikasikan untuk mengolah mayat-mayat ikan manyung yang telah gugur di tangan para nelayan entah berapa hari sebelumnya. Jenazah-jenazah itu masih menyimpan kotorannya, juga organ dalam yang tak karuan, perutnya dijejali garam, maka hasilnya, suatu bau yang tak pernah aku kenal sebelumnya menyerang dengan ganas ke dalam hidung. Luar biasa, luar biasa, luar biasa sengitnya pertarungan itu. Belum lagi tenaga yang harus ku kerahkan. Wow! Tak cukup rasanya kata-kata untuk mewakilinya. Untuk benar-benar bisa meresapi yang kualami saat itu, kau harus sekali waktu mencoba menjadi kuli jambal manyung. Hmmm, baru tahu rasa kau!
Sungguh, ternyata memang benar sekali, setiap nasib seorang turunan Adam benar-benar tak bisa kau duga. Aku yang udah 80 persen mantap memilih BEC, ternyata malah kuliah di IKIP PGRI Tuban. Padahal semua guru ‘Aliyahku sudah ku kabari tentang rencanaku studi ke Pare. Dan, yang dimaksud sambil kerja oleh kakakku nomor satu itu, ternyata adalah nguli di gudang manyung. Luar biasa! Aku tertawa seorang diri di kamar mandi memikirkan ini. Tapi, asal kau tahu kawan, saat itu aku sama sekali tiada merasa sedih, meski berpisah dengan ibu yang telah lebih dari delapan belas tahun tak pernah berpisah dariku, meninggalkan teman-teman sepermainan yang dulu waktu masih SD sembunyi-sembunyi menghisap rokok sisa jamaah shalat Jum’at, jauh dari kakak perempuanku yang pemarah tapi menangis saat aku bertolak ke Jawa, lepas dari semua yang kukenal yang kusayang. Ya, saat itu sama sekali tiada nestapa, sama sekali tidak! Karena aku tahu, ini adalah keputusanku, pilihan yang harus kuperjuangkan. Bahkan, bekerja di gudang ikan manyung berbau kuburan fir’aun ini menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi ku. Meski tak jarang, saat kuliah di tubuhku masih melekat aroma ganas mendiang ikan manyung, meracuni otak teman-teman sekelasku, mengutuk mereka menjadi zombie gila (maaf, Cuma bercanda). Sungguh, aku bangga.

2. Setiap Yang Pertama Adalah Yang Tak Terlupa
Bersama ipar perempuanku yang juga akan kuliah di IKIP PGRI Tuban, aku pergi mendaftar. Saat itu sudah pendaftaran gelombang dua. Wanita muda anggun berpostur pahlawan super hero itu duduk tenang di angkot, aku di sebelahnya. Perasaanku saat itu seperti anak kecil diantar ke pak dokter untuk disunat. Takut dan senang tumpang tindih tak karuan. Sesekali Firoh, begitu namanya, kulirik sedang tersenyum, mungkin dia tertawa melihat kegelisahanku. Di luar mobil, rumah, pohonan, warung, dan kendaraan yang diparkir tampak seperti berkejar-kejaran. Suatu tipuan mata akibat kecepatan. Tiap kali angkot ini berhenti, penumpang bergantian keluar masuk. Ada bakul ikan, anak sekolah, pengamen, kakek-kakek, suami istri, copet yang sedang nyamar jadi jambret, orang yang sedang selingkuh, orang miskin yang pura-pura kere, dan kemudian, secara sangat tidak terduga dan menghebohkan, masuklah kedalam angkot ajaib ini seorang Extra Super Big Fat Woman dan duduk di sebelahku. Gila! Aku terjepit diantara dua perempuan. Sumpah, seumur hidup tak pernah sebelumnya aku berada dalam keterjebakan seperti ini!
Sesampainya di kampus yang megah itu, aku malah tak bisa berkata-kata di depan pak satpam berseragam putih, celana gelap, perut tambun dan wajah bengis tapi lugu, (aku yakin para mahasiswa UNIROW tahu siapa beliau yang terhormat ini). Walau Firoh berkali-kali mencolek tanganku agar segera bicara, aku masih diam membisu, hilang semua kosa kataku. Dalam pikiranku, aku berharap agar Firoh mengasihaniku dengan berbicara pada pak satpam, tak terus memaksaku. Karena sebenarnya lidahku kelu dibawah bayang-bayang kumis mas satpam itu.
“Tempat pendaftarannya di mana pak?” Firoh akhirnya angkat suara setelah putus asa memaksaku untuk bicara. Ya, hanya itulah yang harusnya ku katakan, tempat pendaftarannya dimana pak?, hanya 5 kata itu! Tapi jelas-jelas aku tidak berdaya untuk menyuarakannya. Demikianlah sobat, nasib anak pulau bertemu satpam kampus berkumis untuk pertama kali.

Belum ada cermin besar dikamarku saat itu, kecuali sebuah cermin kecil bekas bedak viva. Dengannya aku merapikan diri. Kemeja putih dan celana gelap membungkusku, sebuah dasi hitam mengikat leherku seperti orang tolol yang tak tahu cara gantung diri setelah patah hati. Pagi ini aku akan memulai tahap awal yang paling berarti dalam rangkaian sejarah hidupku, suatu periode yang memberi tanda yang amat jelas dan panjang yang membuatku tidak menjadi aku yang dulu lagi, awal dari sebuah turning point. Pendaftaran telah aku lalui tanpa rintangan berarti; kecuali dengan mas satpam itu, semuanya berjalan lancar. Sekarang hari ke 8 bulan Agustus di tahun 2005. Di hari ini akan berlangsung tes tulis untuk seleksi mahasiswa baru, dan besoknya tes wawancara. Aku benar-benar menyiapkan diri dengan gila-gilaan untuk ke dua test tersebut. Walaupun aku lulusan terbaik mapel bahasa inggris dulu waktu MA, entah bagaimana aku merasa bahwa para peserta tes yang semuanya orang Jawa itu pasti jauh-jauh lebih baik dari aku. Sepertinya tiap orang pulau punya rasa minder saat berhadapan dengan orang Jawa, seakan langsung kalah. Mungkin karena Bung Karno adalah seorang Jawa, atau mungkin juga karena Sumanto the cannibal juga seorang Jawa? Entahlah. Hari-hari menjelang tes masuk tersebut seperti hari-hari menjelang pelaksanaan UAN dulu. Semua serba menyesakkan. Nasi terasa sekam, air berubah jadi racun, suara manusia berbunyi seperti sorakan kegagalan, pintu yang berderit seperti bunyi kertas yang dirobek karena putus asa, dan gudang manyung itu, baunya masih tetap menewaskan, tidak berubah!
Sampai di IKIP PGRI Tuban, aku malah dihajar habis-habisan oleh beban-beban yang tidak berperikemanusiaan. Aku tegang karena aku akan menghadapi tes masuk sementara di sini aku tak kenal satu orang pun kecuali Firoh. Wajah-wajah para peserta test ini dalam pandanganku seperti menyiratkan suatu tantangan yang keras, tak kenal kompromi dan bengis. Bunyi sepatu mereka seperti bersuara ‘akan ku tumbangkan kau, orang udik!’ sedangkan sepatu murahanku tidak bisa berbunyi sama sekali untuk membalas ucapan sepatu mereka. Bayangkan, sepatupun bisa dibikin kecut hatinya, apalagi manusia yang jelas pasti punya hati, gemetar mau keseper. Ditambah lagi, kami sekarang kebingungan mencari di mana tempat tes kami akan berlangsung. Aku yang memang lemah geografi dan sering bingung di depan peta, melongo tolol di depan denah yang menunjukkan di mana tempat-tempat pelaksanaan tes. Denah itu sama sekali tak membantuku! Rumit menyesatkan, aku berharap orang yang bikin denah ini segera saja masuk rumah sakit agar tidak bikin denah lagi di masa depan. Untunglah Firoh mesam-mesem pertanda mengerti mengahadapi denah maut itu. Dan itu malah justru membuatku makin kecut, ‘ternyata orang Jawa pandai membaca denah, apalagi hanya sekedar soal-soal tes masuk mahasiswa baru, Pasti dilibas habis!’
Jika aku bisa masuk menyusuri lubang cacing yang tersembunyi dalam black hole di luar angkasa sana, lalu kembali ke hari pelaksanaan tes masuk kuliah di tahun 2005 itu, aku pastinya akan tertawa terpingkal-pingkal menertawai diriku sendiri demi melihat bagaimana dengan otoriternya Firoh menyeretku ke Barat ke Timur dalam suatu perburuan liar mencari ruang kelas tempat ujian tes tulis kami diadakan. Berkali-kali Firoh membawaku masuk keruangan yang salah, sedangkan aku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya berdoa dengan lirih dan gelisah pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Rupanya teman-teman, orang Jawa yang bisa baca denahpun masih bisa bingung dan kesasar.
Tapi hari itu belumlah terlalu menyeramkan dibandingkan dengan hari kedua, saat tes wawancara dilaksanakan. Saking dari khawatirnya, aku mbolos nguli demi mempersiapkan diri menghadapi tes wawancara itu. Ingat saudara-saudara, belum pernah seumur hidupku sebelumnya menjalani yang namanya tes wawancara. Ditambah lagi, ada kabar tes wawancara untuk anak jurusan bahasa inggris akan menggunakan bahasanya Shakespeare itu. Wah, sepanjang hari mbolos itu aku tak habis-habisnya membaca buku percakapan bahasa inggris. ‘hello, my name is Catur Amrullah, I am from Bawean, emm…I love English and I love your daughter mister, ha? Tidaaaaaaaaaaak!’
Maka, sepanjang perjalanan, mulai dari keluar rumah sampai duduk dalam mobil, untuk memaksimalkan persiapan yang telah kami lakukan aku dan Firoh senantiasa berkomunikasi dengan bahasa Inggris sebagai pemanasan. Para bakul ikan, laki-laki penjual kaca mata keliling, perempuan tua, bakul jamu genit, aktivis peminum tuak, anak-anak sekolah, bahkan sampai sopir dan kernetnya, semuanya ternganga-nganga dan geleng-geleng kepala melihat kami. Seakan merasa jika di antara mereka tengah duduk dua muda-mudi dari kota London yang sedang dalam perjalanan wisata ke Goa Akbar di Tuban. Aku sempat menangkap lirikan mata beberapa penumpang, penuh penghormatan dan penasaran. Asiknya jadi mahasiswa Bahasa Inggris. Entah apa yang ada dalam benak wanita muda bertubuh kekar disebelahku itu, yang jelas aku hari ini sangat bersemangat, aku merasa bisa untuk mengatakan, “yes I can!”
Begitu sampai di kampus, kembali kejadian sialan seperti kemarin terulang. Ya Tuhan, kenapa tukang gambar denah tak berbelas kasih itu tidak Engkau kirim saja ke Nusa Kambangan? Aku melongo di depan denah yang tampaknya lebih rumit lagi sekarang, sedangkan Firoh dengan serius dan percaya diri menelisik tiap alur yang ditunjukkan denah ‘misterius’ itu. Sesekali tangannya menunjuk-nunjuk mengikuti garis, lalu, kembali bibir tipisnya tersenyum seperti hari kemarin. Kali ini aku harus agak curiga pada senyum manis itu, jangan-jangan…
Maka, saudara-saudara sekalian pembaca yang budiman, pada suatu pagi di IKIP PGRI Tuban, saat matahari cerah di bulan Agustus menyinari ratusan mahasiswa yang berjubel untuk mengikuti tes wawancara, tersajilah sebuah adegan yang lebih mengiris hati dibandingkan dengan film Ratapan Anak Tiri ataupun Titanic. Aku, seorang calon mahasiswa baru di IKIP PGRI Tuban dari pulau Bawean yang mendedikasikan hidupnya dengan ikhlas sebagai kuli jambal manyung part time, diseret pontang panting oleh Firoh seorang calaon mahasiswi baru dari Jawa yang berprofesi sebagai TU sekolah dengan tanpa belas kasihan dalam usaha mencari ruangan dengan tulisan BAU, tempat tes wawancara kami. Ternyata, orang yang tersenyum di depan denah belum tentu bisa dipercaya. Setelah pencarian yang memalukan dan mengerikan, akhirnya tempat keramat itu ketemu juga. Hampir setengah wilayah kampus ini kami telusuri, dan ternyata BAU ada di jarak sekitar 20 langkah saja dari tempat denah sialan itu berada. Di depan pintu masuk, firoh tersenyum puas, lupa akan semua kegagalan yang dilaluinya. Sungguh tipe wanita berjiwa besar.
Jika kau pikir kami bernasib sial hari tiu, maka ketahuilah, ada lebih banyak yang jauh lebih sial. Selama kami mengantri di depan pintu BAU (kala itu aku belum tahu apa arti BAU, aku lebih suka membacanya ‘bau’ dan kemudian menertawakannya. Aku berbisik ke Firoh, “Kita wawancara ditempat BAU?”) Berkali-kali kami kedatangan mahasiswa kesasar. Berjalan seorang diri atau berdua, kepala clingak-clinguk seperti monyet kelaparan di hutan Bawean mengincar pisang pak tani, sedang matanya menyorotkan cahaya keputusasaan yang dalam. Mereka adalah para calon pemimpin masa depan bangsa ini yang kesasar mencari ruang tempat dilaksanakannya tes wawancara. Bahkan ketika kami sudah selesai wawancara (yang ternyata sama sekali tidak seperti yang aku khawatirkan) ada beberapa mahasiswa yang sedang ngantri dengan bimbang dan ragu di depan pintu.
“Sampean wawancara di BAU mas ? “ Tanyaku pada salah satu dari mereka.
“Tidak mas, di ruang Kajur Bahasa Inggris,” jawabnya lesu. “Ini ruang kajur ya?”
Aku terkaget-kaget, bagaimana bisa dia tersesat di jalan yang salah selama ini? Lalu kami pun mengantarnya ke ruang Kajur Bahasa Inggris yang telah kami ketahui letaknya karena tepat di sebelah pintu masuk. Dan ternyata, tes wawancara di ruangan tersebut telah usai beberapa waktu lalu. Alangkah nestapa nasib saudara kita itu. Sebelum kami pulang, masih sempat kulihat bagaimana pria malang itu susah payah memotivasi dirinya untuk berani masuk ke ruang Kajur yang mulai sepi. Sementara di punggungnya, kulihat basah yang luar biasa. Berliter-liter keringat tumpah sia-sia.

3. Dalam Saku Seseorang, Peta Hidup Kita Terlipat
Tapi sejarah yang sebenarnya baru akan di mulai hari ini, hari pertama dalam rangkaian dua hari OSPEK. Aku sudah akrab dengan cerita mengenai kejamnya pelaksanaan OSPEK. Terlebih lagi, kala itu baru saja tragedi ITPDN (sekarang IPDN) terjadi. Malam sebelum hari mencurigakan itu tiba, aku berpikir macam-macam tentang kemungkinan apa yang mungkin akan terjadi padaku. Mungkin aku akan disuruh lari keliling kampus hanya bercelana panjang, atau disuruh Push Up 50 kali di depan toilet, atau disuruh memakai baju dari kantong plastic, atau di suruh ngamen. Ah, kejam nian peristiwa-peristiwa yang melesak dalam pikiranku, sebuah mimpi buruk yang datang bahkan sebelum mata tertidur.
Pukul tujuh lewat beberapa menit, kami terlambat datang ke kampus. Para satpam (aku belum tahu kalau ternyata mereka adalah panitia dari satuan MENWA, bukannya satpam seperti yang kuduga) bekeliaran merapikan para mahasiswa baru yang terserak tak beraturan seperti anak ayam di kejar musang. Aku bersijingkat lari ke dalam barisan sebelum ketahuan. Kesan militer yang di pendarkan dari uniform mereka benar-benar mengintimidasiku. Sewaktu upacara pembukaan, aku benar-benar gelisah. Ini dia hari yang paling menyeramkan itu, dia telah datang ke depan mataku, dan dia juga telah menyiapkan kutukannya bagi kami, para mahasiswa baru yang masih lugu. Kampus ini seakan tiba-tiba berubah menjadi salah satu camp konsentrasi milik Nazi yang digunakan untuk menyiksa para tawanannya, semua orang selain bangsa Aria.
Maka terjadilah hal itu, OSPEK mengerikan itu, yang ternyata sungguh di luar dugaanku! Masa satu hari OSPEK hampir 80% kami habiskan duduk di dalam ruangan, mendengarkan presentasi dari orang-orang paruh baya membawakan materi-materi berat menyakitkan yang sama sekali tak bisa dimengerti. Membuat banyak mahasiswa sakit kepala, pantat terbakar, sebagian lagi malah sampai pingsan, eh, maksudku ketiduran. Hari itu aku menyaksikan hipnotis massal terhadap para calon mahasiswa baru. Aku sendiri tersesat jauh dalam kebingungan. Entah karena yang dijelaskan sama sekali tak bisa kupahami atau juga mungkin karena pria ini, pria berstyle yang telah menyesatkan persepsiku tentang dirinya. Pria muda yang seakan diliputi oleh sihir yang menundukkan tiap pandangan, yang saat berjabat tangan dia sebut namanya dengan cepat: David! Karena aku samasekali tak menduga seorang Jawa akan memiliki nama seasing itu, ku minta dia mengulangi.
“David, namaku David! “ Katanya cepat.

Kau tak pernah tahu siapa itu orang yang menggenggam peta jalan hidupmu, orang yang jika kau bertemu dengannya maka dengan suatu cara yang tak kau sadari dengan pasti bagaimana telah menuntun arah orientasi hidupmu. Orang seperti itu adalah takdirmu yang telah menunggu bertahun-tahun untuk kau temukan. Dan pada pagi itu, di dalam gedung I yang humid saat tiga orang wanita yang tak lagi muda berpresentasi tentang perpustakaan (baru kemudian hari, aku tahu kalau tidak ada beda antara memperhatikan atau tidak presentasi itu), aku telah berjabat tangan dengan pria muda yang disalah satu sakunya terlipat rapi peta hidupku. Pria muda itu, tentu saja si kampret, suatu panggilan yang jauh lebih akrab di telinga orang Indonesia yang dikemudian hari mengganti nama aslinya, David, yang sama sekali aneh dan asing bagi telinga orang Indonesia.
Wajah pria muda ini pasti membuat tiap perempuan lawan bicaranya berantakan degup jantungnya (dengan pengecualian wajahnya saat baru bangun dari tidur selama tiga hari tiga malam). Dengan gerak kepala dan gerak tangan yang proporsional, pronunciation yang tidak mengesankan lidah orang Jawa, aksen yang sangat terdidik bergaya ibu kota, serta kilat mata disetiap kata-katanya yang mengandung semangat, mengesankan dengan amat meyakinkan bahwa anak lelaki lawanku bicara ini adalah orang dari kalangan The Have, orang-orang beruang. Warna kulitnya sama sekali tak seperti warna kulitku yang dengan tegas menjelaskan aku sebagai orang yang harus pontang panting dibawah hujan dan terik matahari untuk menyambung hidup, gelap seperti malam. Sekilas, wajah pria itu ada kemiripan dengan Salman Khan, superstar Bollywood itu. Akan tetapi, saat risetku beralih pada pakaiannya, celananya, tas dan sepatu yang dipakainya, semua itu menginformasikan padaku bahwa si David ini tidaklah beda stratanya dengan ku. Baju putihnya adalah baju bekas SMA dulu, ya, aku tahu sekali itu dari model potongannya. Sedangkan celananya adalah celana yang telah kelelahan dipakai 5 kali sehari ke musholla. Tasnya butut dengan warna kusam menyedihkan. Sedang sepatunya, aku tidak tahu bagaimana harus menggambarkannya tapi yang jelas, aku punya firasat bahwa tak lama lagi sepatu itu akan koyak, menganga lebar seperti mulut buaya di pinggir sungai Nil, kedua-duanya. Tahukah anda apa yang berkecamuk dalam pikiranku saat itu? Aku menduga, mungkin David ini adalah seorang putra dari keluarga kaya raya yang berjiwa sederhana, berpikiran maju dan benci atribut. Baginya isi kepala tak bisa dibandingkan dengan tetek bengek asesoris badani. Seakan ingin menerapkan filosofi ‘don’t judge a book by its cover.’ Atau, jika dia bukan anak orang kaya seperti aanggapanku semula, mungkin dia anak orang miskin yang malas membantu orang tuanya, tapi aku tak percaya terhadap dugaan terakhirku ini. Lepas semua itu, pria muda ini telah dengan sopan dan santun merampas semua simpatiku, rasa sayang dan kesetiaanku. Maka dimulailah semenjak hari ospek itu babakan baru dari teater kehidupanku. Sebuah kisah yang akan membakar rasa haru dan jengkel dengan semangat perjuangan pemuda tanggung demi mencapai khayalan-khayalan dan ambisi-ambisinya. Dialah Kampret, orang terbaik yang pernah ku temui. Yang selalu memahamiku dengan sangat tepat. Dia seakan bisa membaca pikiranku, menelisik ide-ideku, meramunya, lalu menampakkannya padaku dengan caranya yang mengejutkan. Setiap ide yang kutelurkan, akan menemui kesempurnaannya saat dia menanganinya. Seperti saat aku berencana untuk menerbitkan bulletin The Evidence, lalu dia turun tangan untuk menggarapnya. Bagiku ini adalah keajaiban. Bahkan ini adalah takdir. Bayangkan, sebelum ini aku tidak pernah membayangkan akan ada orang seperti dia di kolong langit ini, kami tidak saling kenal, tapi begitu bertemu, hanya dengan satu pertemuan kebetulan di gedung I, kita langsung seperti saudara. Luar biasa.
Pembaca yang budiman, sudahkah anda temukan orang yang seperti itu dalam kehidupan anda? Di mana dalam salah satu sakunya terlipat peta kehidupan anda. Segeralah temukan selagi ada kesempatan.

4. Vic Zhou dan Aku dan Julianto
Sebelum aku pindah ke Jawa, selama bulan Ramadhan di salah satu stasiun televisi swasta ibu kota ditayangkan drama Asia MARS yang dibintangi oleh Vic ‘F4’ Zhou dan gadis imut lugu nan ayu Barbie Hsu. Aku tidak bisa bohong bahwa aku sangat suka drama itu. Jalan cerita yang menegangkan dijalin dengan kiah-kisah romantis -walau absurd- ditambah lagi karakter tokoh-tokohnya yang unik dan memenasarankan, menjadi alasan mengapa aku tergila-gila pada serial Taiwan tersebut. Tapi, sebenarnya ada satu hal yang amat berkesan dalam memoriku hingga hari ini, suatu kesan yang telah berubah menjadi semacam tumor kerinduan, ingin dilupakan tapi selalu datang, hendak dihilangkan tapi menyakitkan. Kesan itu adalah: jalan menuju kampus Vic yang kiri kanannya penuh ditumbuhi pohon-pohonan yang tinggi nan rindang. Aku membayangkan, alangkah sejuk dan damainya pikiran jika melintasi jalan itu bersama orang kesayangan, ah, tak terlukiskan. Aku berharap suatu waktu nanti akan menemukan tempat seperti itu.
Dan, yang luar biasa adalah, jalan Manunggal sepanjang sekitar lima ratus meter yang melintasi kampusku ini kiri kanannya juga ditumbuhi pohon-pohon yang meskipun amat tak sebagus dan serindang di Mars, namun cukup mampu untuk melahirkan sensasi damai itu. Maka, tiap selesai kuliah, kami anak-anak 2005 C yang rumahnya di Timur dan tidak membawa sepeda motor, berjalan bergerombol ke Utara menyusur trotoar, dinaungi pohonan tak rindang, disemprot asap hitam pekat dari knalpot bobrok truk-truk tak tahu diri. Perlu aku tulis, tak ada truk yang melintas di jalan menuju kampusnya Vic dalam serial Mars itu. Dan setiap kali menyusuri jalan Manunggal itu dengan teman-temanku gerombolan 2005 C, aku merasa jika aku adalah Vic si cute yang dengan anggun berjalan ditemani Barbie Hsu si ayu. Hanya saja dalam kasus ini, yang memerankan posisi Barbi Hsu adalah si Kampret.
.Tiap kali pulang, bergerombol menyusuri jalan manunggal, dengan pohon-pohon disisi jalan, aku membayangkan jika ini adalah salah satu adegan dari sekian banyak adegan hebat MARS. Dan aku adalah Vic Zhou nya! Aku benar-benar menikmati sensasi ini, bahagia dan bangga luar biasa, dan sebagai representasinya, seulas senyum manis aku haturkan untuk alam semesta. Ahhhhh…. luar biasa jalan Manuggal ini. Walaupun aku berjalan tidak bersama seorang Barbie Hsu tapi dengan seorang pria malang yang kesurupan jin Inggris yang sewaktu kecil punya tabiat seperti kuda, suka berlari tanpa henti, dan entah dukun nyentrik mana yang menyarankan orang tuanya agar menamainya Eko Khoirul David Julianto, tapi aku puas, sangat puas sekali. Sahabat-sahabatku itu adalah orang-orang yang sempurna dalam spesiesnya masing-masing. Mereka adalah kekayaan alam ciptaan Tuhan yang bisa membuat jiwamu makin dewasa, makin indah, makin tegar. Syukur Tuhan atas semua anugerah Mu.

Setiap kali masuk kelas, senantiasa aku merasa merinding bulu-bulu kudukku, terpukau melihat ruangan kelasku yang luas itu ternyata hanya memiliki satu meja, meja untuk dosen saja. Sedangkan bagi kami para mahasiswa, telah tersedia kursi yang dengan suatu rancangan yang unik dan berani telah terdapat meja di sisi kananya, luar biasa! belum pernah kutemukan seperti itu sebelumnya. Meja dan kursi dikutuk menjadi satu oleh sang tukang kayu. Aku tak bisa membayangkan, alangkah sulitnya anak kidal yang kebagian kursi plus meja kutukan seperti ini. Rasanya aku masih tidak percaya bahwa aku adalah mahasiswa.

Di antara anak perempuan teman-teman ku, ada satu yang mengagumkan. Dia tidak memakai baju ketat seperti yang lainnya, atau celana, tapi tubuhnya aman dengan perlindungan jilbab anggun yang dikenakannya. Wajahnya menyiratkan kematangan jiwa dan kedewasaan, kata-katanya tegas dan sorot matanya menundukkan. Wanita yang jika bicara mengangkat kepalanya tegak dan menggerakkannya sedikit, kalimatnya padat dengan pilihan kata yang membuatmu harus cermat untuk menjawabnya, karena sepertinya dia akan menghantam tiap kata yang salah terucap dari lidahmu, jika tertawa dia menutupi mulutnya. Walau demikian, wanita itu punya nama panggilan yang aneh, mengingatkanku pada salah satu temanku yang jadi bulan-bulanan waktu MA. Namanya adalah : Icang. Tapi aku ternyata kurang jeli, pemilik nama itu rupa-rupanya adalah seorang yang kejam, setelah perkenalan pertamaku dengannya, yang sebenarnya membuatku mengagumiya, kemudian interaksi selanjutnya berubah menjadi suatu terror yang tak kenal ampun. Aku merasa terancam eksistensiku setiap kali dekat-dekat dengannya. Hebatnya, saat itu Kampret juga merasakan nuansa terror yang sama pada Icang, kami berdua terteror oleh keberadaan sosok anggun mengancam nan misterius itu. Maka mulailah saat itu kami menganggapnya sebagai tokoh antagonist dalam kelas kami, kelas 2005 C. kami merasa bahwa Icang ini tak akan pernah setuju dengan gagasan-gagsan yang mungkin akan kami keluarkan, dan tidak akan pernah mau dekat dengan pria-pria kumal dan butut seperti kami. Kami merasa bahwa Icang adalah suatu representasi dari segala pertentangan yang akan menghadang kami. Dia adalah antithesa kami. Dan anehnya, entah bagaimana kami agak-agak takut kalau ada dia.
David selalu tergila-gila mengajak teman-teman untuk senantiasa berkomunikasi dengan sesama mahasiswa bahasa inggris dengan memakai bahasa inggris, tapi dia akan jadi kikuk dan tampak tolol jika sekonyong-konyog Icang datang sambil melemparkan lirikan mata elang padanya yang menjatuhkan mental. Wanita bermata pisau.
Kala itu, kami sepakat untuk bertahan melawan aura jahatnya. Dan, kala itu, kami juga tidak tahu bawa putaran nasib bisa sangat aneh, sangat mengejutkan dan kadang tak masuk akal. Kami kala itu tidak sadar bahwa cerita dengan Icang akan berbuntut panjang, menjadi salah satu kisah terbaik yang pernah kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, dan bahwa dia adalah bagian yang mengagumkan dari sejarah kami. Kami tidak tahu itu.
Nanti, akan ada bab tersendiri untuk diceritakan tentang Kampret, warna aurora yang ke dua, suatu kisah yang akan mengajarimu tentang apa itu kesetiaan. Dan warna aurora yang ke tiga, ada pada seseorang yang kisah hidupnya seperti komik, bahkan lebih aneh lagi. Sampai sekarangpun aku belum bisa percaya bahkan!

5. INTRODUCING AURORA
Jalan Manunggal ini tak pernah sepi. Segala jenis kendaraan bermotor melintas di punggungnya yang mulai renta. Yang paling menyebalkan adalah truk-truk raksasa tak tahu malu. Jika salah satu dari truk-truk itu ada yang melintas di salah satu jalan di kota Paris, pasti sopirnya akan dihukum gantung oleh walikota kota Paris. Asap hitam pekat merusak paru-paru disemburkan dengan sombong dari knalpot karatnya. Tapi kami tak ambil perduli. Sepanjang jalan kami bercanda, menggoda, tertawa, dan terbatuk-batuk karena asap. Hima dan Lina, ratu-ratu kecantikan dari Republik Terasi, senantiasa tersenyum dan tertawa dengan cara yang memikat hati. . Awalnya aku tidak percaya mereka berasal dari suatu keluarga yang telah turun temurun beroprasi dalam jaringan sindikat produksi terasi karena suatu alasan sederhana, mereka sama sekali tidak memiliki cita rasa keterasian dalam setiap penampilannya, bahkan sekedar bau terasipun tidak tercium dari baju mereka! Hal ini sangat bertolak belakang dengan ku. Baru beberapa bulan bergelimang manyung, sudah tampak seperti orang yang dengan suatu kesialan tertentu telah dilahirkan oleh ibunya di dalam gudang manyung paling bejat di dunia dan dengan suatu kenestapaan tertentu pula, tampak seperti orang yang akan tamat riwayat hidupnya di antara mayat para manyung pula. Dengan mengagumkan aku telah berevolusi dari suatu jenis anak pulau yang introvert dan kurang gaul dan tidak keren sama sekali menjadi pemuda dengan kepercayadirian yang meluap-luap dengan suatu aroma amis ikan manyung yang senantiasa terhembus dari sekujur badannya. Dengan kata lain, aku telah menjadi seorang pemuda bau amis yang tak tahu diri! Tapi kawan, kita lihat saja nanti apa yang akan dibuat oleh pemuda amis ini.
Perlu kukatakan, jika sudah di dalam kelas, selalu duduk disebelah Hima, si anggun Chloe Sullivan; ya, jika kau nonton Smallville, kau tahu siapa itu Chloe Sullivan. Di sini, dikelas ini, juga ada Chloe Sullivan. Tak peduli jika kau sangat tidak setuju dengan ku tapi setidaknya mataku yang menderita minus parah ini menyatakan betapa miripnya temanku itu dengan Chloe Sullivan, Allison Mack itu. Dia, tentu saja tak lain tak bukan adalah Lina, mutiara di dalam lautan terasi, partner setia si Hima. Yang tiap kali pulang kuliah akan mengatakan, ‘Aroma, wartel Aroma’ pada kernet saat mau berhenti. Maka jadilah kami menyebut gang rumahnya itu dengan sebutan “Aroma Therasy”. Di kemudian hari, Lina akan punya bab tersendiri untuk diceritakan.
Saat menyusuri jalan Manunggal, selalu berjalan di depan barisan, Diana dan Firoh. Diana tetangga satu desa kami. Dia di anugerahi Tuhan dengan suara emas yang luar biasa merdunya, menakjubkan. Tiap kali dia menyanyikan cuplikan lagu Christina Aguilera seakan mulutnya itu telah berubah menjadi hi-fi stereo yang melantunkan lagu I Turn To You di suatu pagi yang syahdu. Dia luar biasa, selalu luar biasa. Jika bicara bahasa Inggris, kedengaran indah betul tiap kata yang dilafalkannya, walau aku ragu entah benar atau salah pronunciationnya, yang jelas, terdengar sangat luar biasa dan indaah di telinga.. Tapi ingat, jangan sekali-kali bikin ulah dengannya, karena Diana ini bukanlah sosok yang mau merendahkan suara dan berlembut kata jika bertemu dengan yang tidak berkenan dihatinya. Jika kau lakukan itu, hhhmmmmm…., tunggu saja, tamat riwayatmu kawan.
Habibi dan Halili, duo dari Paciran yang kompak banget, seperti jalinan kerjasama tukang bakso dan penjual es degan, saling melengkapi dalam tiap aksi. Halili adalah sahabat yang menyenangkan (walaupun dia termasuk orang yang akan sulit ditemukan dalam suasana yang remang) karena dia selau bisa untuk jadi tumpangan gratis saat pulang. Di kemudian hari, aku punya nama special buatnya, Krackok, ya, aku menyebutnya Krackok. Dan Habibi, ini di pria jangkung dengan bakat melukis yang mengagumkan. Pertama aku datang ke rumahnya, aku terkagum-kagum melihat jejeran kaligrafi buatannya, dengan media kaca dan tentunya ditulis dengan terbalik. Seandainya dia mau menjajakannya ke rumah-rumah seperti para pedagang kaligrafi keliling, mungkin sekarang dia sudah kawin. Habibi ini kulitnya putih, banyak yang berkata dia itu tampan, kecuali aku! Karena mereka tidak pernah melihat apa yang pernah kulihat tentang pria ini. Suatu ketika, saat berkunjung ke rumah David, kami menyusuri jalan yang gelap, nah, dalam kegelapan itulah, si Habibi tampak seperti seorang kakek-kakek jangkung yang menyeramkan. Maka dari itu, aku tidak setuju dengan teman-temanku yang lain.
Ada yang aneh tentang kami, aku, David, dan Habibi ini. Kami saling memanggil dengan satu sebutan, KROBOK. Tapi, sebenarnya Habibilah yang memiliki hak paten untuk dipanggil Krobok. Seperti yang selalu kulakukan. Dan tahukah engkau, warna ketiga dari aurora itu adalah si krobok ini. Dialah pria yang kisah hidupnya lebih aneh dari komik. Absurd, tapi benar-benar nyata. Dia telah berkali-kali menceritakan kisah yang belum juga selesai dalam kehidupannya itu, tapi berkali-kali pula aku berkata, ‘wah, mustahil!’ Sangat sulit bagiku untuk percaya, tapi jelas aku tak bisa menolak fakta yang diajukannya. Itu adalah bukti konkrit. Nanti, satu bab tersendiri untuk Krobok yang satu ini, warna aurora ke tiga.
Dan kami, David dan aku, di ekor gerombolan ajaib ini, seperti orang gila tiada jeda speaking English. Selalu bicara dalam bahasa inggris, tiada putus-putus, tiada pause, tiada bosan, begitu terus sepanjang jalan. Saat nunggu angkot, saat duduk dalam angkot, saat keluar dari angkot, kita selalu berkomunikasi dengan bahasa inggris. Aku dan david seperti radio dan baterainya, jika disatukan, maka suara-suara hebat itu akan meluncur dengan deras tanpa diminta. Aku tak tahu apakah orang di sekitar kami tersiksa oleh kamiatau tidak, tapi yang jelas, beginilah seharusnya mahasiswa bahasa inggris dalam persepsi kami. Aku, Firoh, Diana, Krobok, Kampret, Krackok, Hima dan Lina sang Chloe Sullivan yang spesial, adalah gerombolan dari kelas 2005 C yang rumahnya di Timur dan menyusuri jalan Manunggal saat pulang kuliah. Mari kuperkenalkan sekarang dengan teman-temanku yang lain, yang rumahnya terpencar di pelosok-pelosok bumi lainnya.

Yang paling mengagumkan dari semua ini, bahkan lebih hebat lagi dibandingkan dengan film Kuch Kuch Hota Hai yang meledak itu, adalah bagaimana kita semua telah terkumpul dalam satu kelas ini, bagaimana kita telah dipersekongkolkan oleh Tuhan dalam kelas C yang bagiku penuh dengan kejutan-kejutan tak terduga. Kita sama sekali tidak menyadarinya ketika tangan-tangan Tuhan menjalin benang-benang hidup kita yang awalnya terbentang sendiri-sendiri berubah menjadi satu anyaman indah. Dengan tanpa sadar, sebenarnya, tiga tahun ini telah membuat kita dekat satu sama lain. Sebagian dari kalian telah kumasuki rumahnya, melangkahi pintu masuk kamarnya, minum dari gelasnya, dan makan nasi dari piringnya. Alangkah luar biasanya semua ini. Apa bisa kau bayangkan betapa telah dengan hebatnya Allah mempertemukan kita semua?
Maka mulailah engkau perhatikan semua sahabat-sahabatmu, temukan keunikan mereka, banggakan mereka, cintai mereka, dan berharaplah supaya mereka sakit agar kau punya kesempatan untuk menunjukkan bahwa kau peduli padanya. Karena bukankah kita hanya peduli ketika mereka jatuh sakit?

Tak pernah sebelumnya kubayangkan di dunia ini akan ada orang yang bernama Cik Inturni, sebuah nama yang sejak tiga bulan pertama mengetahuinya membuatku tak pernah berhenti terkekek-kekek. Cin Inturni? Chick in Turning? Chicken Turning? Atau Kanang, sebuah nama yang memaksaku untuk ingat Mansyur S, saat dia dengan wajah melas melantunkan lagu “ Kana, Kana, kaulah gadis impian “. Betapa miripnya Kanang dengan Kana! Atau Sholah, si wajah kotak seperti sabun lifebuoy, dengan jenggotnya yang berserakan membuat wajah kubusnya seperti lapangan sepak bola denagn rumput liar di sana-sini. Karena tubuhnya yang gede gempal seperti The Hulk, akhirnya kami memanggilnya DANRAMIL! Si Keamanan kelas. Aku masih ingat betapa pak Gatot tertawa saat mengetahui nama barunya itu. Bayangkan, pernah kau berpikir bertemu dengan orang-orang seperti itu? Bertemu dengan Kholis yang jika bicara maka alat bunyinya itu bisa bergerak sangat cepat memberondongkan kata-kata seperti senapan mesin otomatis paling canggih yang mampu menembakkan 5000 butir peluru dalam satu detik? Atau bertemu dengan Pukadin yang hampir gila mencintai Liverpool, bahkan suatu malam dia pernah bermimpi bekunjung ke Anfield Stadium, markas football club itu. Uniknya, aku yang tidak ada sangkut pautnya dengan Liverpool malah ikut muncul dalam mimpi gilanya itu. Kami berlari-lari kepintu masuknya. Dan juga Isti’ah gadis Rembang yang sedari pertama kuliah pernah kuminta memakai jilbab dan pada akhirnya diapun mengenakan pakaian sempurna itu, hingga jadilah dia bidadarinya kelas kami. Namun dia ini pelitnya bukan main soal ujian, tidak bisa kau main contek dengan wanita yang satu ini. Jika kau mau coba-coaba, dia akan membinasakan dirimu. Tapi tentu tak seheboh Amar, bujangan asal Slawe yang entah apa alasannya Tuhan memberinya wajah mirip Amir Khan habis dihajar begundal kota Mumbay. Di awal kuliah, dia adalah penjahat yang suka menjawili para cewek, sehingga mengundang kemarahan teman-teman. Tangannya itu seperti besi sedangkan magnetnya adalah mahasiswi-mahasiswi itu. Senantiasa tersedot utuk jowal-jawil. Begitu pula Istianah, pernah kau pikir akan bertemu wanita seperti itu? Yang setiap berbicara selalu tampak tersipu malu, selalu malu, dia kijang paling pemalu yang pernah kutemui di UNIROW ini. Dia juga pernah meminjamiku novel berjudul “Uncle Tom’s Cabin”, novel perjuangan negro Amerika melawan kejahatan rasisme. Novel yang membuatku terharu dan berkaca-kaca. Ada juga Riris, orang yang dismester pertama kami nobatkan sebagai gadis paling ayu dikelas kami tapi akhirnya kita semua (para cowok) harus gigit jari, karena orang lain telah keburu mendapatkannya. Yang membuatku heran, apakah semua orang yang bernama Riris adalah orang yang menawan?
Ada pula Bidayanti, yang seluruh saudaranya bernama hampir sama: Bidayana, Budiyanto, atau jika ada lagi tentu akan bernama Bedanyata. Dan Mbak Ifa, Mbak Lina, kemudian Mbak Zizah, mereka harus aku panggil mbak karena merekalah yang pertama kali berkeluarga. Padahal awalnya aku berpikir bahwa aku yang mungkin pertama kali pensiun dari masa lajang, ternyata tidak. Dan tentang mengapa aku tidak kunjung menikah aku belum berani untuk melakukan analisa SWOT.

Juni 08
Catur Amrullah
Any comment for this unfinished story, please send your e-mail to khi_noars@yahoo.com or to this number 085235655086 or 085649986110
Those who can’t respect friendship are those who can’t enjoy this life.

Notes:

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

2 thoughts on “Bagaimana aurora tercipta dan bersinar terang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s